Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Senin, 21 September 2015

Warung Penajem

Bunyi yang kering dan tajam selalu terdengar setiap kali mata cangkul Kartawi menghunjam tanah tegalan yang sudah lama kerontang. Debu tanah kapur memercik. Pada setiap detik yang sama Kartawi merasa ada sentakan keras terhadap otot-otot tangan sampai ke punggungnya. Dan petani muda itu terus mengayun cangkul. Maka suara yang kering-tajam, percikan debu dan sentakan-sentakan otot terus runtut terjadi di bawah matahari kemarau yang terik. Kaos oblong yang dipakai Kartawi sudah basah oleh keringat. Kedua kakinya penuh debu hingga ke lutut. Dan di bawah bayangan caping bambu yang dipakainya, wajah Kartawi tampak lebih tua dan berdebu.
            Ketika lajur garapan mencapai batas tanahnya, Kartawi berhenti mengayun cangkul. Petani itu tegak dan diam. Ia ingin mengembalikan tenaga dengan memompakan udara dari paru-paru ke segenap otot-ototnya.  Kedua matanya menyipit dan menerawang datar ke depan. Di hadapannya, sejauh mata memandang, adalah wajah kemarau yang menghampar di atas dataran tanah berkapur. Rumput dan perdu kehilangan hijaunya. Pepohonan meranggas dan ratusan hektar tanah tegalan itu kerontang. Lereng bukit kapur jauh di utara menjadi dinding warna kelabu dengan bercak-bercak putih; bisu dan tandus. Dari kejauhan udara di atas permukaan tanah tampak berpendar. Sementara di langit yang kosong burung layang-layang beterbangan dalam kelengangan.
            Kedua mata Kartawi masih menerawang ke depan. Dari latar belakang permukaan bumi yang berpendar itu tiba-tiba Kartawi melihat citra Jum, istrinya. Entahlah, tiba-tiba Kartawi merasa ada tekanan menusuk dadanya, ada segumpal sabut kelapa mengganjal kerongkongannya. Otot-ototnya terasa kehilangan tenaga. Jemari yang menggenggam gagang cangkul mengendur. Kepalanya pun tertunduk. Kartawi menarik nafas panjang, kemudian berjalan lesu meninggalkan lajur garapan menuju tempat teduh di bawah pohon johar. Petani muda itu mendadak kehilangan semangat bekerja.
            Kartawi berdiri dalam keteduhan pohon johar yang masih mempertahankan daun-daun terakhir. Sosok Jum masih tampak jelas dalam rongga matanya, melayani tetangga yang membeli cabai, bumbu masak,  atau ikan asin. Atau segala macam kebutuhan dapur para petani tetangga. Jum yang segar dan kuat. Jum yang punya hasrat besar punya rumah tembok, televisi, dan sepeda motor bebek. Dan demi cita-cita itu Jum merasa tak punya jalan kecuali bekerja keras dan mau menempuh segala upaya agar warungnya maju dan laris.
***
Kartawi tahu segalanya tentang Jum sejak istrinya itu masih ingusan. Ketika bocah, Jum paling betah main warung-warungan. Dalam permainan itu Jum selalu bertindak sebagai pemilik warung dan semua temannya diminta berperan sebagai pelanggan. Jum bisa betah sehari suntuk dalam permainan yang sering dilakukan di bawah pohon nangka di belakang rumahnya itu.
            Setelah menjadi isteri Kartawi, maka Jum tidak minta apa-apa kecuali dibuatkan warung yang sebenarnya. Kartawi menurut karena suami itu memang amat sayang kepada Jum. Maka Kartawi menjual dua ekor kambing dan menebang beberapa pohon, satu di antaranya pohon bacang. Mengapa  bacang, adalah karena usul Jum. Kata Jum yang telah tahu ngelmu perwarungan, harus ada kayu dari pohon buah-buahan dalam bangunan warung. ”Kang, kata orang-orang tua, kayu dari pohon buah-buahan bisa memancing selera pembeli,” kata Jum dulu kepada suaminya. Kartawi hanya menjawab dengan senyum dan dua hari kemudian berdiri sebuah warung kecil di depan rumah pasangan muda itu.
            Warung Jum langsung hidup. Jum tampak tekun dan gembira dengan warungnya. Mungkin Jum berpendapat, hidup baginya tidak bisa berarti lain kecuali membuka warung. Dengan warung itu Jum terbukti mampu mengembangkan ekonomi rumah tangga. Pada tahun ketiga, sementara dua anak telah lahir, Jum berhasil meraih salah satu keinginannya, memiliki rumah tembok. Tahun berikutnya ia sudah punya televisi hitam putih 14 inci. Kini giliran sepeda motor bebek yang ingin diraih Jum. Dan Kartawi sepenuhnya berada di belakang cita-cita istrinya itu. Soalnya sederhana: punya istri yang pergi kulak dagangan naik sepeda motor milik sendiri adalah prestasi yang sulit disamai oleh sesama petani di kampungnya. Pokoknya Kartawi merasa jadi lelaki beruntung karena punya istri Jum.
            Tetapi mengapa sejak beberapa hari terakhir ini Kartawi mendengar selentingan para tetangga tentang Jum. Entah dari mana sumbernya para tetangga mengembangkan cas-cis-cus bahwa Jum pekan lalu tanpa setahu suami pergi mengunjungi Pak Koyor, orang pandai, dari kampung sebelah. Orang bilang Jum pergi ke sana demi memperoleh penglaris bagi warungnya. Soal mencari penglaris Kartawi maklum bahkan setuju. Ya, Kartawi memang percaya, meraih cita-cita tidak cukup dilakukan dengan usaha nyata. Namun masalahnya cas-cis-cus para tetangga mengembang lebih jauh; bahwa Jum telah memberikan penajem kepada Pak Koyor. Kartawi tahu penajem, yaitu syarat yang harus diberi kepada dukun agar suatu upaya mistik berhasil, bisa berupa uang, ayam cemani atau bahkan tubuh pasien sendiri. Dan para tetangga bilang, Jum telah memberikan yang terakhir itu kepada sang dukun.
***
Masih berdiri di bawah pohon johar, Kartawi kembali merasa dadanya tertekan keras. Dalam hati Kartawi berharap selentingan para tetangga itu Cuma omong kosong. Mungkin mereka iri karena melihat warung Jum laris sehingga mereka sengaja meniupkan cerita macam-macam, pikir Kartawi. Tetapi bagaimana bila benar Jum telah memberikan tubuhnya sebagai penajem kepada Koyor? Rasa sakit kembali menusuk dada Kartawi lebih keras. Kartawi meresa dirinya terayun-ayun dalam ketidakpastian yang sangat menyiksa.
            Karena sadar hanya Jum sendiri yang bisa memberinya kejelasan, Kartawi mwmutuskan segera pulang meskipun hasil kerja siang itu sama sekali belum memadai. Berteman bayang-bayangnya sendiri, Kartawi melangkah mengikuti jalan tikus yang membelah tegalan. Cangkul membujur di atas pundak dan tempat minuman dalam jinjingannya. Pada sebuah simpang empat kecil, lelaki itu berbelok ke arah timur. Suara dedaunan kering yang remuk terinjak mengiringi setiap langkah petani muda itu.
            Ketika sampai di rumah, Kartawi melihat Jum sedang melayani beberapa pembeli. Sebenarnya Kartawi hampir tak tahan meniunggu sampai Jum punya peluang untuk diajak bicara. Namun ternyata suami yang sedang memendam kejengkelan itu harus bisa menahan diiri sampai sore, malah malam hari. Selagi masih ada orang terjaga, Jum harus siap melayani mereka. Bahkan sesudah warung ditutup pun tak jarang ada pembeli mengetuk pintu.
            Maka pertanyaan tentang benar tidaknya cas-cis-cus para tetangga itu baru bisa diajukan oleh Kartawi ketika malam sudah larut. Anak-anak pun sudah lama tertidur. Dan Jum saat itu yang sedang duduk menikmati televisi tampak tak berminat menanggapi pertanyaan suaminya. Kartawi bangkit dan mematikan TV, lalu duduk kembali dan mengulang pertanyaannya dengan tekanan lebih berat.
            ”Ya, Kang, pekan lalu saya memang pergi kepada Pak Koyor,” dengan gaya tanpa beban. ”Setiyar Kang, supaya warung kita tetap laris. Kamu tahu Kang, sekarang sudah banyak saingan.”
            Kartawi menelan ludah. Ia merasa ada gelombang pasang naik dan menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. Di bawah cahaya lampu listrik 10 watt wajahnya tampak sangat berat. ”Dan Kamu memberi dia penajem? Iya?” tanya Kartawi. Suaranya dalam dan makin berat. Tatapan matanya menusuk mata istrinya. Jum hanya sekejap mengangkat muka, lalu tertunduk. Dan tersenyum ringan. Wajahnya pun kembali cair. ”Kang, Kamu ini bagaimana? Soal memberi penajem itu kan biasa. Jadi ...”
            ”Jadi betul Kamu...” Tangan Kartawi meraih gelas yang seperti hendak diremukkannya dalam genggaman. Otot yang mngikat kedua rahangnya menggumpal. Matanya menyala. Jum menyembunyikan wajah karena mengira Kartawi akan memukulnya, Tidak, ternyata Kartawi bisa menahan diri meski seluruh tubuhnya bergetar menahan marah.
            ”Kang,” ujar Jum setelah suaminya agak kendur. ”Dengarlah, saya mau bicara.” Jum berhenti dan menelan ludah yang tiba-tiba terasa lebih pekat. ”Yang saya berikan kepada Pak Koyor bukan begitu-begitu yang sesungguhnya. Saya Cuma main-main, Cuma pura-pura, Tidak sepenuh hati. Kang, saya masih eling. Begitu-begitu yang sebenarnya hanya untuk Kamu. Sungguh, Kang.” Kartawi tatap membatu. Matanya tetap berpijar. Urat rahanya masih menggumpal. Dalam perasaan yang terpangga itu Kartawi melihat wilayah-wilayah pribadi tempat bersemayam harga diri dan martabat kelelakiannya terinjak-injak. Porak-porak. Jemari kembali meregang untuk meremas gelas yang masih digenggamnya. Jum malah mencoba tersenyum. Tetapi Jum terkejut karena tiba-tiba Kartawi berteriak. ”Lalu apa bedanya begitu-begitu yang main-main dengan begitu-begitu yang sungguhan?” Jum kembali menelan ludah.n Dan ketenangannya yang kemudian berhasil ditampilkannya membuat Kartawi harus tetap pada posisi menahan diri. ”Oalah Kang, bedanya banyak. Karena Cuma main-main maka begitu-begitu yang saya lakukan itu tidak sampai ke hati. Tujuan saya hanya untuk membayar penajem, agar warung kita laris, tidak lebih. Jadi, Kamu tidak kehilangan apa-apa, Kang. Semuanya utuh. Kang, jika warung kita bertambah laris, kita juga yang bakal enak-kepenak, bukan?” Belum satu detik setelah Jum selesai mengucapkan kata-katanya Kartawi bangkit. Detik berikut terdengar suara gelas hancur terbanting di lantai. Kartawi ke luar setelah membanting pintu keras-keras. Dan Jum menangis.
***
            Selama tiga hari Kartawi lenyap dari rumah. Para tetangga bilang, Kartawi begitu tertekan, malu, dan terhina, setelah mendengar pengakuan Jum. Malah ada yang bilang Kartawi kembali ke rumah orang tuanya dan telah memutuskan hendak bercerai dari Jum. Namun ada lagi yang bilang Kartawi pergi hanya untuk menghibur diiri dengan cara jajan. Dengan jajan Kartawi berharap dendamnya dapat terlampiaskan karena kedudukan antara dia dan Jum menjadi satu-satu. Atau entahlah. Yang pasti Kartawi sendiri setelah jajan beban pikirannya malah semakin berat. Terasa ada bagian jati dirinya yang lepas.
            Pada hari keempat Kartawi pulang. Rindunya pada rumah, kepada anak-anak, dan kepada Jum tak tertahankan. Bagaimana juga Jum dan anak-anak sudah lama menjadi bagian hidup Kartawi sendiri. Kemarahan yang amat sangat tak mampu mengeluarkan Jum dari inti kehidupannya. Namun sampai di halaman Kartawi termangu. Dipandangnya warung Jum yang laris yang telah mendatangkan banyak untung. ”Dengan warung ini ekonomi rumah tanggaku bisa sangat meningkat,” pikir Kartawi. ”Keluargaku bisa hidup wareg, anget, rapet.” Tetapi dada Kartawi kembali terasa remuk ketika teringat penajem yang telah dibayar oleh Jum. Peningkatan ekonomi itu ternyata telah menuntut pengorbanan yang luar biasa dan mahal. Kartawi jadi bimbang dan tergagap di halaman rumah sendiri. ***
                                 Kompas, Minggu, 13 November 1994

Tidak ada komentar:

Posting Komentar