Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Kamis, 08 Desember 2016

Siswa Dikenalkan Permainan Tradisional


suaramerdeka.com
ANAK-anak zaman sekarang, tidak banyak yang mengenal permainan tradisional yang pada waktu dulu cukup populer dan digemari. Beberapa permainan tradisional itu antara lain sumpringan, sundamanda, bekelan, dakon, lowok gelang karet, dir-diran, sledhur, bal-balan dir, balapan ban bekas atau bandol cross dan lain sebagainya.Untuk mengenalkan permainan tradisional tersebut kepada generasi muda sekarang, khususnya peserta didik, kemarin, SMP 5 Purwokerto menggelar sejumlah permainan tradisional itu di lapangan olahraga. Menurut kepala sekolah, Ibnu Tavip Martapa, selain mengisi waktu luang sehabis Ujian Akhir Sekolah (UAS), kegiatan ini untuk mengenalkan ragam permainan tempo dulu yang telah tergusur oleh teknologi.
Bagi peserta didik, banyak yang belum pernah bermain permainan seperti itu, terutama sledhur, lowok gelang, bekelan, bal-balan dir dan balapan ban bekas. Dengan mengikuti beragam permainan tradisional, diharapkan siswa bertambah wawasan tentang permainan yang dulu sangat digemari anakanak.
Dalam permainan ini banyak unsur pendidikannya, seperti mengajak mereka untuk sabar mengantre, tenggang rasa, serta kebersamaan. Selain itu mereka juga dituntut terampil, serta bisa mengatur strategi. Diharapkan mereka kelak bisa menjadi manusia yang peduli sesama dan siap terjun ke masyarakat yang sesungguhnya. Salah satu siswi, Wiwi Susanti mengaku, baru mengetahui bila terdapat banyak permainan tradisional.
Bahkan awalnya ia bingung untuk ikut bermain, namun setelah mendapatkan arahan dari guru tentang tata cara bermain, ternyata mengasyikan. Misalnya lowok gelang karet yang dapat melatih keterampilan dan ketepatan untuk bisa memasukkan karet ke bidang sasaran yang dituju, sama seperti bekelan.
”Harus bisa membagi pikiran, antara tangan satu bertugas menangkap bola dan tangan lainnya mengambil bidak yang tersedia,” ungkapnya. Kemudian saat permainan bal-balan dir (kelereng), ternyata permainan ini banyak digemari siswa, sebab selain harus terampil dan bisa memperkirakan kekuatan untuk memukul kelereng dengan jari agar bisa masuk ke gawang.
Permainannya sangat sederhana, yakni menggunakan papan berukuran 20×30 cm yang dipasangi sebanyak 22 paku sebagai pemainnya dan dibatasi dengan pagar karet gelang. Permainan ini mirip seperti permainan karambol, siapa yang paling banyak bisa memasukkan dir/kelereng ke gawang lawan dinyatakan sebagai pemenang.
Adapun permainan yang dimainkan terakhir adalah balapan roda bekas atau bandol cross. Dalam permainan ini peserta harus bisa menggiring ban bekas tersebut menempuh jalur yang telah disediakan dengan berbagai rintangan, seperti penghalang dari kayu, tanjakan/cross dan berkeliling lapangan.
Permainan ini menarik karena banyak anak yang terjatuh, ban menggelinding tak terarah, dan harus banyak mengeluarkan tenaga. Untuk menjaga keselamatan, mereka diharuskan mengenakan helm, serta berkacamata hitam agar menambah daya tarik penonton.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar