








Karangrau Agrowisata Durian, sebenarnya saya baru mendengar lokasi wisata ini. Berhubung saya komitmen untuk mempromosikan dan memperkenalkan wisata lokal, maka meski terlambat saya posting top ik ini. Semoga menjadi salah satu tujuan favorit bagi wisatawan baik lokal maupun nasional. Tenyata kabupaten Banyumas sudah punya Agrowisata Durian.....
Agrowisata Durian adalah perencanaan kawasan prioritas yang merupakan
pengembangan dan presentasi keunggulan sumber daya alam Desa Karangrau.
Perencanaan kawasan ini adalah merupakan salah satu prioritas dari
Program Penataan Lingkungan Berbaasis Komunitas (PLPBK). Sebab sumber
daya alam Desa karangrau yang melimpah sampai sekarang belum terekpos
secara maksimal baik berupa pemeberitaan, lokasi kegiatan, maupun
akseebilitas kawasan, sehingga perlu adanya Pilot Projek berupa satu
kawasan Gerbang Wisata untuk mengangkat citra desa Karangrau sebagai
desa penghasil Plasma dan Buah-buahan komersial. Dengan adanya wadah
berupa gerbang wisata, secara otomatis akan dapat memberikan dampak
positif bagi warga desa Karangrau berupa lapangan pekerjaan didesa,
Desa Karangrau Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas. Luas wilayah Desa
Karangrau yaitu 704,75 Ha. Batas-batas Desa Karangrau sebagai berikut:
1. Sebelah Utara : Ds Kejawar ; Ds Kedung Gede 2. Sebelah Timur : Ds
Karang Salam 3. Sebelah Selatan : Ds Pageralang, Ds Karangsalam 4.
Sebelah Barat : Ds Pasinggangan Sedangkan secara orbitasi,jarak desa
dengan pusat pemerintahan sebagai berikut: 1. Jarak Desa ke Kota
Kecamatan : 5 Km 2. Jarak Desa ke Kota Kabupaten : 25 Km 3. Jarak Desa
ke Kota Propinsi : 200 Km Kondisi jalan yang menghubungkan Desa dengan
Kota Kecamatan adalah jalan beraspal dan kondisi jalan yang
menghubungkan Kota Kecamatan dengan Kota Kabupaten merupakan jalan
beraspal. Jarak terdekat untuk mendapatkan material/peralatan sejauh 4
(empat) Km yaitu di Desa Sudagaran Kecamatan Banyumas.
Kawasan Agrowisata dapat ditempuh dengan kendaraan umum, ini dikarenakan
kawasan tersebut terletak ditepi jalan raya provinsi,sehingga sangat
memudahkan bagi masyarakat yang ingin berkunjung ke Kawasan Agrowisata,
dan juga telah tersedia area parkir yang laus. Dalam kawasan
Agrowisata Durian tersebut tidak hanya terdapat pohon durian saja,
melainkan ada kios buah, kios makanan khas desa karangrau, ada juga
kolam pemancingan dengan saung/gazebo yang dapat dipergunakan untuk
saung makan keluarga disekitar area tersebut. Selain itu tersedia juga bibit pohon durian unggulan yang bisa didapatkan di kawasan tersebut.
Namun ada berita yang saya temukan dari radar Banyumas terkait aset wisata ini :
Proyek Terancam Mangkrak
BANYUMAS-Kelanjutan proyek Agrowisata
KarangMas yang merupakan kawasan pengembangan wisata hasil pertanian
durian di Desa Karangrau, Kecamatan Banyumas, sampai sekarang belum ada
kejelasan. Padahal proyek sentra ini baru dibangun 30 persen dari
masterplan yang telah dirancang. Askot Bidang Urban Planner PNPM Mandiri
Perkotaan Kabupaten Banyumas, Kristian Septi Wibowo mengatakan,
materplan Arowisata KarangMas memang terlalu muluk.
Proyek dari program Penataan
Lingkungan Berbasis Komunitas (PLPBK) 2009 yang dianggarkan Rp 1 miliar
itu, belum sesuai visi PLPBK. “Konsep PLPBK sebenarnya adalah dari
pengembangan menjadi penataan. Jadi bukan membangun konsep megah di
lahan kosong, akan tetapi sebaiknya diarahkan untuk penataan yang sudah
ada untuk bisa membenahi masalah atau meningkatkan potensi yang ada,”
ujarnya.
Dia menyayangkan program PLPBK 2009 yang banyak dimaknai
sebagai dana ‘reward’ ini digunakan untuk proyek-proyek megah, namun
berhenti di tengah jalan. Meskipun secara administratif keuangan, 13
desa/kelurahan penerima PLPBK 2009 ini sudah selesai, namun beban dari
pemerintah desa, KSM, BKM maupun masyarakat menjadi tinggi untuk
memperjuangkan agar masterplan yang sudah dibuat agar tidak mangkrak.
Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Desa Karangrau, Mardi
menjelaskan, kelanjutan Agrowisata KarangMas juga terkendala hak milik
lahan.
Padahal sentra tersebut sudah diminati banyak investor.
“Lahan tersebut tadinya memang eks bengkok milik 5 perangkat desa. Kita
harus konsultasikan ke bagian Tata Pemerintahan Setda Banyumas,
bagaimana jika sebagian lahan agrowisata ini dipersilahkan disewakan
pihak ketiga untuk meramaikannya,” ungkapnya.
Dia menjelaskan,
sebenarnya sudah ada 4 calon investor yang ingin menyewa sebagian lahan
tersebut untuk dibangun unit usaha milik investor tersebut seperti rumah
makan atau kios kuliner. Dengan demikian, seharusnya selain bisa
menarik pendapatan sewa, juga bisa meramaikan agrowisata sebagai sumber
pendapatan desa.
“Tapi itu belum ada peraturan desanya yang
memperbolehkan lahan milik desa ditempati unit usaha pihak ketiga,”
tandasnya. Sebab tidak jelasnya aturan tersebut membuat pembangunan
agrowisata ini berhenti. Padahal sesuai perhitungan RAB 2010 lalu,
agrowisata ini diperkirakan bisa selesai dengan biaya Rp 3,8 miliar.
Namun karena langkah pemasaran masih terkendala, sehingga pembangunan
baru mentok habiskan dana Rp 700 juta.
“Dana PLPBK sudah habis,
paling kita masih andalkan dana sharing APBD Banyumas melalui Bappeda
sebesar Rp 50 juta per tahun sejak 2012. Itupun diinformasikan sudah
berhenti di tahun 2017,” paparnya. Dia menambahkan, agrowisata belum
bisa menghasilkan pendapatan dari kunjungan. Pendapatan baru berasal
dari kios sentra durian yang disewakan sebanyak 8 kavling.
“Jika
kami dapat anggaran lagi mungkin perlu dibangunkan gapura pintu gerbang,
agar orang yang melintas tahu kalau disini ada tempat wisata,”
pungkasnya.
Omset Pedagang Durian Melonjak
Naik Hingga 50 Persen Selama Liburan
#31 December 2015, Radar Banyumas,
Musim liburan sekolah yang bersamaan dengan libur Natal dan
Tahun Baru 2016, membawa berkah bagi penjual durian di sepanjang jalan
raya Desa Karang Rau, Kecamatan Banyumas. Banyak Pengendara luar kota
yang membeli durian yang berimbas pada naiknya penjulan durian hingga 50
persen.
salah seorang penjual
Durian, Sugeng Suroso (27) mengatakan, sebelum memasuki musim liburan,
omzet perhari yang dia dapat sekitar Rp 1 juta. Ketika memasuki musim
liburan, omzetnya naik hingga Rp 1,5 juta. “Masuk arus mudik dan arus
balik ini kadang Rp 1,3 juta, kadang Rp 1,5 juta,” katanya.
Dia
mengatakan, pembelinya sebagaian besar merupakan pengendara luar kota
yang melintasi Jalan Karang Rau. Jalan tersebut memang menjadi jalur
dari Purwokerto menuju Yogyakarta.
Soal durian, Sugeng Suroso
mengatakan, sebagian besar durian yang dia jual saat ini merupakan
durian lokal Banyumas. Untuk durian lokal dia jual antara Rp 70 ribu
hingga Rp 150 ribu, tergantung pada ukuran buah. Sedangkan durian
montong dia jual dengan harga Rp 45 ribu perkilogram. “Pembeli seleranya
berbeda, ada yang suka manis, ada juga yang suka manis pahit,” ujarnya.
Sugeng memperkirakan ramainya pembeli hingga Minggu (3/01) mendatang.
Sebab, hari Seninnya (4/1/2016), siswa sudah kembali ke sekolah.
“Pokoknya setiap minggu itu ramai. Hari Minggu besok pasti ramai,”
paparnya.
Pedagang durian lain, Martini (41) mengatakan, dia sengaja
menjadi penjual durian musiman untuk meraup keuntungan. Omzetnya
perhari berkisar antara Rp 700 ribu hingga Rp 800 ribu. Menurut dia,
saat ini durian lokal di beberapa desa mulai sulit dicari, karena banyak
penjual eceran musiman lain sama seperti dirinya. “Tiga hari kemarin
saja saya tidak jualan karena tidak ada barang. Penjualan sebenarnya
lumayan bagus,” imbuhnya.