Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Rabu, 22 Juni 2016

Warga Pekuncen Mulai Dirikan Warung Tiban Sepanjang Jalur Mudik



Warung-Tiban
Radar Banyumas:
PEKUNCEN-Memasuki hari ke 16 puasa Selasa (21/6) kemarin, sejumlah warga di Kecamatan Pekuncen, terutama yang berada didekat jalur utama Pekuncen-Purwokerto, mulai mendirikan kios tidak permanen atau lapak dan warung tiban di sepanjang jalur mudik. Pedagang warung dadakan, Ahmad Sujawin (49) warga Banjaranyar Pekuncen mengatakan, dirinya sengaja mendirikan warung untuk mengais keuntungan dengan menjaring pembeli dari kalangan pemudik yang melintas di jalan raya Pekuncen. Hal itu sudah dia lakukan sejak empat tahun yang lalu dengan mendirikan warung sederhana di tepi jalan raya. “Biasanya ramai setiap mudik dan arus balik, sehingga saya ikut-ikutan mendirikan warung. Saya harap nanti banyak pemudik yang mampir untuk membeli minuman dan makan,”ujarnya. Menurut Ahmad, biasanya setiap mendekati lebaran puluhan warung dadakan itu berderet di sepanjang jalan raya Pekuncen. Jarak antara satu warung dengan warung lainnya berkisar antara lima hingga 10 meter. Mereka menunggu pengguna jalan mampir dan membeli makanan kecil, seperti mie instan, kolak, susu, kopi, dan masih banyak yang lain. Makanan kecil itu untuk berbuka puasa. Namun, sampai H-14 lebaran, baru warung milik dia yang sudah berdiri dan siap menyambut pemudik. 


Warung dan Toilet Dadakan Mulai Didirikan
Sambut Arus Mudik dan Balik

suaramerdeka.com
MESKI arus mudik dan balik Lebaran kurang beberapa hari lagi, sejumlah warga yang tinggal di tepi jalur tengah Ajibarang- Bumiayu khususnya di wilayah Kecamatan Pekuncen mulai mendirikan warung tiban dan toilet dadakan.
Pada pertengahan Ramadan kemarin, mereka sudah mulai bersiap menyambut kedatangan pemudik dari arah Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Mereka rela mengeluarkan modal mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk bisa mendirikan warung dan toilet dadakan tersebut. Mereka berharap saat arus mudik dan balik Lebaran nanti bisa meraup untung sebanyak-banyaknya.
”Saya sudah menghabiskan sekitar Rp 3 juta untuk mendirikan warung makanan. Yang penting usaha dulu, masalah hasil diserahkan kepada Tuhan,” jelas Sugeng warga Banjaranyar, Kecamatan Pekuncen yang tiap tahun membuka warung tiban.
Kemarin, bersama istrinya terus membenahi warung tiban beserta kelengkapannya termasuk meja kursi bagi para pemudik. Ukuran warung yang dibangun menggunakan bahan kayu, bambu, kalsibot, genteng itu 5 meter x 4 meter. Warung tak permanen itu dipersiapkan untuk menampung makanan bakso, mi ayam, soto dan berbagai makanan lainnya.
Rp 900 Ribu
Sementara untuk membuat toilet dadakan, dia mengeluarkan uang sekitar sekitar Rp 900 ribu. Toilet ukuran 2,5 meter x 1 meter itu berdiri di atas saluran irigasi tepi jalan Ajibarang-Bumiayu. Bangunan tersebut dibagi menjadi dua bilik. Sementara untuk sumber air, disodetkan dari pipa saluran air bersih yang mengalir di tepi jalur ini.
”Untuk menyambungkan air ini kami harus mengeluarkan uang Rp 100 ribu. Kami berharap saat arus mudik dan balik Lebaran nanti, banyak pemudik yang singgah di sini,” jelasnya. Tak jauh dari warung tiban milik Sugeng, dengan jarak 10 meter, juga berdiri sejumlah warung tiban dan toilet dadakan lainnya. Warung-warung tidak permanen itu berdiri di dekat tepi jalan utama.
Di sepanjang jalan Banjaranyar hingga wilayah Desa Kranggan, Kecamatan Pekuncen yang berbatasan dengan Brebes, sedikitnya telah ada puluhan warung tiban yang mulai didirikan warga. Sebagian lagi memang telah menjadi warung permanen yang buka tiap musim. Mugi (30) pedagang warung tiban di Jalan Karangnangka menyatakan membuka warung mulai pertengahan Ramadan.
Berbagai makanan dan minuman terutama makanan khas berbuka puasa berupa es kelapa muda, takjilan disediakan. Tak mengecewakan, warungnya selalu laris dan laku. ”Kita memang lebih awal mendirikan warung mudik (warung tiban) ini. Namun memang untuk keramaian arus mudik biasanya terjadi sekitar tiga hari jelang Lebaran nanti.
Bahkan yang lebih ramai lagi adalah arus balik biasanya sampai seminggu,” ujarnya. Selain berdagang pada hari menjelang Lebaran, pedagang akan baru membongkar lapak usai arus balik Lebaran usai. Diperkirakan warung tiban di sepanjang jalur mudik ini akan bertahan hingga seminggu usai Lebaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar