Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Selasa, 20 Desember 2016

Arca Yoni Ditemukan Rusak

TACB Banyumas Siap Tinjau Batu Yoni
Ditemukan Rusak di Sambeng Kulon, Kembaran

suaramerdeka.com


 Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banyumas berencana untuk meninjau lokasi penemuan benda diduga peninggalan warisan berupa batu yoni dalam kondisi rusak di Dusun Cikokrok, Desa Sambeng Kulon, Kecamatan Kembaran, Banyumas, Minggu (18/12) lalu.
Mereka segera berkoordinasi terkait temuan TACB Purbalingga tersebut. ”Secara pribadi saya pernah meninjau lokasi tersebut bersama Balai Arkeologi, 2013 lalu. Sejak dulu memang batunya seperti itu,” kata anggota TACB Banyumas, Arif Rahman, kemarin.
Menurut dia, di kawasan tersebut yang juga ditemukan Arca Nandhi atau Batu Banteng itu berada di tepi sungai. Selain itu letaknya juga berada di tempat terbuka dengan kontur tanah yang lebih tinggi. ”Secara geografis, kemungkinan di sana bisa ditemukan peninggalan sejarah lainnya. Dari penuturan masyarakat setempat juga demikian.
Tapi kami belum pernah melakukan eksplorasi,” tambahnya. Sebelumnya, anggota TACB Purbalingga, Agus Suyono yang menindaklanjuti temuan masyarakat tersebut meminta TACB Banyumas lebih responsif. Pasalnya, TACB memiliki wewenang untuk melaporkan temuan tersebut langsung ke Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB).
Retak
Dia menegaskan, Kecamatan Kembaran merupakan wilayah teritori Kabupaten Banyumas. Apabila laporan masyarakat itu tidak ditanggapi, maka pihaknya akan langsung menangani temuan tersebut. ”Pekan lalu, warga setempat menginformasikan penemuan sebuah yoni di tengah area persawahan itu dalam kondisi rusak parah yakni retak hingga terbelah, serta sisi-sisinya sudah terpecah.
Kami langsung meninjau ke lokasi,” katanya. Sementara itu, Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Carlan mengatakan, pihaknya segera melakukan koordinasi dengan TACB Banyumas.
Sementara ini, tim hanya akan melakukan evaluasi. ”Secara prosedural, kami belum menerima laporan dari masyarakat secara resmi. Hanya ada foto-foto yang dikirimkan ke dalam grup Whatsapp. Tapi nanti ditindaklanjuti,” ujarnya.
 Berita sebelumnya
Sebuah batu diduga peninggalan warisan zaman Hindu – Budha berupa Yoni di Dusun Cikokrok, Desa Sambeng Kulon, Kecamatan Kembaran, Banyumas, ditemukan dalam kondisi rusak, Kamis (14/12).
Benda yang ditemukan di tengah area persawahan itu dalam kondisi rusak parah yakni retak hingga terbelah, serta sisi-sisinya sudah terpecah. Penemuan ini bermula ketika Agus Suyono ST (44), warga Desa Kedungwuluh, Kecamatan Kalimanah (Purbalingga), mendapatkan informasi dari masyarakat Desa Sambeng Kulon bahwa ada batu berbentuk aneh di tengah sawah.
“Batu ini sudah ada sejak lama, hanya saja masyarakat tidak tahu kalau itu benda bersejarah. Masyarakat malah menyebutnya pondasi tiang bendera. Padahal tidak logis ada pondasi itu di tengah sawah yang jauh dari pemukiman. Setelah saya cek ternyata itu adalah sebuah Yoni,” ungkap Agus yang mengaku pemerhati benda cagar budaya.
Untuk menuju lokasi Yoni bisa ditempuh dengan berjalan kaki sepanjang 500 meter ke barat dari tepi jalan Sambeng Wetan-Kramat. Diperkirakan Yoni yang terbuat dari batu andesit itu berasal antara abad 9- 15 Masehi atau ketika agama Hindu tengah berjaya di tanah Jawa. Yoni tersebut memiliki luas sisi atas 60 x 60 cm dan tinggi 75 cm. Agus juga menjelaskan posisi Yoni sudah berubah dari posisi asalnya.
Dipindah“Kata masyarakat, dulu batu itu posisinya di atas permukaan tanah sawah. Lalu karena dianggap mengganggu, sekitar tahun 1990 Yoni dipindah sekitar 20 meter dengan posisi setengah terkubur di tepi parit kecil,” katanya. Ia menjelaskan, benda bersejarah dan sakral berupa Yoni juga bisa dijumpai di Desa Kedungbenda, Kecamatan Kemangkon (Purbalingga) dan di Situs Lembuayu, Desa Susukan, Kecamatan Sumbang (Banyumas).
Biasanya sebuah Yoni ditemukan bersamaan dengan Lingga, namun kali ini baru Yoni saja yang tampak. “Oleh masyarakat terdahulu, Lingga-Yoni biasanya digunakan untuk ritual kesuburan pertanian. Oleh karena itu, benda seperti ini pasti ditemukan di wilayah yang subur dan biasanya dekat dengan pertemuan dua sungai,” katanya.
Sekitar 50 meter sebelah barat dari lokasi penemuan Yoni juga ditemukan batu berukir yang tampak timbul dari permukaan tanah setinggi 3 cm. Kata Agus, masyarakat menyebutnya Batu Banteng. Namun batu tersebut sudah tidak berwujud utuh atau sudah pecah dan terpisah di berbagai tempat. “Batu ini sekilas mirip punggung sapi dengan ekor menekuk ke depan.
Diperkirakan ini adalah pecahan Arca Nandi. Namun saya belum bisa memastikan, karena sebagian tubuhnya masih terkubur, dibutuhkan ekskavasi dan perlu izin ke pemilik lahan,” katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar