Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Kamis, 09 Maret 2017

Serayu Stone, Sisa Sisa Fenomena Akik Purwokerto

Perencanaan Kurang Matang

PERENCANAAN pembangunan Serayu Stone saat itu dinilai kurang matang. Pemkab hanya melihat fenomena sesaat kemunculan batu akik, kemudian menyiapkan tempat untuk memfasilitasi para pedagang. “Istilahnya grudugan (ramai-rami), seperti batu akik kemarin ramai, sekarang sudah hilang.
Konsepnya saya kira waktu itu belum matang,” kata pemerhati PKL sekaligus pengamat tata kota, Sunardi, kemarin. Menurut dia lokasi itu kini kurang prospektif untuk dijadikan tempat jual beli batu akik. Ke depan akan lebih baik lokasi itu juga digunakan juga untuk berjualan barang-barang lain yang sifatnya tidak musiman.
“Akik merupakan kebutuhan tersier, kalau sudah punya ya kebanyakan tidak membeli lagi, berbeda dengan kebutuhan primer dan sekunder. Misalnya penjual makanan pasti setiap hari ada yang membeli atau penjual pakaian, meksi tidak setiap hari tapi banyak yang membutuhkan,” ujar dia.
Dia menilai sejauh ini pendampingan pemkab terhadap PKLbelum optimal. Dalam beberapa kasus, konsep penataan PKL kurang berhasil. Dia berharap ke depan peran pemkab dapat lebih dioptimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan PKL. “Sesuai dengan kemampuan pemkab, sebenarnya pendampingan yang diberikan sejauh ini sudah cukup bagus, hanya saja belum optimal. Kembali lagi, yang namanya berjualan kadang laris, kadang tidak,” kata dia. 

Serayu Stone Perlu Sentuhan Pemkab
Pusat Penjualan Batu Akik
Pusat penjualan batu akik dan benda antik Serayu Stone Purwokerto perlu sentuhan dari pemkab. berjualan di sini dalam sehari bisa mendapat jutaan rupiah, kalau sekarang paling sekitar Rp 200.000 sampai Rp 300.000, itu sudah bagus,” katanya, kemarin. Menurut dia menginjak tahun ketiga operasional Serayu Stone omzet penjualan terus menurun.
Para pedagang sempat mengalami masa kejayaan pada tahun pertama, namun memasuki tahun kedua hingga sekarang terus berangsur menurun. “Yang paling dirasakan pedagang sejak tujuh bulan terkahir, sepi sekali. Tapi ini dalam beberapa hari terakhir mulai agak ramai, saya dapat pesanan cukup banyak dari Bandung. Semoga dapat terus bertahan seperti ini,” ujar dia.
Dia mengatakan, para pedagang di situ sebenarnya ingin membuat sebuah acara untuk mendongkrak kunjungan masyarakat. Namun sejauh ini masih sebatas wacana, karena keterbatasan anggaran yang dimiliki para pedagang. “Sampai sekarang belum ada sentuhan dari pemerintah. Kalau ada even seperti pameran sebenanrnya bagus untuk menarik minat pengunjung.
Kami berharap pemerintah dapat memfasilitasinya,” kata dia. Hal senada disampaikan Karsito, pedagang batu akik lainnya. Menurut dia masa booming telah terlewati. Dia mengaku saat ini hasil berjualan batu akik hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. “Sekarang omsetnya menurun drastis, jauh dibandingkan dulu. Kalau sekarang yang penting bisa buat makan.
Ibaranya seperti orang sedang memancing ikan, kadang dapat, kadang juga tidak dapat,” kata dia yang meneruskan berjualan batu akik dari orang tuanya. Dia berharap lokasi tempat berjualannya itu dapat kembali ramai seperti dulu. Jumlah pembeli yang datang ke lapaknya dalam sehari, saat ini bisa dihitung dengan jari. Kalau dulu bisa sampai puluhan orang.
“Awal-awal sini buka dulu, kalau hari Sabtu dan Minggu pasti ramai pembeli. Kalau sekarang tidak, akhir pekan tetap sama seperti hari-hari biasa,” ungkap dia. Sementara Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Banyumas, Yunianto, membenarkan kondisi tersebut. Pasalnya tren batu akik hanya sesaat, sehingga sekarang ini peminatnya terus menurun.
“Sekarang (jual beli batu akik) sepi, karena sudah tidak musim. Nanti kami akan mencoba mengkaji untuk pengembangan ke depan seperti apa. Kalau melihat pangsa pasar seperti sekarang ini, kami tidak bisa,” kata dia. Menurut dia perkembangan perdagangan kini mengarah di sekitar komplek GOR Satria Purwokerto.
Apabila memungkinkan, pedagang batu akik akan dipindahkan ke sana bersamaan dengan rencana pembangunan selter PKL di sekitar GOR. “Yang sekarang ramai di sekitar GOR, tapi itu baru sebatas wacana. Belum sampai ke tahap realisasi, belum ada ke arah situ,” ujar dia.
Pada kesempatan berbeda, Kasi Penataan dan Pengendalian PKL Dinperindag Banyumas, Sarikin, mendorong para pedagang batu akik dan benda-benda antik untuk membuat terobosan agar Serayu Stone ramai kembali. “Kami telah menyediakan fasilitas untuk berjualan batu akik. Kami berharap para penjual dapat berinovasi, bagaimana caranya agar tren batu akik meningkat lagi, sehingga jumlah pembeli yang datang bertambah,” kata dia.
Berdasarkan catatan Suara Merdeka, bangunan Serayu Stone selesai dibangun akhir tahun 2012. Bangunan yang semula akan digunakan untuk menampung para PKL di Jalan Jenderal Soedirman batal digunakan, karena pedagang tidak mau dipindah. 
Sumber Suara Merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar