Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Rabu, 22 Juni 2016

Banjir dan longsor di Sumpiuh dan Tambak

Akses Jalan Masih Tertutup
Terdeteksi 42 Titik Longsor

suaramerdeka

Penanganan longsor di Desa Watuagung, Kecamatan Tambak terkendala peralatan berat . Sampai kemarin, akses jalan menuju Dusun Karang Jambe, Siwarak Kulon, Plandi dan Kedung Eyang masih tertutup.
Berdasarkan pantauan Suara Merdeka, titik terparah longsor berada di jalur Watuagung- Siwarak Kulon dan Siwarak Kulon-Plandi. Jalur Watuagung-Siwarak Kulon belum dapat dilalui kendaraan. Material longsor berupa tanah, batu dan pepohonan masih menutup jalur Watuagung- Siwarak Kulon.
Dari total 10 titik longsor di jalur itu, hingga kemarin baru dibuka sekitar enam titik menggunakan begu. Sementara jalur Siwarak Kulon-Plandi, Watuagung- Karangjambe dan Watuagung- Kedung Eyang sudah dapat dilalui dengan kendaraan roda dua jenis trail. Warga bersama sejumlah sukarelawan dan instansi terkait membersihkan material secara manual.
Kades Watuagung, Sugito, mengatakan, berdasarkan pendataan tercatat sebanyak 42 titik longsor yang menutup badan jalan. Di mana lebih dari separuhnya merupakan longsor besar. Pembersihan material longsor itu harus menggunakan alat berat, seperti begu.
”Kalau hanya dengan alat manual mungkin membutuhkan waktu dua sampai tiga tahun, karena sangat banyak. Saat ini alat berat yang tersedia batu ada satu unit untuk membersihkan material longsor di Watuagung-Siwarak Kulon,” jelas dia. Dia mengatakan, telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulngan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas.
Pihaknya berharap material seluruh material longsor yang menutup badan jalan dapat segera dibersihan, sehingga akses warga dapat dibuka kembali. Sementara itu, bantuan untuk warga di empat dusun itu telah mengalir sejak kemarin.
Pengiriman bantuan logositk berupa bahan-bahan makanan hanya dapat dikiim menggunakan kendaran roda dua jenis trail dan berjalan kaki. ”Yang dibutuhkan warga sekarang adalah bantuan bahanbahan makanan. Bantuan mulai dikirim sejak kemarin (Senin), hari ini (kemarin) pengiriman dilanjutkan dengan menggunakan sepeda motor trail,” ujar dia.
Seperti diberitakan sedikitnya 600 warga di Desa Watuagung, Kecamatan Tambak masih terisolir pasca longsor yang terjadi, Sabtu (18/6) malam. Penyaluran bantuan untuk para korban terhambat karena material longsoran masih menutup akses jalan utama menuju wilayah itu.
Perisitwa itu longsor dan banjir bandang itu juga menyebabkan satu korban meninggal dunia. Korban, Sumini (60), warga Dusun Pelawetan RT 7 RW III ditemukan tertimbun material longsor, Minggu (19/6) siang.


Diterjang Banjir, SDN Siwarak Kulon Butuh Penanganan
suaramerdeka.com
Banjir dan longsor di Desa Watuagung mengakibatkan bangunan Sekolah Dasar (SD) Negeri Siwarak Kulon terendam dan rusak. Sejumlah peralatan seperti komputer dan buku-buku juga rusak karena terndam air.
Selasa (21/6) puluhan siswa-siswi, guru dan sukarelawan dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) serta Barisan Serabaguna Ansor (Banser) membersihkan materail lumpur yang masuk di dalam ruangan dengan ketinggian hingga 0,5 meter.
Kepala SD N Siwarak Kulon, Sutiyo, mengungkapkan ketinggian air pada saat mencapai 1,5 meter. Air itu berasal dari luapan Sungai Siwarak yang berada di depan sekolah. Seluruh bagian sekolah yang terdiri dari dua bangunan itu terendam.
“Hanya beberapa peralatan yang sempat diselamatkan seperti laptop. Kalau komputer, printer semuanya rusak. Buku induk siswa juga ikut terendam. Beruntung dokumen-doumen siswa kelas 6 yang baru lulus dapat diselamatkan,” katanya di sela-sela kegiatan.

Komanda Tagana, Ady Chandra mengatakan, pembersihan material banjir di sekolah menjadi prioritas. Pasalnya fasilitas itu merupakan salah satu fasilitas penting yang harus segera mendapatkan penanganan.

Penanganan Longsor Watuagung Terkendala Alat

TERTUTUP TOTAL: Jalan utama penghubung Watuagung-Siwarak Lulon masih tertutup total.(suaramerdeka.com/Fadlan M Zain)
suaramerdeka.com 
Penanganan longsor di Desa Watuagung, Kecamatan Tambak terkendala peralatan. Sampai siang ini, akses jalan menuju empat Dusun, masing-masing yakni Dusun Karang Jambe, Siwarak Kulon, Plandi dan Kedung Eyang masih tertutup.
Berdasarkan pantauan, titik terparah longsor berada di jalur Watuagung-Siwarak Kulon dan Siwarak Kulon-Plandi. Jalur Watuagung-Siwarak Kulon sama sekali belum dapat dilalui kendaraan.
Material longsor berupa tanah, batu dan pepohonan masih menutup jalur Watuagung-Siwarak Kulon.  Dari total lebih dari 10 titik longsor di jalur itu, hingga kemarin siang baru berhasil dibuka sekitar enam titik menggunakan alat berat.
Sementara jalur Siwarak Kulon-Plandi,  Watuagung-Karangjambe dan Watuagung-Kedung Eyang sudah dapat dilalui dengan kendaraan roda dua jenis trail. Warga bersama sejumlah sukarelawan dan instansi terkait melakukan pembersihan material secara manual.
Kades Watuagung, Sugito, mengatakan berdasarkan pendataan tercatat sebanyak 42 titik longsor yang menutup badan jalan. Di mana lebih dari separuhnya merupakan longsor besar. Pembersihan material longsor itu harus menggunakan alat berat.

“Kalau hanya dengan alat manual mungkin membutuhkan waktu dua sampai tiga tahun, karena sangat banyak. Saat ini alat berat yang tersedia batu ada satu unit untuk membersihkan material longsor di Watuagung-Siwarak Kulon,” jelas dia.

Korban Banjir Ditangani dengan Dana Taktis

suaramerdeka.com
Penanganan bencana tanah longsor dan banjir di beberapa desa di Kecanatan Sumpiuh dan Tambak sampai kemarin masih menggunakan anggaran taktis yang dikelola Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Sedangkan usulan anggaran tanggap darurat dari pos bantuan tidak terduga (BTT) yang sudah dianggarkan di APBD 2016 ini, sejauh ini belum masuk ke Pejabat Pengelola Anggaran Daerah (PPAD) di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD).
Kepala DPPKAD, Irawati mengatakan, anggaran tanggap darurat bencana selalu siap dipakai sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Saat persyaratan pengajuan dari dinas teknis sudah masuk, maksimal dua hari sudah bisa dicairkan. ”Kalau persyaratan lengkap, standar operasional prosedur (SOP) di kami minimal dua hari dan tyidak ada kesulitan.
Kita lakukan ini agar tidak menimbuilkan permasalahan sehingga aturannya harus kita cermati dan dilakukan secara hati-hati. Niate nulungi orang malah bisa kepentung,” katanya. Sebenarnya prosedurnya tidak rumit. Setelah ada kejadian, dinas teknis langsung bisa mengajukan penggunaan BTT.
Dana ini hanya boleh dipakai untuk penanganan tanggap darurat, tidak boleh untuk alokasi kegiatan permanen. ”Tanggap darurat misalnya untuk menolong korban, pembelian sandang dan makanan, relokasi hunian sementara, jembatan sementara, menyambung jalan putus sementara. Untuk permanen yang tidak boleh, misalnya untuk membangun tembok pasar atau rumah warga yang jebol kena banjir.
Ini kan bukan darurat,” jelasnya. Kepala Bidang Perbendaharaan DPPKAD, Agustina Hernawati mengatakan, sesuai Pasal 17 Permendagri No 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan, anggaran tanggap darurat bencana masuk pos belanja tidak terduga.
Mekanisme permohonannya, setelah ada penetapan tanggap darurat, usulan kebutuhan anggaran diajukan oleh BPBD atau dinas teknis lain kepada Pejabata Pengelola Keuangan Daerah di DPPKAD. ”Pengajuan harus disertai rencana penggunaan anggaran, tidak perlu memakai dokumen penggunaan anggaran (DPA). Kalau DPA khusus untuk belanja langsung.
Khusus yang BTT, yang penting disertai rencana penggunaan anggaran seperti RAB,’’jelasnya. Dana BTT, di antaranya digunakan untuk penyelemanatan korban atau evakuasi korban bencana, kebutuhan sandang pangan, pelayanan kesehatan.
Anggaran yang diajukan tidak boleh lungsuran, namun harus disertai rincian rencana penggunaan. ”Kalau yang dikelola di BPBD itu masuk belanja langsung harus melalui DPA, belanja tidak terduga ada di DPPKAD. Untuk pencairannya pengajuan lewat dinas teknis,” jelasnya.
Sejauh ini, katanya, belum ada permohonan pengajuan penggunaan dana BTT untuk tanggap darurat bencana di Kecamatan Sumpiuh dan Tambak. Pihaknya menangani paling terakhir setelah adminstrasi selesai, proses pencairan langsung diurus.
”Kalau ada pengajuan ke saya, ini yang terakhir setelah proses administrasi selesai, jadi saya belum tahu sudah mengajukan apa belum dari dinas teknis (BPBD-red),’’katanya. Menurutnya, anggaran BTT2016 ini dialokasikan sekitar Rp 5 miliar. Sedangkan yang sudah terpakai atau realisasi untuk penanggulangan Kejadian luar Biasa (KLB) Deman Berdarah Dengue Rp 1.462.820.600.
Dana itu dicairkan Maret lalu melalui Dinas Kesehatan. Kepala BPBD Kabupaten Banyumas, Prasetyo Budi Widodo mengakui, usulan dana tanggap darurat bencana baru dihitung rencana kebutuhan dari dinas teknis, khususnya SDABM dan Dinperindagkop. Setelah RAB selesai, pihaknya memberikan surat pengantar untuk permohonan pencairan ke PPAD di DPPKAD.
”Sementara ini untuk tanggap darurat memakai anggaran yang ada di BPBD dulu, termasuk persediaan logisltik yang ada. Kita masih punya stok, dari PMI ada bantuan beras, ada bantuan dari organisasi yang peduli. Ini yang kita manfaatkan dulu. Kita juga minta bantuan untuk selimu dan sarung dari Banjarnegara, karena banyak perabot rumah tangga yang kebawa banjir.
Ini dimintakan bantuan ke Banjar karena di sana bantuan melimpah,” ujarnya. Anggaran belanj langsung yang dikelola BPBD, kata dia, tahun ini hanya Rp 30 juta. Ini untuk kebutuhan makan sukarelawan dan korban bencana. Sebagian sudah digunakan. Untuk pencairannya tidak sulit karena melekat di DPA BPBD.
Selain itu, ada anggaran belanja barang dan jasa Rp 80 juta. Ini untuk logisltik. Usulan anggaran tanggap darurat, di antaranya, pembuatan jembatan sementara di Desa Bogangin Kecamatan Sumpiuh. Untuk makanan sudah mendirikan dapur umum di Purwodadi Kecamatan Tambak. Dapur umum ini melayanii 225 jiwa untuk Desa Purwodadi dan Desa Kamulyan.
”Untuk Gerumbul Karangjambe Desa Watu Agung Kecamatan Tambak yang sempat terisolasi 90 keluarga di RT5/RW3 dan RT4/RW 3, hari ini (kemarin) sudah bisa dibuka. Ada sekitar 100 orang relawan, dari TNI/Polri dan masyarakat dikerahkan ke lokasi. Untuk di Bogangin fokus menyingkirkan kayu-kayu yang menghalangi,” jelasnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar