Selamat Kepada Calon Kepala Daerah Banyumas

Tampilkan postingan dengan label Kota Lama Banyumas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kota Lama Banyumas. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Mei 2018

Kota Lama Banyumas Terus Berbenah

Alun-alun Banyumas yang masuk dalam situs kota lama Banyumas terus dibenahi. Hal itu menjadi bagian dari upaya Banyumas bersolek. Pasalnya komplek Kecamatan Banyumas menjadi kota kedua setelah Purwokerto yang akan terus dikembangkan oleh pemerintah kabupaten Banyumas. Anggota DPR RI H Khotibul Umam Wiranu, legislator asal Banyumas itu menilai sangat wajar jika kota kecamatan yang pernah menjadi Ibu Kota Kabupaten Banyumas sebelum dipindahkan ke Purwokerto diperhatikan. “Hal itu sudah ditunggu lama, sehingga sudah semestinya kota-kota kecamatan yang mempunyai potensi harus didukung supaya dapat bersaing dengan kota lainnya,” kata dia. Apalagi Kecamatan Banyumas mempunyai situs sejarah yang penting tentang Kabupaten Banyumas. 


RAMAI : Suasana Alun-alun Banyumas sejak beberapa tahun terakhir semakin ramai pengunjung.  



Gus Umam sapaan akrabnya menambahkan, Banyumas mempunyai posisi yang strategis diporos Banyumas – Cilacap dan Banjarnegara. Setidaknya Kroya-Banyumas dan Klampok di tiga kabupaten tersebut dapat tumbuh bersama-sama. “Kroya sebentar lagi menjadi kota yang strategis karena dihubungkan oleh jalur ganda kereta api,” bebernya. Warga di Banyumas pasti akan tersedot ke selatan. Sehingga kalau Banyumas tidak mampu menngembangkan potensi yang dimiliki maka akan kehilangan banyak sumber pendapatan. Hal itu tentu merugikan bagi warga Banyumas. 

“Karena itu kalau dapat mengembangkan bersama-sama maka Banyumas akan menjadi kota tujuan bukan sekedar singgah atau bahkan hanya dilintasi,” tandasnya. Sementara itu Teguh (50) salah seorang pengemudi becak yang biasa magkal di depan Alun-alun Banyumas mengakui kalau Kecamatan Banyumas lima tahun terakhir berkembang sangat pesat. Berbagai pembangunan dilakukan di sekitar Alun-alun Banyumas. “Sekarang kalau malam hari atau hari libur sudah banyak warga yang datang untuk sekadar duduk-duduk di Alun-alun. Ya sudah mirip Purwokerto,” kata dia. 


Sumber: Radarbanyumas.co.id

Kamis, 08 Februari 2018

Atraksi Budaya Kota Lama Banyumas Ditambah

 Atraksi budaya di kawasan Kota Lama Banyumas bakal ditambah. Hal ini menyusul rencana Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas menerapkan tiket masuk kompleks Taman Sari.
Kepala bidang Kebudayaan Dinporabudpar Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko mengemukakan, pemberlakuan tiket masuk tersebut akan direalisasikan pertengahan tahun ini. Namun sebelumnya, pihaknya akan menjadwalkan pertunjukan seni budaya di kawasan tersebut. “Ada rencana penerapan tiket masuk ke Taman Sari.
Tapi masa cuma seperti itu. Harusnya ada tontonan atau pertunjukan kesenian di sana,” katanya, kemarin. Taman Sari yang ditata tahun lalu sebenarnya sudah layak dikunjungi. Namun tidak ada aktivitas yang bisa dilakukan wisatawan selain berfoto di taman tersebut. Selain Taman Sari, pihaknya juga bakal menata Sumur Mas, yang masih berada di dalam kompleks tersebut. Rencananya, tujuh sumur tua di dalam kompleks Pendapa Kecamatan Banyumas untuk melestarikan peninggalan sejarah tersebut.
“Harapannya dapat menambah daya tarik bagi pecinta budaya dan sejarah. Terutama yang ingin berkunjung ke Taman Sari,” ujarnya. Deskart menuturkan, ketujuh sumur tersebut memiliki fungsi berbeda dengan letak yang terpisah. Namun hanya Sumur Mas di belakang kantor kecamatan yang masih digunakan dan sudah dilindungi sebagai benda cagar budaya. Sedangkan enam sumur lainnya dalam kondisi yang tidak terawat.
sumber Suara Banyumas

Rabu, 31 Januari 2018

Agar Museum Wayang Banyumas Tak Sepi Pengunjung




Objek wisata dengan harga tiket paling murah adalah Museum Wayang Banyumas. Tiket hanya seribu rupiah, baik untuk anak maupun dewasa, cuma seribu rupiah. Staf Pengelola Museum Wayang Banyumas, Sukrisman mengungkapkan, , meski harga tiket masuk sudah sangat murah, masih ada saja pengunjung yang meminta pembebasan tiket masuk alias gratis. “Panitia mengirimkan surat akan melakukan kunjungan ke Museum Wayang Banyumas. Pesertanya rombongan, dan pada akhir paragraf surat minta tiket digratiskan,” kata Sukrisman sembari memperlihatkan dokumentasi surat tersebut di smartphonenya kepada Radarmas. Permohonan pembebasan biaya tiket dari pengunjung bukan hanya satu dua kali terjadi. Padahal, harga tiket sudah di bawah standar. Bandingkan saja dengan objek wisata lain yang ada di Kabupaten Banyumas. Pengunjung Museum Wayang Banyumas, juga tidak dikenakan tarif parkir kendaraan. Ketika menggunakan fasilitas toilet juga tidak dipungut biaya. 

“Mungkin pengunjung yang minta tiket gratis karena tidak tahu berapa harga tiket. Ketika berwisata ke tempat lain tiketnya sampai puluhan ribu, dikira harga tiket puluhan ribu juga,” ungkap Sukrisman. Menurut dia, pengelola Museum Wayang Banyumas tidak berani menaikkan tarif tiket secara sepihak. Sebab pengaturan harga tiket diputuskan melalui peraturan daerah, sehingga bukan hal mudah dalam pembahasan kenaikan harga tiket. Murahnya harga tiket bukan jaminan membludaknya pengunjung. 

Setiap tahun, jumlah pengunjung tidak mencapai sepuluh ribu orang. Pengunjung Museum Wayang Banyumas pada 2017 melebihi target yang dipatok oleh Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas. Tahun 2017, target pengunjung lima ribu orang. Sedangkan realisasi mencapai enam ribu orang lebih. Sukrisman merinci pengunjung terbanyak berupa pelajar sekitar 70 persen karena di dalam kurikulum terdapat muatan lokal. Kemudian antara 10 persen sampai 15 persen pengunjung tour. 

“Sepuluh persen sisanya adalah pengunjung kesasar. Banyak yang belum tahu ada Museum Wayang Banyumas. Misalnya, orang membuat SIM keliling di Pendopo Kecamatan Banyumas. Dari pada lama antri, mereka masuk ke museum dan berkomentar ternyata ada museum wayang di Banyumas. Padahal orang Banyumas tapi belum tahu,” tandas Sukrisman.

Sumber:  Radarbanyumas.co.id

Catatan: Banyak sekali yang harus dibenahi sektor pariwisata kita, bukan hanya sekedar merenovasi objek wisata, melainkan konektivitas atau jaringan lain yang berhubungan agar menghidupkan kepariwisataan itu sendiri, seperti sosialisai kepada masyarakat sekitar atau melibatkan Pokdarwis, melibatkan institusi pendidikan serta peran swasta seperti rumah makan, akomodasi dan travel. 
Sepinya Museum wayang membuktikan bahwa revitalisasi kawasan kota lama seperti alun alun, dan taman sari  belum berdampak signifikan menaikan kunjungan. Padahal seharusnya sudah menajdi tugas bersama pemerintah dan masyarakat bagaimana cara mewujudkan Banyumas sebagai kota warisan, status yang telah diberikan oleh Pemkab Banyumas sebagai rencana besar pengembangan kawasan kota lama. 
Pada kasus musem wayang, bisa saja pihak pengelola museum bekerja sama  dengan Dinas Pendidikan, agar setiapmsekolah dari berbagai jenjang pendidikan, untuk dijadwalkan berkunjung dan melakukan study di museum. Itu baru satu contoh. 

Jumat, 20 Oktober 2017

Revitalisasi Alun Alun Banyumas

Dengan adanya revitalisasi alun alun kota lama Bnayumas, secara perlahan mulai berdampak kepada perekonomian masyarakat di sekitarnya. Dan mula mempertegas rencana Pemkab Banyumas yang menetapkan Kota lama Banyumas sebagai kota Pusaka atau Heritage city sebagai salah satu pengembangan konsep bidang pariwisata. 

Tentu hal ini merupakan permulaan sebagai bagian dari penataan kawasan kota lama secara keseluruhan . Meskipun belum semuanya tercover setidaknya sudah membuka jalan dan sebagai rintisan menuju pusat wisata baru di  kabupaten banyumas. 

Tentang Pembangunan Alun alun Banyumas saat ini mulai dirasakan masyarakat sebagai bagian dari pertumbuhan kota yang awalnya terkesan semrawut sekarang sudah terlihat tertib, rapi dan indah yang membuka peluang usaha masyarakat sekitarnya dibidang kuliner, kesenian,batik, permainan anak dan hiburan lain. 

Pada tahun 2015 saya mendapat info awal rencana pembangunna  alun-alun Banyumas ini. 


Revitalisasi alun alun Banyumas dikerjakan selama 3 tahun terakhir, dan hasilnya mulai bisa dirasakan masyarakat di akhir tahun kedua. Dan saat ini masih ada rencana pembangunan Air Mancur. Tentu ini berita yang menggembirakan karena saat ini pembangunan sebagian besar terfokus di kawasan perkotaan Purwokerto sebagai pusat kabupaten. Tapi dengan adnya pemerataan perhatian berdampak pula pada semakin meratanya pertumbuhan infrastruktur daerah serta efek di bidang perekonomian, wisata dan sosial budaya. 
Foto Credit to Erni Yatno



Selasa, 12 September 2017

Arsip Dokumentasi Kota Lama Banyumas Sebelum Revitalisasi

Dokumentasi berikut menjadi sesuatu yang penting karena menjadi bagian dari pertumbuhan kawasan kota lama Banyumas yang telah sekian lama hening dan jauh dari sentuhan pembangunan. Revitalisasi menjadi tahapan penting realisasi rencana pengembangan wisata kota pusaka atau warisan Banyumas sebagaimana tercantum dalam Perda RTRW Kabupaten Banyumas.





Arsip Suara Merdeka

Sejumlah tokoh Banyumas mengikuti diskusi mengenai pengembangan kota lama Banyumas di ruang pertemuan Kantor Kecamatan Banyumas, Minggu (17/7) yang dikemas dalam Dopokan Rembug Banyumas. Kegiatan yang diprakarsai beberapa tokoh putra daerah itu dihadiri beberapa anggota DPRD Banyumas seperti Yoga Sugama dan Didi Rudianto (Komisi D), Bambang Puji ( Komisi B), Wakil Sekjen DPR RI, Ahmad Juned, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka, Pudjo Sumedi.

Dalam sambutannya, Ahmad Djuned yang merupakan putra daerah Banyumas mengatakan bahwa acara bincang – bincang yang dipandu oleh budayawan Banyumas Bambang “Dodit” Widodo merupakan bentuk kepedulian masyarakat dalam upaya menemukan konsep pengembangan kota lama ke depan.”Tujuan awal dopokan ini untuk mengumpulkan pendapat dan ide dari peserta
untuk dijadikan rekomendasi kepada dinas terkait dan pemerintah Kabupaten Banyumas,” kata dia.


Dalam diskusi itu mencuat usulan pengembangan kota lama yang memiliki benda-benda cagar budaya yang masuk dalam daftar cagar budaya. Kawasan kota lama diusulkan menjadi kantong kebuidayaan dan pendidikan.


Pemerintah Kecamatan Banyumas menyambut positif rencana pengembangan wisata di kawasan Kota Lama Banyumas. Rencana pengembangan itu diharapkan dapat membawa dampak positif bagi masyarakat setempat. “Kalau bisa digarap betul (pengembangan wisata kota lama), akan menciptakan multiefek untuk masyarakat sekitar.
Perekonomian masyarakat akan ikut meningkat,” kata Camat Banyumas, Achmad Suryanto, kemarin. Dia mengatakan di kawasan kota lama terdapat sejumlah gedung tua yang memiliki nilai sejarah. Kemudian terdapat Museum Wayang, perajin batik tradisional.
Terbaru sedang dibangun Taman Sari untuk mendukung pengembangan wisata. “Di sekitar sini ada daya tarik berupa bangunan-bangunan tua. Wisatawan bisa jalan-jalan mengunjungi museum wayang, kemudian berjalan kaki ke taman sari, selanjutnya berjalan ke arah utara mengunjungi perajin batik, atau sebaliknya,” ujar dia.
Menurutnya di sekitar wilayah tersebut juga bisa dijadikan kampung wisata. Kampung wisata dapat memanfaatkan keberadaan bangunan- bangunan tua untuk tempat penginapan. “Bangunan-bangunan tua bisa dijadikan sebagai penginapan untuk para wisatawan,” ujar dia.
Wisata budaya, lanjut dia, bisa dipadukan dengan wisata religi. Seperti diketahui di Banyumas terdapat makam tokoh-tokoh Banyumas yang berada di Desa Dawuhan. “Di samping wisata budaya, ada juga wisata religi,” kata dia. Seperti diberitakan, Pemkab Banyumas merevitalisasi Taman Sari di belakang kompleks pendapa duplikat Si Panji Banyumas.
Selain revitalasi taman sari, tahun ini juga sedang dilakukan revitalisasi alunalun tahap kedua. Revitalisasi itu merupakan salah satu bagian dari rencana pengembangan wisata di Kota Lama Banyumas. Di sekitar situ banyak bangunan bersejarah, seperti Masjid Agung Nur Sulaiman, komplek pangeranan, dan kompleks kepatihan.

Selasa, 25 Juli 2017

Tamansari Pendapa Yudhanegara Banyumas

Tamansari Pendapa Yudhanegara Banyumas , dulu dikenal dengan nama Pendapa Duplikat Sipanji karena mengandung konotasi negatif sehingga diganti nama secara resmi untuk mengangkat kota Banyumas juga yang direncanakan diangkat sebagai kota warisan atau heritage city. Pembangunan Tamansari adalah salah satu tahap dalam rangka membangun kota wisata .
foto credit to Andy Ist Merdeka



 ke 

Selasa, 09 Agustus 2016

Pengembangan Wisata Kota Lama Diminta Bawa Dampak Positif

suaramerdeka.com
BANYUMAS – Pemerintah Kecamatan Banyumas menyambut positif rencana pengembangan wisata di kawasan Kota Lama Banyumas. Rencana pengembangan itu diharapkan dapat membawa dampak positif bagi masyarakat setempat. “Kalau bisa digarap betul (pengembangan wisata kota lama), akan menciptakan multiefek untuk masyarakat sekitar.
Perekonomian masyarakat akan ikut meningkat,” kata Camat Banyumas, Achmad Suryanto, kemarin. Dia mengatakan di kawasan kota lama terdapat sejumlah gedung tua yang memiliki nilai sejarah. Kemudian terdapat Museum Wayang, perajin batik tradisional.
Terbaru sedang dibangun Taman Sari untuk mendukung pengembangan wisata. “Di sekitar sini ada daya tarik berupa bangunan-bangunan tua. Wisatawan bisa jalan-jalan mengunjungi museum wayang, kemudian berjalan kaki ke taman sari, selanjutnya berjalan ke arah utara mengunjungi perajin batik, atau sebaliknya,” ujar dia.
Menurutnya di sekitar wilayah tersebut juga bisa dijadikan kampung wisata. Kampung wisata dapat memanfaatkan keberadaan bangunan- bangunan tua untuk tempat penginapan. “Bangunan-bangunan tua bisa dijadikan sebagai penginapan untuk para wisatawan,” ujar dia.
Wisata budaya, lanjut dia, bisa dipadukan dengan wisata religi. Seperti diketahui di Banyumas terdapat makam tokoh-tokoh Banyumas yang berada di Desa Dawuhan. “Di samping wisata budaya, ada juga wisata religi,” kata dia. Seperti diberitakan, Pemkab Banyumas merevitalisasi Taman Sari di belakang kompleks pendapa duplikat Si Panji Banyumas.
Selain revitalasi taman sari, tahun ini juga sedang dilakukan revitalisasi alunalun tahap kedua. Revitalisasi itu merupakan salah satu bagian dari rencana pengembangan wisata di Kota Lama Banyumas. Di sekitar situ banyak bangunan bersejarah, seperti Masjid Agung Nur Sulaiman, komplek pangeranan, dan kompleks kepatihan.

Senin, 08 Agustus 2016

Taman Sari Kota Lama Banyumas Direvitalisasi



Foto credit to Agus Suwarno






Berita sebelumnya...
suaramerdeka.com

Pemkab Banyumas merevitalisasi Taman Sari di belakang kompleks pendapa duplikat Si Panji Banyumas. Revitalisasi itu merupakan salah satu bagian dari rencana pengembangan wisata di Kota Lama Banyumas. Camat Banyumas, Achmad Suryanto, mengatakan pembangunan sudah mulai dilaksanakan sejak beberapa bulan lalu.
Pada zaman kadipaten, lokasi yang sekarang berada di belakang kantor kecamatan itu dulunya merupakan Taman Sari. “Kalau dulu lokasi itu digunakan khusus untuk penghuni di kompleks kadipaten. Kalau sekarang area itu terbuka bagi masyarakat umum untuk mendukung pengembangan wisata budaya di Kota Lama Banyumas,” katanya, kemarin.
Dia menjelaskan nilai proyek pembangunan itu sekitar Rp 1,8 miliar yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) melalui Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar). Taman itu nantinya akan dilengkapi dengan beberapa fasilitas.
Fasilitas
“Pembangunan sudah dimulai sejak beberapa bulan lalu, ditargetkan selesai akhir tahun ini. Di taman itu nanti akan dilengkapi beberapa fasilitas seperti gasebo, plaza, dan panggung pentas seni terbuka,” jelas dia.
Lebih lanjut dia mengatakan selain revitalasi taman sari, tahun ini juga sedang dilakukan revitalisasi alun-alun tahap kedua. Kedua proyek pembangunan itu dilakukan dalam rangka pengembangan kawasan kota lama.
“Tahun ini ada pembangunan lanjutan alun-alun tahap kedua. Kebetulan juga tahun ini Dinporabudpar mendapatkan DAK dari Kementerian Pariwisata untuk pembangunan taman sari, jadi bisa dilakukan bersamaan,” ujar dia.
Dia berharap kedua bangunan itu dapat mendukung pengembangan kawasan kota lama. Pasalnya sekitar alun-alun terdapat banyak bangunan bersejarah, seperti Masjid Agung Nur Sulaiman, kompleks pangeranan, dan kompleks kepatihan.


Taman Sari Kota Lama Banyumas Mulai Dibangun




Radarbanyumas.co.id

Ratusan tanaman pisang di halaman belakang kantor Kecamatan Banyumas sudah dibabat habis beberapa waktu lalu. Lahan tersebut merupakan taman sari atau kota lama Banyumas yang mulai dalam proses pembangunan. Camat Banyumas Drs Ahmad Suryanto MSi mengatakan, banyak bangunan tempo dulu di Kecamatan Banyumas, seperti pangeranan, kepatihan, Masjid Agung Nur Sulaiman, maupun Kantor Kecamatan Banyumas. Menurut dia, bangunan lama kantor Kecamatan Banyumas mengandung sejarah dan bisa jadi tempat wisata edukasi bagi pelajar maupun masyarakat umum. “Saat ini dibangun taman sebagai fasilitas pertunjukan kota lama Banyumas,” katanya. DIRATAKAN: Taman Sari dibelakang Kantor Kecamatan Banyumas mulai diratakan untuk ditata ulang Dia memaparkan, saat ini alat berat mulai meratakan tanah di belakang kantor kecamatan Banyumas. Informasi yang dia peroleh, anggaran taman sari diperoleh dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Kementerian Pariwisata. “Pagu anggaran Rp 2 miliar,” paparnya. Dia berharap, apabila digunakan sebagai tempat wisata pengelolaan tidak dilakukan dengan setengah-setengah. “Saat ini wisata budaya maupun bangunan lama banyak didatangi masyarakat. Contohnya di Museum Fatahilah. Harapannya nanti bisa mengarah ke sana,” imbuhnya. Menurut Ahmad Suryanto, pembuatan Taman Sari sudah disosialiasikan pada masyarakat. Denah perencanaan sudah ditempel di papan pengumuman kantor Kecamatan Banyumas. Di pojok bagian belakang akan dibangun fasilitas pertunjukan kota lama, seperti amphy theater. Berbagai jenis tanaman seperti sawo kecik, trembesi, beringin, dan glodigan tiang dijadikan peneduh di taman itu.


Jumat, 05 Agustus 2016

PKL Alun-Alun Banyumas Overload


Radarbanyumas
Peluang usaha yang dianggap bagus membuat Pedagang Kaki Lima (PKL) baru bermunculan di alun-alun Banyumas. Karena itu, PKL harus lebih ditata agar jumlahnya tidak terus membengkak. Saat ini, sudah 87 PKL yang berjualan di alun-alun Banyumas. Padahal, jumlah pedagang yang akan ditampung di zona yang sudah disiapkan sejumlah 47 pedagang.


Camat Banyumas, Drs Ahmad Suryanto MSi mengatakan, jumlah PKL alun-alun memungkinkan untuk terus bertambah dari waktu kewaktu. Dia mendapat arahan dari bupati agar jumlah PKL Alun-alun Banyumas tidak sampai overload. Untuk menyiasatinya, PKL alun-alun Banyumas terlebih dahulu harus mendaftar melalui paguyuban. Adanya pendaftaran memudahkan pendataan di paguyuban. Kondisi ini semakin mempermudah penataan PKL. “Betul-betul harus didata,jangan sampai terlalu banyak pedagang dan terlihat kurang tertata,” ujarnya. Saat ini, PKL tidak hanya berjualan di utara Alun-alun Banyumas, namun selatan Alun-alun Banyumas juga mulai digunakan untuk berjualan. Menurut dia, ada tempat-rempat tertentu yang tidak diperbolehkan untuk berjualan. Tempat tersebut antara lain, di tikungan selatan Alun-alum Banyumas. Informasi yang dia peroleh, akan dibangun air mancur di alun-alun sebelah selatan. Apabila ada PKL di sana, dikhawatirkan akan menghalangi air mancur tersebut. “Agar yang lewat jalan raya tahu ada air mancur, jadi menarik,” ujarnya. Tidak hanya itu, jalan di depan Masjid Agung Nur Sulaiman juga tidak dianjurkan untuk berjualan. Sebab, bisa menghalangi arus lalu-lintas kendaraan di jalan tersebut. “Kalau semua padat akan repot,” imbuhnya.

Sumber: http://radarbanyumas.co.id/pkl-alun-alun-banyumas-overload/

Rabu, 29 Juni 2016

Juguran Pendopo Kecamatan Banyumas, Kenang Masa Lalu

Juguran-Banyumas-Kenang-Masa-Lalu

Radar Banyumas
Nuansa tradisional masih kental dalam juguran di Pendopo Kecamatan Banyumas Senin (27/6) kemarin. Sentir yang merupakan lampu tradisional masyarakat Banyumas tempo dulu terpajang di depan pendopo. Tidak hanya sentir, atap pendopo juga dikelilingi lampion yang melambangkan lampu ting, lampu masyarakat Jawa zaman dahulu. Ketua panitia, Hadi Mulyono Putro SE mengatakan, adanya lampu ting dan lampu sentir untuk mengingatkan masyarakat Banyumas terhadap suasana Banyumas pada zaman dulu. “Dulu lampunya pakai minyak tanah, sentir, atau ting,” ujarnya. Menurut dia, jaman kuno sengaja diusung. Sayangnya, kini dia kesulitan mencari lampu ting di pasaran. Meski ada harganya mahal. “Sekarang sulit mencari lampu yang bahan bakarnya pakai minyak tanah. Lampu ting malah adanya di restoran,” ungkapnya. Dia mengungkapkan, lampu ting dan sentir untuk mengundang masyarakat untuk datang ke pendopo Kecamatan Banyumas. “Event seperti ini bisa untuk pariwisata masyarakat Banyumas,” paparnya. Menurut dia, juguran merupakan obrolan santai masyarakat Banyumas untuk membicarakan Banyumas pada masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Juguran tersebut merupakan bagian dari acara jumenengan yaitu peringatan Adipati Mrapat, R Jaka Kahiman menjadi Bupati Banyumas. 



Kamis, 12 Mei 2016

Kota Banyumas, Kota Pusaka Dalem Kadipaten Banyumas

(Kota Banyumas, Kota Pusaka) Dalem Kadipaten Banyumas



Berawal dari penggabungan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Purwokerto pada 1936, maka atas prakarsa Bupati Banyumas ke 19 yaitu R.A.A Sujiman Gandasubrata (1933-1950), Pendopo Si Panji yang dahulunya berada di Kota Lama Banyumas pada bulan Januari 1937 dipindahkan ke ibukota Kabupaten Banyumas di Purwokerto dan diresmikan pada 7 Januari 1937. Sejak pemindahan ini, maka Kota Lama Banyumas hanya menjadi ibukota Kawedanan Banyumas dan sekarang menjadi ibukota Kecamatan Banyumas. Guna mengingat bahwa keberadaan KotaBanyumas dimasa lalu dan keberadaan Pendopo si Panji beserta Dalem Kadipatennya, maka dibangun Pendopo Duplikat Si Panji di lokasi awalnya.
Dalem Kadipaten Banyumas terdiri dari alun-alun, pintu gerbang, pendopo, longkangan, dalem ageng, griya ageng, boga sasana, senthong kiwa, senthong tengen, bale peni, bale warni hingga tamansari. Bagian dari dalem kadipaten tersebut tidak hanya sebagai artefak sejarah namun juga memiliki kedalaman filosofi yang didasarkan pada ajaran Jawa. Dari sudut pandang arsitektur, bangunan Dalem Kadipaten Banyumas beserta bangunan pendukung lainnya terlihat sangat kentalperpaduan antara arsitektur tradisional Jawa dan arsitektur kolonial Belanda.
Dari sisi filosofis, Dalem Kadipaten Banyumas mengandung ajaran kosmologi Jawa tentang kiblat papat lima pancer (empat arah mata angin dan titik pusat imajiner yang berada di tengah-tengah). Bangunan pendopo dikelilingi empat pintu gerbang utama. Gerbang pada sisi timur dan barat searah dengan terbit dan tenggelamnya matahari yang menjadi simbolisasi dari purwa, madya dan wasana yang menggambarkan kehidupan manusia di dunia dari yang semula tidak ada, menjadi ada, dan pada saatnya akan kembali tidak ada. Sedangkan gerbang pada sisi selatan dan utara searah dengan laut selatan dan Gunung Slamet, mengambarkan arah privasi (Dalem Kadipaten) ke arah publik (masyarakat). Oleh karena itu, di arah depan pendopo terdapat alun-alun yang di sisi kanannya terdapat masjid (menggambarkan sisi kebaikan) dan di sisi kirinya terdapat penjara atau Lembaga Pemasyarakatan (menggambarkan sisi buruk).
Kondisi saat ini Dalem Kadipaten Banyumas tersebut dimanfaatkan sebagai Kantor Kecamatan Banyumas dan pada beberapa bagian lainnya di manfatkan sebagai Museum Wayang Banyumas yang diresmikan pada 31 Desember 1982. Koleksi yang ada di Museum Wayang Banyumas ini meliputi wayang kulit gagrak/gaya Jogjakarta, Banyumas (kuno, peralihan, sekarang), wayang krucil, wayang golek purwa, wayang golek menak, wayang kidang kenacan, wayang kancil, wayang dupara, wayang beber, wayang suket, wayang suluh, wayang Bali (akan), wayang Jawa Timuran (akan), benda arkeologi, tosan aji/pusaka-pusaka, lukisan Bupati-Bupati Banyumas, gamelan slendro kuno, calung Banyumas, dan foto Banyumas tempo dulu
Citra Satelit Kota Banyumas

http://tataruangbanyumas.com/?page=detailartikel&id=23#.VzRuLoSLTIU

Senin, 31 Agustus 2015

Potensi Kota Lama Banyumas

Kota Lama Terkendala Status Kepemilikan

Kota Lama Banyumas yang digadang sebagai bagian dari wisata sejarah, masih menemui kendala. Salah satunya kepemilikan yang cukup membatasi intervensi pemerintah untuk melakukan pembenahan. Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Rustin Herwanti mengatakan, Kota Lama Wisata Sejarah Banyumas akan dilaunching tahun 2017 mendatang.
Namun saat ini masih terkendala intervensi revitalisasi rumah Kota Lama. “Cukup banyak rumah model lama di Kecamatan Banyumas. Keinginan kami pada dasarnya  jangan sampai rumah tersebut berganti pola dari model rumah lama. Namun kendala kami rumah-rumah tersebut kebanyakan adalah milik perorangan, sehingga kadang mau dibuat apa terserah mereka,” kata Rustin, Rabu (25/2).
Sebagai solusinya, tahap pertama dia akan melakukan sosialisasi kepada pemilik rumah model lama. Minimal mereka tidak merubah arsitektur nilai kesejarahannya. Karena bangunan-bangunan yang ada,  merupakan bagian dari benda cagar budaya. Ketika sudah menjadi tempat wisata, nantinya bisa disinggahi oleh wisatawan untuk menginap dan merasakan nostalgia sejarah, menyatu dengan pola kehidupan setempat.
“Kita juga berkoordinasi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat, untuk mengarahkan itu,” ujarnya. Sedangkan untuk bangunan kota lama milik pemerintah seperti bangunan-bangunan kompleks kantor kecamatan, SMK 3 Banyumas dan Puskesmas
Banyumas, dipastikan masih akan tertangani dengan baik.
Terkait  adanya Perda Perlindungan Benda Cagar Budaya, DPRD Banyumas telah menyusunnya sebagai bagian dari Perda Inisiatif. “Perda Cagar Budaya sudah disahkan tanggal 18 Februari kemarin. Hanya saja saya belum mendapat salinannya dan belum disosialisasikan. Selanjutnya diharapkan ada Perbup yang mengatur teknis bagaimana penanganan benda cagar budaya yang ada termasuk kota lama Banyumas yang akan menjadi tempat
wisata,” ungkapnya.
Selain wisata sejarah, konsep Banyumas sentra budaya juga mulai digarap. Salah satunya yaitu dengan agenda rutin kesenian rongpuluhan yang dipentaskan oleh 12 desa se-Kecamatan Banyumas. Di samping itu, juga ada paket Mbolang Banyumas yang menawarkan jelajah kota lama, Galeri Batik Papringan, wisata religi Dawuhan dan jelajah Serayu River Voyage.
(Radar Banyumas,).

Saya bermaksud turut memperkenalkan Kota lama Banyumas kepada amsyarakat luas, dengan harapan agar makin dikenal. dan sesuai harapan kami Kota lama akan suatu saat akan jadi tujuan wisata andalan .

Kawasan Pendapa Jaka Kaiman

Taman / halaman Pendapa, ditanam sejumlah tanaman langka ( Buah Kepel)









Pendapa jaka Kaiman ( Dulu bernama Duplikat Sri Panji)
Sejumlah Heritage Building
Museum Wayang
Eks Karesidenan
Sejumlah Gedung tua yang saat ini dimanfaatkan untuk perkantoran

Gudang
Akses menuju lingkungan sekitar Pendapa


Lingkungan sekitar Alun alun


  

Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...