Langsung ke konten utama

Serayu Stone, Sisa Sisa Fenomena Akik Purwokerto

Perencanaan Kurang Matang

PERENCANAAN pembangunan Serayu Stone saat itu dinilai kurang matang. Pemkab hanya melihat fenomena sesaat kemunculan batu akik, kemudian menyiapkan tempat untuk memfasilitasi para pedagang. “Istilahnya grudugan (ramai-rami), seperti batu akik kemarin ramai, sekarang sudah hilang.
Konsepnya saya kira waktu itu belum matang,” kata pemerhati PKL sekaligus pengamat tata kota, Sunardi, kemarin. Menurut dia lokasi itu kini kurang prospektif untuk dijadikan tempat jual beli batu akik. Ke depan akan lebih baik lokasi itu juga digunakan juga untuk berjualan barang-barang lain yang sifatnya tidak musiman.
“Akik merupakan kebutuhan tersier, kalau sudah punya ya kebanyakan tidak membeli lagi, berbeda dengan kebutuhan primer dan sekunder. Misalnya penjual makanan pasti setiap hari ada yang membeli atau penjual pakaian, meksi tidak setiap hari tapi banyak yang membutuhkan,” ujar dia.
Dia menilai sejauh ini pendampingan pemkab terhadap PKLbelum optimal. Dalam beberapa kasus, konsep penataan PKL kurang berhasil. Dia berharap ke depan peran pemkab dapat lebih dioptimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan PKL. “Sesuai dengan kemampuan pemkab, sebenarnya pendampingan yang diberikan sejauh ini sudah cukup bagus, hanya saja belum optimal. Kembali lagi, yang namanya berjualan kadang laris, kadang tidak,” kata dia. 

Serayu Stone Perlu Sentuhan Pemkab
Pusat Penjualan Batu Akik
Pusat penjualan batu akik dan benda antik Serayu Stone Purwokerto perlu sentuhan dari pemkab. berjualan di sini dalam sehari bisa mendapat jutaan rupiah, kalau sekarang paling sekitar Rp 200.000 sampai Rp 300.000, itu sudah bagus,” katanya, kemarin. Menurut dia menginjak tahun ketiga operasional Serayu Stone omzet penjualan terus menurun.
Para pedagang sempat mengalami masa kejayaan pada tahun pertama, namun memasuki tahun kedua hingga sekarang terus berangsur menurun. “Yang paling dirasakan pedagang sejak tujuh bulan terkahir, sepi sekali. Tapi ini dalam beberapa hari terakhir mulai agak ramai, saya dapat pesanan cukup banyak dari Bandung. Semoga dapat terus bertahan seperti ini,” ujar dia.
Dia mengatakan, para pedagang di situ sebenarnya ingin membuat sebuah acara untuk mendongkrak kunjungan masyarakat. Namun sejauh ini masih sebatas wacana, karena keterbatasan anggaran yang dimiliki para pedagang. “Sampai sekarang belum ada sentuhan dari pemerintah. Kalau ada even seperti pameran sebenanrnya bagus untuk menarik minat pengunjung.
Kami berharap pemerintah dapat memfasilitasinya,” kata dia. Hal senada disampaikan Karsito, pedagang batu akik lainnya. Menurut dia masa booming telah terlewati. Dia mengaku saat ini hasil berjualan batu akik hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. “Sekarang omsetnya menurun drastis, jauh dibandingkan dulu. Kalau sekarang yang penting bisa buat makan.
Ibaranya seperti orang sedang memancing ikan, kadang dapat, kadang juga tidak dapat,” kata dia yang meneruskan berjualan batu akik dari orang tuanya. Dia berharap lokasi tempat berjualannya itu dapat kembali ramai seperti dulu. Jumlah pembeli yang datang ke lapaknya dalam sehari, saat ini bisa dihitung dengan jari. Kalau dulu bisa sampai puluhan orang.
“Awal-awal sini buka dulu, kalau hari Sabtu dan Minggu pasti ramai pembeli. Kalau sekarang tidak, akhir pekan tetap sama seperti hari-hari biasa,” ungkap dia. Sementara Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Banyumas, Yunianto, membenarkan kondisi tersebut. Pasalnya tren batu akik hanya sesaat, sehingga sekarang ini peminatnya terus menurun.
“Sekarang (jual beli batu akik) sepi, karena sudah tidak musim. Nanti kami akan mencoba mengkaji untuk pengembangan ke depan seperti apa. Kalau melihat pangsa pasar seperti sekarang ini, kami tidak bisa,” kata dia. Menurut dia perkembangan perdagangan kini mengarah di sekitar komplek GOR Satria Purwokerto.
Apabila memungkinkan, pedagang batu akik akan dipindahkan ke sana bersamaan dengan rencana pembangunan selter PKL di sekitar GOR. “Yang sekarang ramai di sekitar GOR, tapi itu baru sebatas wacana. Belum sampai ke tahap realisasi, belum ada ke arah situ,” ujar dia.
Pada kesempatan berbeda, Kasi Penataan dan Pengendalian PKL Dinperindag Banyumas, Sarikin, mendorong para pedagang batu akik dan benda-benda antik untuk membuat terobosan agar Serayu Stone ramai kembali. “Kami telah menyediakan fasilitas untuk berjualan batu akik. Kami berharap para penjual dapat berinovasi, bagaimana caranya agar tren batu akik meningkat lagi, sehingga jumlah pembeli yang datang bertambah,” kata dia.
Berdasarkan catatan Suara Merdeka, bangunan Serayu Stone selesai dibangun akhir tahun 2012. Bangunan yang semula akan digunakan untuk menampung para PKL di Jalan Jenderal Soedirman batal digunakan, karena pedagang tidak mau dipindah. 
Sumber Suara Merdeka

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rencana Jalan TOL Pejagan /Tegal - Wangon - Cilacap Dalam Tahap Penyusunan FS

Up date info :  Ternyata info terbaru diusulkan bukan dari Tegal tapi dari Pejagan, Yaitu Pembangunan jalan tol lanjutan dari pejagan-bumiayu-pekuncen-ajibarang-cilacap dan Penyusunan FS tol Pejagan-Cilacap


Peta Usulan Program Bina Marga Antar WPS Brebes-Cilacap

 Pembangunan jalan tol lanjutan dari pejagan-bumiayu-pekuncen-ajibarang-cilacap Penyusunan FS tol Pejagan-Cilacap



update info berita ini Minggu 12 Feb 2017, 10:59 WIB Tegal Cilacap Bakal Terbangun Jalan TolDana Aditiasari - detikFinance Sisi Selatan Pulau Jawa bakal kehadiran proyek jalan tol, salah satunya adalah proyek jalan tol Tegal-Cilacap. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna.
"Itu kan tol prakarsa, artinya usulan dari pihak swasta. Usulannya sudah masuk ke kami, mudah-mudahan bisa lelang tahun ini," kata dia dihubungi detikFinance, Minggu (12/2/2017).
Jalan tol ini, kata Herry, diprakarsai oleh BUMN jalan tol, PT Jasamarga (Persero). Jalan tol ini bakal menjadi alternati…

Rencana Jalan TOL Ajibarang Wangon

Dalam perkembangannya rencana pembangunan jalan Tol Ajibarang Wangon terakomodasi dengan disetujuinya Rencana Jalan Tol Tegal Cilacap yang aksesnya dipastikan melewati kota kota ini.

Berdasarkan RTRW Jateng 2009-2029, Kabupaten Banyumas akan dilalui jalan tol Tegal-Cilacap. Rutenya dimulai dari Tegal-Prupuk-Bumiayu-Ajibarang-Wangon-Cilacap. Sedangkan untuk Kabupaten Cilacap akna dilalui Jalan tol Cilacap-Yogyakarta, rutenya dimulai dari Cilacap-Buntu-Sumpiuh-Kebumen-Purworejo-Kulon Progo, Yogyakarta.
Meskipun tidak melewati Kota Purwokerto, tapi dengan akses yang memadai terutama ke Wangon yang menurut informasi menjadi lokasi TOL Gate , maka tetap berperan signifikan terhadap mobilitas dari Purwokerto ke luar daerah. 
Ini adalah konsekuensi sebuah perkembangan dimana dampak dibukanya TOl Cipali tenyata semakin membuat kawasan Banyumas padat. bahkan yang menjadi pelajaran bersama adalah kasus rusaknya jembatan Comal Pemalang beberapa tahun lalu, mengakibatkan kemacetan parah di Jalur…

Objek Wisata Karang Penginyongan Karangtengah Cilongok

update info






GRAFIKA GROUP KEMBANGKAN WISATA DI KARANG PENGINYONGAN
KAWASAN WISATA KARANG PENGINYONGAN CIPENDOK
LAUTAN BUNGA DI TAMAN PENGINYONGAN
TITIAN KASIH KE PUNTUK ASMARA



[Suara Banyumas] Kawasan Objek Wisata Karang Penginyongan di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, bakal dikembangkan menjadi destinasi wisata dan budaya yang terintegrasi. Tujuannya menarik wisatawan untuk mengunjungi wilayah Banyumas bagian barat. Hal itu diungkapkan budayawan Ahmad Tohari dalam Sosialisasi Pengembangan Taman Wisata dan Budaya Karang Panginyongan, Minggu (17/1). Dia mengatakan, Karang Penginyongan ini diarahkan untuk menjadi kawasan wisata edukatif. Arahnya untuk membentuk karakter kepribadian pengunjungnya. ”Banyumas membutuhkan destinasi wisata dengan konsep yang baru, tidak hanya untuk objek wisata massal. Selain itu, sudah waktunya kantongkantong kebudayaan disiapkan untuk menarik wisatawan. Banyumas butuh usaha pariwisata berbasis alam dan juga pemikiran untuk p…