Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Membany...

Kamis, 22 Juni 2017

Akuntansi Pedagang Tradisional

PADA bulan Ramadan kita sering menjumpai bermunculannya pedagang-pedagang dadakan atau baru. Mereka pada umumnya merupakan pedagang kecil, kebanyakan pedagang makanan ringan, yaitu pedagang bermodal kecil yang ingin mendapatkan keuntungan hanya pada bulan baik bagi umat Islam.
Pedagang ini akan berbelanja bahan baku setelah mendapat pesanan dari tetangga atau rekan kerjanya. ”Pedagang tersebut hanya merupakan sebagian dari pedagang kecil yang ada suatu pasar.
Karena di pasar-pasar tradisional kebanyakan pedagangnya merupakan pedagang kecil,” kata Sully Kemala Octisari (25), akuntan yang kini aktif meneliti model pembukuan pedagang musiman. Melihat munculnya pedagang musiman itu, Sully mengajukan pertanyaan, apakah mereka berdagang sesuai proses akutansi.
Kemudian apa keuntungannya jika mereka berdagang secara akutansi. Atas pertanyaan itu, dia menjawab sendiri. ”Wajib. Pedagang kecil itu harus membuat catatan pembukuan untuk kepentingannya sendiri,”ujarnya, belum lama ini. Menurut Sully akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan pelaporan transaksi keuangan suatu organisasi atau pedagang.
Pencatatan dengan cara tertentu yang sistematis, serta penafsiran terhadap hasilnya. ”Objek kegiatan akuntansi adalah transaksi-transaksi keuangan,” katanya. Jika pedagang kecil sudah menerapkan atau menggunakan proses akutansi, pasti mereka punya laporan keuangan yang tertulis dalam sebuah buku khusus untuk mencatat segala sesuatu yang berkaitan dengan keluar masuknya uang.
Berdasarkan dari pengamatan dan diskusi dengan beberapa pedagang di pasar tradisional di sekitar Purwokerto. ”Hampir 90% pedagang sayur dan bumbu dapur jarang melakukan pencatatan keluar masuknya uang atau barang, mereka hanya melakukan pencatatan terutama nama orang yang punya hutang kepadanya dan jumlah hutangnya,”jelasnya.
Akan tetapi pedagang yang mempunyai kios tetap di pasar seperti pedagang baju, pedagang barang kelontong, pedagang buah sebagian besar sudah melakukan pencatatan. Terutama jumlah barang, harga barang, jumlah uang yang keluar, jumlah uang yang masuk, jumlah uang piutang, dan jumlah uang yang dihutang orang.
Alasan pedagang sayur tidak melakukan pencatatan adalah repot karena begitu dagangan digelar kemudian banyak yang beli, mereka harus melayani dengan cepat dan tidak ada waktu untuk mencatat. Mereka menyatakan masih ingat jumlah uang yang dibelanjakan dan harga barang atau sayur dan selama ini mereka merasa aman-aman saja.
Berbeda dengan pedagang yang sudah mempunyai kios, mereka melakukan pencatatan adalah memudahkan mereka melakukan pengecekan barang yang terjual dan yang belum terjual. Barang yang bisa dikembalikan ke distributor, jumlah uang yang sudah dibayarkan, jumlah piutang, jumlah uang yang masuk dan seterusnya.
Tujuan pencatatan agar mudah pengembangan dagangannya dan tidak akan tercampur dengan uang keluarga. ”Uang jelas keberadaannya dan mudah dalam pengecekan atau pelacakan jika ada uang yang hilang,”tuturnya. Pedagang kecil, walaupun mereka tidak paham arti ataupun keuntungan sistem akutansi,.
Namun berdasarkan kebutuhan proses berdagang mereka secara tidak sengaja sudah melakukan proses akutansi secara sederhana dan sesuai dengan kreasi mereka. Bagi pedagang yang sudah melakukan pencatatan mereka paham manfaatnya. Bagi pedagang yang belum melakukan pencatatan barang dan uang, perlu adanya sosialisasi untuk melakukan pencatatan.
Poses akutansi sederhana perlu dikenalkan kepada pedagang. ”Hal ini untuk membantu pedagang dalam proses berdagangnya, yaitu dengan semakin jelas berapa modal awal, pengeluaran, dan pendapatan harian serta berapa keuntungan yang diperoleh setiap hari,”kata Sully.
sumber suara merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar