Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Membany...

Senin, 11 Juli 2016

Dari Sanpirngad Getuk Goreng Bermula

suaramerdeka.com
SOKARAJA yang terletak di timur Banyumas, getuk goreng . Getuk yang terbuat dari olahan singkong (cassava) ini telah diproduksi sejak tahun 1918 oleh Sanpirngad, seorang penjual nasi keliling di daerah tersebut.
Sanpirngad, sang pendiri getuk goreng mewariskan usahanya kepada Tohirin, menantunya. Di tangan Tohirin, getuk goreng mencapai masa kejayaan. Oleh anak cucu Tohirin, tiga toko itu dikembangkan lagi sampai akhirnya menjadi sembilan toko, delapan di antaranya di Sokaraja dan satu toko di Buntu Banyumas.
Di luar dinasti Tohirin, berkembang pula pusat-pusat jajanan khas Purwokerto dengan menu utama getuk goreng. Tak heran jika para penjual getuk goreng di sepanjang jalur Sokaraja-Purwokerto (Jalan Jenderal Soedirman) ini sebagian besar masih punya hubungan darah. Sejak itulah, getuk goreng menjadi oleh-oleh khas Sokaraja.
’’Getuk goreng yang sekarang banyak dijual di sepanjang Sokaraja ini tak lagi getuk yang tidak laku dijual, tetapi sengaja dibuat untuk digoreng. Bahkan ada beragam rasa,’’ ujar Prasetyo (45), salah satu generasi ketiga Tohirin yang membuka usaha getuk goreng.
Tak hanya terobosan baru dengan membuat varian rasa, Prasetyo juga membuka tokonya selama 24 jam nonstop. Jadi, pengunjung bisa kapan saja bertandang ke tokonya. Kawasan ini tak hanya menarik wisatawan. Sejumlah tokoh dan artis pun menyempatkan diri bertandang ke Sokaraja.
Belum lama ini, Prasetyo dikunjungi musikus Opick untuk mengepak oleholeh bagi keluarganya. Bagi dia, ada sebuah kebanggaan. Ketika getuk yang diolah dan dijual secara turun- temurun menjadi ikon kuliner Banyumas. Banyumas juga panganan khas lain yakni Mendoan dan Keripik Tempe.
Kuliner khas itu bisa didapatkan di pusat oleh-oleh Sawangan, Purwokerto. Di sini terdapat sejumlah gerai yang menjual mendoan dan keripik tempe. Toko tertua adalah Mirasa, disusul Eco 21 dan Sawangan 01.
Toko ini menjual mendoan berukuran 12 cm x 15 cm, dengan tebal 3-5 milimeter. Bisa dimakan di tempat, atau dibawa pulang untuk oleh-oleh. Selain yang digoreng matang, Enni W, pengelola Tempe Kripik Sawangan 01 juga menjual mendoan mentah.
Satu paket berisi 10 bungkus mendoan, satu plastik tepung, bumbu, dan sambal kecap. Dengan membeli mendoan mentah, pembeli bisa menikmati makanan itu di luar kota. Harga satu paket sekarang berkisar Rp 20.000-Rp 25.000.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar