Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Senin, 14 Agustus 2017

Kualitas Banyumas Extravaganza Menurun

Kualitas Banyumas Extravagansa Menurun?


Itu kata tulisan di koran jadi  sama sekali bukan pendapat saya . Tapi saya akan memberikan sedikit tanggapan terkait penyebabnya jika itu benar. Tahun ini Banyumas Extravagansa digelar jauh dari hari jadi Banyumas tapi justru mendekati peringatan kemerdekaan RI yang faktanya tiap desa atau kecamatan punya kegitaan dan kesibukan sendiri sehingga ketika BE ini digelar tak jarang berbenturan jadwal dengan acara warga lain di tempat tinggal masing masing otomatis mengurangi  jumlah penonton ini secara kuantitas. Sedangkan secara  kulaitastentu belum bisa menjadi ikon pariwisata yang kuat “ciri khas / lokalal yang ditonjolkan dalam bentuk apa ” meskipun ada atribut Banyumas tapi kurang kuat secara karakter. Itu seharusya digali lagi untuk menciptakan daya tarik dan tentu saja dari hal manajemen penyelenggaraan .
Tema BE kali ini Topeng Kinclong .
Dari plus minus  yang ada berikut adalah beberapa liputan dari sdr T Mahdi atau koleganya dari SSCI Purwokerto

img-20170813-wa0012.jpgimg-20170813-wa0018.jpgimg-20170813-wa0015.jpgimg-20170813-wa0017.jpgimg-20170813-wa0016.jpgimg-20170813-wa0013.jpgimg-20170813-wa0014.jpg

Kualitas Banyumas Extravaganza Menurun

 Meski berlangsung meriah, kualitas ajang Banyumas Extravaganza 2017 yang digelar Minggu (13/8), dinilai menurun. Pasalnya, sejumlah peserta tidak mampu menunjukkan penampilan yang berkarakter Banyumas.
Salah satu penonton, Imelda Angelina (17) mengatakan, atraksi wisata tahunan yang digelar ke delapan kalinya tahun ini selalu ramai pengunjung. Bahkan para penonton rela berdesakan untuk menyaksikan penampilan peserta dari dekat. “Ini sudah penuh sesak, sulit untuk mencari tempat duduk atau berdiri untuk menonton dari dekat,” kata dia, kemarin.
Menurut Imelda, tahun ini perhelatan tersebut sangat meriah. Tetapi masih lebih menarik penampilan peserta pada penyelenggaraan dua atau tiga tahun lalu. Adapun event Banyumas Extravaganza menyuguhkan parade jalanan yang diikuti oleh pelajar SMP, SMA dan SMK, perwakilan kecamatan dan kelompok umum.

Peserta pawai bertema “Topeng Kinclong” ini berjalan dari depan bioskop Rajawali dan berakhir di Jalan Jenderal Soedirman atau depan Alun-alun Purwokerto. Hal itu juga diamini oleh salah satu juri Banyumas Extravaganza, Gondrong Gunarto. Seniman musik asal Institut Surakarta Indonesia ini menyebutkan, event ini harus dievaluasi secara menyeluruh.
Untuk tahun ini parade jalan ini justru semakin kehilangan karakter banyumasan-nya. “Dari segi nama, Banyumas Extravaganza ini sebenarnya istilah yang keren. Tapi menjadi blunder fatal karena diambil dari istilah barat yang tidak menunjukkan karakter Banyumasnya.
Tadi saya juga melihat yang tampil hanya sedikit peserta yang menunjukkan ciri khas Banyumas, baik musik, kostum maupun keseniannya,” kata pria asal Ngawi ini. Menurut Gondrong, semestinya panitia dalam hal ini Pemkab Banyumas harus merangkul orang yang kompeten dalam bidang fesyen, seni, koreografi dan unsur yang akan ditampilkan lainnya. Sebelum gelaran dimulai, mereka diajak berdiskusi bersama untuk mengemas event tersebut.
Meski demikian, dia mengakui nama event ini sejatinya sudah dikenal di luar daerah Banyumas. Artinya, promosi yang dilakukan oleh Pemkab sudah berhasil. “Misalnya dari segi tema, seharusnya panitia bisa menggali yang lebih menonjolkan karakter Banyumas. Misal mengangkat tema tentang cerita rakyat seperti Baturraden atau Babad Kamandaka,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Saptono mengaku, untuk kegiatan tahun ini pihaknya hanya meneruskan agenda wisata yang sudah dianggarkan sejak tahun lalu. Untuk event Banyumas Extravaganza, pihaknya tidak bisa melakukan perubahan program maupun konsep. “Itu kan sudah dianggarkan, seperti tema topeng yang kami juga sebenarnya kurang pas.
Tapi kami, butuh masukan lebih banyak terkait event ini agar ke depannya semakin baik,” kata dia. Tahun ini, sambung Saptono, ada 61 peserta dari tiga kategori yang ikut serta. Kelompok perwakilan kecamatan ditampilkan kembali untuk menyemarakkan perhelatan tersebut.
sumber suara merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar