Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Selasa, 06 Juni 2017

Kalitanjung Diharapkan Menjadi Kantong Budaya

Sentra budaya Kalitanjung yang digagas oleh sejumlah pegiat budaya di Banyumas diharapkan menjadi kantong budaya di wilayah Banyumas Selatan. Kawasan ini bertujuan untuk menyebar konsentrasi wisatawan dan tempat hiburan seni yang tersedia.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko menuturkan, gagasan mengenai sentra budaya tersebut dicetuskan lantaran Kalitanjung yang berada di Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Banyumas memiliki potensi dan kekayaan seni budaya yang unik.
Saat ini, kantong budaya sangat dibutuhkan untuk mengangkat seni budaya Banyumasan. “Kantong budaya itu dibutuhkan tidak hanya untuk memberikan atraksi wisata untuk pengunjung, tapi juga alternatif destinasi,” katanya, kemarin.
Dia mengemukakan, sejatinya, di desa tersebut sudah terdapat Kelompok Sadar Wisata sejak sekitar tahun 2000. Akan tetapi pengelolaannya belum maksimal. Nama Kalitanjung, ujar Deskart, mulai terangkat kembali sejak gelaran Grebeg Sura tahun 2013. Setelah itu, ada beberapa pengunjung yang datang secara periodik untuk menikmati seni budaya yang tumbuh di kawasan itu.
Adapun Kalitanjung berada di bekas pusat Kadipaten Bonjok. Pola hidup masyarakat desa yang masih tradisional juga menjadi daya tarik untuk dipelajari. Tak jarang, sejumlah akademisi datang untuk melihat masyararakat adat Kasepuhan Kalitanjung dari dekat.
“Rencananya, Sentra Budaya Kalitanjung ini akan melibatkan masyarakat desa setempat, Paguyuban Masyarakat Pariwisata Serayu, dan Perhutani KPH Banyumas Timur untuk pemanfaatan lahan hutan sebagai aktivitas alternatifnya,” tutur Deskart. Sementara itu, Pegiat Pokdarwis Tirta Kencana Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Sumarno mengatakan, masyarakt Desa Tambaknegara masih sangat menjaga tradisi yang hidup sejak masa Kadipaten Bonjok.
Itu terlihat dari pola hidup mereka. “Adat istiadat masyarakat yang masih terjaga, seniman di desa tersebut kerap menampilkan kesenian yang unik, seperti gondolio, wayang, buncis dan lengger lanang,” katanya. 
sumber suara merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar