Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Kamis, 15 Juni 2017

Inovasi Desa Wisata sebagai Daya Tarik

Jangan Buat Desa Wisata Tiruan
Daya Tarik Perlu Diperbarui





PURWOKERTO - Sejumlah desa di wilayah Banyumas, akhir-akhir ini makin berhasrat menjadi desa wisata. Akan tetapi, pengembangannya dinilai hanya meniru tempat yang sudah dikenal terlebih dahulu. Pelaku wisata, Narco Icuk menilai, semakin banyak jumlah desa wisata di Banyumas sejatinya sangat menggembirakan.
Akan tetapi, perkembangannya terkesan hanya ikut-ikutan desa lain di kabupaten tetangga. “Saya pernah mencoba mengembangkan memakai hammock (tempat tidur gantung) sebagai salah satu fasilitas di desa yang didampingi. Ternyata ada desa yang ikutikutan,” kata fasilitator desa di Purbalingga ini, Rabu (14/6).
Menurut dia, sejatinya pengembangan desa wisata harus mempertimbangkan potensi lokal yang sudah tumbuh di masyarakat. Jangan sekadar meniru tren desa wisata lain yang sudah lebih dahulu laris. Dia mencontohkan, keberadaan selfie deck, rumah pohon, dan lainnya di beberapa desa wisata di Jawa Tengah yang sangat mudah ditemui. Para pegiat desa wisata semestinya mampu membuat inovasi lain yang lebih menarik.
“Perlu ada inovasi yang baru dan aktivitas wisata lainnya. Tidak hanya mengembangkan lokasi untuk berfoto,” kata dia. Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Saptono mengatakan, kendala pengembangan desa wisata yang dialami oleh Banyumas adalah daya tarik yang monoton, pelayanan, dan masalah parkir.
Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang belum mampu diselesaikan. “Sejak tren desa wisata naik, banyak yang membuat lokasi berfoto di dekat objek wisata alamnya. Pola ini yang harus diperbaiki,” ujarnya.
Menurut Saptono, daya tarik yang ada di desa wisata harus selalu diperbarui secara berkala. Hal itu tentunya tidak akan membuat pengunjung merasa bosan. Selain itu, kata dia, pelayanan kepada wisatawan juga harus ditingkatkan. Misalnya dengan membuat atraksi seni budaya dan paket aktivitas minat khusus dan kuliner khas yang tidak membosankan.
“Perlu disadari, wisatawan yang datang ke sebuah destinasi wisata adalah mencari hal baru yang belum pernah dijumpai. Jika daya tariknya itu-itu saja, tentu membosankan,” tandasnya. Saptono berjanji akan mendorong sumber daya manusia dan kelembagaan Kelompok Sadar Wisata. Tujuannya untuk meningkatkan pelayanan dengan menambah aktivitas serta memperbaiki metode promosi. 

Perlu Inovasi Baru

PERKEMBANGAN desa wisata di sebuah daerah membutuhkan kreasi pemikiran dan inovasi yang selalu baru. Selain itu dibutuhkan pula penguatan kelembagaan dan pelayanan yang maksimal bagi pengunjung.
Pengamat pariwisata dan ekonomi kreatif Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Dr Rawuh Edy Priyono MS menilai, inovasi dan kreasi ini ibarat hukum alam di dunia pariwisata Pengelolanya dituntut untuk menyuguhkan sesuatu yang baru dan belum ada di tempat lain.
“Untuk langkah awal, amati, meniru dan memodifikasi desa wisata lainnya memang perlu. Tapi jangan berhenti sampai disitu, harus dikembangkan lagi,” ujar staf pengajar Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unsoed ini. Menurut Rawuh, kreasi itu bisa dimunculkan dengan menggali potensi yang sudah ada di desa. Lalu dikembangkan menjadi daya tarik baru dan atraksi baru.
Daya tarik yang berbeda ini, kata dia, menjadi keunggulan dan daya saing. Pasalnya, desa lain tidak akan mampu meniru ciri khas tersebut. Dia mencontohkan, di Banyumas, ada Desa Tambaknegara di Kecamatan Wangin yang memiliki keunikan seni dan budayanya.
Di sana, juga sudah ada objek wisata milik pemerintah yaitu Kalibacin. “Tinggal bagaimana cara mengemasnya, dilengkapi dengan homestay dan aktivitas yang selalu tersedia saat ada pengunjung. Promosinya juga harus lebih gencar,” katanya.
Desa berkarakter lainnya, kata Rawuh, yakni Desa Kemutug Lor di Baturraden. Pegiat wisata desa tersebut tidak hanya mengandalkan objek wisata alam seperti air terjun, tapi juga beraktivitas lain seperti belajar memerah susu, merawat sapi hingga membajak sawah.
“Selain itu, atraksi dan destinasi yang dikelola sebaiknya menonjolkan ciri khas desa. Mulai dari suasana, panorama alam, kuliner, keramahannya dan cinderamata. Karakteristik itu akan menjadi faktor pembeda antara desa wisata satu dengan lainnya,” kata dia. 
sumber suara merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar