Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Selasa, 29 Agustus 2017

Membangun Underpass Di Saat Tak bisa mengatasi Underpass Lama

Sebenarnya saya sudah memberikan beberapa masukan dalam  bentuk tulisan beberapa tahun lalu salah satunya tulisan yang berjudul plus minus pembangunan di kabupaten Banyumas yang salah satu topiknya membahas persoalan underpass Kebocoran. Tapi sayangnya hingga saat ini ternyata belum tuntas karena ada permasalahan lama yang muncul kembali.

Saya sangat setuju dengan rencana Pemkab Banyumas membangun Underpass Jensud dengan tujuan mengurangi dampak kemacetan di dekat perlintasan di selatan Stasiun Besar Purwokerto . Tapi apakah DED yang telah disusun akan berbeda dan akan lebih aman dan nyaman di banding kebocoran dan Pemkab yakin kasus kebocoran tak terulang di sini ?


Berikut kutipan berita yang dimuat Radar Banyumas yang merupakan berita terbaru mengenai Underpass Kebocoran 
 Underpass di Desa Kebocoran, Kecamatan Kedungbanteng kembali tergenang air. Beberapa kendaraan yang melewati terowongan terlihat harus melintasi genangan air setinggi kurang lebih 30 cm. Hal ini membuat beberapa pengendara sepeda motor tampak kewalahan untuk melintas pasalnya di samping jalan tergenang, beberapa bagian jalan juga mengalami kerusakan. LANGGANAN : Air terus menggenangi terowongan kereta api di Desa Kebocoran. Bahkan, beberapa kendaraan sampai mogok akibat mesin terendam. (ALI IBRAHIM/RADAR BANYUMAS) Salah seorang warga Desa Kebocoran, RT 03 RW 01, Kecamatan Kedungbanteng, Leni Aryani kepada Radarmas mengatakan, tergenangnya kembali underpass kebocoran terjadi sejak Jumat (25/8) lalu. Hal tersebut terjadi lantaran saluran irigasi yang berada di atasnya tengah dalam perbaikan. “Sepengetahuan saya karena di atasnya saluran irigasinya tengah diperbaiki. JAdi air di saluran tersebut turun ke bawah menggenangi terowongan,” katanya. Akibatnya, genangan air ini menurutnya cukup mengganggu aktifitas pengendara sepeda motor yang melintas. “Genangan akan tambah dalam jika hujan turun,” lanjutnya. Iapun mengatakan, akibat genangan ini beberapa sepeda motor juga sempat mogok jika melintas. “Beberapa kali juga saya melihat motor yang mogok saat melintas di genangan air itu. Saya berharap kepada dinas yang terkait untuk segera memberikan solusi agar genangan ini tidak berlarut-larut,” terangnya. Sementara pengendara motor yang melintas, Prastowo warga Kedungbanteng mengatakan yang hampir tiap hari melintas mengaku terganggu dengan genangan ini. “Genangan air ini sangat mengganggu, terlabih saat malam hari karena jalan yang berlubang di bagian mananya jadi tidak terlihat jadi cukup berbahaya,” jelasnya.
“Ini menjadi pekerjaan rumah untuk DPU, dan kami targetkan tahun ini bisa selesai,” katanya. Masih disampaikan Irawadi, meskipun sekarang sudah ada saluran air, tetapi ukurannya masih terlalu kecil. Pada 2012 lalu, dari Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (SDABM) yang saat ini menjadi DPU, membuat saluran air sepanjang 146 meter, yang ditujukan mengalirkan air genangan menuju sungai. “Karena struktur underpass merupakan box culvert atau berupa beton kotak berongga, jadi tim kesulitan kalau membuat saluran air lebih besar karena berarti harus menggali lantai, yang merupakan satu kesatuan,” ujar Irawadi. Selain itu, karena undepass menggunakan box culvert maka dikhawatirkan saat terjadi penggalian akan mempengaruhi struktur underpass. Untuk menangani permasalahan genangan di Underpass Kebocoran ini, DPU Kabupaten Banyumas merencanakan menggeser aliran air dari irigasi ke saluran atau lokasi lain. Sehingga aliran irigasi tersebut tidak akan melewati Underpass Kbeocoran. “Kami sudah ada rencana penanganan untuk menyelesaikan permasalahan di Underpass Kebocoran, dan sedang menyiapkan anggaran sebesar Rp 200 juta,” tandasnya.



Alangkah baiknya Underpass Kebocoran diselesaikan juga dengan solusi permanen jika perlu dibuatkan DED ulang dan dibangun ulang kalau kondisi saat ini sangat sulit diatasi. Bukankah Dinas PU memiliki tenaga ahli yang kompeten dibidangnya? Atau menggandeng pihak akademisi dan teknisi dari Universitas di Purwokerto jika memang Pemkab kekurangan ahli. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar