Selamat Kepada Calon Kepala Daerah Banyumas

Tampilkan postingan dengan label Durian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Durian. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Januari 2016

Turis Inggris Kepincut Durian Alasmalang

Turis Inggris Kepincut Durian AlasmalangKEMRANJEN- Desa Alasmalang Kecamatan Kemranjen semakin dikenal dengan desa sentra durian di Banyumas. Apalagi Alasmalang punya durian bhineka bawor yang menjadi unggulan dan banyak diminati pasar. Bahkan baru-baru ini, turis Inggris dan India tertarik mencicipi nikmatnya durian bhineka bawor.
“Ada turis dari Inggris dan India yang berlibur di Jogja, kemudian mampir ke sini karena ingin mencoba rasa durian ini. Mereka bilang enak dan good,” kata pengusaha durian Sarno.
Menurut Sarno, durian bhineka bawor diminati masyarakat luas. Bahkan bibit sekaligus buahnya yang besar dan enak laku terjual dengan harga yang tinggi.
Harga durianya saat ini dijual dengan harga Rp 45 ribu per kilogram. Malah durian seberat 10 kilogram, delapan kilogram dan 11,5 kilogram, terjual secara lelang seharga Rp 2 juta.
Bibit durian yang Sarno buat juga laku terjual dengan harga yang fantastis. Satu bibit durian ukuran satu meter dihargai Rp 1 juta. “Tergantung ukurannya. Ada juga bibit yang terjual sampai Rp 4 juta,” ujarnya.
Dulu, dia sempat mengalami kesulitan memasarkan bibit durian bhineka bawor. Bahkan warga diberi secara gratis pun ada yang tidak mau.
“Mereka mengira  akan terlalu lama menunggu pohon hingga berbuah, ternyata baru tiga tahun sudah berbuah. Maka dari itu sekarang bibit durian ini malah mahal, karena rasanya enak dan ukurannya pun besar,” imbuhnya.

Kamis, 21 Januari 2016

Durian Kemranjen Terenak Bisa Dinikmati Pada Januari


 Durian Kemranjen Terenak Bisa Dinikmati Pada Januari


Purwokertokita.com  19/11/2015 – Musim durian di Banyumas pada tahun ini datang lebih cepat dari biasanya. Umumnya musim durian di Banyumas tiba pada bulan November hingga bulan Maret, dengan puncak musim panen pada sekitar bulan Januari hingga Februari. Salah satu daerah penghasil durian di Banyumas yang sudah mulai panen adalah Kecamatan Kemranjen.


Di daerah Kemranjen, terdapat tiga desa penghasil durian yang cukup banyak, yaitu Desa Alasmalang, Karangsalam, serta Pageralang. Pada musim ini, ketiga desa tersebut sudah mulai panen durian mulai pertengahan bulan Oktober lalu. Durian yang sudah banyak dipanen pada awal musim ini adalah durian montong orange dan cani. Sementara untuk durian lokal seperti durian susu, kumbokarno, jantung, sunan, serta durian lain masih sangat sedikit.

Awal musim panen yang tiba lebih cepat tahun ini disebabkan oleh kemarau panjang yang sempat menghadang musim bunga durian. Efek dari kemarau yang cukup panjang membuat pohon durian stres, sehingga buah durian lebih cepat matang. Namun masih ada dampak lain dari kemarau panjang tahun ini.
Selain berdampak pada awal musim panen yang lebih cepat, efek musim kemarau juga mempengaruhi buah durian. Beberapa dampak yang cukup mencolok adalah:
1. Buah durian menjadi lebih ringan
Hal ini dikarenakan kurangnya air dan efek cuaca panas, menjadikan daging durian susut. Sehingga buah durian yang panen pada awal musim kali ini lebih ringan dari biasanya, meskipun dengan besar yang sama.
2. Daging durian sedikit lebih keras
Cuaca panas selain membuat susut daging durian, juga menyebabkannya menjadi lebih keras. Meskipun sudah tua dan matang, durian yang panen di awal musim ini kadang memiliki daging yang rasanya seperti durian muda.
3. Rontok karena kekurangan air
Kurangnya suplai air dari tanah dan juga siraman air terhadap daun serta buah membuat banyak durian yang runtuh sebelum matang. Buah-buah muda yang rontok kebanyakan hanya menjadi sampah organik yang didiamkan membusuk begitu saja.
4. Rasa yang kurang mantap
Sebagian dari durian yang panen di awal musim ini, mempunyai rasa yang belum nikmat dan mantap seperti biasanya. Rasa manis, legit, serta pahit khas durian masih dirasa kurang. Hal ini dikarenakan tidak semua durian yang panen pada awal musim ini merupakan durian yang benar-benar matang. Namun juga ada durian yang masih belum siap matang, namun sudah rontok terlebih dahulu.
Selain itu, dampak dari musim panen yang terlalu awal membuat durian di Kemranjen menjadi rebutan para tengkulak. Pada awal musim ini, pengiriman durian ke penadah di kota-kota besar sangat tinggi. Dalam satu minggu, durian yang keluar dari Kemranjen bisa mencapai 4 ton. Dampaknya adalah berkurangnya penjual durian yang menggelar lapaknya di jalur alternatif Wijahan – Somagede. Padahal setiap musim panen durian, banyak pedagang yang berjualan di sepanjang jalur alternatif tersebut.
Meskipun awal panen kali ini hampir “habis” karena diborong oleh para tengkulak, namun musim durian di Kemranjen masih belum berakhir. Masih ada buah durian yang saat ini masih muda dan masih bisa dipanen hingga akhir musim durian. Hal ini dikarenakan pohon durian mampu berbunga 2 hingga 3 kali dalam satu musim.
Jadi bagi para pecinta durian, masih ada kemungkinan bisa menikmati durian dari Desa Alasmalang, Karangsalam serta Pageralang, Kemranjen. Karena puncak musim panen durian berlangsung sekitar bulan Januari hingga Februari.

Senin, 18 Januari 2016

Durian Cilongok Butuh Pengembangan

Sejak dua bulan terakhir, pedagang durian di tepi jalur Ajibarang-Purwokerto tepatnya di Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok terlihat merebak . Para pengguna jalan banyak yang mampir di lapak durian berupa gubuk sederhana di tepi jalan tersebut. Pedagang durian asal Pageraji, Latif (40), menuturkan pasaran durian memang sedang ramai saat ini. Sedikitnya ada sembilan pedagang durian dadakan yang berjualan di tepi jalan Cilongok. Mereka menawarkan ratusan durian dengan harga bervariasi. “Banyak variasinya mulai dari durian lokal biasa, mentega, hingga montong. Kebetulan sebagian besar durian yang dijual merupakan produk lokal,” paparnya. Melihat potensi pasar yang makin ramai, Latif berharap, agar ke depan potensi durian di Kecamatan Cilongok bisa makin dikembangkan. Terbukti, meski belum sebanyak di wilayah Kecamatan Banyumas, ataupun Kemranjen, durian Cilongok diminati oleh warga, terutama pengendara yang melintas di jalur Purwokerto tersebut. Lebih Bervariasi “Kami berharap ke depan makin banyak yang menanam durian dengan jenis yang lebih bervariasi dan berkualitas, sehingga pasar akan semakin berminat untuk mampir di Cilongok. Kami yakin ke depan pasar durian ini akan semakin besar dan bisa menghidupi pedagang kecil seperti kami,” paparnya.
Pedagang lain, Amin, mengatakan keberadaan produk pertanian lokal terutama buah memang menjadi peluang ekonomi baru bagi warga. Di saat musim durian seperti saat ini banyak warga yang beralih menjadi penjual durian. Sebelum musim durian, warga juga kerap menjajakan petai di tepi jalan tersebut. “Ada yang menjajakan cuma sehari, namun ada juga yang sampai malam sekitar pukul 22.00. Bisa dibilang meski hanya musiman, namun di sini cukup ramai,” imbuhnya.

16 Januari 2016 , Suara Banyumas

Rabu, 11 November 2015

Karangrau Agrowisata Durian




























Karangrau Agrowisata Durian, sebenarnya saya baru mendengar lokasi wisata ini. Berhubung saya komitmen untuk mempromosikan dan memperkenalkan wisata lokal, maka meski terlambat saya posting top ik ini. Semoga menjadi salah satu tujuan favorit bagi wisatawan baik lokal maupun nasional. Tenyata kabupaten Banyumas sudah punya Agrowisata Durian.....

Agrowisata Durian adalah perencanaan kawasan prioritas yang merupakan pengembangan dan presentasi keunggulan sumber daya alam Desa Karangrau. Perencanaan kawasan ini adalah merupakan salah satu prioritas dari Program Penataan Lingkungan Berbaasis Komunitas (PLPBK). Sebab sumber daya alam Desa karangrau yang melimpah sampai sekarang belum terekpos secara maksimal baik berupa pemeberitaan, lokasi kegiatan, maupun akseebilitas kawasan, sehingga perlu adanya Pilot Projek berupa satu kawasan Gerbang Wisata untuk mengangkat citra desa Karangrau sebagai desa penghasil Plasma dan Buah-buahan komersial. Dengan adanya wadah berupa gerbang wisata, secara otomatis akan dapat memberikan dampak positif bagi warga desa Karangrau berupa lapangan pekerjaan didesa,

Desa Karangrau Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas. Luas wilayah Desa Karangrau yaitu 704,75 Ha. Batas-batas Desa Karangrau sebagai berikut: 1. Sebelah Utara : Ds Kejawar ; Ds Kedung Gede 2. Sebelah Timur : Ds Karang Salam 3. Sebelah Selatan : Ds Pageralang, Ds Karangsalam 4. Sebelah Barat : Ds Pasinggangan Sedangkan secara orbitasi,jarak desa dengan pusat pemerintahan sebagai berikut: 1. Jarak Desa ke Kota Kecamatan : 5 Km 2. Jarak Desa ke Kota Kabupaten : 25 Km 3. Jarak Desa ke Kota Propinsi : 200 Km Kondisi jalan yang menghubungkan Desa dengan Kota Kecamatan adalah jalan beraspal dan kondisi jalan yang menghubungkan Kota Kecamatan dengan Kota Kabupaten merupakan jalan beraspal. Jarak terdekat untuk mendapatkan material/peralatan sejauh 4 (empat) Km yaitu di Desa Sudagaran Kecamatan Banyumas.

Kawasan Agrowisata dapat ditempuh dengan kendaraan umum, ini dikarenakan kawasan tersebut terletak ditepi jalan raya provinsi,sehingga sangat memudahkan bagi masyarakat yang ingin berkunjung ke Kawasan Agrowisata, dan juga telah tersedia area parkir yang laus. Dalam kawasan Agrowisata Durian tersebut tidak hanya terdapat pohon durian saja, melainkan ada kios buah, kios makanan khas desa karangrau, ada juga kolam pemancingan dengan saung/gazebo yang dapat dipergunakan untuk saung makan keluarga disekitar area tersebut. Selain itu tersedia juga bibit pohon durian unggulan yang bisa didapatkan di kawasan tersebut.


Namun ada berita yang saya temukan dari radar Banyumas  terkait aset wisata ini :

 Proyek Terancam Mangkrak


BANYUMAS-Kelanjutan proyek Agrowisata KarangMas yang merupakan kawasan pengembangan wisata hasil pertanian durian di Desa Karangrau, Kecamatan Banyumas, sampai sekarang belum ada kejelasan. Padahal proyek sentra ini baru dibangun 30 persen dari masterplan yang telah dirancang. Askot Bidang Urban Planner PNPM Mandiri Perkotaan Kabupaten Banyumas, Kristian Septi Wibowo mengatakan, materplan Arowisata KarangMas memang terlalu muluk.
Proyek dari program Penataan Lingkungan Berbasis Komunitas (PLPBK) 2009 yang dianggarkan Rp 1 miliar itu, belum sesuai visi PLPBK. “Konsep PLPBK sebenarnya adalah dari pengembangan menjadi penataan. Jadi bukan membangun konsep megah di lahan kosong, akan tetapi sebaiknya diarahkan untuk penataan yang sudah ada untuk bisa membenahi masalah atau meningkatkan potensi yang ada,” ujarnya.
Dia menyayangkan program PLPBK 2009 yang banyak dimaknai sebagai dana ‘reward’ ini digunakan untuk proyek-proyek megah, namun berhenti di tengah jalan. Meskipun secara administratif keuangan, 13 desa/kelurahan penerima PLPBK 2009 ini sudah selesai, namun beban dari pemerintah desa, KSM, BKM maupun masyarakat menjadi tinggi untuk memperjuangkan agar masterplan yang sudah dibuat agar tidak mangkrak.
Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Desa Karangrau, Mardi menjelaskan, kelanjutan Agrowisata KarangMas juga terkendala hak milik lahan.
Padahal sentra tersebut sudah diminati banyak investor. “Lahan tersebut tadinya memang eks bengkok milik 5 perangkat desa. Kita harus konsultasikan ke bagian Tata Pemerintahan Setda Banyumas, bagaimana jika sebagian lahan agrowisata ini dipersilahkan disewakan pihak ketiga untuk meramaikannya,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, sebenarnya sudah ada 4 calon investor yang ingin menyewa sebagian lahan tersebut untuk dibangun unit usaha milik investor tersebut seperti rumah makan atau kios kuliner. Dengan demikian, seharusnya selain bisa menarik pendapatan sewa, juga bisa meramaikan agrowisata sebagai sumber pendapatan desa.
“Tapi itu belum ada peraturan desanya yang memperbolehkan lahan milik desa ditempati unit usaha pihak ketiga,” tandasnya. Sebab tidak jelasnya aturan tersebut membuat pembangunan agrowisata ini berhenti. Padahal sesuai perhitungan RAB 2010 lalu, agrowisata ini diperkirakan bisa selesai dengan biaya Rp 3,8 miliar. Namun karena langkah pemasaran masih terkendala, sehingga pembangunan baru mentok habiskan dana Rp 700 juta.
“Dana PLPBK sudah habis, paling kita masih andalkan dana sharing APBD Banyumas melalui Bappeda sebesar Rp 50 juta per tahun sejak 2012. Itupun diinformasikan sudah berhenti di tahun 2017,” paparnya. Dia menambahkan, agrowisata belum bisa menghasilkan pendapatan dari kunjungan. Pendapatan baru berasal dari kios sentra durian yang disewakan sebanyak 8 kavling.
“Jika kami dapat anggaran lagi mungkin perlu dibangunkan gapura pintu gerbang, agar orang yang melintas tahu kalau disini ada tempat wisata,” pungkasnya.



Omset Pedagang Durian Melonjak
Naik Hingga 50 Persen Selama Liburan


#31 December 2015, Radar Banyumas,
Musim liburan sekolah yang bersamaan dengan libur Natal dan Tahun Baru 2016, membawa berkah bagi penjual durian di sepanjang jalan raya Desa Karang Rau, Kecamatan Banyumas. Banyak Pengendara luar kota yang membeli durian yang berimbas pada naiknya penjulan durian hingga 50 persen.
salah seorang penjual Durian, Sugeng Suroso (27) mengatakan, sebelum memasuki musim liburan, omzet perhari yang dia dapat sekitar Rp 1 juta. Ketika memasuki musim liburan, omzetnya naik hingga Rp 1,5 juta. “Masuk arus mudik dan arus balik ini kadang Rp 1,3 juta, kadang Rp 1,5 juta,” katanya.
Dia mengatakan, pembelinya sebagaian besar merupakan pengendara luar kota yang melintasi Jalan Karang Rau. Jalan tersebut memang menjadi jalur dari Purwokerto menuju Yogyakarta.
Soal durian, Sugeng Suroso mengatakan, sebagian besar durian yang dia jual saat ini merupakan durian lokal Banyumas. Untuk durian lokal dia jual antara Rp 70 ribu hingga Rp 150 ribu, tergantung pada ukuran buah. Sedangkan durian montong dia jual dengan harga Rp 45 ribu perkilogram. “Pembeli seleranya berbeda, ada yang suka manis, ada juga yang suka manis pahit,” ujarnya.
Sugeng memperkirakan ramainya pembeli hingga Minggu (3/01) mendatang. Sebab, hari Seninnya (4/1/2016), siswa sudah kembali ke sekolah. “Pokoknya setiap minggu itu ramai. Hari Minggu besok pasti ramai,” paparnya.
Pedagang durian lain, Martini (41) mengatakan, dia sengaja menjadi penjual durian musiman untuk meraup keuntungan. Omzetnya perhari berkisar antara Rp 700 ribu hingga Rp 800 ribu. Menurut dia, saat ini durian lokal di beberapa desa mulai sulit dicari, karena banyak penjual eceran musiman lain sama seperti dirinya. “Tiga hari kemarin saja saya tidak jualan karena tidak ada barang. Penjualan sebenarnya lumayan bagus,” imbuhnya.

Menuju Wisata Sentra Durian Kemranjen

Warga Tagih Janji Pelebaran Jalan Menuju Kompleks Pasar Durian


Pelebaran jalan menuju rumah pengembangan buah durian atau pasar durian Desa Pageralang Kecamatan Kemranjen yang telah dijanjikan 25 April 2014 saat peletakkan batu pertama pembangunan pasar durian, masih dinantikan warga.
Akses jalan yang saat ini masih tiga meter, dijanjikan menjadi enam meter untuk menunjang akses ke pasar durian. Untuk menunjang keramaian di pasar durian, masyarakat dihimbau menghibahkan tanah disekitar jalan tersebut.
Dari pihak pemerintah desa dan Badan Perwakilan Desa (BPD) telah memfasilitasi warga untuk membuat surat pernyataan dan surat pernyataan hibah tanah dan sudah dikirim ke Bapeda sekitar Agustus 2015. Namun sampai saat ini belum ada kejelasan akan dilakukan pelebaran jalan.
“Warga menantikan pelebaran yang tak kunjung datang, banyak warga yang menanyakan pada kami,” kata Ketua BPD Desa Pageralang, Sarkum, Senin (9/11) kemarin.
Dia menduga, pelebaran jalan belum terealisasi karena penerima hibah belum berbadan hukum. “Ya saya jelaskan seperti itu, tetapi warga kadang tidak tahu dan tidak mau tahu, dikira Desa yang membohongi masyarakat,” ujarnya.
Sarkum berharap, pelebaran jalan tersebut segera terealisasi. “Kalau dana hibah tidak bisa, ya mungkin masih ada dana lain yang bisa,” papar Dia. Masyarakat masih menunggu kepastian, terlebih masyarakat yang sudah bersedia menghibahkan tanahnya. “Mayarakat ingin pihak yang berjanji menepati janji,” imbuhnya.

Selasa, 10 November 2015

Kemranjen Sentra Durian di Banyumas

Harga Durian Tembus Rp 360 Ribu


BANYUMAS – Memasuki musim durian, raja dari segala buah ini banyak diburu para pencintanya, di antaranya di Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen.
Belasan penjual buah musiman ini berjajar disepanjang jalan alternatif Somagede – Kemranjen, tepatnya dari Desa Karang Salam hingga jalan ke arah pasar wijahan Kemranjen.
Di awal musim, durian bhineka bawor yang tersohor ini pun harganya sudah mencapai Rp 360 ribu satu buahnya. Pedagang durian bhineka bawor, Darto (45) mengatakan, di awal musim harga durian ini Rp 45 ribu perkilogram.
Karena ukurannya yang besar, satu buah durian bisa mencapai delapan kilogram. Menurut dia, harga durian setiap tahunnya selalu mengalami kenaikan.
“Karena ini baru memasuki musimnya paling berat delapan kilogram. Musim itu sampai Januari 2016 nanti, biasanya ada yang beratnya lebih dari 10 kilogram,” kata Darto.
Harga durian diatas 10 kilogram cukup fantastis. Darno menceritakan, tahun lalu durian 13 hingga 14 kilogram terjual dengan harga Rp 2 juta.
Sebagian besar petani di Desa Alasmalang menanam durian di kebun maupun pekarangannya. Karena Desa Alasmalang banyak persediaan durian, tak heran pembeli dari luar kota memesan durian dan dikirim lewat paket. “Kadang ada juga yang minta dari luar kota, diantaranya Bogor dan Jakarta,” ujarnya.
Karena rasanya yang enak menurut pencintanya, tak heran bila durian ini banyak dicari dan berharga mahal. Untuk Harga bibitnya saja berkisar Rp 25 ribu sampai Rp 2 juta rupiah.(Radar Banyumas)


Ini adalah potensi wisata juga, jika dikelola secara profesional, misalnya sebagai  dimana pengunjung diajak mampir , atau refreshing /alan jalan menikmati segarnya udara dan indahnya pemandangan  di kebun sekaligus memetik durian langsung di kebun dan makan di tempat. Pastinya akan banyak wisatawan yang tertarik. 

Foto ini adalah kenang kenangan saat saya di daerah transmigrasi Bengkulu Utara, tepatnya di Kurotidur Bengkulu Utara.





 Siapa tahu nantinya Kemranjen  Perkebunan duriannya dijadikan tempat wisata kuliner, jalan jalan dan makan durian di kebun. semoga....

Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...