Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Senin, 21 September 2015

AKHIRNYA KARSIM MENYEBERANG JALAN



Ketika kabar kematian dirinya disiarkan lewat corong masjid, Karsim sedang terpukau. Karsim terpana karena segalanya telah berubah. Dia yakin matanya melihat segala sesuatu menjadi lebih terang, lebih nyata. Dedaunan menjadi lebih hijau dan berpendar-pendar. Juga bunga-bungaan. Kuning kembang waru menjadi lebih kuning, lebih cemerlang. Semuanya berubah menjadi lebih apa, Karsim tidak bisa mengatakannya.
            Karsim melihat semua anak-anak seperti bergerak dalam balutan cahaya. Juga kucing, kambing, burung-burung, tikus, dan semuanya. Juga Nenek Painah yang biasa tidak menghabiskan sarapannya demi seekor ayam jantan kesayangannya. Nenek Painah jadi cantik sekali.
            Setelah kematiannya disiarkan lewat corong masjid, Karsim juga bisa mendengar suara kepak sayap kupu-kupu. Suara tetes air di kran tempat wudu yang tidak tertutup dengan baik juga sampai ke telinga Karsim. Suaranya bening mendenting. Suara yang menggema dalam ruang. Amat mengesankan. 
            Hidungnya menangkap harum mulut bayi. Padahal selama Karsim mengambang di atas orang-orang yang sedang mengurus mayatnya tak ada bayi. Ah, Karsim ingat Tursem yang tinggal di sebuah gubug jauh di pinggir kali kemarin melahirkan bayinya.  Pada awalnya adalah kemarin. Karsim mau menyeberang jalan raya dan akan terus pergi ke ladang padinya di tepi sungai. Karsim tidak punya ladang meskipun hanya seluas tapak kaki.Tetapi pada musim kemarau air sungai surut dan Karsim mendapat beberapa depa tanah endapan lumpur buat ditanami padi.
            Ini tiga hari menjelang lebaran. Jalan raya itu padat luar biasa oleh berbagai kendaraan terutama yang datang dari barat. Tidak mudah bagi Karsim buat menyeberang. Apalagi matanya mulai baur. Sudah tiga kali dia mencoba namun selalu gagal. Setiap kali mencoba melangkah dia harus surut lagi dengan tergesa. Klakson-klakson mobil dan motor ramai-ramai membentaknya.  Wajah-wajah pengendara adalah wajah para raja jalanan. Wajah-wajah yang mengusung semua lambang kekotaan, keakuan yang kental, manja dan kemaruk luar biasa. Pamer. Ah, tetapi Karsim tahu, pamer diri itu penting. Karsim pernah  mendengar itu diucapkan oleh dalang dalam sebuah pentas wayang. 
            Maka Karsim mengalah, menunggu barangkali ada peluang menyeberang. Kesadarannya sebagai orang kampung yang miskin adalah nrimo. “Mereka yang sedang mengusai jalan raya tentulah manusia sesungguhnya, sedangkan aku hanyalah Karsim yang hanya punya secuil ladang di pinggir kali, itu pun hanya di musim kemarau.”
            Karsim tahu mereka yang sedang berkuasa atas jalan raya itu sedang bergegas karena mau berlebaran di tempat asal. Sungkem kepada orangtua, ziarah, kangen-kangenan, dan semua itu penting. Semua itu merupakan kebutuhan. Juga pamer tidak kalah penting.
            Di bawah matahari yang mulai terik Karsim setia menunggu. Untung ada caping bambu yang menahan sengatan sinar sehingga kepalanya tidak terpanggang. Namun kepala Karsim tetap terasa pusing karena deru ribuan kendaraan yang melintas cepat di hadapannya dan tak putus-putus entah sampai kapan.
            Atau pusing karena Karsim sadar dirinya harus segera menyeberang demi tanaman padinya di tepi sungai. Bulir-bulir padinya yang sudah berisi pasti menjadi sasaran ratusan burung emprit. Bila dibiarkan  burung-burung itu akan menghabiskan padi di kebun yang hanya beberapa depa luasnya itu.
            Karsim merasa seperti kuda yang tersentak oleh bunyi cemeti. Rongga matanya penuh oleh ratusan burung emprit yang sedang menyisil gabah padinya dengan rakus dan cepat. Terbayang anak-istrinya yang akan tetap makan singkong karena panen padi yang sangat dinantikan ternyata gagal karena habis dimakan burung.
            Ada perintah menyeberang menghunjam langsung ke dasar hati Karsim. Perintah itu datang dari sepiring nasi yang harus diselamatkan dari serbuan burung-burung. “Bapa langit, biyung bumi, aku menyeberang!” Tekad Karsim.
            Karsim melangkah dan dalam setengah detik Karsim tergilas. Setengah detik berikut dia masih bisa mendengar suara orang-orang menjerit dan benturan mobil-mobil. Kemudian semuanya berubah: ringan dan mengambang. Lengang. Hening. Karsim mengapung di udara. Dia melihat tubuhnya di angkat dari tengah puluhan kendaraan yang terpaksa berhenti lintang-pukang. Jerit memilukan, suara-suara keluh kesah, marah bahkan kutukan terdengar di tengah jalan raya, tiga hari menjelang lebaran.
            Karsim  tidak mengikuti mayatnya yang digotong pulang ke rumahnya yang berada agak jauh dari jalan raya. Tetapi Karsim bisa melihat dengan sempurna perjalanan mayatnya. Mata Karsim bisa menembus segala sesuatu. Dan segala sesuatu hadir tanpa jarak.
            Dan corong mesjid menyiarkan berita kematian itu. Telah meninggal dunia dengan tenang saudara kita Karsim tadi jam sebelas empat lima, dan akan dikubur jam empat sore hari ini.
            Belum satu menit berselang  ada orang berkata, mati terlindas mobil hingga ususnya keluar, mengapa dikatakan meninggal dengan tenang? Karsim yang mendengar itu dengan amat jelas tertawa keras. Tetapi orang-orang yang sedang merawat mayatnya sama sekali tidak tergerak. Mereka tidak mendengar suara tawa Karsim. Kecuali ayam jantan Nenek Painah yang tiba-tiba berkokok; ayam yang demi dia Nenek Painah tidak pernah menghabiskan sarapannya.
            Karsim melihat mayatnya yang pecah di perut dimandikan dengan hati-hati. Istrinya menangis dan muntah-muntah. Wajah-wajah itu menahan rasa ngeri atau jijik. Mayat Karsim dikafani, diangkat dan dimasukkan ke dalam keranda, disalati. Dengan perasaan amat damai Karsim melihat keranda yang mengusung mayatnya dipikul keluar rumah. Banyak orang mengiringkan keranda termasuk Nenek Painah yang tidak pernah menghabiskan sarapan demi ayamnya.
            Sejak dua-tiga hari yang lalu jalan raya itu amat sibuk dan padat terutama oleh kendaraan yang datang dari barat. Wajah-wajah orang yang pegang kemudi atau motor adalah wajah-wajah yang keras dan tegang. Mereka mengusung semua lambang kekotaan; maunya menang sendiri.
            Tetapi semua mengendur ketika keranda yang membawa mayat Karsim sampai di pinggir jalan. Seorang anak muda dengan gagah mengacungkan bendera kuning, maka semua kendaraan baik dari barat maupun timur mendadak berhenti.
            Derit suara rem dan benturan mobil yang menyodok mobil lain di depan. Seorang ibu tergopoh merogoh tas dan menebarkan uang puluhan ribu. Anak-anak, juga orang-orang dewasa  terlupa sedang mengiring mayat Karsim. Mereka berebut meraih uang itu. Tetapi keranda bisa lewat meskipun agak oleng karena pemikulnya juga tergoda oleh tebaran uang.
            Karsim tertawa dan tertawa sepuasnya. Dia merasa konyol. Tadi pagi dia beberapa kali gagal menyeberang jalan raya itu. Orang-orang bermobil dan bermotor yang membawa lambang-lambang kekotaan itu tidak mau memberinya kesempatan. 
            Karsim mengerti, mudik itu penting. Pamer juga penting. Tetapi mereka seharusnya memberi kesempatan kepadanya untuk menolong padi yang sedang dikeroyok ratusan burung emprit.
            Nah, sekarang lain. Sekarang wajah-wajah mereka mendadak berubah dan mereka segera menghentikan kendaraan karena mayat Karsim mau menyeberang.
            Kurang dari lima menit keranda dan para pengiringnya sudah memotong jalan raya itu. Karsim tersenyum. Baru sekali ini sejak lahir sampai datang ajalnya tadi siang pada usia 69 tahun Karsim merasa diakui keberadaannya. Dan tahulah dia sekarang, agar keberadaannya diakui orang dia harus masuk dulu ke dalam keranda dan diiring-iring ke kuburan.
            Ribuan kendaraan yang memadati jalan raya itu bergerak lagi. Karsim diam dan menikmati pemandangan. Dia terpesona ketika melihat ada bayi terjepit antara ibu dan bapaknya yang mudik naik motor. Kakak si bayi ada di depan ayahnya, duduk terbungkuk menjadi penadah angin. Tetapi si bayi dan kakaknya terlindung oleh lingkaran cahaya kebiruan. Keduanya tampak ilahi. Dan dalam keadaan amat sulit si ibu masih sempat memijit-mijit tombol tilpon genggamnya. 
            Dan Karsim terpana lagi ketika melihat ada mobil mewah dikendarai oleh seekor kera perempuan. Di samping kemudi duduk seorang lelaki gendut memakai bukan hanya topeng kepala tikus, bahkan babi hutan. Karsim geleng-geleng kepala karena ternyata mobil-mobil mewah yang dikendarai oleh mahluk bertopeng aneh: celeng, serigala, beruk, munyuk, terus berlintasan. Karsim bosan. Lalu diam. Karsim ingin menikmati dirinya yang kini dapat melihat dan mendengar segala sesuatu lebih jelas, lebih sejati. Jarak dan waktu tak lagi berpengaruh baginya. Hidup yang jauh lebih hidup. Dan akhirnya dia  mendapat haknya untuk menyeberang jalan raya yang sibuk dan padat luar biasa pada tiga hari menjelang lebaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar