Langsung ke konten utama

RSUD Ajibarang


Sejarah - Dasar Hukum Pembentukan

RSUD Ajibarang merupakan rumah sakit milik Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas, dimana awalnya merupakan Unit Rawat Inap Puskesmas I Ajibarang, kemudian dikembangkan menjadi RSUD Ajibarang untuk peningkatan pelayanan kesehatan pada masyarakat di Kabupaten Banyumas khususnya Banyumas bagian barat.
Perkembangan RSUD Ajibarang adalah sebagai berikut :
  1. Berdasarkan SK Menkes Nomor 1339/ Menkes/IX/2005 ditetapkan sebagai Rumah Sakit Tipe D dan tanggal 27 Januari 2007 kegiatan RSUD Ajibarang mulai dilaksanakan. Jumlah Tempat Tidur: 102, Luas Lahan: 20000 m2, Luas Bangunan: 15000 m2;
  2. Berdasarkan SK Menkes Nomor 447/MENKES/SK/IV/2013, tanggal 5 April 2010, RSUD Ajibarang mengalami peningkatan kelas rumah sakit dari Tipe D ke Tipe C;
  3. Berdasarkan SK KARS No: KARS-SERT/46/VIII/2013 tanggal 15 Agustus 2013, RSUD Ajibarang Akreditasi 5 pelayanan dasar meliputi: Administrasi dan Manajemen, Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Keperawatan, Pelayanan Medis dan Rekam Medis;
  4. Berdasarkan SK Bupati Banyumas Nomor: 445.1/967/2013 tanggal 13 Desember 2013 RSUD Ajibarang menggunakan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK BLUD) dengan status penuh.
http://rsudajibarang.banyumaskab.go.id/page/5234/sejarah-dasar-hukum-pembentukan#.VnKxo0qLTIU

Perkembangan Terbaru...  


Tahun Depan, Target Operasikan Gedung Baru

Intensive Care Unit (ICU) adalah suatu bagian dari rumah sakit yang mandiri dengan staf khusus dan perlengkapan yang khusus. Ini  ditujukan untuk observasi, perawatan dan terapi pasien yang menderita penyakit, cedera atau penyulit yang mengancam nyawa atau potensial mengancam nyawa dengan prognosis dubia.
Kepala Instalasi ICU, dr. Igun Winarno, Sp.An mengatakan, ICU ialah instalasi pelayanan khusus di rumah sakit yang menyediakan pelayanan yang komprehensif dan berkesinambungan selama 24 jam.
Memberikan pelayanan yang profesional dan berkualitas untuk meningkatkan keselamatan pasien. Pada saat ini, ICU modern tidak terbatas menangani pasien pasca bedah atau mekanis ventilasi saja, namun merupakan cabang tersendiri yaitu intensive care medicine.
Igun menandaskan, ICU melaksanakan observasi, perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita penyakit, cedera atau penyulit-penyulit yang mengancam nyawa atau potensial mengancam nyawa.
Dukungan fungsi organ-organ vital seperti pernapasan, kardiosirkulasi, susunan saraf pusat, ginjal dan lain-lainnya. Dalam penyelenggaraanya diperlukannya tenaga-tenaga khusus (staf medik, perawat, staf lain yang terampil dan pengalaman) dari  multidisiplin ilmu. Diperlukannya bangunan dan prasarana (utilitas) yang memenuhi standar dan persyaratan teknis.
Igun menuturkan, sejarah berdirinya ICU di RSUD Ajibarang yaitu pada awal berdirinya RSUD Ajibarang pada tahun 2007 yang merupakan pemekaran dari Puskermas Rawat Inap, dimana RSUD Ajibarang masih merupakan RS Tipe C, ICU RSUD Ajibarang saat itu masih belum berdiri, dan hanya merupakan High Care Unit (HCU) saja dengan fasilitas 4 bed pasien, 1 ventilator, 2 unit bed side monitor,  2 unit syringe pump, dan belum adanya dokter spesialis anastesi yang merupakan kepala ICU.
“Pelayanan kepada pasien kritis saat itu masih belum maksimal, dan kebanyakan kasus perlu dirujuk ke RS yang lebih lengkap fasilitasnya,” kata dia.
Meningkatnya kasus penyakit yang memerlukan pelayanan ICU di RSUD Ajibarang, kasus Kardiovaskuler, Neurovaskuler, Trauma, Gangguan Haemodinamika, Pasca Operasi Besar maka kebutuhan akan adanya ICU di RSUD Ajibarang meningkat.
Menurut Igun, pada tahun 2013, seiring dengan meningkatnya status RSUD Ajibarang menjadi RS Tipe C dan datangnya dokter spesialis anestesi setelah menyelesaikan program pendidikannya, maka sejak tahun 2013, ICU RSUD Ajibarang berdiri.
Dengan fasilitas masih 4 bed pasien, bed side monitor 4 unit, Ventilator 2 unit, syringe pump 5 unit, infuse pump 1 unit, dengan dokter spesialis anastesi, dr. Igun Winarno, Sp.An., sebagai kepala ICU serta staf keperawatan yang bersertifikat pelatihan ICU dan BCLS.
Perkembangan ICU RSUD Ajibarang tidak berhenti sampai disitu saja, akan tetapi selalu berkembang.
“Saat ini fasilitas ICU RSUD Ajibarang semakin meningkat dan semakin baik dengan 8 bed pasien, 10 unit bed side monitor, 4 unit ventilator, 21 unit syringe pump, 8 unit infuse pump, dengan dokter anastesi sebagai kepala ICU serta staf keperawatan yang bersertifikat pelatihan ICU, ACLS, dan BCLS,” beber Igun.
Sehingga ICU RSUD Ajibarang saat ini siap memberikan pelayanan kepada pasien kritis lebih paripurna.     Namun, saat ini ICU masih menempati bangunan sementara/darurat, menempati bangunan bekas Ruang Rawat Inap sehingga pelayanannya masih belum maksimal.
Dalam rangka memenuhi kualifikasi bangunan/gedung ICU, saat ini sedang berlangsung pembangunan Gedung ICU yang rencananya akan dibangun 4 lantai, dimana pada tahun 2015 ini akan dibangun 2 lantai terlebih dahulu dengan ICU di lantai 2 dan IBS (Kamar Bedah) di lantai dasar.
Pembangunan Gedung ICU ini akan meningkatkan kapasitas ICU menjadi 10 bed dan memenuhi kualifikasi teknis Gedung ICU yang dipersyaratkan oleh pemerintah.
Direktur RSUD Ajibarang, dr. Dani Esti Novia  berharap pembangunan Gedung ICU ini dapat selesai dibangun pada tahun 2015 ini. Sehingga pada tahun 2016 nanti, pelayanan ICU sudah dapat menempati Gedung ICU yang baru dan pelayanan kepada pasien kritis lebih maksimal dan paripurna.     “Kami dari Keluarga Besar RSUD Ajibarang memohon maaf apabila selama proses pembangunan Gedung ICU tersebut, pasien dan keluarga pasien yang saat ini dirawat di RSUD Ajibarang merasa terganggu dan kurang nyaman,” katanya. (Sekretariat PPID)

Komite Keperawatan


RSUD Ajibarang merupakan rumah sakit pemerintah kabupaten tipe C yang memberi pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Pelayanan kesehatan tersebut antara lain pelayanan gawat darurat, pelayanan rawat jalan, pelayanan rawat inap dan pelayanan penunjang.
Disamping memberikan pelayanan bagi masyarakat, RSUD Ajibarang juga memiliki beberapa organisasi non struktural bagi karyawan karyawati untuk berkarya dalam meningkatkan RSUD Ajibarang. Salah satu organisasi non struktural tersebut adalah Komite Keperawatan.
Komite Keperawatan dibentuk oleh direktur rumah sakit dan bertanggungjawab kepada direktur rumah sakit. Susunan organisasi komite keperawatan rumah sakit terdiri dari ketua komite keperawatan, sekretaris komite keperawatan dan subkomite.
Subkomite terdiri dari Subkomite (1) Kredensial, (2) Mutu Profesi dan (3) Etika dan Disiplin Profesi. Keanggotaan Komite Keperawatan ditetapkan oleh direktur RS dengan mempertimbangkan sikap profesional, kompetensi, pengalaman kerja, reputasi dan perilaku.
Sedangkan untuk jumlah personil keanggotaan komite keperawatan disesuaikan dengan jumlah tenaga keperawatan di rumah sakit.
Sementara, Ketua Komite Keperawatan RSUD Ajibarang adalah Gunawan S.Kep.Ns dan sekretarisnya Rosana Nurwulandari S.Kep.Ns. Sedangkan ketua Subkomite Kredensial adalah Khalifah Mahardika S.Kep.Ns, ketua Subkomite Mutu Profesi adalah Gunawan Susanto S.Kep.Ns dan ketua Subkomite Etika dan Disiplin Profesi adalah Enti Priyatin S.Kep.Ns.
Khalifah S.Kep.Ns. selaku ketua Subkomite Kredensial mengatakan, kredensial adalah proses evaluasi terhadap tenaga keperawatan untuk menentukan kelayakan pemberian kewenangan klinis.
“Sedangkan re-kredensial adalah proses re-evaluasi terhadap tenaga keperawatan yang telah memiliki kewenangan klinis untuk menentukan kelayakan pemberian kewenangan klinis tersebut,” kata dia.
Dengan demikian, kredensial berbicara tentang lingkup kewenangan yang dimiliki oleh seorang tenaga perawat. Hasil akhir dari proses kredensial adalah diberikannya surat penugasan klinis oleh direktur sesuai dengan jenjang klinis perawat tersebut.
Salah satu tugas Komite Keperawatan melalui Subkomite Kredensial adalah melakukan kredensial terhadap seluruh tenaga keperawatan di rumah sakit.
Proses kredensial menjamin tenaga keperawatan kompeten dalam memberikan pelayanan keperawatan dan kebidanan kepada pasien sesuai dengan standar profesi. Proses kredensial mencakup tahapan review, verifikasi dan evaluasi terhadap dokumen-dokumen yang berhubungan dengan kinerja tenaga keperawatan.
Khalifah mengatakan, subkomite Kredensial RSUD Ajibarang saat ini sedang menyusun kewenangan klinis yang akan diujikan oleh asesor internal.
Program dari Komite Keperawatan adalah pada tahun 2016 seluruh tenaga keperawatan di RSUD Ajibarang sudah memiliki kewenangan klinis masing-masing.
“Bagi tenaga keperawatan yang sudah lama bekerja, maka tugas Subkomite Kredensial adalah melakukan re-kredensial,” katanya.
Menurut Khalifah, Re-kredensial di RSUD Ajibarang dilakukan secara periodik setiap 5 tahun sekali. Karena Peraturan Menteri Kesehatan tentang Komite Keperawatan baru diundangkan pada Agustus 2013, maka semestinya Subkomite Kredensial Komite Keperawatan di semua rumah sakit harus sudah bersiap diri melakukan proses kredensial yang pertama kepada seluruh perawat yang ada di rumah sakit masing-masing.
“Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Komite Keperawatan mengharuskan seluruh tenaga perawat/bidan harus memiliki Surat Penugasan Klinis yang dikeluarkan oleh Direktur Rumah Sakit,” Papar Khalifah, S.Kep.Ns.
Gunawan Susanto S.Kep.Ns. selaku ketua Subkomite Mutu Profesi mengatakan, program Subkomite Mutu Profesi adalah meningkatkan mutu tenaga keperawatan melalui program pengembangan profesional berkelanjutan yang disusun secara sistematis, terarah dan terstruktur sesuai perkembangan masalah kesehatan, ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan standar profesi, standar pelayanan serta hasil-hasil penelitian terbaru.
Berbagai cara yang dilakukan dalam rangka meningkatkan mutu profesi tenaga keperawatan antara lain audit, diskusi, refleksi diskusi kasus, studi kasus, seminar/simposium serta pelatihan, baik dilakukan di dalam maupun di luar rumah sakit.
Mutu profesi yang tinggi akan meningkatkan percaya diri, kemampuan mengambil keputusan klinik dengan tepat, mengurangi angka kesalahan dalam pelayanan keperawatan dan kebidanan. Akhirnya meningkatkan tingkat kepercayaan pasien terhadap tenaga keperawatan dalam pemberian pelayanan keperawatan dan kebidanan.
“Subkomite yang ketiga adalah Etik dan Disiplin Profesi. RSUD Ajibarang menekankan untuk setiap tenaga keperawatan yang ada harus memiliki disiplin profesi yang tinggi dalam memberikan asuhan keperawatan dan kebidanan serta mampu menerapkan etika profesi dalam praktiknya. Profesionalisme tenaga keperawatan dapat ditingkatkan dengan melakukan pembinaan dan penegakan disiplin profesi serta penguatan nilai-nilai etik dalam kehidupan profesi,” kata Enti Priyatin S.Kep. Ns.
Nilai etik sangat diperlukan bagi tenaga keperawatan sebagai landasan dalam memberikan pelayanan yang manusiawi berpusat pada pasien.
Prinsip “caring” merupakan inti pelayanan yang diberikan oleh tenaga keperawatan di RSUD Ajibarang. Pelanggaran terhadap standar pelayanan, disiplin profesi keperawatan dan kebidanan hampir selalu dimulai dari pelanggaran nilai moral-etik yang akhirnya akan merugikan pasien dan masyarakat.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pelanggaran atau timbulnya masalah etik antara lain tingginya beban kerja tenaga keperawatan, ketidakjelasan Kewenangan Klinis, menghadapi pasien gawat-kritis dengan kompetensi yang rendah serta pelayanan yang sudah mulai berorientasi pada bisnis. Untuk meminimalkan timbulnya masalah etik tersebut Subkomite Etik RSUD Ajibarang melakukan penegakan disiplin profesi dan pembinaan etika profesi secara terencana, terarah dan dengan semangat yang tinggi sehingga pelayanan keperawatan dan kebidanan yang diberikan benar-benar menjamin pasien akan aman dan mendapat kepuasan.
Subkomite Kredensial, Subkomite Mutu Profesi dan Subkomite Etika dan Disiplin Profesi di RSUD Ajibarang memiliki program-program unggulan yang akan membawa kemajuan dalam Komite Keperawatan.
Jika setiap tenaga keperawatan yang ada sudah memiliki kompetensi yang baik maka akan bekerja sesuai dengan standar yang diharapkan sehingga memuaskan pelanggan.
Hal ini sesuai dengan pengarahan dari ibu direktur RSUD Ajibarang dr. Dani Esti Novia pada saat apel pagi untuk senantiasa bekerja dengan pelayanan profesional untuk kepuasan pelanggan. (Radar Banyumas)



Dokumentasi saya pada  di skyscrapercity pada  May 16th, 2014,    














Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rencana Jalan TOL Pejagan /Tegal - Wangon - Cilacap Dalam Tahap Penyusunan FS

Up date info :  Ternyata info terbaru diusulkan bukan dari Tegal tapi dari Pejagan, Yaitu Pembangunan jalan tol lanjutan dari pejagan-bumiayu-pekuncen-ajibarang-cilacap dan Penyusunan FS tol Pejagan-Cilacap


Peta Usulan Program Bina Marga Antar WPS Brebes-Cilacap

 Pembangunan jalan tol lanjutan dari pejagan-bumiayu-pekuncen-ajibarang-cilacap Penyusunan FS tol Pejagan-Cilacap



update info berita ini Minggu 12 Feb 2017, 10:59 WIB Tegal Cilacap Bakal Terbangun Jalan TolDana Aditiasari - detikFinance Sisi Selatan Pulau Jawa bakal kehadiran proyek jalan tol, salah satunya adalah proyek jalan tol Tegal-Cilacap. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna.
"Itu kan tol prakarsa, artinya usulan dari pihak swasta. Usulannya sudah masuk ke kami, mudah-mudahan bisa lelang tahun ini," kata dia dihubungi detikFinance, Minggu (12/2/2017).
Jalan tol ini, kata Herry, diprakarsai oleh BUMN jalan tol, PT Jasamarga (Persero). Jalan tol ini bakal menjadi alternati…

Rencana Jalan TOL Ajibarang Wangon

Dalam perkembangannya rencana pembangunan jalan Tol Ajibarang Wangon terakomodasi dengan disetujuinya Rencana Jalan Tol Tegal Cilacap yang aksesnya dipastikan melewati kota kota ini.

Berdasarkan RTRW Jateng 2009-2029, Kabupaten Banyumas akan dilalui jalan tol Tegal-Cilacap. Rutenya dimulai dari Tegal-Prupuk-Bumiayu-Ajibarang-Wangon-Cilacap. Sedangkan untuk Kabupaten Cilacap akna dilalui Jalan tol Cilacap-Yogyakarta, rutenya dimulai dari Cilacap-Buntu-Sumpiuh-Kebumen-Purworejo-Kulon Progo, Yogyakarta.
Meskipun tidak melewati Kota Purwokerto, tapi dengan akses yang memadai terutama ke Wangon yang menurut informasi menjadi lokasi TOL Gate , maka tetap berperan signifikan terhadap mobilitas dari Purwokerto ke luar daerah. 
Ini adalah konsekuensi sebuah perkembangan dimana dampak dibukanya TOl Cipali tenyata semakin membuat kawasan Banyumas padat. bahkan yang menjadi pelajaran bersama adalah kasus rusaknya jembatan Comal Pemalang beberapa tahun lalu, mengakibatkan kemacetan parah di Jalur…

Objek Wisata Karang Penginyongan Karangtengah Cilongok

update info






GRAFIKA GROUP KEMBANGKAN WISATA DI KARANG PENGINYONGAN
KAWASAN WISATA KARANG PENGINYONGAN CIPENDOK
LAUTAN BUNGA DI TAMAN PENGINYONGAN
TITIAN KASIH KE PUNTUK ASMARA



[Suara Banyumas] Kawasan Objek Wisata Karang Penginyongan di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, bakal dikembangkan menjadi destinasi wisata dan budaya yang terintegrasi. Tujuannya menarik wisatawan untuk mengunjungi wilayah Banyumas bagian barat. Hal itu diungkapkan budayawan Ahmad Tohari dalam Sosialisasi Pengembangan Taman Wisata dan Budaya Karang Panginyongan, Minggu (17/1). Dia mengatakan, Karang Penginyongan ini diarahkan untuk menjadi kawasan wisata edukatif. Arahnya untuk membentuk karakter kepribadian pengunjungnya. ”Banyumas membutuhkan destinasi wisata dengan konsep yang baru, tidak hanya untuk objek wisata massal. Selain itu, sudah waktunya kantongkantong kebudayaan disiapkan untuk menarik wisatawan. Banyumas butuh usaha pariwisata berbasis alam dan juga pemikiran untuk p…