Selamat Kepada Calon Kepala Daerah Banyumas

Kamis, 21 Januari 2016

Menggenjot Aktivitas Wisata , MEMANCING wisatawan




Kabupaten Banyumas dinilai masih perlu menggenjot aktivitas wisata. Pasalnya, lama tinggal wisatawan masih sangat rendah. Pelaku wisata, Bilwan Feriyanto, meski kunjungan wisatawan di sejumlah objek wisata Banyumas terbilang cukup tinggi dibanding kabupaten lain di eks karesidenan, tetapi length of stay sangat rendah. Itu disebabkan minimnya kegiatan alternatif yang menjadi hiburan bagi wisatawan yang tinggal. “Purwokerto selama ini hanya menjadi kota transit. Waktu perjalanan ke Banyumas saja sudah memakan satu hari. Kalau ingin menambah waktu tinggal, ya sediakan hiburan alternatif yang membuat wisatawan betah tinggal lebih lama,” ujarnya, kemarin.

Menurut dia, hiburan alternatif berupa atraksi wisata bagi perlu digenjot. Di pusat kota, hiburan ini bisa diartikan aktivitas minat khusus. Misalnya pertunjukan kesenian, tempat berbelanja, penyediaan pusat kuliner, hingga pusat-pusat industri kreatif. Dia mengungkapkan, hal ini harus dikemas dalam bentuk satu kesatuan. Contohnya dengan memunculkan pasar kuliner dan kesenian di jantung kota. Hal ini dimanfaatkan untuk mendukung event pariwisata Banyumas yang sudah diagendakan. “Memang tidak mudah untuk mengemas semua unsur tersebut dalam satu kesatuan. Sangat merepotkan. Tapi itu harus dimunculkan dengan kerja sama antar pemerintah dan pihak swasta yang berkecimpung di bidang pariwisata,” katanya. Dia mengatakan, ikon wisata di Banyumas kurang menjual dan tidak beragam. Dari sekian banyak objek wisata hanya Baturraden yang paling menarik. Selain itu, untuk membuat paket wisata alternatif di Banyumas membutuhkan biaya yang banyak. Terutama untuk menyiapkan tempat yang dituju serta kendaraan yang akan dipakai. Setiap atraksi dan objek wisata juga membutuhkan pemandu wisata yang selalu siap siaga. Tamu yang datang bakal dituntun untuk masuk ke objek wisata. Selain itu, sambung dia, infrastruktur menjadi faktor pendukung lain yang dapat menunjang para wisatawan berkunjung ke Kota Satria. “Fasilitas untuk wisatawan di Banyumas juga sebenarnya sudah bagus. Perlu ditingkatkan lagi,” katanya. Sementara itu, pemandu wisata, Wiwit Yuni mengatakan, rata-rata tamu yang menginap di hotel mengaku kebingungan. Pasalnya, tidak ada informasi tempat yang dituju selama berada di Banyumas. “Tamu yang menginap sebagian besar dari luar kota, seperti Jakarta dan Bandung. Informasi yang mereka dengar hanya Lokawisata Baturraden,” katanya. Dia mengatakan, Kabupaten Banyumas memiliki potensi di sektor pariwisata. Beberapa desa wisata, seperti Desa Ketenger dan Desa Karangsalam seharusnya bisa menjadi alternatif destinasi wisata. Dia menyayangkan, belum banyak biro wisata yang melirik kawasan yang dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata tersebut sebagai paket pilihan. Oleh karena itu, beberapa objek wisata di Banyumas harus dikelola dengan baik dan inovatif, serta dapat menggali potensi lain pada sektor pariwisata. “Rata-rata biro wisata hanya berani menjual objek wisata yang sudah dikenal,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko mengungkapkan, selama ini hotel, biro perjalanan maupun pelaku wisata termasuk Dinporabudpar belum memiliki paket wisata yang mampu menahan wisatawan berkunjung lebih lama di Banyumas. “Hal itu disebabkan data segmentasi dan jumlah wisatawan yang menginap serta atraksi wisata yang digelar malam hari sebagai hiburan alternatif. Dua hal itu saling berkaitan,” ungkapnya. Dia meminta, pihak hotel untuk membuka data kunjungan. Baik itu domestik atau mancanegara, dari kalangan pelajar, pengusaha, pekerja maupun keluarga serta durasi menginap. Data ini dibutuhkan untuk menyusun paket wisata. Untuk objek wisata di sekitar kota, Taman Rekreasi Andhang Pangrenan dan Taman Bale Kemambang mengalami peningkatan pengunjung. Hal ini disebabkan adanya aktivitas pementasan kesenian secara rutin. Kegiatan ini bekerjamsama dengan bidang kebudayaan. Sementara terkait atraksi wisata, Deskart akan menjadwalkan kembali paket city tour yakni Si Panji Dinner, Gedung Pusaka, serta Sendratari Kamandaka yang pernah digagas pada 2014 lalu. Aktivitas yang ditawarkan yakni wisata malam di area Kota Purwokerto. Saat ini pihaknya juga tengah menyiapkan Festival atau Pasar Seni Tugu. Event ini akan menghadirkan wisata belanja dan kuliner yang dibarengi dengan pementasan kesenian unggulan di Jalan Gatot Subroto. “Festival Tugu masih proses penggodokan. Masih ada yang pro dan kontra. Seharusnya event ini bisa dimanfaatkan oleh kalangan swasta yang ingin menyuguhkan atraksi alternatif. Banyak pekerjaan yang harus digarap bersama-sama,” ujarnya



Gelar Atraksi Rutin


21 Januari 2016, Suara Banyumas



MEMANCING wisatawan untuk tinggal lebih lama tentu sulit. Pasalnya mereka harus dimanjakan oleh berbagai hiburan yang dapat dinikmati. Demikian pendapat pengamat pariwisata dan ekonomi kreatif Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Rawuh Edy Priyono. Menurut dia, sudah saatnya Banyumas memperbanyak atraksi seni tradisi rutin yang menjadi hiburan untuk wisatawan. Seiring dengan pertumbuhan hotel dan penginapan yang cukup subur di pusat kota. “Adakan atraksi rutin. Dengan cara diversifikasi tujuan wisata. Jangan hanya mengandalkan objek wisata massal,” tandasnya.

Rawuh mengatakan, ide untuk membuat festival rutin seperti Festival Tugu di pusat kota ini sangat menarik. Namun, banyak pihak yang merasa khawatir akan mengganggu aktivitas warga, perkantoran, lalu lintas serta kenyamanan dan ketertiban. Sejatinya, sambung Kepala Pusat Penelitian Kebudayaan dan Pariwisata Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat Unsoed ini, hal tersebut masih bisa diatur dengan cermat. Rekayasa lalu lintas serta verifikasi peserta festival bisa dilakukan oleh panitia. “Lokasi sudah tepat, ada ikon Tugu Pembangunan. Tapi memang membutuhkan kesiapan dari panitia,” ujarnya. Menurut dia, pariwisata Banyumas terlihat lemah saat berkompetisi dengan kabupaten lain karena masih kurang terlihat ciri khasnya. Apabila budaya dan tradisi daerah bisa dimunculkan, hal ini akan menjadi salah satu daya saing. Selain Festival Tugu, dia juga berharap Pemkab dapat bekerja sama dengan stakeholderwisata yang lain seperti hotel, restoran hingga objek wisata untuk menggarap event rutin. Mulai dari harian, mingguan, bulanan bahkan tahunan. Dia meminta, Pemkab untuk membuka pikiran. Pembangunan pariwisata membutuhkan keterlibatan banyak pihak yang saling mendukung.

Dinporabudpar Gandeng Biro Wisata Genjot Promosi Atraksi Wisata


23 Januari 2016, Suara Banyumas

Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas menggandeng biro perjalanan untuk menggenjot promosi atraksi wisata. Mereka diminta untuk membuat kemasan paket guna mendukung atraksi wisata.
“Dalam waktu dekat ini akan kami kumpulkan. Sekaligus untuk sosialisasi agenda pariwisata Banyumas 2016,” ujar Kepala Bidang Pariwisata Dinporabudpar Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko, ketika dihubungi, Jumat (22/1).
Dia mengakui, peran biro perjalanan wisata sangat dibutuhkan untuk menjual paket dan agenda wisata yang difasilitasi oleh Pemkab Banyumas. Oleh karena itu, dia akan berdialog dengan pemangku kepentingan pariwisata lainnya.
Desa Wisata
Selain berkoordinasi dengan biro perjalanan, pihaknya juga mengumpulkan pegiat desa wisata di wilayah Banyumas. Dia meminta Kelompok Sadar Wisata membentuk forum dialog.”Kami segera membentuk Forum Komunikasi Desa Wisata. Jadi ini akan menjadi ruang diskusi, berbagi informasi dan promosi bersama.”
Sebelumnya, pengamat pariwisata dan ekonomi kreatif Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Rawuh Edy Priyono mengatakan, sudah saatnya Banyumas memperbanyak atraksi seni tradisi rutin yang menjadi hiburan untuk wisatawan. Pemkab diminta untuk tidak mengandalkan kunjungan wisatawan ke objek wisata massal.
“Pariwisata Banyumas terlihat lemah saat berkompetisi dengan kabupaten lain karena masih kurang ciri khasnya. Apabila budaya dan tradisi daerah bisa dimunculkan melalui atraksi wisata hal ini akan menjadi salah satu daya saing,” ujarnya.
Rawuh berharap Pemkab dapat bekerja sama dengan pemangku kepentingan wisata yang lain seperti hotel, restoran hingga objek wisata untuk menggarap event rutin. Mulai dari harian, mingguan, bulanan bahkan tahunan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...