Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Senin, 12 Juni 2017

Kenangan pada Bingkai Foto Pameran Foto Usang

SEORANG pedagang rujak lotis buah berjalan, Ali (67), mengamati beberapa foto yang dipajang di dinding lorong pertokoan Kebondalem. Dia manggut-manggut, lalu berbincang dengan perempuan yang ditemuinya.
Ketika dihampiri, pria itu tak banyak bicara. Hanya berguman ringan. “Banyak kenangan disini. Ini di bingkai foto-foto ini,” katanya, lalu kembali melayani yang memanggilnya. Minggu (11/6) siang itu, kompleks pertokoan Kebondalem nampak berbeda.
Ali dan beberapa pengunjung pasar yang melintas berhenti sejenak untuk menyaksikan 63 foto yang dipajang oleh 17 fotografer pegiat Komunitas Fotografer Banyumas (KFB) hingga libur Lebaran mendatang. “Dari beberapa foto yang dipajang, ada koleksi pehobi foto, namanya Pak Dwianto.
Dia ikut memamerkan 13 foto Kebondalem era tahun 1927-an sampai sekitar tahun 2000. Bahkan ada foto waktu kebakaran di pasar Kebondalem beberapa tahun silam,” ujar Komunitas Fotografer Banyumas, Subarkah Budi Wibowo.
Dia menambahkan, ada tiga jenis foto yang ditampilkan yakni berupa foto tunggal yang berkisah tentang aktivitas keseharian warga Kebondalem dengan pendekatan street photography dan human interest. Selain itu juga berupa foto essay bertajuk “Usang” yang menggambarkan fasilitas yang rusak dan terbengkalai di kawasan Kebondalem.
Melihat Perjalanan
Dia mengatakan, foto-foto tersebut dipamerkan di lorong pertokoan komplek Kebondalem yang saat ini telah dibongkar. Pameran itu bertujuan untuk melihat perjalanan kompleks pertokoan Kebondalem dari masa ke masa.
Di bagian barat pasar, beberapa anggota Ikatan Remaja Kebondalem Street Crew menggelar musik jalanan. Kebetulan, beberapa diantara mereka adalah ‘’Slanker’’, pecinta lagu-lagu yang dibawakan oleh band ngetop Ibukota Jakarta, Slank.
Tak heran, lagu-lagu yang dibawakan beberapa band tersebut terasa akrab di telinga para pejalan kaki yang memilih berhenti sejenak untuk menyaksikan pertunjukan gratis ini.
“(Pentas) Ini sebenarnya rutin digelar setiap tahun. Kebetulan saja momentumnya, lagi bongkaran pasar. Jadi kami sekaligus ingin mengenang masa-masa kami berproses disini.
Itu yang sedang main, adalah anak-anak Kebondalem yang punya bakat di bidang musik. Mereka kami didik bersama-sama,” kata koordinator Koordinator Ikatan Remaja Kebondalem Street Crew, Dwi Mulyanto.
sumber suara merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar