Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Senin, 13 Maret 2017

Lapas Super maximum Security Purwokerto dengan 4 dinding pelapis terkoneksi CCTV


Penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Purwokerto, tidak hanya merasakan bangunan baru setelah dipindah dari gedung lapas yang lama, mereka juga harus memulai kebiasaan baru yakni tidak memegang uang tunai. Pasalnya penghuni Lapas Purwokerto kini dilarang memegang uang tunai.
Kepala Lapas Kelas II A Purwokerto Bawon, mengatakan kebijakan pelarangan peredaran uang tunai di dalam lapas dilakukan, untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, seperti keributan. ”Saya tidak mengharapkan ada uang yang beredar di dalam, sumber keributan karena uang. Untuk judi, narkoba, dan lainnya,” jelasnya saat ditemui di gedung Lapas Purwokerto yang baru, Jumat (10/3).
Dengan tidak adanya uang tunai yang beredar, ia mengganti dengan sistem transaksi nontunai. Menurut dia, ketika penghuni lapas membutuhkan barang penghuni hanya tinggal melakukan transaksi melalui mesin yang terkoneksi dengan toko Trakmart yang ada di dalam kompleks lapas tersebut. Nantinya barang yang dibutuhkan akan diantarkan oleh petugas.
Penggunaan Dibatasi
Guna melaksanakan transaksi nontunai itu, pihaknya menggandeng Bank Indonesia dan BRI. Saat ini menurutnya seluruh penghuni lapas, telah dibuatkan kartu yang nantinya digunakan untuk transaksi. Nantinya, agar dapat digunakan untuk transaksi kartu tersebut perlu diisi saldo terlebih dahulu. ”Pihak keluarga dari penghuni bisa mengisi saldo tersebut, di sini juga akan kami sediakan alat untuk mengisi saldo agar memudahkan keluarga yang menjenguk,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, dengan adanya sistem transksi nontunai juga dapat mengandalikan pengeluaran para penghuni lapas. Sebab, lanjutnya penggunaannya juga dibatasi, maksimal Rp 200 ribu sehari. Ia mengatakan, mengenai masa berlaku kartu tersebut yakni sepanjang yang bersangkutan menjadi warga binaan di Lapas Purwokerto.
Sebelumnya, para penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Purwokerto mulai dipindahkan ke gedung Lapas Purwokerto yang baru. Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Purwokerto Bawon, mengatakan pemindahan penghuni lapas dilakukan sejak Kamis (9/3). Pemindahan penghuni yang berjumlah 360 orang, kata dia dilakukan dalam dua tahap.
”Pemindahan dilakukan sejak Kamis ada 125, sedangkan sisanya Jumat harus sudah dipindah seluruhnya,” ucapnya, Jumat (10/3). Ia mengatakan, proses pemindahan tersebut dilakukan secara mendadak, dan tidak ada perencanaan jauh-jauh hari sebelumnya. Hal itu, menurutnya dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, ketika penghuni lapas mengetahui rencana pemindahan.
Menurutnya, bahkan tidak semua petugas lapas mengetahui rencana pemindahan ini. ”Jika ada rencana panjang, dikhawatirkan napi maupun penghuni lainnya bisa merancang hal-hal yang tidak diinginkan,” ucapnya. 
sumber Suara Merdeka
Lembaga Permasyarakatan (Lapas) kelas II B Purwokerto baru yang berada di Jalan Pasukan Pelajar Imam, Berkoh, Purwokerto tidak hanya gedungnya yang baru. Namun juga memiliki fasilitas baru, bahkan bakal dijadikan lapas percontohan di Indonesia. KARTU KHUSUS: Kalapas Purwokerto Bawon BC IP SH menunjukan kartu ATM khusus untuk warga binaan sehingga tak ada peredaran uang dalam Lapas II B Purwokerto. Kepala Lapas kelas II B Purwokerto, Bawon BC IP SH mengatakan, transaksi di dalam lapas tersebut bakal menggunakan transaksi non tunai. Upaya ini dilakukan untuk menghindari adanya peredaran uang di dalam lapas. “Kita bekerja sama dengan perbankan. Mereka (napi) akan diberikan kartu, jadi ketika membeli sesuatu, mereka tinggal menekan tombol seperti di ATM. Kartu itu hanya bisa digunakan sepanjang mereka ada di lapas. Sudah dirancang khusus. Penggunaaan uang juga kita dibatasi, sehingga tidak ada pinjam meminjam,” jelasnya. Menurutnya terobosan baru tersebut bertujuan untuk menghindari adanya peredaran uang di dalam lapas. Sebab menurutnya, selama ini uang dianggap sebagai sumber keributan di dalam lapas. “Kenapa non tunai, karena saya tidak mengharapkan ada uang di dalam, sehingga bisa menyebabkan keributan. Sumber dari keributan karena adanya uang, untuk judi, beli narkoba dan sebagainya. Kalau bentuknya non tunai, mereka akan susah bertransaksi, karena dibatasi,” ujarnya. Selain itu, lapas baru tersebut juga merupakan satu-satunya lapas penyanggah di Jakarta. Sehingga mendapat pengamanan yang super ketat, mulai dari pemeriksaan pengunjung yang harus melalui beberapa pintu pemeriksaan, juga dilengkapi ruang deteksi dan cctv yang lebih memadai. “Kalau memang pidananya dibawah 15 tahun ya di sini, kalau diatas 15 tahun baru di Nusakambangan. Selain itu, Lapas Purwokerto ini juga satu-satunya lapas yang dijadikan percontohan lapas bebas peredaran narkoba, HP dan korupsi baik di Jawa Tengah maupun di seluruh Indonesia,” katanya. Untuk memperketat keamanan, ke depan pihaknya juga bakal melarang pengunjung mengirimkan makanan siap jadi dari luar lapas. Hal ini untuk mengantisipasi adanya penyelundupan barang terlarang seperti yang pernah terjadi belum lama ini. “Untuk makanan siap jadi secara berangsur-angsur akan kita tiadakan. Karena di sini juga disediakan cafe. Selain itu di sini juga diberikan asupan gizi yang sudah sesuai standart,” ungkapnya.
Ratusan narapidana (Napi) dan tahanan di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) kelas II B Purwokerto mulai menempati bangunan baru, di Jalan Pasukan Pelajar Imam, Berkoh, Purwokerto, Jumat (10/3). Pemindahan ke Lapas baru dilakukan bertahap sejak, Kamis (9/3) kemarin. PINDAHAN: Pemindahan napi dan tahanan dari Lapas lama di Jalan jenderal Sodirman ke Lapas Baru di Jalan Pasukan Pelajar Imam Jumat (10/3). Kepala Lapas kelas II B Purwokerto, Bawon BC IP SH mengatakan, jumlah napi dan tahanan yang dipindah sebanyak 360 orang. Pemindahan dibagi menjadi dua tahap, sejak Kamis kemarin. “Kamis kemarin ada 125 napi yang sudah dipindah. Sisanya hari ini (kemarin), karena hari ini harus sudah dipindah semua,” katanya, kemarin. Proses pemindahan tersebut, kata Bawon, sangat mendadak dan tidak ada perencanaan panjang. Hal tersebut untuk mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan jika penghuni lapas mengetahui adanya pemindahan. “Ini memang sangat dadakan, bahkan tidak semua petugas lapas mengetahui hal ini, karena jika ada rencana panjang, dikhawatirkan penghuni lapas atau napi, bisa merancang sesuatu hal yang tidak diinginkan,” ujarnya. Meskipun semua penghuni, baik napi maupun tahanan sudah dipindah ke Lapas baru, namun gedung tersebut belum diresmikan. Menurutnya, pemindahan tersebut dinilai sudah sangat mendesak. Pasalnya, di Lapas lama sudah over kapasitas. “Sudah sangat mendesak untuk dipindah, karena di sana (lapas lama, red) sudah over kapasitas. Selain itu, ketika dibangun sudah cukup lama tapi tidak ditempati nanti rusak,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengatakan, bangunan Lapas baru dinilai lebih memadai karena jauh lebih bagus dan luas. Lapas baru tersebut, kata dia, dapat menampung sampai 750 orang. Selain dari kapasitas hunian, fasilitas lain juga lebih lengkap. Seperti fasilitas klinik dan peralatannya. Selain itu, pengamanan juga lebih ketat, karena memiliki beberapa lapis pintu. “Fasilitas lebih lengkap, blok hunian juga lebih humanis. Kamar yang banyak bisa untuk mengurai kepadatan. Pelayanan kesehatan, dan alat kesehatan juga lebih lengkap,” kata dia. Selain itu, di bangunan baru tersebut juga disediakan mini market dan kantin. Sehingga, pengunjung yang akan menjenguk tidak usah membeli dari luar. Hal tersebut tentu mengurangi kemungkinan-kemungkinan penyelundupan barang yang dilarang. “Disini ada trukmart dan trukcafe, pengunjung yang akan menjenguk masuk di sana dulu, nanti bungkusnya diganti dengan plastik transparan, kemudian menunggu ruang transit sebelum masuk bertemu tahanan, jadi lebih aman dan ketat,” ujarnya.
sumber Radar Banyumas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar