Selamat Kepada Calon Kepala Daerah Banyumas

Tampilkan postingan dengan label History & Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label History & Story. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Maret 2018

Kajian Pendapa Si Panji Ditarget Sebulan

Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudapr) Banyumas bersama Tim Ahli Cagar Budaya bakal mengkaji Pendapa Si Panji di Purwokerto.

Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banyumas menargetkan, proses kajian pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas selesai dalam waktu satu bulan. Kajian cagar budaya dilakukan pada dua bangunan yaitu Pendapa Si Panji Purwokerto dan Rumah Dinas Bupati. Anggota TACB Banyumas, Arief Rahman mengatakan, sebagai langkah awal, pihaknya mendokumentasikan seluruh komplek bangunan. Proses ini dikerjakan selama dua hari. “Setelah itu penelusuran arsip dan data pendukung. Untuk rumah dinas bupati ini agak sulit, karena tidak banyak catatan tentang gedung tersebut,” katanya, Jumat (23/3). Usai pendokumentasian, kata Arief, kajian dilanjutkan pada bekas gedung SMKI yang sekarang menjadi Puskesmas Banyumas. Pasalnya, gedung ini akan direnovasi oleh Dinas Kesehatan Banyumas untuk pengembangan gedung Puskesmas.
Lakukan Kajian
“Surat izinnya dari Dinkes sudah masuk. Kami segera melakukan kajian,” ujarnya. Terpisah, Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala bidang Kebudayaan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudapr) Banyumas, Carlan menyebutkan, untuk pendapa di pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas tersebut memang sudah teregistrasi sebagai Benda Diduga Cagar Budaya oleh Balai Pelestari Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah.
“Pendapa ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1706. Kala itu, Bupati Banyumas dijabat oleh Raden Tumenggung Yudanegara II.
Saka guru pendapa tersebut dipindahkan dari Kota Lama Banyumas ke Kota Purwokerto. Seiring perpindahan pusat pemerintahan pada tahun 1937,” katanya.
Carlan mengatakan, selain meneliti Pendapa Si Panji dan Rumah Dinas Bupati, pihaknya juga sedang mengajukan Masjid Saka Tunggal Desa Cikakak, SMP 1 Purwokerto, SMA 2 Purwokerto dan Pendapa eks kantor Kawedanan Banyumas atau SMK 3 Banyumas untuk ditetapkan sebagai cagar budaya.
Sebelumnya, bangunan SMP 2 Purwokerto dan Masjid Saka Tunggal ‘’Darussalam’’ Desa Pekuncen sudah ditetapkan.
sumber suara merdeka

Terkait asal usul nama si Panji , dari laman  situs budaya.id, dijelaskan bahwa Panji merupakan nama anak dari  Bupati Banyumas ke 7 Tumenggung Yuda negara II, lengkapnya Panji Gandasubrata ( Bagus Kunthing) yang sejak kecil tinggal di keraton Kartasura bersama neneknya RA Bendar.

Kudi Diusulkan Masuk Warisan Budaya Bnayumas


Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas kembali mengusulkan salah satu produk seni khas Banyumas sebagai warisan budaya tak benda tahun 2018 setelah sebelumnya juga mengusulkan lengger lanang serta wayang bawor.

 Kepala Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko, dalam rapat sinkronisasi program kebudayaan di Balai Pelestarian Nilai Budaya DI Yogyakarta, mengusulkan kudi untuk ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda.

 “Kudi dengan bentuknya yang unik, meski fungsi utamanya adalah alat pertanian, namun juga digunakan sebagai senjata tradisional,” kata dia. 

Menurut Deskart, saat ini Banyumas hanya memiliki dua warisan budaya tak benda yang telah ditetapkan oleh Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI yaitu, calung Banyumas dan getuk goreng. “Data-data pendukungnya sedang kami kumpulkan untuk diajukan ke Dirjen Kebudayaan,” kata dia. 

Pelestarian budaya, dengan perlindungan dan perawatn khusus sebelumnya dilakukan dengan menetapkan dua bangunan pengglan sejarah di Banyumas, menjadi cagar budaya. Pemkab Banyumas, melaui SK Bupati nomor 430/141/ dan 430/140 tahun 2018 menetapkan masjid Saka Tunggal “Darussalam” Dusun Legok Desa Pekuncen, Kecamatan Pekuncen dan gedung SMP Negeri 2 Purwokerto menjadi cagat budaya yang dilindungi oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas.

Sumber:  Radarbanyumas.co.id

Rabu, 28 September 2016

Nasib Cagar Budaya Bergantung Pimpinan Daerah

Quote suaramerdeka.com  :
Nasib sedikitnya 300 cagar budaya yang tersebar di wilayah Banyumas sangat bergantung pada peran pimpinan daerah. Bupati sebagai pengampu kebijakan memiliki peran penting dalam pelestarian peninggalan sejarah.
Pegiat Banjoemas History Heritage Community, Jatmiko Wicaksono, mengemukakan, sejak tahun 1999 hingga sekarang, hanya satu benda cagar budaya (BCB) di Banyumas yang memiliki kekuatan legal formal berdasarkan surat keputusan menteri, yakni Masjid Nursulaiman. Padahal, masih banyak situs, arsitektur, bangunan, dan benda sejarah lain yang terancam.
”Dalam daftar inventarisasi BCB yang dilakukan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, tercatat sekitar 300-an peninggalan bersejarah yang tersebar di Banyumas,” katanya, pada diskusi cagar budaya bersama Tim Ahli Cagar Budaya Banyumas, guru Sejarah, dan pegiat dan tokoh budaya, di RM Pringgading, akhir pekan lalu.
Bukti Kelemahan
Dia mengatakan, cerobong Pabrik Gula Kalibagor yang roboh tahun lalu menjadi bukti kelemahan Pemkab untuk melindungi cagar budaya yang bernilai sejarah nasional.
Seharusnya hal ini bisa dicegah, bila pimpinan daerah memiliki kepedulian. Setelah kejadian tersebut, pegiat komunitas ini mulai berfokus pada kegiatan edukasi. Cagar budaya sejatinya masih bisa dimanfaatkan tanpa mengubah, memindahkan, atau merobohkan.
Melalui laman banjoemas.com, Jatmiko dan rekanrekannya menulis sejumlah catatan cagar budaya. Website ini pun mampu memancing respons beragam dari pembacanya. Pemerhati budaya, Sunardi, menyebutkan, di Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, tersimpan puluhan benda sejarah yang sebagian besar belum terdata di BPCB.
Dia meminta, Pemkab dan Tim Ahli Cagar Budaya bergerak lebih cepat. ”Masih banyak kondisi benda cagar budaya yang tak kalah memprihatinkan,” kata dia. Sementara itu, guru Sejarah SMA Sokaraja Tri Muji Lestari mengatakan, literatur tentang sejarah dan cagar budaya di Banyumas sangat minim.
Meski demikian, dengan catatan sejarah yang masih bisa diakses, dia berusaha menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah lokal. ”Saya sering menyampaikan kepada siswa, wilayah Sokaraja ini terkenal sebagai kota yang maju pada masa lalu. Buktinya banyak peninggalan sejarah masa kolonial yang masih berdiri,” kata dia.

Senin, 22 Februari 2016

Asal mula Purwokerto

 Sebelum membahas sejak kapan kota Purwokerto dibangun marilah kita membaca sebuah berita yang sempat heboh tentang rencana pembongkaran situs makam pendiri Purwokerto di hotel Mulia .


Mbah Purwokarta merupakan salah satu pendiri dan penyebar Agama Islam pertama di Purwokerto.




 Merdeka.com - Galian tanah itu masih terlihat jelas. Bongkahan tanah kering menutup liang lahat yang terkesan tak rapi itu. Dari lima makam di kawasan itu, kini terlihat hanya ada dua makam.

"Kami tidak rela makam yang dikeramatkan ini dibongkar," kata Imam Wahyono (30) salah satu pemuda Kelurahan Purwokerto Kulon, Banyumas, Kamis (20/9).
Siang itu, puluhan warga Purwokerto Kulon menggelar aksi penolakan pembongkaran makam Mbah Purwokarta. Makam yang terletak di belakang Hotel Mulia itu, dibongkar untuk keperluan perluasan hotel.
Mereka percaya, Mbah Purwokarta merupakan salah satu pendiri kota yang terkenal dengan mendoannya itu. Dia dulu merupakan penyebar Agama Islam pertama di Purwokerto. Letak makam yang berada di sekitar Pasar Wage meneguhkan penjelasan itu. Pasar Wage sendiri dulunya merupakan pusat perdagangan Banyumas sebelum era penjajahan Belanda.
Sementara Hotel Mulia, merupakan hotel yang pertama kali didirikan di Purwokerto. Hotel itu didirikan tahun 1921 dan hingga kini masih berdiri kokoh.
Untuk mencapai makam Mbah Purwokarta, peziarah harus melewati halaman depan Hotel Mulia. Hotel ini dikelilingi pagar sehingga peziarah tak bisa masuk tanpa seizin pengurus hotel.
Dartum, ketua rukun tetangga setempat mengatakan, setiap malam Jumat Kliwon dan hari besar agama, makam tersebut banyak dikunjungi oleh masyarakat baik lokal maupun dari luar kota. "Sebagai pendiri kota, kami tak ingin jejaknya terhapuskan," kata dia.
Dia mengatakan, sebelum pembongkaran, pengurus hotel belum meminta izin secara resmi ke pengurus RT. Dia sendiri menyayangkan, pemerintah setempat tak melindungi makam yang sudah ada sejak jaman Belanda itu.
Kuasa hukum Hotel Mulia, Fadoli mengatakan, dia saat ini sedang menelusuri ahli waris pemilik makam itu. "Sertifikatnya saja belum jelas," katanya.
Dia mengatakan, sudah meminta izin pembongkaran ke RT setempat. Selain itu, rencananya makam tersebut juga akan dipindah sesuai dengan permintaan warga. "Akan kami buatkan yang lebih bagus dan sesuai permintaan warga setempat," kata dia.
Lurah Purwokerto Kulon, Agus Puji Santoso tak banyak berkomentar soal masalah itu. "Akan kami mediasikan dulu, bagaimana duduk masalah yang sebenarnya," katanya.


Di sini kita tahu pendiri kota Purwokerto sekaligus berperan sebagai penyebar Agama islam di kawasan ini . mendapat julukan Mbah Purwokarta . Siapa itu Mbah Purwokarta ? ada kesesuaian info antara Kyai kartisara sebagai pendiri Desa Paguwan dengan istilah Mbah Purwakerta sebagai penyebar Agama Islam sekaligus mengusulkan nama Purwakerta . Mari Kita telusuri jejak pada tahun 1742 saat terjadi geger pecinan di kraton kartasura .

Ketiga, geger Pacinan, 1742. Buntut penbantaian Tionghoa di Batavia pada 1740. Keraton ditusuk dari belakang oleh Tionghoa yang menganggap Sunan Pakubuwono II (cucu Pakubuwono I) tidak ikut mengecam aksi genosida Tionghoa di Batavia. `Ketika terjadi pemberontakan Cina yang sering discbut geger Pacinan, banyak pembesar Kraton Kartasura lari meninggalkan kraton. Sebagian lari ke arah timur. Konon Sunan Pakubuwono termasuk yang lari ke arah timur.

 Sebagian lagi lari ke arah barat, mencari keselamatan masing-masing. Untuk mencari tempat yang aman, para pengungsi sebagian lari terus ke arah barat. Sekitar dua puluh lima orang telah sampai di daerah Banyumas. Keadaannya waktu itu masih hutan rimba. Merasa sudah sampai daerah yang dianggap aman mereka mulai membabat hutan. Tempat itu dijadikan pekarangan dan ladang serta perkebunan. Rumah-rumah pun dibuat secara gotong royong untuk tempat tinggal mereka. Daerah yang tadinya hutan, banyak dihuni binatang liar dan mahluk-mahluk halus serta menyeramkan, kini menjadi suatu desa yang aman dan makmur. disamping pertanian, sebagian juga ada yang memiliki keahlian lain dagang, pertukangan dan ada yang pandai dalam ilmu kekebalan ataupun ilmu gaib.


Di antara mereka yang dianggap mempunyai ngelmu bernama Kyai Kartisara. Kyai Kartisara sangat disegani dan dihormati orang-orang di tempat itu. Karena itu dia dianggap sebagai "sesepuh"nya. Lama-kelamaan daerah pinggiran gunung Slamet bagian selatan yang tadinya hutan itu menjadi suatu desa yang aman. Namun desa itu belum mempunyai nama. Karena itu Kyai Kartisara mengusulkan agar desa itu diberi nama Purwakerta. Purwa artinya awal mula; Kerta artinya aman atau damai. Jadi Purwakerta artinya awal mula yang damai. Nama itu disepakati oleh semua penduduknya. Rumah-rumah bertambah, hutan-hutan pun banyak berubah, banyak ladang dan sawah. Banyak orang-orang dari kampung lain yang singgah, ada juga yang pindah. Sehingga desa itu semakin ramai dan indah. Kyai Kartisara mempunyai seorang putera bernama Kendang Gumulung. Kendang Gumulung juga menuruni bakat ayahnya. Sehingga, setelah Kyai Kartisara meninggal dia menggantikan kedudukan sang ayah. Kemudian Kendang Gumulung yang me¬miliki ilmu kesaktian seperti ayahnya berpindah tempat. Di tempat ini pun banyak orang yang berguru padanya. Orang-orang yang mau belajar atau berguru ke tempat tinggal Kendang Gumulung me¬nyebutnya kepeguron. Peguron artinya tempat berguru. Dari kata Peguron lama kelamaan menjadi Peguwon. Di kemudian hari tempat ini disebut orang desa Peguwon. Setelah meninggal Kendang Gemulung dimakamkan di desa peguwon. Hingga kini orang menyebutnya makan kyai Kendang Gemulung.

secara kronologis pindah nya pusat pemerintahan yaitu antara kali Logawa dan kali Banjaran


secara wilayah pusat pemerintahan Pasirluhur berada di barat kali Banjaran . Desa Paguwan cikal bakal Kota Purwokerto berpusat di antara kali Banjaran dan kali Kranji Semuanya merupakan anak kali Serayu . Banyumas di selatan kali Serayu .

 Maka Purwokerto secara sah merupakan pengembangan dari Desa Paguwan yang mulai dibangun sekitar tahun 1742 setelah era geger pecinan kraton kartasura .


 Kota Purwakerta (Poerwokerto) info dari http://www.banjoemas.com/
Poerwakerta atau Purwakerta; "Purwa" yang konon diambil dari nama sebuah negara kuna di tepan sungai Serayu "Purwacarita" bermakna "permulaan" dan "Kerta" yang diambil dari nama ibukota kadipaten "Pasir" yaitu "Pasirkertawibawa" yang dalam bahasa Jawa-Kawi bermakna "kesejahteraan" atau lengkapnya menjadi "Permulaan kesejahetraan".

Purwakerta merupakan kota kecil dibandingkan dengan Sokaraja atau Ajibarang, bahkan ketika pada tahun 1831 saat pemerintah Hindia Belanda menerapkan sistem pemerintahan dengan membagi-bagi daerah kota Purwakerta hanya dijadikan ibukota Distrik dibawah Kabupaten Ajibarang. Walaupun kemudian pada tahun 1836 kota Ajibarang terkena musibah angin puting beliung selama 40 hari 40 malam yang akhirnya atas persetujuan Residen Banyumas pusat kota kabupaten Ajibarang di pindah ke desa Paguwan (Paguhan) yaitu desa sebelah barat ibukota distrik Purwakerta oleh bupati Raden Tumenggung Bartadimeja yang bergelar Raden Adipati Mertadireja II dan Asisten Residen Werkevisser. Seperti kota-kota lain yang di bangun oleh , biasanya dibangun di lahan baru yang tidak jauh dari kota asalnya.

Desa Paguwan berada di sebelah barat sungai kranji dan kota Purwakerta, di sebelah timur sungai Banjaran di sebelah utara Pereng (tebing) sungai Kranji. Dan pendopo kabupaten dibangun di atas sendang yang sangat jernih airnya  yang dulu merupakan tempat mandi para santri di pondok pesantren Pekih di Paguwan. Sedangkan rumah Asisten Residen Purwakerta berada di Bantarsoka (Tebing sungai Banjaran) dan kantor landkas berada di sebelah timurnya.




    Kamis, 04 Februari 2016

    Hari Jadi Banyumas , Umur Banyumas Lebih Tua 12 Tahun

      

    1 February 2016 Radar Purwokerto

    Perdana, Hari Jadi 22 Februari


    PURWOKERTO – Tahun ini, peringatan Hari Jadi Banyumas untuk pertama kalinya pada tanggal 22 Februari. Sebelumnya Hari Jadi Banyumas diperingati setiap tanggal 6 April. Perubahan ini berdasarkan Perda Kabupaten Banyumas Nomor 10 Tahun 2015 tentang Hari Jadi Kabupaten Banyumas. Perda tersebut mencabut Perda Nomor 2 Tahun 1990 tentang Hari Jadi Kabupaten Banyumas.
    Kabag Humas Setda Banyumas Agus Nur Hadie menjelaskan, tanggal 22 Februari ditentukan sebagai patokan Hari Jadi Kabupaten Banyumas berdasarkan perhitungan tanggal dan hari dimana Raden Joko Kaiman (Adipati Mrapat) yang bergelar Adipati Warga Utama II, diangkat atau ditetapkan oleh Sultan Pajang sebagai Adipati Wirasaba VII menggantikan rama mertuanya yaitu Adipati Warga Utama I (Adipati Wirasaba VI).
    Joko Kaiman yang telah diangkat menjadi Adipati Wirasaba VII, membagi daerah kekuasaannya menjadi empat (sehingga Raden Joko Kaiman terkenal dengan nama Adipati Mrapat). Yaitu Banjar Pertambakan diberikan kepada Kiai Ngabehi Wirayudo, Merden diberikan kepada Kiai Ngabehi Wirakusumo, Wirasaba diberikan kepada Kiai Ngabehi Wargawijoyo. Sedangkan Raden Joko Kaiman rela kembali ke Banyumas, dengan maksud mulai membangun pusat pemerintahan yang baru.
    “Dengan demikian, tanggal 27 Ramadan 978 H atau 22 Februari 1571 lebih bisa dipertanggungjawabkan, karena ada sumbernya atau ada dokumennya. Tanggal tersebut merupakan alternatif kuat untuk ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Banyumas sebelum ditemukan sumber sejarah lain yang lebih kuat,” kata Agus kepada Radarmas, kemarin.
    Dengan perubahan hari jadi, lanjut dia, ada perbedaan rentang waktu 12 tahun. Dimana Hari Jadi Banyumas yang baru ditetapkan 12 tahun lebih tua. Sehingga di tahun 2016, Banyumas akan merayakan hari jadinya yang ke 445.
    Lebih lanjut Agus mengatakan, terkait perayaan hari jadi Banyumas tahun, sejumlah kegiatan sudah disiapkan. Rangkaian acara tidak jauh beda dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja pada perayaan kali ini akan diadakan prosesi perpindahan Kabupaten Banyumas dari Banyumas ke Purwokerto, yang rencananya akan diadakan Kamis (18/2).
    “Teknisnya baru akan dibahas besok Senin (hari ini, red). Rencananya akan ada iring-iringan kendaraan dari Banyumas ke Purwokerto dengan rute dari Pendopo Kecamatan Banyumas, Kalibagor, Sokaraja, Air Mancur, Berkoh, Pasar Wage, Jalan Jenderal Soedirman, Alun-alun Purwokerto dan Pendopo Si Panji Kabupaten Banyumas,” kata dia.
    Selain itu, pada Kirab Prosesi Pusaka Hari Jadi ke-445 Kabupaten Banyumas akan diadakan Minggu (28/2) pukul 10.00 WIB. “Yang membedakan dengan sebelumnya, diselenggarakan pada pagi hari. Kalau dulu biasanya siang hari,” ujarnya.



    DIRGAHAYU KABUPATEN BANYUMAS KE 445
    (22 Februari 1571-22 Februari 2016)

    Info Rangkaian Kegiatan Hari Jadi :
    Tanggal 18 Februari 2016 Jam 08.00 Ziarah ke Makam R Djoko Kaiman di Makam Dawuhan Kec Banyumas dilanjutkan Syukuran dan Ruwatan Wayang Kulit di Pendopo Kecamatan Banyumas
    Tanggal 18 Februari 2016 Jam 09.30 Prosesi Perpindahan Kabupaten Banyumas dari Banyumas ke Purwokerto. Start Pendopo Kecamatan Banyumas menuju Pendopo Si Panji Banyumas.
    Tanggal 22 Februari 2016 Jam 08.00 Upacara Bendera Peringatan Hari Jadi ke 445 Kabupaten Banyumas di Alun-alun Purwokerto
    Tanggal 22 Februari 2016 Jam 09.00 Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kab. Banyumas
    Gedung DPRD Kabupaten Banyumas
    KIRAB PROSESI PUSAKA HARI JADI KE 445 KABUPATEN BANYUMAS
    Minggu,28 Februari 2016 Jam 10.00 Start Pendopo Wakil Bupati Menuju Pendopo Sipanji.
    Jangan lewatan juga MNCTV Live Show Jum’at dan Sabtu 26-27 Februari 2016 di GOR Satria Purwokerto.
    DENGAN HARI JADI KE 445 KABUPATEN BANYUMAS, KITA WUJUDKAN BANYUMAS YANG SEJAHTERA, BERDAYA SAING DAN BERBUDAYA BERLANDASKAN IMAN DAN TAQWA

    Kamis, 28 Januari 2016

    Sejarah Banyumas Bagian 2

    [Humas Kabupaten Banyumas] Babad Banyumas yang ditulis oleh Bapak Soegeng Wijono dan Bapak Sunardi dalam Bukunya “Banjoemas Riwajatmoe Doeloe” halaman 2-3. Dalam awal tulisan, Beliau juga menyebut tulisan dipetik dari buku “Babad Banjoemas karya Bapak R. Aria Wirjaatmadja (Patih Purwakerta) sebagai berikut : Sesuai kesukaan ayahnya, R. Ketuhu juga suka berkelana, njajah desa milang kori. Dalam perkenalannya itu R. Ketuhu sampai ke wilayah Kadipaten Wirasaba (di bawah pemerintahan Kerajaan Majapahit), yang pada saat itu diperintah oleh Adipati Paguwan atau Adipati Wirautama. R. Ketuhu melamar untuk mengabdi (bekerja) pada Adipati Wirautama.
    Dengan mengetahui silsilah R. Ketuhu, Adipati Wirautama sangat berkenan dan sangat menyayanginya. Karena Adipati Wirautama tidak punya keturunan, maka R. Ketuhu dijadikan anak angkat. Pada akhirnya R. Ketuhu dinobatkan sebagai Adipati pengganti Adipati Wirautama, yang kemudian bergelar sebagai Adipati Wirautama II.
    Pada masa-masa berikutnya, yang menjadi Adipati di Kadipaten Wirasaba secara berturut-turut adalah: Adipati Wirautama III atau Adipati Urang (putra Wirautama II), Adipati Surawin (putra Adipati Wirautama III), Adipati Surautama (putra Adipati Surawin yang waktu muda bernama Jaka Tambangan), dan Adipati Wargautama (putra Adipati Surautama yang waktu muda bernama Jaka Warga). Sejak masa mudanya Jaka Warga, Kadipaten Wirasaba berapa di bawah pemerintahan Kasultanan Pajang, yang berdiri pada tahun 1568.
    Sudah menjadi kewajiban bagi para Adipati di bawah Kasultanan Pajang untuk mempersembahkan puteri sebagai Selir Sultan. Demikian pula Adipati Wargautama tidak luput dari kewajiban untuk menyerahkan puterinya. Setelah acara serah terima tersebut Adipati Wargautama segera meninggalkan Kasultanan dengan naik kuda dawuk bang menyusuri pantai selatan. Namun sesaat setelah Adipati Wargautama pergi meninggalkan Istana., mendadak dua orang (Demang Toyareka beserta anaknya) yang menghadap Sultan dan melaporkan bahwa puteri persembahan Adipati Wargautama adalah menantu si penghadap. Atas laporan tersebut Sultan Pajang sangat murka dan mengutus petugas untuk segera menyusul dan membunuh Adipati Wargautama yang dianggap telah membohonginya.
    Segera setelah petugas berangkat, Sultan Pajang menemui puteri Adipati Wargautama untuk menanyakan akan kebenaran laporan tersebut. Ternyata keadaan yang sebenarnya bahwa puteri Adipati Wargautama sewaktu kecilnya memang telah dijodohkan dengan anak Ki Demang Toyareka, namun ia tidak bersedia dan sampai saat itu dia masih dalam keadaan suci.
    Mendengar pengakuan dan penjelasan puteri Adipati Wargautama itu, Sultan Pajang sangat menyesal dan segera mengutus petugas kedua, gandek menteri untuk membatalkan tugas pengejaran dan pembunuh Adipati Wargautama.
    Tengah hari hari Sabtu Pahing, sewaktu Adipati Wargautama sedang istirahat di dalam bangunan bale malang di desa Bener (wilayah Ambal), sambil menikmati makan siang dengan lauk pindang angsa, datang utusan pertama Sultan Pajang. Mereka mempersilahkan Ki Adipati untuk menyelesaikan makan siangnya. Sebelum Ki Adipati menyelesaikan makan siang, mendadak datang utusan kedua yang melambai-lambaikan tangan dengan pertanda pembatalan tugas. Oleh petugas pertama lambaian tangan petugas kedua tersebut ditafsirkan sebagai isyarat untuk membunuh Ki Adipati Wirasaba. Tugas pun di laksanakan. Keris dihunus dan ditikamkan ke dada Ki Adipati Wargautama. Melihat peristiwa ini para abdi pengikut Ki Adipati ketakutan dan lari menyelamatkan diri, pulang ke Kadipaten Wirasaba.
    Sebelum menghembuskan nafas terkhirmya Ki Adipati Wargautama, sempat mendengar dan melerai pertengkaran antara petugas kedua dan petugas pertama yang salah menafsirkan kode lambaian tangan petugas kedua. Ki Adipati Wargautama berpesan kepada mereka agar mereka segera pulang ke Pajang dan melaporkan bahwa Ki Adipati Wargautama telah meninggal sebelum utusan kedua sampai di tempat, sehingga pembatalan perintah tidak sempat disampaikan ke utusan pertama.
    Kepada abdi pengikut yang setia menunggu, Ki Adipati berpesan bahwa kelak kemudian hari anak cucu keturunan Adipati Wargautama diminta berpantang untuk: (1) bepergian pada Sabtu Pahing, (2) makan pindang angsa, (3) membangun dan menempati rumah bentuk bale malang, dan (4) menaiki kuda waduk bang.
    Beberapa hari kemudian para abdi pengikut Ki Adipati dampai di Kadipaten Wirasaba, terus melaporkan peristiwa pembunuhan tersebut. Mendengar laporan tersebut para kerabat Kadipaten sangat terkejut, berduka dan segera pergi ke desa Bener untuk mengambil jenazah Ki Adipati. namun karena kondisi jenazah sudah tidak memungkinkan untuk dibawa pulang, maka langsung dikebumikan di makam pakeringan.
    Sesampai di Kasultanan Pajang, para utusan sultan melaporkan kejadian di Desa Bener sesuai pesan Adipati Wargautama. dengan rasa menyesal Sultan Pajang mengutus petugas untuk memanggil para putra Adipati Wargautama. namun adanya rasa ketakutan yang sangat mendalam atas murka Sultan tidak seorangpun dari ke empat putra Adipati Wargautama yang bersedia menghadap Sultan Pajang.
    Dengan kesetiaan yang besar kepada Sultan, R. Jaka Kaiman (Putera Ki Mranggi Semu dari Desa Kejawar), menantu Ki Adipati Wargautama dengan penuh rasa takut, memberanikan diri menghadap Sultan Pajang, apapun resiko yang bakal terjadi atas dirinya. melalui berbagai pertimbangan yang mendalam, atas perkenan Sultan, R. Jaka Kaiman ditetapkan dan dinobatkan sebagai Adipati Wirasaba pengganti Adipati Wargautama dengan gelar Adipati Wargautama II. sekembalinya dari Kasultanan Pajang ke Wirasaba, penobatan tersebut diumumkan oleh utusan Sultan Pajang.
    Atas kebesaran jiwa Adipati Wargautama II, karena Adipati Wargautama I berputra empat orang, maka wilayah Kadipaten Wirasaba di bagi menjadi empat wilayah Kabupaten. Adipati Wargautama II sendiri memilih Daerah Banyumas sebagi Wilayah Pemerintahannya. Pusat Pemerintahan dibangun tahun 1571 di Wilayah Desa Kejawar, dekat pertemuan antara Kali Banyumas, Kali Pasinggangan, dan Kali Perwaton di dekat aliran kali serayu. dengan pemekaran Wilayah Kadipaten Wirasaba menjadi empat Kabupaten, maka R. Jaka Kaiman dipanggil pula dengan sebutan Bupati Mrapat (Membagi empat).

    Rabu, 27 Januari 2016

    Hari Jadi Banyumas Tanggal 22 Februari

    Mulai 2016, Hari Jadi Banyumas Tanggal 22 Februari


    [Humas Kabupaten Banyumas] Mulai tahun 2016 ini, peringatan Hari Jadi Banyumas akan jatuh pada tanggal 22 Februari. Sebelumnya peringatan Hari Jadi Banyumas bertanggal 6 April. Perubahan ini berdasarkan Peraturan Daerah Kabuoaten Banyumas Nomor 10 Tahun 2015 tentang Hari Jadi Kabupaten Banyumas, Perda tersebut mencabut Perda No 2 Tahun 1990 tentang Hari Jadi KabupatenBanyumas.
    Dengan perubahan hari jadi tersebut, ada perbedaan rentang waktu 11 tahun, dimana Hari Jadi Banyumas yang baru ditetapkan 11 tahun lebih tua. Sehingga di tahun 2016 ini, Banyumas akan merayakan hari jadinya yang ke 445.
    Berikut kami sampaikan informasi dan dasar perubahan tersebut :
    Bupati Banyumas ke 28 Kol Inf H Djoko Sudantoko pernah menyampaikan bahwa pengkajian ulang hari jadi bukan hal yang tabu, melainkan justru suatu keharusan, agar tidak mewariskan sejarah yang salah kepada generasi penerus.
    Apabila dikemudian hari ditemukan fakta baru atau ditemukan sumber dokumen yang lebih kuat, lengkap dan akurat sehingga dapat dipertanggungjawabkan menyangkut asal usul Kabupaten Banyumas yang dapat menumbuhkan kebanggaan masyarakat Kabupaten Banyumas, maka hari jadi yang telah ditetapkan sebelumnya menjadi gugur, diganti oleh tanggal hari jadi menurut fakta yang lebih dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.
    Dan karena telah diketemukan sumber dan dokumennya yang lebih kuat maka DPRD Kabupaten Banyumas Tahun 2015, membentuk Panitia Kusus untuk meneliti tentang Sejarah Hari Jadi Banyumas.
    Berikut kami Cuplikan Laporan Pansus DPRD Kabupaten Banyumas yang diketuai oleh Bapak H Bambang Pudjianto, BE dan menjadi dasar Penetapan Perda Nomor 10 Tahun 2105 sebagai berikut :
    Masalah yang paling hakiki dalam penulisan sejarah adalah didasarkan atas fakta, dan fakta itu ditemukan pada sumber sejarah yang berupa dokumen. Jadi, manakala dokumen itu tidak ditemukan, maka dengan sendirinya fakta sejarah itu tidak ada. Jika suatu hal dipaksakan sebagai suatu fakta, padahal tidak didasarkan pada sumber sejarah, maka fakta itu pada hakikatnya adalah fakta yang tidak tepat. Sesuai dengan logika tersebut, berarti penetapan tanggal 6 April 1582 sebagai Hari Jadi Kabupaten Banyumas didasarkan atas fakta yang tidak tepat, karena jika dilacak kembali, maka fakta itu tidak dijumpai pada sumbernya. Oleh karena itu, 6 April 1582 ahistoris dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis.
    Sejarah memang tidak pernah ditulis secara sempurna oleh generasi manusia manapun karena sejarah adalah masa lalu yang sumber dan faktanya tidak semuanya dapat disadap oleh sejarawan. Tentu sejarah akan selalu ditulis kembali sebagai suatu karya penyempurnaan dari hasil yang diperoleh generasi penulis terdahulu sehingga sejarah bukanlah sesuatu yang pasti. Kepastian dalam sejarah itu bersifat relatif. Hal itu sangat tergantung oleh keberadaan sumber-sumber sejarah yang bisa diperoleh.
    Berdasarkan penelitian dan telaah yang mendalam, terdapat sebuah Naskah yang sangat penting dan menentukan dalam kaitannya penelusuran sumber sejarah untuk menentukan kapan hari jadi Kabupaten Banyumas yang sebenarnya, naskah tersebut dikenal dengan nama : “Naskah Kalibening”.
    Pada waktu menjelang diundangkannya Peraturan Daerah Kabupaten DATI II Banyumas tentang Hari Jadi Kabupaten Banyumas, sebagai Peneliti, tidak memperoleh sumber yang tersimpan pada juru kunci makam Kalibening. Sumber naskah Kalibening memang tergolong naskah sakral dan tidak sembarang waktu boleh dibuka dan dibaca. Penelitian yang tergesa-gesa tentu saja tidak memungkinkan Soekarto untuk membaca teks tersebut, apalagi teks tersebut termasuk sulit bacaannya karena banyak tulisannya yang rusak dan tidak terbaca, bahkan beberapa halaman dimungkinkan telah lenyap.
    Naskah Kalibening mencatat suatu peristiwa yang berkaitan dengan penyerahan upeti kepada Sultan Pajang pada tanggal 27 Pasa hari Rabu sore. Memang diakui bahwa teks Kalibening cenderung anonim, artinya tokoh yang diceritakan tidak disebutkan namanya, tetapi jati diri tokoh-tokoh itu bisa diinterpretasikan melalui perbandingan dengan teks-teks yang lain. Teks Kalibening menyebut peristiwa penyerahan upeti itu juga berkaitan dengan “Sang Mertua” (rama), sehingga tanggal tersebut dapat dipakai sebagai patokan hari jadi Kabupaten Banyumas. Sedangkan angka tahun yang dipakai adalah berdasarkan kesaksian teks yang dikandung oleh Naskah Krandji-Kedhungwuluh dan catatan tradisi pada Makam Adipati Mrapat di Astana Redi Bendungan (Dawuhan) yang menyatakan bahwa tahun 1571 adalah awal kekuasaan Adipati Mrapat (R. Joko Kaiman), dan tahun 1571-1582 adalah periode kekuasaan Adipati Mrapat. Jadi, tahun 1582 bukan merupakan tahun awal, tetapi merupakan tahun akhir kekuasaan Adipati Mrapat. Di samping itu, tahun 1571 juga terpampang pada Papan Makam dan Batu Grip Makam Adipati Mrapat yang masih ada pada tanggal 1 Januari 1984, setelah itu makam direnovasi oleh Bupati Roedjito, renovasi tersebut telah menghilangkan data tersebut.
    Berdasarkan sumber-sumber tersebut, maka tanggal 27 Pasa tahun Masehi 1571 bisa ditetapkan sebagai hari jadi. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa bulan Ramadhan pada tahun 1571 Masehi jatuh pada tahun 978 H. Setelah dihitung, maka ditemukan tanggal 27 Ramadhan 978 H dan setelah dikonversikan dengan tahun Masehi, maka ditemukan tanggal 22 Pebruari 1571 Masehi yang bertepatan dengan Kamis Wage (Rabu sore).
    Tanggal 27 Ramadhan 978 H atau tanggal 22 Pebruari 1571 Masehi, ditentukan sebagai patokan hari jadi Kabupaten Banyumas berdasarkan perhitungan tanggal dan hari dimana R. Joko Kaiman (Adipati Mrapat) yang bergelar Adipati Warga Utama II diangkat atau ditetapkan oleh Sultan Pajang sebagai Adipati Wirasaba VII menggantikan rama mertuanya yaitu Adipati Warga Utama I (Adipati Wirasaba VI).
    R. Joko Kaiman yang telah diangkat menjadi Adipati Wirasaba VII, beliau membagi daerah kekuasaannya menjadi empat (sehingga R. Joko Kaiman terkenal dengan nama Adipati Mrapat), yaitu :
    a. Banjar Pertambakan diberikan kepada Kiai Ngabehi Wirayudo.
    b. Merden diberikan kepada Kiai Ngabehi Wirakusumo.
    c. Wirasaba diberikan kepada Kiai Ngabehi Wargawijoyo.
    d. Sedangkan beliau merelakan kembali ke Banyumas dengan maksud mulai membangun pusat pemerintahan yang baru.
    Daerah yang pertama kali dibangun sebagai pusat pemerintahan ialah hutan Tembaga sebelah barat laut daerah Kejawar dan sekarang terletak di pertemuan Sungai Banyumas dan Sungai Pasinggangan di Desa Kalisube dan Desa Pekunden Kecamatan Banyumas.
    Dengan demikian, tanggal 27 Ramadhan 978 H atau 22 Pebruari 1571 lebih bisa dipertanggungjawabkan karena ada sumbernya atau ada dokumennya. Tanggal tersebut merupakan alternatif kuat untuk ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Banyumas sebelum ditemukannya sumber sejarah yang lain yang lebih kuat.
    Catatan :
    Tanggal 27 Pasa (27 Ramadhan) yang tercantum dalam Babab Banyumas Kelibening yang berasal dari Naskah abad ke-16 atau 17 Masehi.
    Sugeng Priyadi. 1991. “Babad Banyumas Kalibening.”Laporan Penelitian. Purwokerto: IKIP Muhammadiyah Purwokerto.
    Keterangan : Yang dimaksud Sang Mertua (rama) adalah Adipati Warga Utama I (Adipati Wirasaba VI) atau juga dikenal dengan sebutan Adipati Sedo Bener. Adipati Warga Utama I adalah mertua dari R. Joko Kaiman (Adipati Mrapat) yang bergelar Adipati Warga Utama II.

    Selasa, 26 Januari 2016

    Sejarah Pangkalan TNI AU Wirasaba


    [banyumasnews.com ] Bandar udara Pangkalan TNI AU Wirasaba di Purbalingga santer diberitakan akan beralih fungsi menjadi bandara komersil. Hal ini menyusul persetujuan Kementrian Perhubungan atas upaya Bupati Purbalingga dan sejumlah bupati tetangga untuk memiliki bandar udara di wilayah eks karesidenan Banyumas yang dapat meningkatkan pertumbuhan di wilayah Jateng selatan barat ini. Tapi, tahukah Anda, kapan mulai berdirinya pangkalan udara Wirasaba atau Bandara Wirasaba ini?
    Pangkalan udara Wirasaba dibangun oleh Belanda pada tahun 1938, sebagai upaya Belanda mempercepat mobilitas ke wilayah Karesidenan Banyumas. Saat itu sudah ada rel kereta api yang menghubungkan Jakarta – Cirebon – Purwokerto – Purbalingga – Banjarnegara – Wonosobo. Juga lintasan Purwokerto – Kroya – Jogjakarta. Namun rupanya belum cukup  bagi Belanda, sehingga di wilayah ini pun dibangun pangkalan udara. Dipilihlah suatu lokasi di Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, untuk dibangun pangkalan udara.
    Bandara Wirasaba dengan latar belakang Gunung Slamet dalam tahap peningkatan landasan (Banjoemas.co.cc)
    Bandara Wirasaba dengan latar belakang Gunung Slamet dalam tahap peningkatan landasan (Banjoemas.co.cc)
    Pada tahun 1942-1945 pangkalan udara Wirasaba dikuasai oleh Jepang. Lantas pada tahun 1945-1947 dengan bertekuk lututnya Jepang, Pangkalan Udara Wirasaba dikuasai oleh pemerintah RI (TNI AU) dengan Komandan yang pertama adalah Sersan Mayor Udara Soewarno. Pasca proklamasi kemerdekaan, Belanda kembali akan merebut Republik Indonesia. Dengan tidak adanya pasukan pertahanan pangkalan di Pangkalan Udara Wirasaba, maka dengan mudah Pangkalan dikuasai Belanda kembali antara tahun 1947-1950.
    Tahun 1950, dengan takluknya Belanda pada waktu itu, maka Pangkalan Udara Wirasaba diserahkan kembali kepada Pemerintah RI (TNI AU) dengan Komandan yang kedua (yang menerima penyerahan dari Belanda) adalah Opsir Muda Oedara (OMO) Warim.
    Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengunjungi Purbalingga, Purwokerto dan Banyumas turun di Bandara Wirasaba (Banjoemas.co.cc)
    Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengunjungi Purbalingga, Purwokerto dan Banyumas turun di Bandara Wirasaba (Banjoemas.co.cc)
    Momen penting terkait Pangkala Udara Wirasaba adalah ketika pada bulan Juni 1946 Opsir Udara II H. Sujono bersama KASAU Komodor Udara Suryadi Suryadarma terbang ke Wirasaba untuk membuka secara resmi lapangan udara tersebut.
    Nama Pangkalan Udara ‘“Wirasaba”’ diambil dari nama seorang pangeran yaitu “Pangeran Wirasaba”. Pangeran Wirasaba adalah salah satu Bupati Banyumas dan pendiri kabupaten Purbalingga yang sangat berkharisma.
    Pesawat Dakota menurunkan cadangan pasokan tempur di Wirasaba (Banjoemas.co.cc)
    Pesawat Dakota menurunkan cadangan pasokan tempur di Wirasaba (Banjoemas.co.cc)
    Bandara terbaik
    Sebagai pangkalan TNI AU, bandar udara Wirasaba adalah Pangkalan Udara Militer type C. Peningkatan status Bandara Wirasaba dari type D ke type C secara resmi berubah pada tanggal 24 Maret 2015, bersama dengan bandara lainnya yang dikelola TNI AU yaitu Lanud Sugiri Sukani dan Singkawang ll. Upacara peresmian dilaksanakan di lapangan apel Lanud Wirasaba, dengan Inspektur Upacara Panglima Komando Operasi TNI AU I Marsekal Muda TNI A. Dwi Putranto.
    Pada HUT TNI Angkatan Udara Ke-69 tahun 2015, Lanud Wirasaba mendapat penghargaan sebagai Lanud Tipe C terbaik di bawah jajaran Komando Operasi Angkatan Udara I. (BNC/diolah dari berbagai sumber)

    Sejarah Banyumas Bagian 1



    [Humas Kabupaten Banyumas ]Pendopo Si Panji
    Setelah Perang Diponegoro berakhir (1825-1830) daerah Banyumas dan Kedu (Bagelan) terlepas dari Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta dan berada langsung di bawah pemerintahan Hindia Belanda.
    Jendral De Kock mengunjungi Banyumas pada bulan November 1831 dan dengan Keputusan Jendral Van Den Bosch tertanggal 18 Desember 1831 dibentuklah Karesidenan Banyumas yang terdiri dari lima Kabupaten, yaitu : Banyumas, Ajibarang, Purbalingga, Banjarnegara, dan Majenang.
    Kabupaten Banyumas pada masa itu terdiri dari tiga distrik yaitu : Banyumas, Adirejo, dan Purworejo Klampok. Kabupaten Ajibarang terdiri dari tiga distrik yaitu : Ajibarang, Jambu (sekarang Jatilawang) dan Purwokerto.
    Karena bencana angin topan selama 40 hari yang melanda Kabupaten Ajibarang pada tahun 1832, maka ibukota Kabupaten pada tanggal 6 Oktober 1832 dipindahkan ke Desa Paguwon, Distrik Purwokerto.
    Bupati Ajibarang pada saat itu adalah Adipati Aryo Mertodirejo II yang dapat disebut juga sebagai Adipati Purwokerto I.
    Rumah atau pendopo Kabupaten Banyumas dan Kota Banyumas didirIkan pada tahun 1571 oleh Kyai Adipati Wargautama II yang dapat disebut sebagai Bupati Banyumas I dan dikenal pula dengan sebutan Kyai Adipati Mrapat. Kemudian Adipati Yudonegoro II (Bupati Banyumas VII tahun 1707-1743) memindahkan Kabupaten Banyumas agak ke sebelah timur dengan sekaligus membangun rumah Kabupaten berikut Pendoponya. Dan yang sekarang terkenal dengan nama SI PANJI.
    Banyak cerita yang berhubungan dengan pendopo Si Panji dengan keanehannya. Cerita itu antara lain :
    1. Pada tanggal 21 s.d 23 Februari 1861 sebagaimana tersebut dimuka, kota Banyumas dilanda banjir hebat (Blabur Banyumas) karena meluapnya Kali Serayu. Sebagian pengungsi berusaha menyelamatkan diri dengan naik ke atas pendopo "Si Panji". Setelah air bah surut, ternyata pendopo ini tidak mengalami kerusakan atau perubahan sedikitpun pada keempat tiangnya (saka guru). Bupati Banyumas pada masa itu adalah Raden Adipati Cokronegoro I yang menjabat sejak tahun 1831.

    2. Konon ketika pendopo itu akan dibangun, semua sesepuh/tokoh masyarakat Banyumas menyumbangkan calon saka guru pendopo atau bahan bangunan yang lain. Semua Ki Ageng telah memenuhi permintaan Sang Adipati, kecuali Ki Ageng Somawangi, sehingga ia dipanggil untuk menghadap Sang Adipati akan dimintai keterangannya. Menghadaplah Ki Ageng Somawangi memnuhi panggilan dinas Sang Adipati. Sementara itu pembangunan pendopo sedang dikerjakan. Untuk menebus kesalahannya, pada saat itu pula ia langsung menyerahkan saka guru pendopo yang ia ciptakan dari tatal dan potongan-potongan kayu yang berserakan di sekitar kompleks pembangunan itu. Hal itu oleh Sang Adipati tidak disambut baik, bahkan sebaliknya itu dianggap suatu sikap pamer atau mendemonstrasikan kebolehannya, akibatnya malahan ia dituduh berniat akan njongkeng kewibawaan sang Adipati. Atas tuduhan yang kurang adil itu, Ki Ageng marah, segera meninggalkan Kadipaten tanpa pamit. Sang Adipati merasa sangat tersinggung, segera menyuruh prajurit kabupaten supaya menangkap Ki Ageng yang dianggap ngungkak krama itu. Namun karena kesaktiannya (perlindungan Allah) ia dapat lolos dari bahaya itu. Konon tongkatnya ditancapkan di suatu tempat yang untuk sementara tongkat tersebut berganti wujud persis seperti sosok Ki Ageng. Sementara para prajurit menganiyaya Ki Ageng tiruan, Ki Ageng Somawangi dari jalan raya menerobos melalui jalan setapak menuju padepokannya yang sekarang menjadi Desa Somawangi, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara. Desa di mana Ki Ageng menerobos untuk menghindari kejaran prajurit Banyumas (rejaning jaman) kemudian diberi nama “Panerusan” yang pernah menjadi desa perdikan berstatus “Kademangan”. Sekarang menjadi nama desa di Kecamatan Susukan, Purworejo Klampok. Sebagai pembalasan atas sikap Sang Adipati yang dianggap daksinya, Ki Ageng Somawangi memberikan sumpah serapah atau kutuk pastunya kepada trah Banyumas terutama kepada yang menjabat sebagai priyayi yakni barang siapa diantara para keturunan Bupati Banyumas yang datang ke Desa Somawangi dan melewati (menyeberangi) Kali Sidula (sungai kecil yang bermuara di Kali Sapi), ndilalah (kersaning Allah), jabatannya akan lepas atau sekurang-kurangnya turun pangkat. Apa hanya secara kebetulan atau memang ampuhnya kutukan itu, konon sumpah serapah itu benar-benar mempan, sehingga sampai sekarang masih ada orang yang mempercayainya, sekalipun bukan trah Bupati Banyumas. Siapakah Raden Somawangi (Ki Ageng Somawangi) Ia adalah cucu Ki Ageng Penjawi (nama samaran). Ki Ageng Penjawi adalah mantan Bupati Pasantenan (Pai) yang karena konflik dengan Kerajaan Mataram terpaksa hijrah ke wilayah Banyumas yang lazim disebut daerah mancanegara.
    3. Cerita lain menyebutkan bahwa salah satu saka guru Pendopo Si Panji (yang dikeramatkan) berasal dari hutan belantara di daerah hulu Kali Serayu Kabupaten Banjar (Banjarwalulembu). Konon hutan itu sangat wingit (Jawa sato mara sato mati jalma mara jalma mati). Kata sehibul hikayat, saka guru yang satu itu cenderung ingin kembali ke asalnya. Namun keinginannya itu tidak mungkin terlaksana. Setelah ada penggabungan Kabupaten Banyumas dengan Kabupaten Purwokerto tahun 1936, atas prakarsa Adipati Aryo Sujiman Gandasubrata (Bupati Banyumas XX), Pendopo Si Panji pada bulan Januari 1937 dipindahkan dari Banyumas ke Purwokerto. Barangkali terpengaruh kepercayaan-kepercayaan tersebut di atas dan untuk menghindari hal-hal (peristiwa gaib) yang tidak diinginkan, maka pemboyongan pendopo Si Panji yang keramat itu tidak melewati Sungai Serayu, tetapi melewati daerah Semarang.
    Dikutip dari Buku "Sejarah Banyumas" oleh Drs. S. Adisarwono dan Bambang S. Purwoko, B.A. yang diterbitkan oleh UD Satria Utama Purwokerto, 1992.



    Kamis, 29 Oktober 2015

    Masjid Saka Tunggal Cikakak Wangon, Mistery Angka dan Pengembangan Ekonomi

     
    Salah satu Acara TV Swasta dalam meliput Area Masjid Saka Tunggal



    Masjid Saka Tunggal Bisa Jadi Wisata Alternatif



    Quote suaramerdeka.com 22 November 2016 :
    Kompleks wisata religi Masjid Saka Tunggal dan terapi pijat Husada Tirta Brahma bisa diarahkan menjadi wisata alternatif. Namun, perlu dilakukan penataan lokasi agar pengunjung merasa nyaman saat berlibur.

    Pengamat pariwisata Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Drs Chusmeru MSi, mengemukakan, Masjid Saka Tunggal dan taman kera dikemas menjadi paket wisata religi kurang dilirik wisatawan. Demikian halnya dengan Husada Tirta Brahma yang bersifat ekoturisme. ”Wisatawan yang akan membeli paket ini tentu tersegmentasi. Jadi, seharusnya Pemkab membidik kawasan itu ke arah konsep quality tourism,” katanya, kemarin.

    Standar pariwisata yang berkualitas, sambung dia, yakni ketersediaan penginapan dengan harga yang pantas, fasilitas di tempat wisata, akses jalan, papan penunjuk maupun penerangan, tempat berbelanja dan pilihan atraksi maupun aktivitas.

    Wisata Andalan

    Dia mengatakan, kawasan Banyumas Barat seharusnya bisa menjadikan objek wisata Dreamland Park sebagai andalan. Objek wisata massal untuk rekreasi dan hiburan ini lebih mudah menarik wisatawan ketimbang objek lainnya. ”Tinggal menyusun paketnya dengan daerah pendukung lainnya sebagai aktivitas alternatif,” ujarnya.

    Sebelumnya, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko, mengatakan, secara bertahap, pihaknya akan mengembangkan konsep kawasan wisata terintegrasi mulai dari Kecamatan Cilongok, Ajibarang, Pekuncen, Wangon, Lumbir dan Gumelar.

    Ini dimulai dengan menggarap even untuk mengenalkan potensi wisata Banyumas barat ”Dukungan dari berbagai pihak serta masyarakat setempat pun harus semakin meningkat. Ini akan menjadi modal pengembangan destinasi alternatif selain Baturraden,” jelasnya

    Quote FB Banyumas Dalam Info :


    Kompleks wisata religi Masjid Saka Tunggal dan terapi pijat Husada Tirta Brahma bisa diarahkan menjadi wisata alternatif. Namun, perlu dilakukan penataan lokasi agar pengunjung merasa nyaman saat berlibur.

    Pengamat pariwisata Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Drs Chusmeru MSi, mengemukakan, Masjid Saka Tunggal dan taman kera dikemas menjadi paket wisata religi kurang dilirik wisatawan. Demikian halnya dengan Husada Tirta Brahma yang bersifat ekoturisme. ”Wisatawan yang akan membeli paket ini tentu tersegmentasi. Jadi, seharusnya Pemkab membidik kawasan itu ke arah konsep quality tourism,” katanya, kemarin.

    Standar pariwisata yang berkualitas, sambung dia, yakni ketersediaan penginapan dengan harga yang pantas, fasilitas di tempat wisata, akses jalan, papan penunjuk maupun penerangan, tempat berbelanja dan pilihan atraksi maupun aktivitas.

    Wisata Andalan

    Dia mengatakan, kawasan Banyumas Barat seharusnya bisa menjadikan objek wisata Dreamland Park sebagai andalan. Objek wisata massal untuk rekreasi dan hiburan ini lebih mudah menarik wisatawan ketimbang objek lainnya. ”Tinggal menyusun paketnya dengan daerah pendukung lainnya sebagai aktivitas alternatif,” ujarnya.

    Sebelumnya, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko, mengatakan, secara bertahap, pihaknya akan mengembangkan konsep kawasan wisata terintegrasi mulai dari Kecamatan Cilongok, Ajibarang, Pekuncen, Wangon, Lumbir dan Gumelar.

    • Ini dimulai dengan menggarap even untuk mengenalkan potensi wisata Banyumas barat ”Dukungan dari berbagai pihak serta masyarakat setempat pun harus semakin meningkat. Ini akan menjadi modal pengembangan destinasi alternatif selain Baturraden,” jelasnya

    Bagi yang belum tahu mengenai Masjid saka Tunggal di Desa Cikakak Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas, silakan melihat viseo di atas.

    Masjid Saka Tunggal terletak di desa Cikakak kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, provinsi Jawa Tengah. Masjid ini dibangun pada tahun 1288 seperti yang tertulis pada Saka Guru (Tiang Utama) masjid ini. Namun, tahun pembuatan masjid ini lebih jelas tertulis pada kitab-kitab yang  ditinggalkan pendiri masjid ini, yaitu Kyai Mustolih. Tetapi kitab-kitab tersebut telah hilang bertahun-tahun yang lalu.
    Setiap tanggal 27 Rajab di masjid ini diadakan pergantian Jaro dan pembersihan makam Kyai Mustolih. Masjid yang berjarak ± 30 km dari kota Purwokerto ini, disebut Saka Tunggal karena tiang penyangga bangunan masjid ini, dulunya hanya satu tiang (tunggal).

    Meskipun meragukan bahwa angka tahun I288 pada tiang mesjid merupakan tarikh masehi, tapi saya setuju kawasan Cikakak tetap diberdayakan sebagai salah satu aset wisata di kabupaten banyumas. Saya pribadi berpendapat cenderung bahwa itu angka bertahun Hijriyah , maka bila dihitung berarti sekitar I56 tahun yang lalu. Mengapa hijriyah, karena sesuai kondisi masyarakat di pedalaman, mereka lebih paham penanggalan hijriyah dan baca tulis hijaiyah. Di Indonesia bahan huruf Arab pernah menjadi bagian utama dari mata uang karena sebagian besar masyarakat Indonesia waktu itu belum paham sistem baca tulis latin. Maka dari hal ini, berlaku di Cikakak yang merupakan desa terpencil. Lokasi Cikakak bukan daerah pesisir.

    Analisis sederhana saya :

    a). Bahwa sistem kalender Masehi merupakan peninggalan bangsa Eropa ( Belanda Masuk Indonesia abad XVI) , mungkinkah Cikakak pada abad XI sudah mengenal kalender Masehi sebelum Belanda datang?  Belanda menguasai Karesidenan Banyumas baru pada pertengahan abad XIX, jadi apa mungkin saat masa kerajaan Majapahit di Cikakak sudah mengenal kalender Masehi?
    b) Kalender yang berlaku di era Majapahit adalah kalender Saka. pertanyaannya, apakah kalender saka yang digunakan? Sekedar info, Di Jawa konversi kalender Saka men jadi Kalender Islam Jawa baru terjadi setelah era Sultan Agung. dan itu tejadi di Abad XVII
    c) Islam aboge Cikakak berpedoman pada sistem yang dikenalkan pada abad XIV ditinggalkan oleh Raden Sayid Kuning, dan disebarluaskan oleh ulama dari Kerajaan pajang.  , mungkinkah Cikakak mengenal Aboge 2 abad sebelum penemunya? atau lebih tua dari Kerajaan Pajang yang berdiri di abad XVI?

    Analisis Banyumasku.com

    Diragukan bahwa angka tahun pada tiang masjid Saka Tunggal itu mengacu pada tahun Masehi. Karena baru pada abad ke-16, Jawa bersentuhan dengan Eropa (asal penanggalan Masehi). Baru pada tahun 1502 Vasco da Gama memulai petualangan ke Timur. Portugis menaklukkan Malaka pada 1511, disusul dengan kedatangan VOC dan Inggris. Jadi pengaruh Barat baru muncul pada abad ke-16. Jan Pieterszoon Coen yang memimpin VOC pun baru menyerbu dan menduduki Jayakarta pada 1619.

    Kecil kemungkinannya jika angka 1288 itu merujuk pada kalender Masehi. Jika angka itu ditoreh pada saat masjid dibuat, orang Jawa Islam saat itu tentu akan mengacu pada kalender Hijriyah, atau pada Kalender Saka.

    Namun, telepas dari info tentang angka tahun, hanya sekedar meluruskan sejarah, jika perlu dikoreksi silakan para ahli sejarah, Tim Pemkab dan Universitas turun tangan sehingga bisa dicari info yang sebenarnya seperti halnya kasus Hari Jadi Banyumas. Mari kita Jadikan Cikakak khususnya kawasan Masjid saka tunggal ini , bahwa pusat wisata yang dimiliki kabupaten Banyumas bukan hanya Baturaden. ini adalah waisata alternatif yang infonya akan dikembangkan oleh Pemkab Banyumas. 

    Baru baru ini ada acara yang digelar untuk menarik wisatwan, yaitu Festival Rwanda Bojana , event event seperti inilah yang kedepan diharapkan sering digelar secara teratur sebagai penambah daya tarik, selain memperlengkap segala sarana dan prasarana wisata.
    Quote FB Banyumas Dalam Info :


    Masjid Saka Tunggal terletak di desa Cikakak kec. Wangon berjarak 30 Km arah Barat daya kota Purwokerto. Dinamakan masjid Saka Tunggal, karena memang hanya memiliki satu pilar utama penyangga. Disekitar masjid terdapat makam seorang penyebar agama islam yang bernama Kyai Mustolih.

    Berdasarkan cerita narasumber yaitu KGPH Dipo Kusumo dari Keraton Surakarta Hadiningrat dan Drs. Suwedi Monanta, seorang peneliti Arkeologi Islam dari Puslit Arkenas Jakarta pada tanggal 29 Januari 2002 dijelaskan bahwa sebagai berikut :
    Sunan Panggung adalah salah seorang dari kelompok Wali Sanga yang merupakan murid syech Siti Jenar. Sunan Panggung meninggal pada masa Sultan Trenenggono di Demak Bintoro antara tahun 1546-1548 M. Menurut Serat Cabolek, Sunan Panggung dihukum dengan cara dibakar atas kesalahannya menentang suatu syariat. Namun demikian dalam hukumnya tersebut ia tidak mati, bahkan saat itu mampu menulis suluk yang kemudian dikenal dengan sebutan Suluk Malangsumirang.
    Sunan Panggung menurunkan anak bernama Pangeran Halas. Pangeran Halas menurunkan Tumenggung Perampilan. Tumenggung Perampilan menurunkan Kyai Cikakak. Kyai Cikakak menurunkan Resayuda. Kyai Resayuda menurunkan Ngabehi Handaraka, dan Ngabehi Handaraka menurunkan Mas Ayu Tejawati, Istri Amangkurat IV, yang menurunkan Hamengkubuwana, Raja Ngayogyakarta Hadiningrat.

    Kyai Cikakak yang merupakan keturunan ketiga Sunan Panggung tidak diketahui nama aslinya. Nama “Kyai Cikakak” diperkirakan merupakan sebutan, karena ia bertempat tinggal di Desa Cikakak. Di Desa inilah Kyai Cikakak mendirikan sebuah masjid dengan keunikan tersendiri, yaitu dengan tiang utama tunggal (saka tunggal) yang masih lestari hingga saat ini
    Masjid saka tunggal di bangun di tempat suci “Agama Kuno” (agama yang berkembang sebelum masuknya agama Hindia Budha) yang dapat dibuktikan sekitar masjid terdapat sebuah batu menhir yang merupakan tempat untuk kegiatan ritual : “agama kuno” dibangun pada tahun 1522 M. Disekitar tempat ini terdapat hutan pinus dan hutan besar lainnya yang dihuni oleh ratusan ekor kera yang jinak dan bersahabat, seperti di Sangeh Bali.

    Saat ini masjid saka tunggal belum kehilangan sama sekali wajah aslinya. Bedanya, gebyok kayudan gedek bambu yang semula menjadi dinding masjid ini telah diganti dengan tembok
    Keunikan masjid ini juga terasa pada tradisionalisme keagamaan umat yang beribadah di dalamnya. Setiap akan shlat berjamaah selalu didahului dengan puji-pujian atau ura-ura yang dilagukan, seperti kidung jawa. Beberapa jemaah menggunakan udeng atau ikat kepala biru bermotif batik.

    Tata cara shalat jamaah di masjid kuno ini tidak jauh berbeda dengan masjid-masjid lain pada umumnya. Khusus pada jamaah shalat jumat, jumlah muazin atau orang yang mengumandangkan azan ada empat. Selain itu, semua rangkaian shalat jumat dilakukan berjamaah, mulai dari shalat tahiyatul masjid, khoblaljuma’ah, shalat jumat, ba’dla jum’ah. Shalat dhuhur, hingga ba’dal dzuhur. Semuanya muazin mengenakan baju panjang warna putih dan udeng atau ikat kepala khas jawa warna biru bermotif batik.





    .

    Lima Desa Dukung Festival Cikakak, Diadakan 1 November 2015

    Festival Cikakak yang rencananya akan digelar pada Senin (1/11)  di kompleks objek wisata Masjid Saka Tunggal dan Taman Kera Desa Cikakak, Kecamatan Wangon disambut positif oleh masyarakat. Gelaran Festival Cikakak yang diadakan Dinporabudpar Banyumas didukung lima desa.
    "Festival Cikakak nantinya akan didukung lima desa tetangga, yakni Desa Windunegara, Desa Jambu, Desa Wlahar, Desa Banteran, Kecamatan Wangon dan Desa Cirahab Kecamatan Lumbir," kata Subagyo, pengelola objek Wiata Saka Tunggal dan Taman Kera, Rabu (21/10).
    Materi acara Festival Cikakak, lanjutnya berupa arak-arakan gunungan yang berisi buah-buahan dan pertunjukan musik tradisional kenthongan.
    "Nanti acaranya berupa arak-arakan gunungan buah-buahan oleh perwakilan lima desa dan warga Desa Cikakak serta diramaikan 10 grup kenthongan terbaik yang telah dilombakan sebelumnya mulai dari terminal depan pintu masuk objek wisata Masjid Saka Tunggal menuju kompleks belakang masjid. Lalu gunungan buah-buahnya itu dibagikan ke pengunjung atau warga dan juga ke kera-kera," katanya.
    Festival Cikakak tersebut dinilai cukup menarik untuk mendatangkan wisatawan. " Semoga dapat menambah pengunjung yang datang kemari sekaligus mendongkrak pariwisata Kabupaten Banyumas. Maka kami lakukan pembenahan demi pembenahan, kami masih terus melakukan meeting dengan perwakilan lima desa pendukung serta Dinporabudpar agar persiapan kami lebih matang," ujarnya.
    Festival Ciakak itu juga dimaksudkan untuk 'menyenangkan' kera-kera yang menghuni di hutan sekitar Masjid Saka Tunggal kala musim kemarau tempat habitatnya sedikit makanan.
    "Festival ini juga dikhususkan untuk memberi makan kera dengan buah-buahan yang diarak itu. Maka namanya kegiatan Festival Rewanda Bujana yang artinya makan besar bersama kera. Hal ini untuk menggali kepedulian masyarakat terhadap kehidupan kera yang saat kemarau kekurangan makanan," ujarnya.

    Rabu, 30 September 2015

    Misteri Pembuatan Piramida Terpecahkan

    KEAJAIBAN AL-QURAN
    TERHADAP MISTERI BANGUNAN
    PIRAMIDA –
     Piramida Mesir diyakini memiliki beragam analisis tentang misteri konstruksinya. Dibangun
    pada masa kekuasaan Firáun Khufu pada tahun 2560 SM, rupa- rupanya kontraversi masih terus
    berlanjut hingga akhir abad ke-19. Logika para ilmuwan pun bingung menangkap bagaimana sebuah
    piramida dibangun? Hal ini karena teknologi mengangkat batu-batu besar yang bisa mencapai ribuan
    kilogram ke puncak-puncak bangunan belum ditemukan di zamannya. Apa rahasia di balik pembangunan piramida ini? Koran Amerika Times edisi 1 Desember 2006, menerbitkan berita ilmiah yang mengkonfirmasi bahwa Firaun menggunakan tanah liat untuk membangun piramida! Menurut penelitian tersebut disebutkan bahwa batu yang digunakan untuk membuat piramida adalah tanah liat yang dipanaskan hingga membentuk batu keras yang sulit dibedakan dengan batu aslinya. Para ilmuwan mengatakan bahwa Firaun mahir dalam ilmu kimia dalam mengelola tanah liat hingga menjadi batu. Dan teknik tersebut menjadi hal yang sangat rahasia jika dilihat dari kodifikasi nomor di batu yang mereka tinggalkan.
    Profesor Gilles Hug, dan Michel  Profesor Barsoum menegaskan bahwa Piramida yang paling besar
    di Giza, terbuat dari dua jenis batu: batu alam dan batu-batu yang dibuat secara manual alias olahan
    tanah liat. Dan dalam penelitian yang dipublikasikan oleh majalah “Journal of American Ceramic Society” menegaskan bahwa Firaun menggunakan jenis tanah slurry untuk membangun monumen yang tinggi, termasuk piramida. Karena tidak mungkin bagi seseorang untuk mengangkat batu berat ribuan kilogram.
    Sementara untuk dasarnya, Firaun menggunakan batu alam. Dengan metode pembuatan batu besar melalui cara ini, sang profesor membutuhkan waktu sepuluh hari hingga mirip dengan batu aslinya.
    Sebelumnya, seorang ilmuwan Belgia, Guy Demortier, telah bertahun-tahun mencari jawaban dari rahasia di balik pembuatan batu besar di puncak-puncak piramida. Ia pun berkata, “Setelah bertahun-tahun melakukan riset dan studi, sekarang saya baru yakin bahwa piramida yang terletak di Mesir dibuat dengan menggunakan tanah liat.” Penemuan oleh Profesor Prancis  Joseph Davidovits soal batu-batu piramida yang ternyata terbuat dari olahan lumpur ini memakan waktu sekitar dua puluh tahun. Sebuah penelitian yang lama tentang  piramida Bosnia, “Piramida Matahari” dan menjelaskan bahwa batu-batunya terbuat dari tanah liat! Ini menegaskan bahwa metode ini   tersebar luas di masa lalu. Sebuah gambar yang digunakan dalam casting batu-batu kuno piramida matahari mengalir di Bosnia, dan kebenaran ilmiah mengatakan bahwa sangat jelas bahwa metode tertentu pada pengecoran batu berasal dari tanah liat telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu dalam peradaban yang berbeda baik Rumania atau Firaun!
    ( Al-Qur’an Ternyata Lebih Dulu Punya Jawaban )

    Jika dipahami lebih dalam, ternyata Alquran telah mengungkapkan hal ini 1400 tahun sebelum mereka
    mengungkapkanny a, perhatikan sebuah ayat dalam Al Quran berikut ini:
    “Dan berkata Fir’aun: ‘Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan Sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa Dia Termasuk orang-
    orang pendusta.” (QS. Al-Qashash:38)
    Subhanallah! bukti menakjubkan yang menunjukkan bahwa bangunan bangunan raksasa, patung-patung raksasa dan tiang-tiang yang ditemukan dalam peradaban tinggi saat itu, juga dibangun dari tanah liat! Al-Quran adalah kitab pertama yang mengungkapkan rahasia bangunan piramida, bukan para Ilmuwan Amerika dan Perancis. Kita tahu bahwa Nabi saw tidak pergi ke Mesir dan tidak pernah melihat piramida, bahkan mungkin tidak pernah mendengar tentangnya. Kisah Firaun, terjadi sebelum masa Nabi saw ribuan tahun yang lalu, dan tidak ada satupun di muka bumi ini pada waktu itu yang mengetahui tentang rahasia piramida. Ajaib, 1400 tahun yang lampau, Nabi Muhammad saw, berbilang tahun setelah Berakhirnya dinasti Firaun memberitahukan bahwa Firaun membangun monument yang kelak dinamakan Piramid menggunakan tanah liat. Subhanallah! Sungguh suatu hal yang hanya dapat dipahami oleh orang orang yang bukan sekedar berakal, tetapi juga mempergunakan akalnya. Merugi mereka yang tidak yakin danmempercayai Al Quran. Wallahua’lam

    Entri yang Diunggulkan

    Info Tentang Blog Banyumas Corner

    saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...