Selamat Kepada Calon Kepala Daerah Banyumas

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2018

Institut Teknologi Telkom PUrwokerto Targetkan Akreditasi Dua Program Studi

 Institut Teknologi (IT) Telkom Purwokerto menargetkan akreditasi dua program studi yaitu S1 Sistem Informatika dan S1 Rekayasa Perangkat Lunak pada 2018. Saat ini, kedua jurusan tersebut tengah merampungkan proses dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT).
Demikian ungkap Rektor IT Telkom, Dr Ali Rokhman MSi saat membuka rangkaian Dies Natalis ke-16 di Bukit Badar, Watumeja, Desa Tumiyang, Kecamatan Kebasen, Banyumas, Sabtu (3/3).
Pembukaan ditandai dengan gelaran ajang Hash, House, Harries, atau olahraga lintas alam di kawasan tersebut. Pada 2017 jurusan di IT Telkom yang sudah terakreditasi B antara lain Program Diploma 3 Teknik Telekomunikasi, S1 Teknik Telekomunikasi dan S1 Teknik Informatika. "Kepada civitas academica, perlu diingat kita menargetkan akreditasi dua prodi tahun 2018 ini. Semua harus bersinergi dan melompat lebih tinggi," ujarnya.
Selain akreditasi prodi tersebut, pihaknya juga sedang menggenjot proses penerimaan mahasiswa baru. Target penerimaan tahun ini mencapai 1.400 orang. Adapun pada peluncuran rangkaian ulang tahun di tahun ini, sengaja dilakukan di luar ruangan. Tujuannya untuk membangun kebersamaan dengan mahasiswa, karyawan dan tenaga pengajar di kampus.
Kegiatan yang diikuti 106 orang peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, karyawan hingga pihak mitra kampus ini, dipuncaki dengan pelepasan balon secara simbolis sebagai tanda dimulainya rangkaian acara Dies Natalis. "Olahraga lintas alam ini sudah kedua kalinya digelar, sebelumnya di Baturraden. Semoga rangkaian ini dapat memacu semangat kami," katanya. Dia memaparkan, sejumlah kegiatan digelar dalam rangkaian Dies Natalis IT Telkom tahun ini.
Setelah dibuka, pihak kampus menyelenggarakan seminar nasional pada 8 Maret, pertandingan basket antar SMA dan SMK pada 19-26 Maret, Futsal antar Mahasiswa IT Telkom, 2-9 April, Lomba Fotografi dengan kategori SMA/SMK dan Umum yang digelar 2 April hingga 4 Mei, pertandingan persahabatan dengan mitra kampus pada 21 April, Wall Climbing Competition 9-13 Mei, Lomba Band antar SMA/SMK pada 5 Mei, IT Telkom Purwokerto City Run 10K dan 6K yang dilaksanakan 6 Mei, Reuni Akbar pada 11 Mei, Festival Film Pendek Purwokerto SMA/SMK yang digelar 4 Mei, dan Bakti Sosial Bedah Rumah 10-20 Mei. Rangkaian kegiatan ditutup dengan Sidang Senat Terbuka dan buka puasa bersama dengan seluruh civitas academica pada 31 Mei.
Sumber Suara Merdeka

Jumat, 02 Maret 2018

Rencana Pembangunan Politeknik Olahraga Purwokerto

Rencana pendirian Politeknik Olahraga Purwokerto akan dibahas dalam workshop di hotel Ashton, Purwokerto, Sabtu (3/3). Pembicara yang akan hadir Dr Budhi Dharma (dosen ITB) dan Prof Dr Satrio Sumantri Brojonegoro (mantan Dirjen Dikti).
Rencana itu dikatakan Ketua Yayasan Pedoramas Prof Drs Rubijanto Misman, selaku perintis Politeknik tersebut. Budhi Darma adalah pengurus pusat persatuan atletik Indonesia (PASI) dan IAAF (badan dunia atletik) serta mantan atlet nasional lontar martil nasional. Mengenai tujuan Politeknik, Rubi yang mantan Rektor Unsoed mengatakan akan dikaji dari workshop itu. Dia memiliki gambaran lembaga itu menggarap tiga hal, yaitu mencetak pelatih bertaraf nasional dan internasional, membina bibit atlet dari SMA, dan memberi materi tentang industri olahraga.
Selasa (27/2), Pedoramas berkoordinasi dengan lembaga-lembaga di jajaran Pemkab Banyumas. Saat itu semua menyatakan siap mendukung. Kemendiknas sudah merencanakan membina olahragawan mulai tingkat SMP. Dinas itu akan membuat 10 SMP yang menerima siswa atlet. Selain itu, dinas-dinas sepakat membangun gedung untuk pendidikan, yang dilengkapi peralatan kebugaran. Lokasi paling ideal adalah di utara lapangan tenis GOR Satria. Gedung berlantai empat.
’’Pemkab mendukung habis-habisan.’’ Politeknik itu, jelas Rubi, ke depan menjadi milik Pemkab Banyumas. Dia mengakui ada pertanyaan apakah boleh. Dia balik bertanya, apakah hal itu dilarang.
’’Memang aturan belum ada, kenapa tidak berani mengajukan.’’ Pendirian Politeknik itu juga untuk memajukan olahraga. Di Purwokerto tersedia fasilitas olahraga, yang belum dimanfaatkan maksimal. Untuk itu diperlukan kreativitas dari para pelaku olahraga di seluruh Indonesia. Dalam pertemuan dengan forum rektor, katanya, Presiden Jokowi sampai menantang perguruan tinggi membuat fakultas sepak bola. Itu mungkin karena prihatin Indonesia kalah terus. Ke depan terbuka kemungkinan program studi baru.

Update info

Politeknik Keolahragaan Dibutuhkan

Politeknik Keolahragaan Banyumas sangat dibutuhkan. Pendirian lembaga tersebut juga mendapat dukungan dari masyarakat. Pengurus PB PASI, IAAF, dan mantan atlet nasional, Budi Dharma Sidi mengatakan, Politeknik Keolahragaan adalah terobosan bagus.
Mendirikan institusi tidak mudah. Hal itu disampaikan dalam workshop Pendirian Politeknik Keolahragaan di Purwokerto, Sabtu (3/3), diselenggarakan oleh Yayasan Peduli Olahraga Banyumas (Pedoramas). Sebagai narasumber dalam acara tersebut Prof Dr Satriyo Soemantri Brojonegoro (mantan Dirjen Dikti) menyampaikan materi menyangkut kelembagaan, adapun Dr Ir Budi Dharma Sidi (pengurus PB PASI, IAAF, dosen ITB, dan mantan atlet nasional) membahas politeknik dan industri olahraga.
Kegiatan ini dihadiri Kabag Kesra Pemkab Banyumas Fatikul Ikhsan, Wakil Ketua DPRD Supangkat, Wakil Ketua Komisi D DPRD Shinta Laila, Ketua Umum KONI Banyumas Bambang Setiawan, mantan Ketua KONI Sukardi, pengurus KONI Cilacap dan Purbalingga, dan beberapa pengurus cabang olahraga setempat.
Shinta Laila menjelaskan, legislatif mendukung pendirian Politieknik Keolahragaan. Keberadaan institusi itu akan membawa dampak positif luas. Atlet dan bibit atlet akan lebih bergairah. "Sektor ekonomi juga ikut menikmati, karena dunia olahraga lebih semarak. Di Purwokerto sering digelar kejuaraan besar," ujarnya. Sementara Fatikul Ikhsan menanyakan, bagaimana mendirikan Politeknik Keolahragaan yayasan, apakah harus ada MoU yayasan dengan pemkab.

Olahraga Banyumas Tak Pernah Sepi

  • Pendirian Politeknik Nambah Semarak
SELAMA lebih dari seperempat abad, sejak 1989, dunia olahraga Kabupaten Banyumas tak pernah sepi, baik dari segi prestasi maupun kegiatan. Fasilitas juga bertambah terus, walau tidak secepat kota-kota provinsi. Salah satu indikator frekuensi kegiatan olahraga di masyarakat meningkat. Di Porda, kini Porprov, Banyumas selalu masuk peringkat elite, tiga besar. Puncaknya pada Porda 2005 juara umum I.
Hingga kini, Banyumas satu-satunya daerah non- Semarang yang pernah meraih prestasi itu. Di setiap PON, ada atlet Banyumas di kontingen Jateng, dan di banyak SEAGames ada olahragawan Banyumas di kontingen merah putih. Semua itu berkat kerja keras atlet dan stakeholder olahraga, didukung Pemkab, baik moral, spiritual, dana, maupun fasilitas.
Berikut prestasi Banyumas berdasarkan catatan di KONI setempat. Porda 1983 urutan 13, 1987 urutan 3, Porda 1991, 1995 dan 2001 selalu urutan II, 2005 juara umum, Porprov 2009 dan 2013 urutan III.
Fasilitas Andalan
Fasilitas yang tersedia dan menjadi andalan dalam pembangunan olahraga prestasi adalah kolam renang bertaraf nasional Tirta Kembar, dan kompleks GOR Satria Purwokerto. Saat Banyumas tuan rumah Porprov 2013, GOR Satria untuk memainkan 15 cabang olahraga.
Yaitu sepak bola, panjat tebing, futsal, bola voli indoor, bola voli pantai, bola basket, bulu tangkis, drum band, tenis lapangan, menembak, sirkuit BMX, sepatu roda, dan semua cabang bela diri, balap motor, dan senam. Kegiatan olahraga masyarakat atau rekreasi yang bertujuan menjaga kesehatan juga marak.
Setiap pagi, ratusan warga berolahraga jalan cepat dan tiap Minggu jumlahnya lebih banyak. Melihat fakta tersebut, rencana pendirian Politeknik Keolahragaan mendapat dukungan banyak pihak. Menurut Wakil Ketua Komisi D DPRD Banyumas, Shinta Laila, keberadaan institusi pendidikan olahraga itu akan meningkatkan lagi dunia olahraga. Sektor ekonomi juga diuntungkan. 
Sumber Suara Merdeka

Selasa, 13 Februari 2018

Ikon Bawor Dominasi Lomba Mural

RAUT muka Yusuf Soufi Romadhoni (15) tampak serius. Selang beberapa menit, dia memelototi garis lengkung bercat putih di sebuah tembok, lalu mulai melapis warna itu dengan kuas di tangannya.
Pemuda asal Banjarnegara ini adalah salah satu dari 50-an peserta Lomba Mural dari beberapa kota di Banyumas Raya yang mengusung tema Batik Banyumasan, di sentra batik dan kuliner Hans Batik and Resto, Sokaraja. Hampir sepekan ini, dia bolakbalik dari rumahnya untuk merampungkan mural pada dinding dengan motif batik punakawan. ”Hari ini harus selesai.
Nanti dinilai,” kata Yusuf, Minggu (11/2). Remaja yang duduk di bangku kelas X SMK HKTI 2 Purwareja Klampok ini mengaku belajar mural sejak masih bersekolah di Madrasah Tsanawiyah. Di tempat asalnya, dia juga bergabung dengan komunitas mural dan grafiti. Untuk lomba kali ini, dia bersama sembilan rekan lainnya harus menyelesaikan mural bermotif batik.
Empat tokoh punakawan termasuk Bawor tampak mencolok dengan goresangoresan tribal di bagian kanan dan kiri. Salah satu juri, Wiwit Rudi mengatakan, lomba semacam ini sangat efektif untuk mematri batik motif Banyumasan di hati para pelajar sekolah. Mereka dibebaskan untuk mengekspresikan motif-motif batik dalam pikirannya. ”Hampir semua didominasi ikon Bawor.
Tapi ada juga yang menggambar motif merak, motif asli Banyumas yang sudah jarang dipakai,” ujarnya. Ketua Panitia Lomba Mural, Narco Icuk menyebutkan, lomba yang diikuti oleh 14 kelompok dari berbagai sekolah, komunitas, mahasiswa dan kelompok umum itu digelar untuk memeriahkan Hari Jadi ke-447 Banyumas. Mereka diminta untuk melukis tembok keliling di kompleks rest area Hans Batik.
”Untuk juara 1 diraih oleh Komunitas Balai Rasta, juara II dari komunitas Suara Kota Lama, dan juara III diraih SMK HKTI 2 Purwareja Klampok Banjarnegara. Untuk juara harapan I dari Kampung Laut,” terangnya.
sumber Suara Merdeka

Jumat, 02 Februari 2018

Siswa Pakis, Gununglurah Cilongok Dilatih Kemandirian lewat Keripik Tempe

SEJUMLAH siswa MTs Pakis, Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, pagi itu tampak begitu asyik "bergelut" dengan kedelai. Ya, rupanya para siswa yang tinggal di lereng Gunung Slamet ini tengah membuat keripik tempe. Mereka mencoba untuk mengembangkan sebuah unit usaha produktif sebagai upaya menjadikan MTs Pakis sebagai sebuah lembaga pendidikan yang mandiri. Dalam kegiatan selama tiga hari tersebut mereka dibimbing langsung oleh seorang pelaku usaha ekonomi kreatif dari Cilongok.
Meski masih duduk di bangku sekolah setingkat SMP, namun mereka cukup antusias mengikuti. Mereka mendapatkan pelatihan secara langsung secara bertahap. ”Kami mengikuti kegiatan pelatihan membuat keripik tempe saat jam istirahat dan usai pulang sekolah. Bahkan, selama tiga hari berturut-turut itu, kami berlatih membuat keripik sampai petang,” ungkap Yuli, salah satu siswa.
Layak Dikembangkan
Meski masih anak-anak, mereka mampu membuat keripik tempe dengan baik. Bentuk produknya yang mungil dan rasa kedelainya terasa, menjadikan keripik tempe hasil produksi siswa MTs Pakis layak untuk dikembangkan sebagai salah satu produk usaha dari madrasah ini. Menurut penanggung jawab kegiatan sekaligus kepala madrasah, Isrodin, kedelai merupakan salah satu hasil panen dari para petani, sehingga semestinya mampu mendongkrak ketahanan pangan masyarakat dan berdampak terhadap peningkatan taraf ekonomi yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
”Dunia pendidikan harus ikut mengambil peran. Salah satunya dengan sejak dini mempersiapkan peserta didik dengan bekal keterampilan hidup yang nanti bisa menjadi modal kemandirian saat kelak beranjak dewasa,” ungkapnya.
Setelah produk keripik tempe "Pakis" berhasil diproduksi, maka para siswa kemudian membentuk susunan pengurus pengelola usaha tersebut, lengkap dengan bidang-bidangnya. Dalam kesempatan tersebut, Yuli siswa kelas VIII yang tinggal di kampung Pesawahan terpilih sebagai direktur yang membawahkan 18 siswa lain.
Dalam kesempatan itu pula, kepala madrasah juga memberikan motivasi dan meyakinkan para siswa bahwa untuk menjadi siswa yang berprestasi harus berani berkreativitas dan bertanggung jawab atas karya sendiri. ”Diharapkan keripik tempe "Pakis" hasil produksi siswa MTs Pakis dapat bermanfaat bagi lingkungan sekolah, keluarga siswa, dan masyarakat sekitar. Adapun hasil dari usaha pembuatan keripik tempe ini dikelola oleh pengurus harian,” tandasnya. 
sumber Suara Merdeka

Rabu, 31 Januari 2018

Render Terbaru UNU Purwokerto

Universitas Nahdlatul Ulama atau UNU Purwokerto yang baru berdiri belum lama ini, ternyata sudah memiliki planning yang cukup baik dalam menata kampus. 
Semoga kampus ini menjadi salah satu pendorong perekonomian baru di kawasan Purwokerto barat yang selama ini tertinggal.
Dengan hadirnya UNU tentunya menambah pilihan bagi calon mahasiswa yang akan melanjutkan pendidikan tinggi di Purwokerto. 


Jumat, 29 September 2017

Perpustakaan Jalanan Ajibarang


Perpustakaan Jalanan Ajibarang , Sebuah langkah yang patut diapresiasi ini merupakan kreativitas warga yang peduli kepada pentingnya membaca bagi masyarakat. Di saat gerakan literasi membaca yang dikampanyekan oleh pemerintah ternyata kurang mendapat tanggapan yang positif, dukungan dari masyarakat inilah yang bisa menyokong secara nyata agar membaca semakin diminati .  
Foto kiriman Fyan Distortion


Dan rendahnya minat baca pun bukan tanpa sebab tapi diakibatkan banyak faktor yang melatar belakanginya. Beberapa penyebabnya antara lain kurangnya pengenalan kebiasaan membaca sejak dini,  Kurangnya pemahaman pentingnya membaca serta pengaruh perkembangan teknologi sehingga menambah malasnya orang untuk membaca buku karena terbiasa dengan sesuatu yang instan atau informasi dari dunia maya dan medsos . Padahal ada info dan manfaat tertentu yang tak bisa ditemukan di dunia maya , serta suasana dan interaksi antar seseorang dengan lingkungan  yang ada di perpustakaan atau taman bacaan  itu juga penting agar tak terkurung interaksi sosial yang melulu melalui medsos.
Mengenai Perpustakaan Jalanan ini dibuka gratis bagi semua pengunjung dengan jadwal  buka pada hari sabtu mulai jam 17.00 wib sampai malam. Berlokasi di  taman kota ajibarang . 
Dan hari  minggu saat Car Free Day  Ajibarang .
Bagi anda yang ingin berkontribusi menyumbang buku atau berkeomunikasi dengan pengelola silakan menghubungi 
Cp : 0818 0476 1104 / Wa
Ig : @perpusjalananajb 
Fb : perpus jalanan Ajibarang

Kamis, 31 Agustus 2017

Institut Teknologi Telkom Purwokerto

Status ST3 Telkom Ditingkatkan
Jadi Institut Teknologi Telkom


Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Telkom (ST3 Telkom) Purwokerto sebagai sekolah tinggi telematika di bawah Yayasan Pendidikan Telkom (YPT), ditingkatkan statusnya menjadi Institut Teknologi Telkom (ITTelkom) Purwokerto, Senin (21/8), melalui Surat Keputusan (SK) Menristek Dikti No.446/KPT/I/2017.
Dalam rilis yang diterima Suara Merdeka kemarin, Ketua Yayasan Pendidikan Telkom (YPT), Dwi S Purnomo mengatakan, ITTelkom Purwokerto merupakan institut teknologi pertama di Jawa Tengah. ITTelkom menandai tonggak perkembangan pendidikan berbasis teknologi di provinsi ini.
Sebagai perguruan tinggi yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Telkom dan didukung secara penuh PT Telkom, ITTelkom Purwokerto hadir dengan delapan program studi untuk menyelenggarakan pendidikan berbasis ICT yang terdepan di area Jawa Tengah dan Yogyakarta. ”Kami harap kehadiran IT Telkom dapat membuat dunia pendidikan semakin berkembang.
Dengan kekuatan pada penguasaan teknologi telematika dan informatika, ITTelkom membekali mahasiswa dengan digital skill yang dibutuhkan industri dan masyarakat saat ini,” ujar dia. Dengan peningkatan status ini, ITTelkom Purwokerto semakin dekat untuk menjadi perguruan tinggi terbaik di nasional, dan siap menjadi perguruan tinggi berkelas internasional.
”Peningkatan status ini merupakan upaya untuk menjawab tantangan globalisasi. Dimana pada era digital, setiap lembaga pendidikan dituntut untuk mampu memenangkan persaingan di masa depan,” ujarnya. Menurutnya, saat ini persaingan di dunia pendidikan semakin ketat.
Untuk itu, setiap lembaga pendidikan harus dapat memberikan kualitas layanan yang terbaik. ”Setiap lembaga pendidikan di bawah Yayasan Pendidikan Telkom harus dapat menjawab tantangan di era globalisasi, sehingga perubahan dengan meningkatkan status lembaga mutlak untuk dilakukan,” terangnya.
ITTelkom Purwokerto awalnya bernama Akademi Teknik Telekomunikasi (Akatel) yang berdiri pada 31 Mei 2002. Kemudian statusnya meningkat menjadi ST3 Telkom pada 20 Desember 2012. Sekarang menjadi ITTelkom, dan akan dipersiapkan menjadi Telkom University National Campus (TUNC) di Purwokerto.

IT Telkom Siapkan Aplikasi Khusus Pemkab Banyumas

Institut Teknologi (IT) Telkom Purwokerto menyiapkan aplikasi untuk membantu Pemerintah Kabupaten Banyumas. Bantuan berupa aplikasi ini merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat dari civitas academica.
Hal itu dikemukakan Rektor ITTelkom Dr Ali Rokhman MSi, usai peluncuran kampus IT Telkom Purwokerto dan Kawasan Terpadu Pendidikan Telkom di Jalan DI Panjaitan No 128 Purwokerto, Banyumas, Selasa (29/8). Salah satu yang disiapkan adalah aplikasi sistem informasi pemerintahan desa. ”Seminggu yang lalu kami sudah bertemu bupati dan menawarkan program pengabdian masyarakat. Program pertama yaitu desa binaan dan aplikasi sistem informasi pemerintahan desa,” kata Ali.
Transparansi Dana Desa
Program pengabdian masyarakat untuk desa binaan akan berkonsentrasi di bidang pemberdayaan teknologi informasi dan komunikasi. Sementara untuk pembuatan aplikasi sistem informasi desa, hal ini mendapat apresiasi dari Pemkab Banyumas.
Menurut Ali, aplikasi tersebut sangat dibutuhkan, karena membuat transparansi anggaran dana desa. ”Itu juga disampaikan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo. Penggunaan dana desa ini kurang terkontrol. Kami sudah bicara dengan bupati, aplikasinya sedang disiapkan,” ujarnya. Aplikasi tersebut, nantinya memungkinkan masyarakat dapat melihat secara instan penyaluran dan penggunaan dana desa.
Sehingga memperkecil kemungkinan penyalahgunaan anggaran. Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan Telkom, Dwi S Purnomo mengatakan, setelah berganti status dari Sekolah Tinggi Teknik Telematika menjadi Institut Teknologi Telkom, kampus tersebut kini memiliki delapan Program Studi.
Di antaranya, prodi unggulan S1 Teknik Telekomunikasi dengan akreditasi B, S1 Teknik Informatika dengan akreditasi B, D3 Teknik Telekomunikasi dengan akreditasi B, S1 Sistem Informasi, S1 Rekayasa Perangkat Lunak, S1 Teknik Industri, S1 Desain Komunikasi Visual dan S1 Teknik Elektro. Sebagai Kawasan Terpadu Pendidikan Telkom, juga tersedia SMK Telkom dan SMP Telkom yang baru dibuka 2016 lalu.
sumber Suara Merdeka



Senin, 28 Agustus 2017

Kawasan Baru Pusat Pertumbuhan Kota Purwokerto

Predikat Purwokerto sebagai kota pelajar kembali terangkat dengan naiknya status ST3Telkom Purwokerto resmi menjadi Institut Teknologi Telkom Purwokerto yang rencana akan launching tanggal 29 Agustus 2017 serta kawasan pendidikan Tekom , melengkapi sejumlah perguruan tinggi saat ini dengan 5 Universitas yaitu Unsoed, UMP, Unwiku, UT, UNU dan 2 Institut yaitu IAIN dan ITTP.

Ada beberapa sisi lain yang perlu kita analisas terkait ITTP Purwokerto yang berlokasi di Jl Panjaitan yang secara lokasi paralel dengan Jl Pancurawis di sebelah timurnya dan keduanya merupakan ruas penghubung jalan Jensud dana pramuka atau kawasan ekono mi pasar wage dengan Jalan Gerilya yang saat ini berkembang pesat . Saya melihat peluang besar majunya kawasan ini jika Pemkab Banyumas bisa menangkap peluang dan bisa menangkap momentum baik mengangkat predikat sebagai city holiday dan brand yang sempat saya tulis beberapa waktu lalu terkait  membangun kawasan pusat budaya mengakmodasi rencana pasar seni tugu yang gagal di kawasan Balai Budaya dan sejumlah ide membangun brand untuk meningkatkan daya saing wisata. 
Sedangkan kawasan Jalan panjaitan dengan diresmikan menjadi kawasan terpadu pendidikan Telkom otomatis  meningkatkan kawasan ini menjadi silicon valleynya Purwokerto. Saya sangat berharap Bupati Banyumasbisa menangkap peluang ini dengan membangun jalan penghubung baru yang lebih representatif antara Pancurawis dengan Panjaitan karena dapat meningkatkan bukan sekedar mobilitas transportasi semata tapi bisa membuat multi efek kawasan pertumbuhan ekonomi baru atau pusta kota baru berbasis teknologi dan budaya bukankah ini bisa mengangkat pamor brand dan ikon  Purwokerto yang saat ini sedang digali.



Berita terkait ITTP Purwokerto
Yayasan Pendidikan Telkom menggawangi lahirnya Institut Teknologi yang pertama di Jawa Tengah, setelah disahkannya peningkatan status Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Telkom (ST3 Telkom) Purwokerto menjadi Institut Teknologi Telkom (IT Telkom) Purwokerto, melalui SK Menristek Dikti Nomor.446/KPT/I/2017.
Sebagai perguruan tinggi yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Telkom dan disupport secara penuh oleh PT. TELKOM, IT Telkom Purwokerto hadir dengan delapan program studi yaitu D3 Teknik Telekomunikasi, S1 Teknik Telekomunikasi, S1 Teknik Informatika, S1 Sistem Informasi, S1 Rekayasa Perangkat Lunak, S1 Desain Komunikasi Visual, S1 Teknik Industri dan S1 Teknik Elektro untuk menyelenggarakan pendidikan berbasis ICT yang terdepan di area Jawa Tengah khususnya.
Ketua Yayasan Pendidikan Telkom Ir. Dwi S. Purnomo mengatakan kelahiran IT Telkom Purwokerto menandai atau menjadi tonggak perkembangan pendidikan berbasis teknologi di Jawa Tengah.
“Kehadiran IT Telkom diharapkan dapat membuat dunia pendidikan di sekitarnya semakin berkembang. Dengan kekuatan pada penguasaan teknologi telematika dan informatika, IT Telkom membekali mahasiswa dengan digital skill yang dibutuhkan industri dan masyarakat saat ini,” ungkapnya. sumber st3 telokm.ac.id

Kamis, 24 Agustus 2017

Menampung dan Memperhatikan Peserta Didik

Tak Cukup Hanya Ditampung

PERSOALAN penanganan terhadap anak-anak putus sekolah semata-mata tidak cukup diselesaikan hanya dengan menampung mereka menjadi peserta didik. Tetapi ada hal lain yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan, yakni menjamin kelangsungan belajar mereka di bangku sekolah setelah ditampung sebagai peserta didik.
Hal itu diungkapkan Eka Bahtiar, salah satu pendidik SMP swasta di Purwokerto. Menurutnya, setelah lulusan SD yang tidak melanjutkan sekolah ditampung SMP, semestinya juga dibarengi dengan adanya perhatian terhadap mereka.
Salah satunya dengan memberikan alokasi anggaran dana bantuan untuk mendukung kegiatan operasionalnya selama bersekolah. ”Semestinya mereka mendapatkan alokasi anggaran dana bantuan, terutama mereka yang tidak dapat melanjutkan sekolah, karena persoalan ekonomi,” jelasnya. Sumber dana bantuan dapat berasal dari mana saja dan diserahkan ke pemerintah.
Bila persoalan yang dihadapi adalah tidak adanya sarana transportasi yang digunakan untuk menuju sekolah, maka semestinya mereka juga difasilitasi. Misalnya dengan diberikan bantuan sepeda atau lainnya dengan sumber pendanaan yang sudah diatur.
”Tidak tertutup kemungkinan lulusan SD yang tidak melanjutkan sekolah ke jenjang SMP tersebut terjadi lantaran orang tuanya tidak mempunyai motivasi karena sejak awal yang dipikirkan persoalan biaya di sekolah,” terangnya.
Menurut dia, kalangan sekolah swasta siap untuk menampung mereka menjadi anak didik. Adanya lulusan SD yang tidak melanjutkan sekolah ini sangat disayangkan. 

Lulusan SD Tak Melanjutkan Akan Bertambah
Belum Seluruh Data Dilaporkan

Data jumlah lulusan SD di Kabupaten Banyumas yang tidak melanjutkan ke jenjang SMP/MTs berpotensi bisa bertambah.
Ini menyusul belum seluruhnya data anak yang tidak melanjutkan sekolah dilaporkan ke Dinas Pendidikan. Kabid Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Enas Hindasah, mengatakan, meski data lulusan SD yang tidak melanjutkan sekolah telah diserahkan ke Dinas Pendidikan dan jumlahnya tercatat 122 anak, kenyataannya ada SMP yang menampung anak tidak meneruskan sekolah di luar data itu.
”Sekolah tersebut bergerak sendiri dan berhasil menampung anak tidak melanjutkan sekolah di luar data yang sudah diserahkan ke Dinas Pendidikan. Artinya, dimungkinkan masih ada lulusan SD yang tidak melanjutkan sekolah, tetapi belum terdata. Jadi, jumlahnya masih sangat mungkin berubah,” ungkapnya.
Dalam menangani anak seperti ini, lanjut dia, dibutuhkan peran serta semua pihak, mulai dari tingkat RT, RW, pemerintah desa/kelurahan, hingga kecamatan dan kabupaten.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Purwadi Santoso, menjelaskan, penyebab siswa yang tidak melanjutkan sekolah ke jenjang SMP tersebut beragam, mulai dari orang tua tidak membolehkan melanjutkan sekolah, anaknya malas, persoalan transportasi, hingga termasuk kategori anak berkebutuhan khusus (ABK).
”Kami mendorong pengelola SMP, khususnya swasta, untuk ikut terlibat dengan memfasilitasi mereka agar bisa melanjutkan sekolah. Salah satunya dengan menampung mereka sebagai anak didik di sekolah tersebut, terutama yang tempat tinggalnya berdekatan dengan sekolah itu,” ujarnya.
Bahkan, untuk mengetahui hasilnya, dia meminta sekolah tersebut untuk segera memberikan laporan ke Dinas Pendidikan. Laporan itu akan dijadikan sebagai dasar dalam melakukan langkah berikutnya.
”Nanti hasilnya seperti apa segera laporkan ke kami. Kalau tidak berhasil nanti akan kami upayakan dengan cara yang lain,” tambah dia. Dia mengatakan, tidak hanya jenjang SMP yang dilibatkan, tetapi juga madrasah tsanawiyah diminta juga untuk terlibat. Selain itu, sanggar kegiatan belajar (SKB) dan pusat kegiatan masyarakat (PKBM) juga diminta untuk ikut terlibat.
Sementara itu, Kasi Kurikulum Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Agus Wahidin, menambahkan, orang tua dinilai mempunyai peran yang cukup strategis dalam mendorong anak putus sekolah agar mau melanjutkan sekolah. Karena itu, agar program penanganan anak putus sekolah berhasil, diperlukan adanya pendekatan terhadap orang tua.
”Salah satu kunci keberhasilan dalam mendorong anak putus sekolah agar bersedia melanjutkan sekolah terletak pada orang tuanya. Mereka harus didekati dan diberi pemahaman tentang pentingnya sebuah pendidikan bagi anak usia sekolah,” terangnya.
Menurutnya, meski zaman sudah makin maju, namun tidak tertutup kemungkinan masih ditemukan adanya orang tua, terutama yang tinggal di daerah pedesaan, kurang memiliki kepedulian terhadap pendidikan anaknya. Mereka lebih memilih anaknya bekerja untuk menambah penghasilan keluarga.
Pola pikir seperti ini harus diubah. Kendati demikian, tidak mudah untuk mengubah pola pikir seperti itu. Diperlukan adanya pendekatan secara intensif kepada orang tua anak putus sekolah.

sumber suara merdeka

Rabu, 16 Agustus 2017

MA Ma’arif Cilongok Borong Gelar Olimpiade Sains dan Ke-NU-an




MA Ma’arif NU Cilongok membuat kejutan. Dalam Olimpiade Sains dan Ke-NU-an (OSKANU) tingkat kabupaten Banyumas, yang diadakan LP Ma’arif NU Kabupaten Banyumas, MA Ma’arif Cilongok sukses memborong sepuluh gelar. Acara dilaksanakan Sabtu (12/8) lalu di komplek MTs Ma’arif NU 01 Kemranjen dan SMA Ma’arif NU Kemranjen. Acara yang mengambil tema “Membangun Akhlak dan Prestasi bersama Ma’arif NU” itu, diikuti ratusan siswa dari tingkat MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK di bawah naungan LP Ma’arif NU se-Kabupaten Banyumas. Para peserta Olimpiade Sains mengikuti upacara pembukaan. 

Ketua panitia OSKANU, M.Hidayaturrohman mengatakan, kegiatan tersebut merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan dua tahun sekali oleh LP Ma’arif. Selain sebagai ajang silaturrahmi antar warga Maa’rif, sekaligus menjadi ajang seleksi peserta pada ajang yang sama di tingkat provinsi Jawa Tangah. “LP Ma’arif membawahi 132 SD/MI, 40 SMP/MTs dan 18 SLTA. Untuk memacu semangat dan prestasi dan keterampilan akademik khususnya bidang MIPA dan IPS serta Ke NU an, maka lembaga mengadakan olmpiade. 

Selain olimpiade sains dan Ke NU an, sebelumnya Ma’arif juga mengadakan Pekan Olahraga dan seni Ma’arif (PORSEMA) sebagai ajang prestasi di bidang olahraga dan seni,” jelasnya. Dalam kegiatan tersebut dilombakan puluhan cabang. Antara lain olimpiade IPA, Matematika IPS, Ke-NU-an, Cerdas tangkas Aswaja, Majalah Dinding 3D, LKIR IPA, LKIR IPS. Juga olimpiade Fisika, Biologi, Kimia, Geografi, Akuntansi dan sosiologi untuk SMA/MA. Sedangkan untuk ada LKS Otomotif, TKJ dan Akuntansi. Kegiatan dibuka Edi Sungkowo mewakili Ketua LP Ma’arif Kabupaten Banyumas sekitar pukul 07.30 WIB. Acara diakhiri pengumuman pemenang sekaligus pembagian tropy. Tampil sebagai juara pada ajang ini, MI Ma’arif NU Pageraji (Mading 3D dan Ke-NU-an), MIMA Dawuhan Kulon dalam lomba cerdas tepat, MIMA Gumelar lomba IPA, MI Tarbiyatul Ulum lomba MTK dan MIMA 02 Pancasan dalam lomba IPS. 

Sumber: Radarbanyumas.co.id

Kamis, 10 Agustus 2017

Makalah Mahasiswa ST3 Telkom Raih Juara III

Makalah berjudul “Prototipe Perangkat Pengingat Penggantian Oli pada Sepeda Motor via Notifikasi SMS Berbasis Android” karya mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Telematika (ST3) Telkom Purwokerto meraih juara III. Makalah tersebut dipresentasikan pada Seminar Nasional Multi Disiplin Ilmu (Sendi_U) dan Call for Pappers ke-3 di Universitas Stikubank (Unisbank) Semrang, baru-baru ini.

Hasil penelitian Anjas Rizky Maulana ini merupakan salah satu dari empat judul makalah yang dikirimkan untuk dipresentasikan pada ajang tersebut. “Alhamdullillah, makalah ini mendapat apresiasi dari juri dan hadirin di seminar itu. Semoga menjadi bekal seman at untuk membuat karya lainnya,” kata Anjas, mahasiswa program studi Teknik Telekomunikasi ST3 Telkom, kemarin.

Menurut Anjas, pada seminar nasional tersebut, tidak hanya mempresentasikan karya mahasiswa. Dosen dan staf pengajar juga ikut mempublikasikan karyanya. Dosen Program Studi Informatika, Fahrudin MuktiWibowo M Kom mengatakan, keterlibatan dosen dalam kegiatan penelitian hingga publikasi merupakan bentuk perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Hal ini juga tertuang dalam peraturan untuk meningkatkan kualitas guru dan dosen. “Dosen sendiri memiliki definisi, sebagai berikut, dosen adalah seorang pendidik profesional dan ilmuan yang dapat dapat mentransformasikan keilmuannya dan dibebankan tugas untuk melaksanakan penelitian.

Jadi sudah menjadi kewajiban untuk melaksanakan tiga tugas utama tersebut,” kata dia. Menurut Fahrudin, seluruh pelaksanaan penelitian, seminar serta publikasi yang dilaksakan sepenuhnya dibiayai oleh pihak institusi ST3 Telkom Purwokerto.

Pada Sendi_U ke 3 di Unisbank tersebut, selain memaparkan penelitiannya, para dosen dan mahasiswa mengikuti seminar yang menghadirkan pembicara Prof Dr Bet El Silisna Lagarense MM Tour (Guru Besar Politeknik Negeri Manado) tentang potensi wisata di Manado dan Andhy Irawan Managing Director Dafam Hotels tentang berbagai strategi dan kendala dalam pariwisata di Indonesia. 
sumber suara merdeka

Rabu, 26 Juli 2017

Dampak Full Day Scholl Bagi SMP Terbuka dan Kejar Paket

SMP Terbuka Terancam
Penerapan Lima Hari Sekolah


Kebijakan lima hari sekolah atau full day school yang digulirkan pemerintah tidak hanya akan berdampak terhadap kegiatan madrasah diniyah (madin), tetapi juga kegiatan yang lain.
Bahkan, kebijakan tersebut bisa mengancam kegiatan pembelajaran SMP terbuka. Kasi Kurikulum Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Agus Wahidin, membenarkan hal tersebut. Menurut dia, keberadaan SMP terbuka kemungkinan bisa terkena imbas dari kebijakan tersebut. ‘’Biasanya kegiatan pembelajaran di SMP terbuka dilaksanakan dua kali dalam sepekan, yakni Jumat dan Sabtu.
Selain itu, kegiatan belajar-mengajar dilaksanakan siang sampai sore, yakni setelah kegiatan belajarmengajar di sekolah reguler selesai,’’ katanya. Sebagian besar SMP terbuka tidak memiliki gedung sendiri, sehingga kegiatan pembelajarannya menggunakan gedung milik sekolah reguler, terutama sekolah negeri. Karena itu, lanjut dia, bila sekolah reguler menerapkan kebijakan lima hari sekolah, maka nasib SMP terbuka terancam.
Pasalnya, bila sekolah menerapkan lima hari, maka kegiatan pembelajarannya akan berlangsung hingga sore atau selama delapan jam dalam sehari. Meski sekolah reguler menerapkan lima hari sekolah, kegiatan pembelajarannya pada Sabtu libur, menurutnya, kegiatan pembelajaran di SMP terbuka kemungkinan besar juga tidak dapat berjalan, lantaran tidak ada tenaga pendidiknya.
‘’Sebagian besar guru yang mengajar di SMP terbuka merupakan guru yang mengajar di sekolah reguler. Ketika sekolah reguler memberlakukan lima hari sekolah, maka gurunya sudah kelelahan, sehingga Sabtu kemungkinan tidak dapat mengajar di SMP terbuka,’’ terangnya.
Beri Kebebasan
Terkait kebijakan lima hari sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas memberikan kebebasan untuk memilih. Sekolah yang sudah siap dan mempunyai keiinginan, dipersilakan untuk menerapkan lima hari sekolah. Adapun sekolah yang belum siap dan tidak ingin, juga dipersilakan untuk tetap menerapkan enam hari sekolah.
‘’Saat ini informasinya masih dibahas di tingkat pusat, sehingga daerah tinggal menunggu hasil dalam bentuk surat resminya. Yang jelas kami yang di lapangan membutuhkan juklak (petunjuk pelaksanaan) dan petunjuk teknisnya seperti apa,’’ kata Kabid Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Enas Hindasah. Dia menambahkan, sekolah yang ingin menerapkan lima hari sekolah, terlebih dulu harus mengajukan izin ke Dinas Pendidikan.
Dalam pengajuan izin itu harus menyertakan proposal yang berisi tentang perencanaan kegiatan selama menerapkan lima hari sekolah. ‘’Penerapan lima hari sekolah tersebut juga jangan sampai meninggalkan kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kokurikuler. Ketiga kegiatan tersebut harus tetap ada,’’ tandas dia. 

Kejar Paket Juga Terdampak


TERANCAMNYA kegiatan pembelajaran SMP terbuka merupakan salah satu bentuk dampak yang dirasakan dengan pemberlakuan kebijakan lima hari sekolah. Penerapan kebijakan tersebut dinilai akan bertabrakan dengan kegiatan pembelajaran SMP terbuka yang biasanya dilaksanakan pada sore hari.
Menurut Ketua Lembaga Pendidikan Maarif NU Kabupaten Banyumas, Ahmad Rozikin, kebijakan lima hari sekolah kemungkinan besar akan mengganggu kegiatan pembelajaran SMP terbuka. Selain itu, ada pula kegiatan pembelajaran nonformal yang terkena dampaknya. Misalnya program Kejar Paket B dan C yang biasanya dilaksanakan pada sore hari.
‘’Apalagi guru-guru yang mengajar di SMP terbuka maupun di program Kejar Paket B dan C, sebagian besar merupakan guru-guru yang mengajar di jenjang sekolah formal,’’ jelasnya.
Saat ini, lanjut dia, sekolah maupun madrasah di bawah naungan LP Maarif keberatan atas kebijakan lima hari sekolah dan tidak akan mengikuti kebijakan pemerintah tersebut. ‘’Lembaga kami tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran selama enam hari dalam sepekan,’’ terangnya.
Dia menjelaskan, dalam menyikapi kebijakan lima hari sekolah, sekolah maarif mengikuti sikap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Kebijakan lima hari sekolah dinilai akan mengganggu pendidikan yang dikelola masyarakat, khususnya madrasah diniyah (madin) yang biasanya diselenggarakan setelah sekolah formal selesai.
sumber suara merdeka

Selasa, 25 Juli 2017

Digelar Kejuaraan Sepatu Roda Pelajar Kerja Sama SIWO dan Porserosi

Dalam rangka memeriahkan HUT ke 72 RI, sekaligus meningkatkan pembinaan bibit-bibit pemain sepatu roda, akan digelar Kejuaraan Sepatu Roda Pelajar Wilayah Banyumas. Even itu akan dimainkan di lintasan sepatu roda GOR Satria, Purwokerto, Minggu (6/8).
Ketua Panitia Budi Hartono menjelaskan, kejuaraan diselenggarakan Seksi Wartawan Olahraga Persatuan Wartawan Indonesia (SIWO PWI) Banyumas, bersama Pengurus Kabupaten Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Pengkab Porserosi) setempat. Even itu mendapat rekomendasi Dinas Pendidikan Banyumas.
Kejuaraan itu diperuntukan pelajar, mulai tingkat TK/PAUD/KB, SD, dan SMP. Nomor yang dilombakan untuk TK/PAUD/KB adalah standar, SD (standar dan speed), adapun SMP hanya speed. Peserta SD dikelompokan menjadi kelas 1-2, 3-4 dan 5-6.
Nomor-nomor yang dilombakan meliputi TK/PAUD/KB jarak 50 m dan 100 m, SD standar jarak 200 m, 300 m, dan 500 m, adapun SD speed 300 m, 500 m, 1000 m, untuk SMPjarak 300 m, 500 m dan 1000 m, semua putra/putri. Peserta hanya boleh mengikuti maksimal dua nomor lomba, bisa memilih nomor-nomor yang ada. Pemain hanya boleh mengikuti satu katagori, misalnya SD kelas 1-2, tidak boleh merangkap di SD kelas 3-4, misalnya.
Seragam
Dalam perlombaan, katanya, peserta wajib memakai pakaian olahraga, boleh seragam sekolah, dilarang memakai atribut klub sepatu roda. Pelanggaran ketentuan ini membuat peserta akan dicoret dari daftar dan tak boleh mengikuti lomba.
Peserta wajib memakai helm, dan disarankan memakai pelindung lutut dan siku. Pemenang akan mendapat apresiasi berupa medali dan piagam. Pendaftaran peserta untuk TK/PAUD/KB Rp 125 ribu/anak, SD standar Rp 150 ribu/anak, SD speed dan SMP speed Rp 200 ribu/anak.
Form pendaftaran tersedia di Kantor Suara Merdeka Perwakilan Purwokerto Jl Ragasemangsang 627, kantin bu Yanto (timur lintasan sepatu roda), Febriana Tri Lestari (klub PSSC saat latihan Minggu pagi, Selasa dan Kamis sore). Contact person Ketua Panitia 0811 281 498. 
sumber suara merdeka

Jumat, 21 Juli 2017

Jagad Bocah Latih Kepemimpinan sejak Dini

SEBELUM berkembang di wilayah Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Jagad Bocah ini berasal dari Desa Karangnangka Kecamatan Kedungbanteng.
Bahkan sebelum diminati puluhan anak, format pendidikan non formal ini hanya berasal dari lingkup keluarga saja. Begitulah yang dituturkan oleh Kasito (37), warga Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng yang menjadi inisiator dan fasilitator Jagad Bocah. Embrio Jagad Bocah adalah hanya merupakan kegiatan anak belajar dan bermain bersama.
Namun karena diinisiasi secara serius oleh para pegiatnya, akhirnya kegiatan ini berkembang menjadi komunitas belajar mandiri. Anak-anak mengatur pembelajaran hingga pembiayaan kegiatan mereka secara mandiri. “Jagad Bocah ini lahir 29 Maret 2014.
Dari kegiatan bermain sambil belajar, anak-anak mulai asyik. Setelah setahun baru kami tawarkan ke orang tua. Apakah mau dibubarkan, malah orang tua bilang jangan! Setelah berkembang di Karangnangka, sekarang malah lebih berkembang lagi di wilayah Sambiata,” katanya.
Maka melalui Jagad Bocah inilah, sistem pembelajaran mandiri yang diatur oleh anakanak. Makanya bentuk kegiatan yang ada di Jagad Bocah ini dikemas sesuai dengan keinginan, kemampuan, minat dan bakat anak-anak yang ada. Sementara orang tua mendukung mereka dengan membebaskan anak-anak untuk berpikir mandiri dan kreatif.
“Awalnya seminggu dua kali ada kegiatan belajar memasak dan akademik. Namun kini telah berkembang menjadi Kelas Gending, Kelas Seni, dan ke depan ada minat Kelas Bahasa Inggris. Semoga ini bisa terwujud,” jelas ayah Iqbal Madani (8) dan Halida Aska (7).
Mandiri
Adapun sistem pendanaan jagad bocah bersifat mandiri, berasal dari tabungan yang disisihkan dari uang saku anakanak. Mereka menyebut biaya pendidikan disebut dengan istilah uang langit yang dibukukan mereka sendiri. Dana tersebut digunakan untuk membeli perlengkapan, alat peraga,serta transportasi ketika mengadakan kegiatan kunjungan belajar yang diatur secara tematik oleh anak-anak.
“Anak-anak akan bermusyawah berlatih memimpin kegiatan misalnya berkunjung ke kantor pos, museum, belajar fotografi, teater, melukis kepada sang maestro langsung dan sebagainya. Jadi pendamping hanya bersifat memfasilitasi kegiatan anak-anak ini,” ujar pria yang hanya lulusan SMA ini. Berkat kemandirian anakanak, kini telah banyak kegiatan yang dilaksanakan Jagad Bocah. Mereka kerap tampil di berbagai kegiatan akademik, seni dan sebagainya.
Bahkan kini di Sambirata, dukungan kepada Jagad Bocah semakin muncul antara lain dengan penyediaan Sanggar Karawitan yang difasilitasi pemerintah desa setempat. “Kami bersama orang tua menyampaikan terimakasih kepada para maestro seni dan keahlian lainnya yang telah memberikan pelajaran kepada anak-anak Jagad Bocah. Dengan respon positif inilah, mereka bisa belajar bersahabt dengan diri sendiri, lingkungan sekaligus kemudian belajar memimpin,” katanya.
Ketua Padepokan Seni Cowong Sewu Karanglewas, Titut Edi Purwanto juga mengapresiasi keberadaan Jagad Bocah. Pasalnya komunitas belajar anak-anak dari Sambirata ini telah menjadi bagian pelaku seni langsung di Banyumas. Melalui pembelajaran langsung yang diatur mandiri oleh anak-anak terbukti menumbuhkan mental berani di dalam diri anak-anak.
“Kami juga berterimakasih karena berkat peran serta anak-anak Jagad Bocah sejumlah kegiatan seni teater hingga peringatan Hari Lahir Pancasila kemarin juga dapat berjalan semarak dan ramai. Kita juga berharap mereka menjadi bagian pewaris generasi Pancasilais yang tetap harmonis di tengah berbagai latar belakang,” jelasnya.
sumber suara merdeka

Selasa, 18 Juli 2017

Mahasiswa Unsoed Ciptakaan AutoGrow untuk Mengontrol Budidaya Ikan dan Tanaman




Tinggal Buka Aplikasi di Hp, Tidak Perlu ke Lokasi Bisa Diakses Dimana Saja Inovasi dan kreasi di bidang teknologi terus dikembangkan di berbagai sektor, termasuk pertanian. Seperti yang dilakukan mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang menciptakan suatu sistem otomatisasi pada akuaponik yang diberi nama AutoGrow. INOVASI : Mahasiswa Unsoed yang berhasil menemukan inovasi di bidang pertanian, AutoGrow. (GALUH WIDOERA/RADARMAS) GALUH WIDOERA, Purbalingga Kelompok mahasiswa Unsoed yang menciptakan AutoGrow adalah Fika Siwi Lestari, Aji Sulistyo Nugroho, Miftahul Yusuf, Widia Astuti, dan Elzha Alifvia. Masing-masing berasal dari jurusan Teknik Informatika, Teknik Elektro, dan Agroteknologi. “AutoGrow dirancang untuk masyarakat kota yang tidak punya banyak lahan dan waktu luang untuk bertani dan budidaya ikan, tetapi ingin memproduksi bahan pangan secara mandiri. AutoGrow juga ditujukan bagi masyarakat yang ingin mempercantik ruangan, membuat suasana ruangan menjadi lebih hijau, menanam tanaman yang simple sekaligus memelihara ikan hias, atau hanya sekedar untuk hobi,” ungkap Fika, selaku ketua tim. AutoGrow merupakan sistem otomatisasi akuaponik berbasis Internet of Things (IoT) dan expert system. Akuaponik yakni kombinasi dari akuakultur (budidaya ikan) dan hidroponik (budidaya tanaman tanpa tanah). “Dengan IoT dan penanaman beberapa sensor, kondisi air dan media tanam seperti suhu, kelembaban, pH, dan level ketinggian air pada sistem akuaponik dapat dipantau secara real time melalui aplikasi berbasis web yang dapat diakses dari berbagai device, dimana saja dan kapan saja,” imbuh Fika. IoT juga berguna dalam mengontrol dan mengotomatisasi alat-alat seperti pompa air, lampu, dan pemberi makan ikan otomatis (auto feeder), dimana konfigurasi otomatisasi tersebut dapat disesuaikan dengan mudah tanpa harus datang ke lokasi. “Walaupun ditinggal pergi, akuaponik dijamin aman, tinggal lihat aplikasi di handphone untuk mengontrolnya,” katanya. AutoGrow juga dilengkapi dengan expert system yaitu aplikasi yang ditujukan untuk mendiagnosa defisiensi (kekurangan) nutrisi pada tanaman dan penyakit ikan. Pada expert system tercantum gambar, gejala-gejala, keterangan penjelas, serta penanganan terkait defisiensi nutrisi tanaman maupun penyakit ikan. “Data-datanya telah dikonsultasikan dengan pakar di bidang tanaman dan pakar di bidang perikanan, sehingga masalah-masalah yang ada dapat dideteksi dan ditangani lebih cepat untuk mencegah kerugian yang mungkin terjadi,” ucap Fika. Ide untuk mengembangkan AutoGrow, tuturnya, berasal dari masalah-masalah mendasar seperti harga bahan pangan yang naik turun dan kelangkaan kebutuhan pangan. Selain itu, saat ini sulit menemukan bahan pangan organik yang tidak terkontaminasi zat kimia akibat penggunaan pestisida dan pupuk kimia yang berlebihan. Menurutnya, masyarakat kota belum tertarik dengan urban farming dikarenakan bertani masih dianggap sulit, tidak menyenangkan, dan berisiko gagal panen. Ditambah lagi banyak terdapat masalah hama dan penyakit tanaman, serta masyarakat kota cenderung tidak punya waktu untuk bertani karena sibuk dengan pekerjaannya. “Kami harap AutoGrow dapat memperbaiki citra masyarakat kota terhadap pertanian, dengan menjadikan kegiatan bertani dan budidaya ikan menjadi lebih praktis, mudah, dan menyenangkan karena dapat dipantau dan dikontrol via internet,” katanya. Dosen Pembimbing sekaligus Dosen Teknik Informatika Unsoed, Nur Chasanah SKom MKom mengatakan, inovasi dan kreativitas di bidang IT saat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas, sehingga peran serta perguruan tinggi dalam hal ini melalui Pengembangan Kreativitas Mahasiswa (PKM) akan sangat diperlukan untuk peningkatan kesejahteraan lingkungan dan masyarakat. “Dengan munculnya inovasi ini akan menimbulkan semangat anak-anak muda untuk berbuat sesuatu dan bermanfaat bagi lingkungannya. Melalui inovasi AutoGrow ini tentunya akan mendukung alih fungsi lahan pertanian, dan mengajak masyarakat kota untuk ikut melakukan Urban Farming dengan sistem akuaponik berbasis IoT yang dapat dilakukan secara real time melalui website yang dapat diakses dimana saja dan kapan saja,” katanya. 

Sumber: http://radarbanyumas.co.id/mahasiswa-unsoed-ciptakaan-autogrow-untuk-mengontrol-budidaya-ikan-dan-tanaman/
Copyright © Radarbanyumas.co.id

SMK Aryasatya Teknologi Patikraja

SMK Arsyasatya Teknologi Patikraja berlokasi antara Notog dan Jembatan dekat Pasar Patikraja , membuktikan bahwa peran swasta sangat penting , bagi dunia pendidikan dan perkembangan daerah di Kabupaten Banyumas. Selain sekolah ini, di Wangon ada SMK Sriwijaya yang juga dikembangkan oleh swasta ( kalau tidak salah milik Astra juga) . Jadi bisa saja merupakan CSR yang diperuntukkan bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat juga . Tentu ini kabar baik disaat adanya sebaian masyarakat yang menuntut agar fasilitas antar daerah seimbang, salah satunya fasilitas pendidikan sekolah tingkat menengah. 


SMK Aryasatya Teknologi Patikraja yang baru diresmikan tanggal 13 Mei 2017 dan mengusung motto Kualitas Adalah Kami membuka pendaftaran siswa baru mulai tanggal 1 juni s/d 30 juni 2017. Sebagai sekolah binaan Yayasan Toyota dan Astra, SMK Aryasatya Teknologi Patikraja mengusung konsep mengembalikan sistem link and match sebagai sistem kendali kualitas lulusan SMK dengan standar kebutuhan manpower di dunia industri yang terus berkembang melalui program pendidikan sistem ganda (PSG). Hal ini sejalan dengan program Yayasan Toyota dan Astra yang akan menjadikan sekolah binaannya sebagai source atau sumber perekrutan manpower untuk perusahaan jaringan Toyota dan Astra seperti Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Astra International Toyota Sales Operation, Astra Otopart dan lain sebagainya. SMK Aryasatya Teknologi juga mengembangkan kerjasama dengan dealer-dealer resmi dibawah Toyota Astra Motor seperti Auto2000, Astrido, Nasmoco, Plaza Toyota, Anzon Toyota, Agung Toyota, Tunas Toyota dan lain sebagainya. Kepala SMK Aryasatya Teknologi Sudito SPd mengatakan, kerjasama ini selain bertujuan untuk penyaluran lulusan sebagai teknisi di dealer-dealer tersebut juga untuk penyelarasan sistem pendidikan di sekolah dengan kebutuhan SDM di dunia industri otomotif. Sehingga lulusan SMK Aryasatya benar-benar siap untuk bekerja di dealer-dealer tersebut. “Kerjasama SMK dan dunia industri mutlak diperlukan demi mencetak lulusan-luluda yang kompeten sesuai standar industri. Bayangkan betapa besar biaya yang harus dikeluarkan Toyota untuk melatih calon karyawannya supaya siap kerja,padahal seharusnya itu sudah didapat di SMK,”jelasnya. Baru-baru ini kepala bengkel Nasmoco Toyota Magelang, Subhan Firdaus mendaftarkan putra ke 2 nya yang baru lulus SMP ke SMK Aryasatya Teknologi. “Saya percaya kepada SMK Aryasatya Teknologi sebagai salah satu sekolah binaan Toyota dan Astra akan mampu mencetak teknisi teknisi handal yang kompeten dan siap bekerja di dealer-dealer resmi Toyota, oleh karena itu saya percayakan pendidikan putra saya di sini,” ungkap Subhan Firdaus.

Sumber: http://radarbanyumas.co.id/smk-aryasatya-teknologi-patikraja-buka-pendaftaran-siswa-baru/
Copyright © Radarbanyumas.co.id


Rabu, 12 Juli 2017

Pesantrenisasi Menarik Perguruan Tinggi

Program penuntasan kemampuan baca tulis Alquran dan Praktek Pengamalan Ibadah (BTAPPI) bagi mahasiswa dan pesantrenisasi yang diterapkan di IAIN Purwokerto, menarik perhatian para pejabat dan pemimpin perguruan tinggi di lingkungan Kementrian Agama.
Wakil Rektor III IAIN Pekalongan Drs M Muslih MPd PhD dan rombongan, pekan lalu, datang ke IAIN Purwokerto untuk melakukan studi banding. Kedatangan Muslih disambut oleh Rektor IAIN Purwokerto Dr H A Luthfi Hamidi, Wakil Rektor III Dr Supriyanto dan kepala unit Maíhad Al-Jamiíah Drs Ibnu Mukti M Pd di Ruang rapat rektorat.
Wakil Rektor Bidang Alumni Kemahasiswaan dan Kerjasama IAIN Purwokerto Dr Supriyanto LC Msi mengatakan, tujuan penerapan pesantrenisasi tidak semata mata untuk meningkatkan kemampuan BTA PPI.
Namun lebih jauh dengan penerapan model tersebut mahasiswa akan lebih terkontrol dan fokus untuk belajar. Pesantren sebagai salah satu model pendidikan Islam yang terbukti mampu melahirkan alumni yang relatif lebih baik secara akhlak dipandang perlu untuk dilibatkan oleh IAIN Purwokerto.
Supriyanto menjelaskan sejak awal penerapan pesantrenisasi pada tahun 2010 IAIN Purwokerto menggandeng hanya lima pesantren. Namun dengan semakin pesatnya pertumbuhan IAIN Purwokerto dan bertambahnya jumlah mahasiswa maka sampai saat ini sudah ada dua puluh lima pesantren yang menjadi mitra IAIN Purwokerto.
Bahkan tahun ini sudah ada sembilan pesantren yang mengajukan diri untuk menjadi mitra, namun proses verifikasi terkait kelayakan dan kesiapan pesantren belum dilakukan. ”Kedepan jika sembilan pesantren itu dipandang layak maka tidak menutup kemungkinan jumlah pesantren mitra akan bertambah,”ujarnya.
Harus Dikuasai
Muslih menilai, penerapan program pesantrenisasi di IAIN Purwokerto cukup bagus dan layak untuk diterapkan di IAIN Pekalongan. Dengan membekali mahasiswa dengan kemampuan BTA dan PPI maka output dari IAIN akan siap terjun di masyarakat untuk menjadi bagian pemecah persoalan. Dia menyadari kemampuan baca tulis Alquran merupakan hal dasar yang harus dikuasai oleh lulusan perguruan tinggi keagamaan Islam.
Penerapan program itu di sini sudah sangat tepat menerapkan program itu, mengingat wajib hukumnya lulusan perguruan tinggi islam untuk dapat membaca Alquran dengan baik dan benar. Menurut Muslih, metode yang diterapkan IAIN Purwokerto sangat bagus, yaitu dengan menggandeng pesantren disekitar kampus menjadi mitra.
Memang tidak hanya IAIN Purwokerto yang menggandeng mitra, beberapa PTKIN juga sudah menggunakan metode yang hampir serupa. Namun, hubungan dengan pesantren mitra yang cukup harmonis dan saling menopang menjadi nilai lebih. ”Itulah mengapa IAIN Pekalongan ingin belajar dengan IAIN Purwokerto terkait pesantrenisasi,” katanya. 
sumber suara merdeka

Kamis, 18 Mei 2017

Institut Teknologi Telkom Purwokerto (ITTP)

ST3 Telkom Siap Beralih Status

Sekolah Tinggi Teknologi Telematika (ST3) Telkom Purwokerto siap beralih status menjadi Institut Teknologi Telkom Purwokerto (ITTP) dalam waktu dekat ini. Pasalnya, kampus ini telah menambah sejumlah jurusan dan melengkapi ketersediaan tenaga pengajar.
Ketua ST3 Telkom, Prof Adiwijaya SSi MSi mengatakan, saat ini ST3 Telkom telah membuka program studi S1 Teknik Telekomunikasi, Teknik Informatika, Teknik Elektro, Teknik Industri, Rekayasa Perangkat Lunak dan Desain Komunikasi Visual serta diploma tiga Teknik Telekomunikasi.
Dua jurusan yaitu D3 TTdan S1 TT sudah mengantongi akreditasi B. “Tahun ini pula sejumlah prodi baru sudah membuka pendaftaran mahasiswa baru,” ujarnya, saat membuka seminar nasional dengan tema “5G: Internet of Things Data Security” di Hotel Santika, baru-baru ini.
Menurut dia, alih status tersebut dapat dipenuhi apabila sejumlah persyaratan telah dipenuhi. Di antaranya tenaga pengajar, sarana perkuliahan, jumlah program studi dan kurikulum.
Dia mengatakan, alih status ini menjadi sebuah tuntutan civitas akademika terhadap perkembangan zaman dan teknologi yang pesat. Oleh karena itu, dibutuhkan pengembangan semua lini di pendidikan tinggi. Adapun seminar nasional yang digelar oleh ST3 Telkom merupakan rangkaian dari peringatan Dies Natalies ke 15 kampus tersebut.
Seminar yang menghadirkan pakar IT seperti Dr Eng Khoirul Anwar ST M Eng dan Prof Dr Ing Ir R Eko Indrajit MSc MBA MPHII membedah sejumlah perkembangan teknologi komunikasi di dunia. Selain seminar, juga digelar kegiatan Loop Purwokerto City Run, Lomba MTQ, Donor darah, Tabligh akbar dan Rapat Koordinasi Asosiasi Pendididikan Tinggi Ilmu Komputer (Aptikom). 
sumber suara merdeka

Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...