Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Selasa, 18 April 2017

PKL Pasrah Direlokasi Rencana Penataan Akhir April


Pemkab Banyumas terus berupaya menata pedagang kaki lima (PKL), yang beraktivitas di sejumlah lokasi, salah satunya Jalan Jenderal Soedirman. Terkait hal itu, PKL berharap penataan itu, dapat berdampak baik bagi mereka.
”Rencana penataan akhir April, tapi bel u m tahu pastinya kapan,” tutur perwakilan PKL Jalan Jenderal Soedirman, Dede Yayat kepada Suara Merdeka, Senin (17/4). Menurutnya, berkaitan dengan rencana relokasi ke Pasar Pratista Harsa, pihaknya hanya pasrah seraya berharap agar penataan itu, membawa dampak baik baginya. ”Kalau dari pedagang, bagaimana dari sana (pemerintah) saja.
Bagi kami yang penting dicari bagusnya, yang baik-baiknya,” ujarnya. Ia mengatakan, di lokasi biasa ia beraktivitas, ada sekitar 25 PKL yang akan direlokasi. Kebanyakan, para PKL tersebut, berjualan aneka barang sandang seperti pakaian, maupun alas kaki.
Sementara itu, Kepala Bidang Pasar dan PKL Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Kabupaten Banyumas Rojingun, mengatakan boyongan PKL Jenderal Soedirman akan dilakukan menunggu persiapan lokasi selesai. Sejauh ini, Pemkab Banyumas masih melakukan perbaikan di lokasi yang akan digunakan untuk menampung PKL Jenderal Soedirman yakni Pasar Pratista Harsa.
”PKLJensoed pada 2016 bersedia pindah, ya karena Pratista kosong kita tawarkan, akhirnya bersedia asalkan diperbaiki,” jelasnya. Ia mengatakan, pihaknya menyiapkan lokasi untuk lebih kurang 23 PKL yang biasa beraktivitas di sekitar simpang Pasar Wage.
Sebelumnya, kata dia pihaknya bersama dengan PKL telah bertemu dan nantinya jika setelah disediakan lokasi berjualan, tidak ada lagi yang beraktivitas di Jalan Jenderal Soedirman. Tak itu saja, menurut Kepala Seksi PKL Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Kabupaten Banyumas Sarikin, Pemkab Banyumas berencana membangun dua selter baru untuk pedagang kaki lima (PKL) tahun ini.
Selter baru itu, akan dibangun di Pasar Situmpur, dan sekitar GOR Satria Purwokerto. Dikatakan Sarikin, pembangunan selter tersebut merupakan upaya untuk menata PKL yang ada di wilayah sekitar Pasar Situmpur, Jalan Jenderal Soedirman, dan GOR Satria.
”Selter yang di GOR Satria untuk menampung PKL di kompleks GOR, sementara yang di Pasar Situmpur untuk pedagang asli pasar, serta PKL di Jalan Jenderal Soedirman yang mau, akan ditempatkan disitu,” tuturnya, saat ditemui di ruang kerjanya. Mengenai detail lokasi, untuk shelter di GOR Satria, lanjutnya direncanakan menempati lokasi bekas TK Pembina yang berada di depan Kompleks GOR Satria.
Adapun di Pasar Situmpur akan dibangun di lokasi pasar tersebut. Ia mengatakan, untuk tahun ini persiapan pembangunan selter tersebut masih dalam tahap penyusunan detailed engineering design (DED). Adapun alokasi anggaran untuk penyusunan DED tersebut, lanjut dia sebesar Rp 70 juta yang berasal dari APBD Banyumas.

Mengubah Pola Pikir

PENATAAN Pedagang kaki lima (PKL) tidak hanya memerlukan tempat untuk menampung mereka, namun perlu juga upaya mengubah pola pikir pedagang maupun konsumennya. Menurut Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed Sri Nugroho Purborahayu, para konsumen PKL kebanyakan merupakan para impulse buying, yakni konsumen yang membeli barang tanpa rencana sebelumnya.
”Misalnya kita sedang jalan-jalan, tiba-tiba melihat sebuah barang yang dijual PKL lalu tertarik, dan membeli. Jadi lewat, lihat, dan beli seperti itu. Kebanyakan awalnya tidak ada rencana membeli sebelumnya, beda dengan sebuah pasar,” jelasnya kepada Suara Merdeka, Senin (17/4).
Beberapa bentuk penataan PKL baik di dalam negeri, maupun di luar negeri, menurutnya patut ditiru. Ia mencontohkan, di luar negeri, PKL juga ada namun diatur dengan ketat, seperti misalnya di Singapura, dan Malaysia. ”Di Singapura, PKL itu kebanyakan adalah para pensiunan, sebab yang boleh berjualan hanya para pensiunan.
Di Malaysia ada juga tempat relokasi, salah satunya dinamakan Bukit Bintang, jadi itu sengaja dibuat untuk menampung PKL, namun kemasannya menarik sehingga jadi atraksi wisata,” tuturnya. Kalau di dalam negeri, menurutnya penataan seperti di Bandung yakni Teras Cihampelas juga dapat ditiru.
Namun demikian, yang paling utama tentunya adalah kreatifitas pemerintah setempat dalam merancang dan mengelola tempat relokasi, yang disesuaikan dengan potensi daerah setempat. Kreatifitas pemerintah setempat dalam merancang tempat relokasi, dapat berpengaruh terhadap pola pikir pedagang maupun pembeli nantinya.
Ia menambahkan, yang tak kalah penting tentu saja adalah upaya untuk memperluas kesempatan kerja, dan kesempatan berusaha bagi masyarakat. Adanya PKL, kata dia tentunya dipengaruhi oleh sempitnya lapangan kerja, serta kesempatan berusaha.
Menurutnya, ketika kondisi perekonomian menjadi lebih baik, dalam artian lapangan kerja terbuka luas, begitu juga dengan kesempatan berusaha, nantinya PKL dapat berkurang dengan sendirinya. Ia mengatakan, untuk saat ini tinggal ketegasan pemerintah yang dibutuhkan untuk menata mereka. 
sumber suara merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar