Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Senin, 06 Maret 2017

Wisata Minat Khusus Mulai Dilirik

Sejumlah provider dan objek wisata di Banyumas mulai melirik wisata minat khusus sebagai aktivitas alternatif. Pasalnya, kegiatan seperti outbound, petualangan dan jelajah alam cukup potensial dikembangkan.
Pelaku wisata, Yuni Hartono mengatakan, dari sekitar tujuh genre wisata minat khusus di Banyumas, lima di antaranya berkembangan pesat. Seperti wisata alam, olahraga dan hiburan, kuliner, belanja hingga sejarah. “Di Baturraden, arena outbound, permainan dan petualangan seperti treking, tree track baik provider maupun objek wisatanya sudah cukup banyak.
Hanya saja untuk wisata sejarah, belum ada pelaku wisata yang berani menggarap. Hanya sebagian kecil dari biro perjalanan yang mau melirik,” kata dia, kemarin. Kawasan Kota Lama Banyumas, sambung Yuni, merupakan salah satu titik wisata sejarah yang potensial. Wisatawan bisa diajak melihat-lihat arsitektur peninggalan masa Belanda, Islam dan Tionghoa.
Selain itu, di kawasan ini juga terdapat industri rumahan makanan nopia dan batik. Tahun 2013 lalu, paket bernama ”Mbolang in Banyumas” ini pernah diresmikan oleh Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas sebagai paket andalan.
Wisata Sejarah
“Tapi sekarang tidak jelas apakah paket tersebut masih berjalan atau tidak,” ujarnya. Yuni menambahkan, potensi wisata sejarah yang lain, seperti Museum Pangsar Soedirman dan Masjid Saka Tunggal juga belum digarap. Keduanya merupakan objek yang dikelola oleh Pemkab Banyumas.
Sementara itu, pelaku dan praktisi pariwisata, Bilwan Feriyanto mengemukakan, tren kunjungan wisatawan dalam dua tahun belakangan ini bergeser ke arah wisata alternatif. Pengunjung tidak lagi berlibur dalam grup atau kelompok dalam jumlah banyak. “Pada 2017 tren wisata minat khusus masih meningkat. Tetapi, wisata massal belum kehilangan pasarnya di kalangan wisatawan nusantara,” kata dia.
Menurut Bilwan hal itu disebabkan karena wisatawan cenderung mencari objek atau destinasi baru yang belum dikunjungi. Biasanya para pelakunya adalah traveler atau penulis perjalanan wisata.
sumber Suara Merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar