Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Selasa, 29 Agustus 2017

Lestarikan Permainan Tradisional, Purwanegara Dinobatkan Kelurahan Layak Anak


Di era globalisasi yang sudah mulai dikuasai gadget, banyak budaya tradisional yang hampir punah. Salah satunya yaitu permainan anak. Bahkan, generasi sebelumnya yang paham mengenai permainan tradisional, juga mulai berkurang. Melihat generasi muda saat ini banyak yang kecanduan permainan elektronik, menimbulkan keprihatinan bagi sebagian orang tua, terutama Lurah Purwanegara, Tarwono. 


MAINAN ANAK : Anak-anak di Kelurahan Purwanegara bermain dengan ceria. 

Kelurahan Purwanegara kini dijadikan Kelurahan Layak Anak. Maka sebagai Kelurahan Layak Anak, yang ditunjuk dari pemerintah daerah melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlidungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Banyumas, Kelurahan Purwanegara, Kecamatan Purwokerto Utara pun melestarikan permainan tradisional melalui perlombaan saat kemerdekaan RI ke-72. Semakin menarik, permainan yang diikuti oleh anak-anak hingga kelas kelas enam SD, juga dikemas yang menggambarkan Banyumas. Selain menggunakan pakaian adat Banyumas, dalam percakapan juga menggunakan bahasa Banyumas. 

“Jangan sampai permainan tradisional anak menjadi punah, karena banyak histori dan manfaat yang dirasakan anak-anak ketika memainkan permainan tradisional,” ujar Tarwono. Meskipun merasa asing dengan permainan tradisional, tetapi puluhan anak yang terlibat pada perlombaan beberapa waktu lalu di pendopo Kelurahan Purwanegara, sangat menikmati permainan demi permainan, seolah-olah tidak sedang berlomba. Hal itu terlihat dengan tidak adanya rasa canggung walaupun ditonton oleh banyak orang. Tarwono menjelaskan, pelombaan ini sekaligus sebagai launching terpilihnya Kelurahan Purwanegara sebagai satu-satunya di Banyumas sebagai kelurahan layak anak. 

Peserta lomba pun dibuat dalam tim dengan anggotanya minimal empat orang. “Peserta lomba juga ada latihan dulu dari warga sekitar yang paham dengan permainan-permainan tradisional,” kata Tarwono. Adapun permainan yang diperagakan peserta lomba ini, ada Bentengan, Jamuran, Cublek-Cublek Suweng, Dakon, dan Gobak Sodor. Nama-nama permainan tersebut tentu tidak dapat dijumpai di gadget. Untuk permaianan Bentengan dimainkan empat hingga delapan orang degan memilih tiang, batu, atau pilar sebagai benteng. Sedangkan permainan Jamuran dimainkan empat hingga dua belas anak, sore atau malam hari saat bulan purnama di tanah lapang dengan menyanyikan lagu Jamuran. 

Taryono mengatakan, histori dari permainan tradisional ini untuk mempererat tali pertemanan. Selain itu, karena permianannya banyak melakukan gerakan fisik, dapat membuat badan lebih sehat dan merasa gembira, karena ada komunikasi dan interaksi langsung dengan teman sebayanya. Menyadari bahwa generasi sebelumnya yang mengenal permainan tradisional ini juga mulai berkurang, membuat miris bagi Tarwono. Ia pun mengharapkan, generasi muda saat ini tidak gengsi untuk melestarikan permainan tradisional, salah satu caranya dengan mengenal dan mempraktikannya. Menurutnya, hak-hak anak harus dipenuhi seperti hak belajar, bermain, dan bicara. Pada hak anak belajar sudah didapat dari bangku sekolah. Sedangkan hak bermain, Tarwono menyarankan jangan memanjakan anak dengan gadget. “Ada baiknya jika orang tua tidak mengenalkan gadget pada anak sejak dini, dan perlu juga puasa orang tua puasa gadget mulai pukul 18.00 sampai 21.00 untuk berinteraksi langsung dengan anak,” tandasnya. 

Sumber: Radarbanyumas.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar