Selamat Kepada Calon Kepala Daerah Banyumas

Jumat, 10 Maret 2017

Budi Daya Sidat untuk Guru yang Akan Pensiun

Kemampuan penguasaan keterampilan perlu dimiliki kalangan guru yang akan segera memasuki masa pensiun. Dengan menguasai keterampilan, diharapkan setelah pensiun mereka dapat menciptakan sebuah usaha, sehingga dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan keluarga. Pendapat itu diungkapkan Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Banyumas, Takdir Widagdo, kemarin.
Menurut dia, jumlah guru di Kabupaten Banyumas yang memasuki masa pensiun setiap bulan cukup banyak. Bahkan rata-rata setiap bulan, setidaknya ada sekitar 20 orang guru yang memasuki masa pensiun. Meski jumlahnya termasuk banyak, namun selama ini sebagian besar dari mereka tidak memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan. Akibatnya sebagian dari mereka tidak memiliki kesibukan, sehingga lebih banyak waktu luangnya.
Padahal dengan memiliki keterampilan, lanjut dia, setidaknya saat pensiun waktu luang mereka bisa diisi dengan menekuni keterampilan tersebut. Bahkan dengan memiliki keterampilan, tidak tertutup kemungkinan justru dapat menjadi sumber pemasukan bagi mereka dan keluarganya.
Dia mengatakan, saat masih menjadi guru, sebagian besar dari mereka fokus melaksanakan tugas sebagai pendidik. Tidak banyak di antara mereka yang memiliki keterampilan atau mampu menciptakan peluang usaha. Padahal, lanjut dia, penguasaan keterampilan cukup bermanfaat bagi mereka saat pensiun.
Bekal Keterampilan
Oleh karena itu, kalangan guru yang akan memasuki masa pensiun perlu didorong agar memiliki bekal keterampilan. Banyak sektor yang bisa dikembangkan dan dijadikan sebagai lahan usaha bagi para pensiunan guru, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan lain sebagainya.
Upaya pemberian bekal keterampilan kepada guru yang akan pensiun sudah dilakukan PGRI Kabupaten Banyumas. Di antaranya dengan memberikan pelatihan budi daya ikan sidat kepada 40 orang guru di Banyumas yang akan segera memasuki masa pensiun, barubaru ini.
Dalam kegiatan yang dibuka Bupati Banyumas, Achmad Husein ini digelar di Kampung Sidat Brilian Desa Singasari, Karanglewas dan mendatangkan tenaga ahli yang berkompeten. Menurut dia, budi daya ikan sidat memiliki prospek yang cukup bagus, sebab harga jualnya cukup tinggi. Bahkan permintaan tidak hanya datang dari pasar dalam negeri saja, tetapi juga sampai ke luar negeri, terutama ke Jepang.
Kendati demikian, untuk bisa memenuhi permintaan dari Jepang, ikan sidat yang akan dieskpor harus memenuhi kualifikasi yang diminta. Selain itu, kata Takdir, budidaya ikan sidat juga tidak terlalu sulit, bahkan tidak membutuhkan lahan yang luas. Ini sangat cocok untuk dikembangkan oleh para guru yang pensiun.
sumber Suara Merdeka

Tiap Rumah Diminta Tanam 20 Pohon Cabai

Pemkab Banyumas mendorong masyarakat untuk dapat membudidayakan tanaman cabai secara mandiri. Hal itu untuk menyiasati tingginya harga cabai di pasaran yang terjadi sejak beberapa waktu terakhir.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dinpertan- KP) Banyumas, Tjutjun Sunarti Rochidi, mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan tim penggerak PKK melakukan gerakan tanam cabai. Setiap keluarga diminta menanam sedikitnya 20 batang bibit pohon cabai.
“Setiap keluarga harus menanam minimal 20 batang bibit pohon cabai. Penanaman dapat memanfaatkan lahan pekarangan rumah dengan menggunakan media polybag,” katanya usai menyerahkan bibit pohon cabai di Desa Kutaliman, Kedungbanteng, kemarin.
Dia mengatakan, pemkab mendorong masyarakat dapat secara mandiri mencukupi kebutuhan cabai untuk keperluan sehari-hari. Pemkab berkomitmen akan memberikan pendampingan dan penyuluhan cara membudidayakan cabai.
Program Desa
“Sekarang ini kan harga cabai di pasaran, khususnya cabai rawit sedang mahal. Dengan penanaman secara mandiri ini, diharapkan masyarakat bisa memenuhi kebutuhan cabai dari hasil tanaman sendiri,” ujar dia.
Sementara itu Kepala Desa Kutaliman, R Agus Listia, mengatakan, program pemkab itu selaras dengan program pemerintah desa. Dia telah membagikan ratusan batang bibit pohon kepada masyarakat di wilayahnya. “Setiap RTkami beri 50 batang bibit pohon cabai, totalnya ada 24 RT. Program ini dibiayai seluruhnya melalui APBDes.
Penaman dilakukan di pekarangan rumah menggunakan media polybag,” jelas dia. Menurut rencana, apabila program tersebut berjalan lancar, jumlah pohon cabai yang ditanam pada setiap RT akan ditambah. Dalam sebulan ke depan pihaknya akan melakukan evaluasi hasil panen cabai terlebih dahulu.
sumber Suara Merdeka
sumber Suara Merdeka

Kamis, 09 Maret 2017

CURUG BLUNDENG & CURUG SEMBIR Ajibarang

CURUG BLUNDENG & CURUG SEMBIR, di desa Sawangan Kec Ajibarang Jl. Gunung Putri (Hutan Wil Bms Timur)..
Menuju ke lokasi bisa ditempuh menggunakan sepeda motor (kurang lbh 2 KM dari jalan aspal). Di lokasi tsb jg terdapat bumi perkemahan, situs Watu Kenteng & renc akan dibuat bendungan utk Kolam Pemancingan...
#Yuukk_Foto lokasi tempat2 indah di desamu utk kita angkat sbg lokasi pariwisata Kab Banyumas & menambah potensi ekonomi warga desa 
credit to Eko C 







Warga Pekuncen Masih Lestarikan Pembuatan Mori

Warga Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang saat ini masih melestarikan tradisi pembuatan kain mori. Kain putih yang berbahan benang kapas tersebut digunakan untuk keperluan pembungkus jenazah kalangan anak cucu (pengikut) Banakeling.
Perajin kain mori dari Desa Pekuncen, Karsitem (37) mengatakan pelestarian pembuatan kain mori ini dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan upacara kematian pengikut Banakeling.
Tak hanya di wilayah Desa Pekuncen, kain mori ini dijual ke pedagang dan anak cucu Banakeling di wilayah Adiraja dan Cilacap lainnya. “Biasanya ada yang mengambil ke kami. Karena selain untuk warga di sini, kain mori ini biasanya dicari juga oleh warga dari wilayah Cilacap terutama penganut kejawen,” katanya.
Karsitem mengatakan untuk pembuatan kain mori ini dilaksanakan sebagai pekerjaan sambilan bagi ibu rumah tangga. Di wilayah Pekuncen perajin kain mori ini sekarang tak lagi mencapai 20 orang. Adapun para perajin adalah kalangan ibu rumah tangga yang sebagian bahkan telah lanjut usia.
“Sekarang rata-rata perajin kain mori ini kalangan ibu dan juga lansia. Jadi untuk penerusnya belum dapat dipastikan. Kami mempunyai pantangan, ketika ada orang meninggal dunia maka pantang menyentuh alat dan memulai alat tenun ini,” jelasnya.
Karisem mengatakan untuk satu lembar kain mori berukuran 1 meter persegi biasanya dijual kepada pedagang atau warga dengan harga Rp 120 ribu per lembar. Untuk mendapatkan satu lembar kain mori, biasanya para perajin harus bekerja selama tiga hari. “Kalau terus tak berhenti maka bisa dua hari saja. Biasanya kalau sudah jadi ada yang mengambil atau membelinya,” katanya.
Turun Temurun
Kepala Desa Pekuncen, Suwarno mengatakan tenun mori adalah kerajinan lokal yang turun temurun dibuat oleh warga Pekuncen khususnya anak cucu atau pengikut Banakeling. Di masa lampau hingga sekarang, kain mori ini dipergunakan untuk kepentingan pemakaman warga yang meninggal dunia.
“Jadi bagi kalangan pengikut Banakeling, mereka akan lebih mengutamakan menggunakan mori dibandingkan harus menggunakan kafan biasa. Apalagi itu sudah berlangsung turun temurun. Untuk masalah harga tak dipermasalahkan,” katanya.
Sumber Suara Merdeka

Longsor, Jalan Wisata Saka Tunggal Masih Ditutup

Akibat tanah longsor yang terjadi tiga hari lalu, jalan wisata ke Kompleks Masjid Saka Tunggal dan Taman Kera Cikakak, Kecamatan Wangon hingga kemarin masih ditutup. Upaya pengerukan material longsor juga dilaksanakan dengan menggunakan alat berat Dinas Pekerjaan Umum, Kabupaten Banyumas.
Kepala Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Suyitno mengatakan longsornya areal perbukitan sepanjang 30 meter dan tinggi 15 meter di atas jalan kabupaten tiga hari lalu dipicu hujan deras. Akibat longsor tersebut jalan kabupaten yang berada di RT1 RW5 Desa Cikakak itu tertutup material tanah longsor hingga ketebalan dua meter. “Sebelum alat berat ini datang, warga sekitar lokasi juga gotong royong mengeruk material longsor yang menutup jalan.
Namun ternyata hasilnya tak maksimal, untuk itulah kemudian kami minta bantuan dinas terkait,” katanya. Suyitno mengatakan jalan wisata sepanjang satu kilometer dari jalan nasional menuju kawasan wisata Saka Tunggal itu merupakan kawasan rawan longsor.
Apalagi sebagian jalan kabupaten tersebut berada di dekat tebing. Untuk itulah ia mengimbau kepada pengguna jalan dan pengunjung wisata Saka Tunggal waspada ketika melintas di jalan tersebut. “Kami berharap dengan dikerahkannya alat berat ini, seluruh material longsor yang menutup jalan kabupaten ini dapat dibersihkan sehingga jalan ini dapat segera dilintasi kendaraan,” ujarnya.
Jalan Rusak
Warga Desa Kedungwringin Kecamatan Jatilawang, Mahfud juga berharap pemerintah daerah khususnya dinas terkait dapat segera memperbaiki jalan kabupaten di wilayah Kedungwringin yang rusak berat. Jalan yang berada di wilayah Kauman dan pemukiman warga desa ini sudah lama rusak dan perlu segera diperbaiki.
“Karena sesuai dengan kewenangannya, desa tak bisa memperbaiki jalan kabupaten yang rusak meski berada di dekat permukiman warga. Makanya kami berharap pemerintah segera memperbaiki jalan yang ada di lokasi tersebut,” katanya. Sementara itu kerusakan jalan kabupaten juga terdapat di jalur Purwojati-Cilongok tepatnya di Desa Purwojati. Jalan kabupaten yang ada sepanjang 300 meter di desa tersebut sudah rusak berat.
Selain berlubang, jalan tersebut juga bergelombang sehingga rawan mengakibatkan kecelakaan lalu lintas. “Kami berharap segera ada penanganan terhadap jalan kabupaten ini. Karena kalau dibiarkan maka kelancaran lalu lintas akan terganggu,” kata Nur Salis, warga Purwojati.

Serayu Stone, Sisa Sisa Fenomena Akik Purwokerto

Perencanaan Kurang Matang

PERENCANAAN pembangunan Serayu Stone saat itu dinilai kurang matang. Pemkab hanya melihat fenomena sesaat kemunculan batu akik, kemudian menyiapkan tempat untuk memfasilitasi para pedagang. “Istilahnya grudugan (ramai-rami), seperti batu akik kemarin ramai, sekarang sudah hilang.
Konsepnya saya kira waktu itu belum matang,” kata pemerhati PKL sekaligus pengamat tata kota, Sunardi, kemarin. Menurut dia lokasi itu kini kurang prospektif untuk dijadikan tempat jual beli batu akik. Ke depan akan lebih baik lokasi itu juga digunakan juga untuk berjualan barang-barang lain yang sifatnya tidak musiman.
“Akik merupakan kebutuhan tersier, kalau sudah punya ya kebanyakan tidak membeli lagi, berbeda dengan kebutuhan primer dan sekunder. Misalnya penjual makanan pasti setiap hari ada yang membeli atau penjual pakaian, meksi tidak setiap hari tapi banyak yang membutuhkan,” ujar dia.
Dia menilai sejauh ini pendampingan pemkab terhadap PKLbelum optimal. Dalam beberapa kasus, konsep penataan PKL kurang berhasil. Dia berharap ke depan peran pemkab dapat lebih dioptimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan PKL. “Sesuai dengan kemampuan pemkab, sebenarnya pendampingan yang diberikan sejauh ini sudah cukup bagus, hanya saja belum optimal. Kembali lagi, yang namanya berjualan kadang laris, kadang tidak,” kata dia. 

Serayu Stone Perlu Sentuhan Pemkab
Pusat Penjualan Batu Akik
Pusat penjualan batu akik dan benda antik Serayu Stone Purwokerto perlu sentuhan dari pemkab. berjualan di sini dalam sehari bisa mendapat jutaan rupiah, kalau sekarang paling sekitar Rp 200.000 sampai Rp 300.000, itu sudah bagus,” katanya, kemarin. Menurut dia menginjak tahun ketiga operasional Serayu Stone omzet penjualan terus menurun.
Para pedagang sempat mengalami masa kejayaan pada tahun pertama, namun memasuki tahun kedua hingga sekarang terus berangsur menurun. “Yang paling dirasakan pedagang sejak tujuh bulan terkahir, sepi sekali. Tapi ini dalam beberapa hari terakhir mulai agak ramai, saya dapat pesanan cukup banyak dari Bandung. Semoga dapat terus bertahan seperti ini,” ujar dia.
Dia mengatakan, para pedagang di situ sebenarnya ingin membuat sebuah acara untuk mendongkrak kunjungan masyarakat. Namun sejauh ini masih sebatas wacana, karena keterbatasan anggaran yang dimiliki para pedagang. “Sampai sekarang belum ada sentuhan dari pemerintah. Kalau ada even seperti pameran sebenanrnya bagus untuk menarik minat pengunjung.
Kami berharap pemerintah dapat memfasilitasinya,” kata dia. Hal senada disampaikan Karsito, pedagang batu akik lainnya. Menurut dia masa booming telah terlewati. Dia mengaku saat ini hasil berjualan batu akik hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. “Sekarang omsetnya menurun drastis, jauh dibandingkan dulu. Kalau sekarang yang penting bisa buat makan.
Ibaranya seperti orang sedang memancing ikan, kadang dapat, kadang juga tidak dapat,” kata dia yang meneruskan berjualan batu akik dari orang tuanya. Dia berharap lokasi tempat berjualannya itu dapat kembali ramai seperti dulu. Jumlah pembeli yang datang ke lapaknya dalam sehari, saat ini bisa dihitung dengan jari. Kalau dulu bisa sampai puluhan orang.
“Awal-awal sini buka dulu, kalau hari Sabtu dan Minggu pasti ramai pembeli. Kalau sekarang tidak, akhir pekan tetap sama seperti hari-hari biasa,” ungkap dia. Sementara Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Banyumas, Yunianto, membenarkan kondisi tersebut. Pasalnya tren batu akik hanya sesaat, sehingga sekarang ini peminatnya terus menurun.
“Sekarang (jual beli batu akik) sepi, karena sudah tidak musim. Nanti kami akan mencoba mengkaji untuk pengembangan ke depan seperti apa. Kalau melihat pangsa pasar seperti sekarang ini, kami tidak bisa,” kata dia. Menurut dia perkembangan perdagangan kini mengarah di sekitar komplek GOR Satria Purwokerto.
Apabila memungkinkan, pedagang batu akik akan dipindahkan ke sana bersamaan dengan rencana pembangunan selter PKL di sekitar GOR. “Yang sekarang ramai di sekitar GOR, tapi itu baru sebatas wacana. Belum sampai ke tahap realisasi, belum ada ke arah situ,” ujar dia.
Pada kesempatan berbeda, Kasi Penataan dan Pengendalian PKL Dinperindag Banyumas, Sarikin, mendorong para pedagang batu akik dan benda-benda antik untuk membuat terobosan agar Serayu Stone ramai kembali. “Kami telah menyediakan fasilitas untuk berjualan batu akik. Kami berharap para penjual dapat berinovasi, bagaimana caranya agar tren batu akik meningkat lagi, sehingga jumlah pembeli yang datang bertambah,” kata dia.
Berdasarkan catatan Suara Merdeka, bangunan Serayu Stone selesai dibangun akhir tahun 2012. Bangunan yang semula akan digunakan untuk menampung para PKL di Jalan Jenderal Soedirman batal digunakan, karena pedagang tidak mau dipindah. 
Sumber Suara Merdeka

Rabu, 08 Maret 2017

Info Terbaru UNU Purwokerto

Render UNU Purwokerto





Saat ini program studi yang siap di UNU Purwokerto yaitu Agroteknologi (S1), Teknologi Pangan (S1), Teknik Pertanian dan Biosistem (S1), Peternakan (S1), Biologi (S1), Matematika (S1), Ilmu Perikanan (S1), Manajemen (S1), Akuntansi (S1), Administrasi Publik (S1), Hukum (S1), Hukum Syariah (S1) dan Pendidikan Bahasa Inggris (S1)

Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...