Selamat Kepada Calon Kepala Daerah Banyumas

Tampilkan postingan dengan label UKM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UKM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Mei 2018

Pratistha Harsa Makin Ramai Tiap Malam


Pasar Pratistha Harsa yang ada di Pereng, Purwokerto semakin ramai menjelang Bulan Ramadan yang tinggal beberapa hari. Bahkan, Ketua Paguyuban Pusat Kuliner Pratistha Harsa, Teguh Raharjo juga mengakui keramaian sudah terasa sejak sebulan menjelang Ramadan. Terutama saat malam hari. Karenanya, dia berharap sebagai bentuk penunjang memberikan kenyamanan pengunjung, pihak pengelola termasuk Dinperindag menginginkan adanya hiburan di lokasi. Pihak Paguyuban, sebutnya, merasa terkendala untuk sponsor kegiatan. 

ANTRE : Masyarakat saat berbelanja di pusat kuliner Pasar Pratistha Harsa. Jelang Ramadan, Pasar ini menjajakan beragam menu saat buka puasa. 

 “Meskipun ada simpanan kas dari pedagang, tetapi tetap tidak mencukupi. Kalau diperhatikan, 80 persen pengunjung yang beli di sini pasti dibawa pulang, karena memang tidak ada tujuan lain,” tuturnya. Jika ada kegiatan seperti lomba mewarnai, menggambar, atau lomba lainnya, diharapkan dapat merubah image pusat kuliner Pratistha Harsa yang hanya melayani pembeli mulai sore hari. Padahal sejak pagi sudah ada pedagang yang siap. “Saya heran, di sini pusat kota dekat dengan pusat pemerintahan daerah, banyak toko dan kantor tapi kalau pagi sampai siang pasti sepi,” ujarnya. 

Di samping itu, Teguh pun mengharapkan ada pembenahan tatanan parkir. Sebab selama ini permasalahan yang muncul juga berupa tempat parkir yang ada di depan Gedung Pusat Kuliner Pratistha Harsa. Menurutnya, untuk parkir motor bisa masuk di sisi utara gedung agar tidak mengganggu lalu lintas jalan di depan gedung dan parkir mobil bisa lebih leluasa. Dikatakan dia, meski pengeloaan parkir dilakukan oleh karang taruna setempat, tetapi pihaknya ingin ada bantuan dari pemerintah daerah untuk menyediakan tempat parkir yang nyaman. 

Sementara itu, beragam kegiatan yang telah dilakukan menjelang ramadan kemarin diantaranya bersama karang taruna melakukan kerja bakti dan mengecat tembok gedung kuliner Pratistha Harsa. Yang belum dilakukan, kata dia, adalah adanya pembenahan di beberapa sudut. Namun, hingga saat ini belum ada pejanjian baru, antara paguyuban dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Kabupaten Banyumas. “Masih banyak kebutuhan yang diinginkan pauguyuban, tapi kami cukup tahu diri karena di sini hanya sebagai penyewa,” katanya

Sumber: Radarbanyumas.co.id

Kamis, 19 April 2018

Limbah Kemasan Dibikin Tas Keren Pemkab Diminta Pasarkan Produk


Penumpukan sampah belakangan ini menjadi pemicu Retno, perajin di Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Adipati Mersi untuk mengurangi limbahnya. Salah satu yang dilakukan dengan membuat kerajinan dari sampah minuman kemasan yang diambil gelang tutupnya.

Retno saat diwawancari Radar Banyumas mengatakan, banyak limbah minuman kemasan di sekitar yang tidak terkelola dengan baik. Saat ini, ia berasama anggota KSM Adipati Mersi lainnya yang tergabung dalam Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), berinisiatif membuat kerajinan seperti tas, tempat minuman gelas, tempat tisu, tatakan piring, tempat buah, keranjang pakaian kotor, dan sebagainya.

“Kami ngumpulin limbah minuman kemasan dari pemulung dan di sekitar rumah,” katanya.
Proses pengerjaannya yang memakan waktu tidak sampai seminggu ini, untuk tas rata-rata membutuhkan minuman kemasan sebanyak lima ratus gelang tutup minuman kemasan, untuk ukuran besar. Sedangkan ukuran kecil mencapai dua ratus gelang tutup minuman kemasan.
Dengan kreasi ini, ia mengaku dapat mendatangkan keuntungan untuk aggota PKK di KSM Adipati Mersi, Purwoketo Timur.

“Sudah terjual sampai Kalimantan, Jakarta, dan sekitar dalam kota,” kata Retno. Ia mengaharapkan ada bantuan dari pemerintah daerah agar dapat turut serta memasarkan produk-produk dari KSM Adipati Mersi. Sebab menurutnya, jika dapat dijadikan souvenir dan mulai tersebar penjualannya, bisa jadi masukan untuk pmerintah daerah. Seementara itu perajin minuman kemasan lainnya, Wati mengaku terlatih membuat kerajinan dari gelang tutup minuman kemasan setelah belajar selama dua jam.

Menurutnya, limbah yang dibuang bisa dimanfaatkan menjadi kerajinan yang lebih bermanfaat. “Sampah plastik jadi dapat dikelola lebih baik dan tidak menumpuk,” ujarnya. Di samping itu, para perajin pun mengajari anak-anak dan remaja sekitar untuk membuat kerajinan dari limbah plastik. (ely)
Sumber: radarbanyumas

Kamis, 08 Maret 2018

Sulam Ngapak Jadi Ikon Baru Kerajinan Banyumas

image
TIGA perempuan Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, tetap fokus dan konsentrasi menyulam kain, meskipun di gerai UMKM Purwokerto banyak pengunjung berseliweran melihat aneka produk makanan dan minuman olahan serta kerajinan, Selasa (6/3).
Ketiga perempuan itu mendemonstrasikan serta mengenalkan kerajinan sulam ngapak kepada masyarakat. Sulam ngapak merupakan produk kerajinan baru yang dibuat dengan ciri khas seperti batik dan memiliki pakem. "Ini merupakan kerajinan tangan yang memerlukan keterampilan dari berbagai macam jenis sulam dijadikan satu," kata mentor kerajinan tangan sulam ngapak, Cocos Trisada.
Sulam ngapak dengan jenis kerajinan sulam biasa berbeda jauh. Sulam biasa hanya memanfaatkan satu jenis sulaman saja, seperti benang sulam. Sedangkan sulam ngapak menggunakan lima jenis sulaman, meliputi sulam payet, benang, bahan perca, puta dan sulaman jepang. Lima jenis sulaman ini diaplikasikan menjadi satu. Ini menjadi pakem sulam ngapak.
Bahan dasar kain untuk sulam adalah karung yang diperuntukkan khusus kerajinan. "Itu yang membedakan, jadi ada aturan dalam mengkreasikan sulam ngapak ini. Contohnya sulaman daun yang berdekatan harus ada tiga jenis sulam dan tidak boleh sama, seperti harus ada sulam payet, sulam benang dan pita," katanya.
Cocos mengemukakan, kerajinan tangan ini menjual keunikan sebuah produk. Aplikasinya banyak, selain untuk tas, lukisan, baju, kebayak atau gamis muslim, juga dapat dikreasikan untuk box tisu, sepatu dan aksesoris bros. Adapun motif sulam ngapak ini diantaranya, motif bunga, binatang, abstrak serta kaligrafi. Motif ini akan terus berkembang dengan menggunakan ide-ide liar yang lebih menarik dan unik.
Sulam ngapak merupakan produk baru ditekuni oleh masyarakat di Desa Karangtengah, Desa Tipar Kecamatan Rawalo dan Desa Karangnangka Kecamatan Kedungbanteng sejak empat bulan lalu. Sampai saat ini sudah ada 232 warga yang menekuni. Kebanyakan dari mereka adalah ibu rumah tangga. Bahkan, saat ini banyak desa yang meminta kegiatan pelatihan membuat sulam ngapak. "Ini produk baru tapi responsnya positif.
Banyak ibu rumah tangga yang ingin dilatih membuat sulam ngapak," kata Cocos yang juga menjadi ketua DPC Gerakan Kewirausahaan Nasional Banyumas. Selain itu, peluang pasar prospektif. Selama dijual melalui media online, permintaannya datang dari luar daerah, seperti Sulawesi bahkan dari luar negeri seperti Prancis, Belgia dan Amerika. "Konsumen tersebut menilai kerajinan ini unik. Mereka juga penasaran nama sulam ngapak," katanya.
Harga kerajinan tangan ini bervariasi, seperti kerajinan tas dibandrol mulai Rp 250 ribu per pieces, box tisu Rp 100 ribu, sarung bantal Rp 125 ribu dan lukisan berkisar Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta. Mahalnya harga disesuaikan dari tingkat kesulitan dan keunikan kerajinan sulam ngapak. Saat ini produksi per bulan masih belum optimal karena masih tahap awal atau baru sekitar 100 item produk. Padahal daya serap penjualannya tinggi dan kerap kewalahan ketika mendapat order dari konsumen.
Pemberdayaan Masyarakat
Untuk mengoptimalkan produksi, kini Cocos sering memberikan pelatihan kepada masyarakat yang ada di desa-desa wilayah Banyumas. Hal ini juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi kalangan perempuan. "Di samping itu, harapannya sulam ngapak ini menjadi icon produk terbaru di Banyumas selain batik," katanya.
Warga Desa Karangtengah, Ira (37), mengaku pelatihan menyulam memberikan pengalaman untuk dapat menggali potensi dalam mengekspresikan diri melalui kerajinan sulam ngapak. Di samping itu, apabila pekerjaan ini ditekuni dengan baik maka akan menghasilkan pendapatan. "Saya ibu rumah tangga. Saat ini masih belajar, tapi tidak menutup kemungkinan nantinya pekerjaan ini akan mendatangkan penghasilan," katanya.
sumber Suara Merdeka

Jumat, 02 Februari 2018

Produksi Mireng Terkendala Bahan Baku dan Cuaca

Ketergantungan terhadap bahan baku serta intensitas hujan yang cukup tinggi saat ini masih menjadi kendala besar bagi keberlangsungan usaha rumah tangga mireng, karag, dan kerupuk soto di wilayah Desa Kedungwringin, Kecamatan Jatilawang. Karena itulah, para perajin berharap ada upaya pencarian solusi terkait hal tersebut ke depan oleh pihak-pihak terkait dari pemerintah hingga akademisi.
Perangkat Desa Kedungwringin, H Mahfudz, mengatakan, saat ini kedua kendala tersebut memang belum bisa diatasi maksimal oleh para perajin. ’’Kedua kendala tersebut merupakan faktor alam dan ketersediaan bahan baku. Makanya ke depan perlu penyikapan dan strategi untuk mengefektifkan produksi.
Apalagi saat ini sebagian besar produksi makanan olahan ini masih menggunakan tangan dan mengandalkan matahari,’’ tegasnya. Mahfudz mengatakan, pihak pemerintah desa terus mendukung keberlangsungan para perajin makanan olahan dari tepung tapioka ini. Apalagi keberadaan mereka menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
Penggerak Ekonomi
’’Makanya, kami terus mendorong seluruh perajin mireng, karag, kerupuk soto, dan sebagainya untuk bisa mempunyai izin pangan industri rumah tangga (PIRT). Hal ini penting agar produk UMKM tersebut terjamin kualitas dan punya posisi tawar tinggi di pasaran,’’ jelasnya. Perajin tepung tapioka asal desa setempat, Sidik Kasnudi, mengatakan, saat ini pasokan singkong sebagai bahan baku tepung berasal dari wilayah Cilongok hingga Purwokerto.
Akibatnya, ketika pasokan tersendat, produksi tepung pun terganggu. ’’Padahal, kalau saya sendiri setiap hari membutuhkan sekitar delapan ton bahan baku singkong. Dari satu kuintal bahan baku biasanya akan menjadi tepung sekitar 30 prosen. Faktor cuaca juga sangat penting bagi kami untuk menjemur limbah tepung ataupun tepungnya,’’ jelasnya.
Sebagaimana para perajin tepung lain di desa setempat, Kasnudi juga memanfaatkan mesin buatan sendiri untuk mengolah tepung tapioka. Untuk pasaran tepung tapioka diperuntukkan bagi para perajin mireng, karag, dan sebagainya.
Sumber Suara Merdeka

Rabu, 09 Agustus 2017

Produk UMKM Banyumas Mulai Hiasi Swalayan



Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Banyumas mulai bangkit untuk mempromosikan produknya. Hal itu dibuktikan dengan adanya letter of intent atau ketertarikan kemitraan antara pelaku UMKM dengan pihak toko swalayan di Purwokerto. Salah satu pelaku UMKM di Banyumas, Waryoko mengatakan, pihaknya telah melakukan kesepakatan dengan toko swalayan. Dan kemitraan ini merupakan bentuk dari dukungan pemerintah daerah dalam mengembangkan pelaku UMKM melalui akses pasar. “Produk yang dipasang di toko swalayan ada makanan dan minuman olahan, kerajinan juga ada,” katanya. 

Dengan adanya kemitraan seperti ini, menurut Waryoko dapat menjadi motivasi para pelaku UMKM agar meningkatkan standar kualitas produk. Tidak hanya itu, berlaku juga dengan memperbaiki pengemasan agar produk makanan dapat bertahan lama, serta lebih higienis. Pelaku UMKM lainnya, Halimah menuturkan, tertarik mengikuti kemitraan dengan toko swalayan. Pihaknya pun sudah melakukan perbaikan produksi makanan olahan yang menjadi usahanya. “Saya sudah mencantumkan legalitas produk,karena itu menjadi slaah satu syarat agar produk UMKM bisa masuk toko swalayan,” tuturnya. Sementara itu, toko swalayan yang sudah melakukan ketertarikan kemitraan dengan pelaku UMKM yaitu Moro. 

Adapun produk-produk UMKM dipajang pada rak khusus. Sehingga pembeli dapat lebih mengenal produk makanan dan minuman olahan dari pelaku UMKM di Banyumas. Asisten Penjualan Supermarket dan Makanan Moro Purwokerto, Siti Mariah Nurhidayah mengatakan, produk UMKM yang ada di Moro sudah ada sejak Juli tahun ini. Saat ini baru ada lima puluh produk UMKM makanan dan minuman olahan. “Produk yang bisa masuk sini harus memenuhi beberapa persayaratan meliputi sudah memiliki daftar ijin usaha, serta info dari produk tersebut seperti komposisi dan tanggal kadaluarsa,” terang Siti. 

Menurut Siti, masyrakat juga mulai banyak yang tertarik dengan produk UMKM. Hal tersebut terlihat dari lancarnya pemesanan produk yang dilakukan setiap minggu. Selain makanan dan minuman olahan, juga ada produk kerajinan. “Produk UMKM di sini masih dari wilayah Banyumas, belum menyebar dari Purbalingga atau Cilacap,” kata Siti. Asisten Manager Supermarket Moro Purwokerto, Muji Prohatno menambahkan, ada beberapa produk yang ditolak dan harus melakukan evaluasi. Sebab, ada yang belum memiliki ijin usaha, serta belum melengkapi kemasannya dengan info dari produk yang dijual.

Sumber:  Radarbanyumas.co.id

Selasa, 25 Juli 2017

Promosi Gerai UMKM Perlu Berkelanjutan

 Letak gerai UMKM Pasar Pratistha Harsa Blok A Purwokerto strategis, karena berada di pusat kota. Namun, lokasi strategis tak menjamin nilai transaksi penjualan produk kerajinan dan makanan olahan khas Banyumas meningkat.
Untuk itulah perlu ada campur tangan Pemerintah Kabupaten Banyumas untuk terus mempromosikan keberadaan gerai UMKM serta mengajak masyarakat untuk bangga menggunakan produk UMKM Banyumas.
”Para PNS di lingkungan Banyumas seharusnya membeli produk-produk kerajinan maupun makanan olahan di gerai UMKM, sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku UMKM,” kata Wakil Ketua II Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Banyumas, Is Heru Permana, kemarin.
Menurut dia, dukungan PNS tersebut juga untuk merangsang masyarakat Banyumas dan sekitarnya membeli produk buatan UMKM Banyumas, karena sampai saat ini gerai UMKM Banyumas sepi pembeli. ”Sekarang siapa lagi yang mempromosikan produk UMKM Banyumas kalau bukan kita sendiri dan masyarakat Banyumas?” katanya.
Setelah masyarakat bangga dengan menggunakan produk Banyumas, kata dia, akan memberi dampak positif terhadap pasar. Pasar akan merespons positif, bahwa produk UMKM Banyumas bagus. ”Nantinya akan tersebar informasi positif dari mulut ke mulut, sehingga dapat mengangkat produk UMKM Banyumas,” katanya.
Selain itu, sambung dia, sebagai pemilik bangunan pemerintah daerah perlu mengadakan promosi secara berkelanjutan dengan menggandeng dinas terkait dan pemerintah kecamatan. Bentuk kegiatan untuk sarana promosi cukup beragam, salah satunya dengan berbagai pertunjukan seni maupun hiburan, sehingga masyarakat berkunjung ke lokasi tersebut.
”Memang selama ini sudah ada kegiatan di halaman gerai UMKM, namun perlu dioptimalkan lagi,” kata Heru. Tak hanya peran pemerintah daerah, pelaku UMKM diharapkan terus meningkatkan kualitas produk yang dipajang di gerai UMKM. Hal ini untuk memberikan kepuasan kepada konsumen.
Supervisor Gerai UMKM Pasar Pratistha Harsa Blok A Purwokerto, Miko (33) mengaku gerai UMKM Banyumas perlu dipromosikan berkelanjutan supaya semakin dikenal masyarakat, sehingga dapat berimplikasi terhadap meningkatnya transaksi penjualan kerajinan, makanan dan minuman olahan. Pelaku UMKM Banyumas, Daryanto mengatakan, tidak sedikit pelaku usaha yang menarik produk yang dipajang pada gerai UMKM karena perputaran transaksi lambat.
Oleh karena itu, ia berharap perlu ada terobosan supaya gerai UMKM semakin banyak dikunjungi konsumen. Dengan demikian, hal ini akan memberi motivasi bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas dan volume produksi.
sumber suara merdeka

Senin, 17 Juli 2017

Seharusya Gerai Pratista Harsa Bersinergi dengan PLUTKUMKM Provinsi Jawa Tengah

Gerai UMKM Belum Siap Online

Rencana pemasaran online produk-produk UMKM Banyumas di gerai UMKM Pasar Pratistha Harsa belum terwujud. Padahal, persiapannya telah dilakukan sejak tahun lalu.
Pengelola Penjualan Produk UMKM Pratista Harsa, Wartini kepada wartawan, mengatakan, realisasi pemanfaatkan media internet sebagai sarana pemasaran produk akan dilakukan pada awal tahun ini. Apalagi, pengelola telah menyiapkan sumber daya manusia mengelola pemasaran online.
“Namun sampai sekarang belum berjalan, karena belum ada website untuk transaksi jual beli online,” katanya. Ia menambahkan, pemanfaatan pemasaran online untuk meningkatkan omzet penjualan, karena selama ini omzet penjualan secara konvensional belum optimal.
Hal ini yang menyebabkan, para pelaku usaha enggan menitipkan atau menambah varian produk yang dipajang pada gerai UMKM. “Banyak pelaku UMKM yang yang menarik produknya, terutama produk makanan dan minuman olahan karena ada masa kedaluarsa,” ujarnya.
Sekretaris PHRI Kabupaten Banyumas, Is Heru Permana mengemukakan, pemerintah daerah perlu mengadakan promosi dengan menggandeng dinas terkait dan perangkat kecamatan, diantaranya mengenalkan kepada masyarakat tentang keberadaan gerai UMKM, maupun pertunjukan seni dan hiburan.
“Perlu ada pemantik untuk menarik masyarakat berkunjung ke gerai UMKM Banyumas,” katanya. Selain itu, masyarakat Banyumas perlu mendukung program pemerintah daerah dengan bangga mengonsumsi produkproduk buatan pelaku UMKM Banyumas. “Peran masyarakat dapat memotivasi pelaku usaha,” katanya. 

Pelaku Usaha Muda Manfaatkan Pemasaran Online

Pelaku usaha muda di wilayah eks Karesidenan Banyumas, kini lebih banyak yang memanfaatkan media internet sebagai pemasaran online daripada pemasaran secara konvensional. Konsultan Bidang Teknologi Informasi pada PLUTKUMKM Provinsi Jawa Tengah, Niken Setia Larasari, mengatakan, para pelaku usaha muda lebih melek teknologi.
Mereka memanfaatkan kemudahan teknologi untuk memperluas jangkauan pemasaran produknya. ”Pelaku usaha muda di sini sudah banyak yang melakukan pemasaran online. Bahkan, bagi mereka yang tidak memiliki produk pun dapat berjualan di situs jual beli online,” ujarnya, kemarin.
Produk-produk yang dijual pun beragam, mulai dari kuliner, aksesoris, spare part kendaraan, pakaian, permainan edukatif dan masih banyak lainnya. Produk-produk tersebut dipajang akun media sosial, situs jual beli onlinemaupun website pribadi. ”Banyak sekali jenis produk yang dijual di media online,” katanya.
PLUT KUMKM Provinsi Jawa Tengah, kata dia, rutin memfasilitasi para pelaku usaha dengana membuka pelatihan marketing onlinemelalui kelas swadaya. Program kelas swadaya tidak dipungut biaya dan dilakukan secara mandiri. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang masih perlu dievaluasi, diantaranya penampilan produk yang dipajang dan pengemasan produk.
Dua hal ini menjadi penting menarik minat pembeli. ”Pemasaran online tidak hanya asal memajang produk, tapi juga harus diperhatikan tampilan dan kemasan produk.
Ini yang terus kami dorong supaya omzet penjualannya meningkat,” katanya. Pemilik Your Clothes Distro Clothing Cilongok, Angga Saputra mengatakan, pihaknya dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi untuk menawarkan produk fesyen yang dijual kepada konsumen.
”Konsumen bisa memesan produk melalui media sosial maupun langsung datang ke toko. Untuk pengiriman bisa langsung diantar ke rumah, tapi apabila alamat jauh bisa menggunakan jasa kurir,” ujar dia. Humas Komunitas Bisnis Online Banyumas, Basuki, mengemukakan, kelebihan bertansaksi online tidak memerlukan biaya promosi dan tidak memerlukan sewa tempat berjualan.
”Perkembangan teknologi komunikasi sangat mendukung perkembangan UMKM. Mereka tidak lagi mengandalkan transaksi secara konvensional, melainkan transaksi online,” katanya. 
sumber suara merdeka


Jumat, 14 Juli 2017

Produksi Batik Papringan Meningkat

Kelompok Usaha Bersama (KUB) Batik Pringmas Desa Papringan, Kecamatan Banyumas, meningkatkan hasil produksi batik tulis untuk dipasarkan pada pameran produk di luar kota.
Wakil Ketua KUB Batik Prapringan, Iin Susiningsih, mengatakan, sekarang kelompok sedang fokus pada peningkatan produksi batik tulis biasa, batik cap, dan batik warna alam.
Pameran produk ini difasilitasi oleh Bank Indonesia Purwokerto. ”Sekarang kami sedang mempersiapkan kain batik yang akan dibawa pada pameran produk dalam waktu dekat ini,” katanya, kemarin. Kerajinan kain batik yang disiapkan, sambung dia, jumlahnya sekitar 500 lembar. Jumlah ini lebih banyak daripada persediaan pameran tahun lalu.
”Pada tahun lalu, pameran yang digelar Bank Indonesia selama dua hari laku 200 lembar, jadi sekarang persediaannya ditambah untuk mengantisipasi lonjakan permintaan,” tuturnya. Kain batik tulis yang banyak diproduksi adalah motif Banyumasan seperti wijaya kusuma, pring sedapur, sidamukti, sidaluhur dan babon angrem.
”Tapi kami juga tetap membawa batik kombinasi yang harganya terjangkau,” kata Iin. Adapun harga yang ditawarkan untuk batik tulis biasa mulai dari Rp 350 ribu per lembar, sedangkan batik tulis warna alam mulai Rp 700 ribu per lembar, menyusul batik kombinasi dan batik cap harganya Rp 115 ribu per lembar.
Lebih lanjut Iin mengatakan, selain rajin mengikuti berbagai pameran produk tingkat regional dan nasional, kelompok agresif menawarkan kepada instansi serta memasarkan produk secara online. ”Kami terus melakukan penertrasi pasar supaya omzet penjualan batik Papringan meningkat,” katanya.
sumber suara merdeka

Rabu, 05 Juli 2017

Beberapa Usulan Saya Sebenarnya Bisa Mengatasi Kelesuan Pratista Harsa

Transaksi Di Gerai UMKM Pratista Harsa Tetap Sepi Meski Libur Lebaran



Selama libur Lebaran 1438 H, tidak mempengaruhi transaksi di Gerai Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Pratista Harsa. Seperti hari-hari biasa, pengunjung yang datang ke Gerai UMKM Pratista Harsa tetap sepi. Kasir Gerai UMKM Pratista Harsa, Rini mengatakan, saat hari H hingga H+2 Lebaran, gerai UMKM Pratista Harsa tutup dan kembali buka pada H+3. Meskipun masih dalam rangkaian libur Lebaran, tetapi tidak ada perlonjakan kunjungan dibanding dengan hari biasa. “Bahkan wisatawan atau pendatang dari luar Banyumas juga tidak terlihat mampir gerai,” ujarnya. Untuk kunjungan per hari selama libur Lebaran, juga dapat dihitung dengan jari. Beberapa pengunjung tersebut juga tidak selalu membeli produk UMKM yang ada. Sementara, untuk proses penjualan secara online yang pernah dijalankan pada awal tahun ini, sudah berhenti. Sebab pihak gerai UMKM Pratista Harsa kekurangan SDM yang menguasai IT. “Kapasitas internet di sini juga masih kurang, jaringannya jadi lelet,” ujar Rini. Pengelola gerai UMKM Pratista Harsa, Wartini mengatakan, sebelum Lebaran pihaknya sudah memberi kesempatan pada pelaku UMKM di Banyumas untuk menyediakan produk-produk unggulannya. Namun tidak banyak pelaku UMKM yang menyediakan produknya, terutama pada produk makanan dan minuman olahan. “Kami juga tidak memaksa pada pelaku UMKM makanan dan minuman olahan agar menyediakan produknya lebih banyak, karena ada batas tanggal kadaluarsa, jadi kami tidak ingin membuat mereka rugi kalau tidak laku terjual,” jelasnya. Sepinya pengunjung, menurut Wartini selain dikarenakan stok produk yang semakin berkurang, tidak seperti tiga tahun yang lalu, juga karena saat ini gerai UMKM Pratista Harsa sedang mengalami masa transisi. Setelah Lebaran tahun ini, pengelolaan Gerai UMKM Pratista Harsa akan dialihkan ke Dewan Kerajinan Nasional Daerah (DEKRANASDA) Kabupaten Banyumas. Dia menjelaskan, sebelumnya pengelolaan Gerai UMKM Pratista Harsa dilakukan oleh Bidang Usaha Kecil Menengah (UKM) Dinas Tenaga Kerja, Koperasi (Dinnakerkop) dan UKM Kabupaten Banyumas. Sehingga sementara ini beberapa produk UMKM dikembalikan pada pemiliknya. “Nanti akan dibenahi lagi sistem manajemennya, dan kami terbuka pada para pelaku UMKM di Banyumas untuk dititipkan jual di Gerai UMKM Pratista Harsa,” tandas Wartini. 

Sumber: http://radarbanyumas.co.id/transaksi-di-gerai-umkm-pratista-harsa-tetap-sepi-meski-libur-lebaran/
Copyright © Radarbanyumas.co.id


Ini pernah saya bahas dalam tulisan berjudul Plus Minus Pembangunan di Kabupaten Banyumas 
https://sitoneizer2.wordpress.com/2016/08/03/plus-minus-pembangunan-di-kabupaten-banyumas/
Pusat Kuliner Pratista Harsa
Pratista Harsa adalah salah satu proyek besar Pemerintah kabupaten Banyumas  yang bertujuan untuk mengatasi persoalan pedagang kaki lima di kawasan alun alun Purwokerto. Masalah PKL adalah hal biasa yang dialami di semua daerah dan kota. Adapun yang dilakukang oleh Pemkab Banyumas adalah dengan cara menempatkan mereka di satu tempat , agar tidak lagi menimbulkan kemacetan di jalan terutama di area alun alun Purwokerto.
Namun perlu  dipahami bahwa tujuan PKL berjualan adalah untuk menafkahi keluarga, tentu langkah ini kurang tepat sasaran jika hanya mengatasi masalah di satu sisi tapi menimbulkan persoalan baru. Bagi pedagang yang yang sudah menempati lapak di pratista Harsa baik blok A dan Blok B mereka tak kunjung mendapat penghasilan yang cukup, karena sangat sedikitnya kunjungan masyarakat  untuk makan atau berbelanja di Pratista Harsa, bahkan sejak pertama menempati, akhirnya banyak diantaranya yang gulung tikar, karena rugi dan memilih kembali turun ke jalan. Ini apa yang salah ? Langkah Pemda sudah tepat, tapi alangkah baiknya didudkung oleh kebijakan lain yang bisa mensukseskan program ini, contohlah Pemkab Kebumen, mereka bisa mendukung pusat kuliner dengan cara mengintensifkan jajaran PNS agar sering makan di pusat kuliner ini.
Saran saya, sebaiknya Pemkab Banyumas memulai dari jajaran  PNS dan Karyawan BUMD. Jumlah mereka tentu sangat banyak untuk sekedar diberi kewajiban makan di Pratista Harsa minimal seminggu sekali. Selain itu buatlah konsep baru pratista Harsa agar menjadi tempat santai yang nyaman dan sebagai lokasi penyelenggaraan event –event tertentu secara periodic dan berkesinambungan untuk memberi nilai tambah . Misalnya ada agenda setiap minggunya diadakan acara lomba kentongan ( atau acara lainnya) yang pesertanya merupakan siswa sekolah-sekolah di Purwokerto. Buatlah agensda semacam itu sebagai kegiatan tetap di Pratista Harsa. Agar bisa berjalan seperti rencana mungkin akan lebih baik agar dibuat panitia atau semacam paguyuban yang salah satu tugasnya sebagai event organizer. Saya yakin dengan adanya kegiatan maka gairah di Pratista Harsa akan ikut terangkat dengan kunjungan masyarakat, tentu efeknya adalah jualan mereka akan ikut dilirik dan peluang dibeli oleh penginjung semakin besar.


Senin, 03 Juli 2017

Pusat Oleh-oleh Makanan Khas Diburu Pemudik

Sejumlah gerai pusat oleh-oleh makanan khas di wilayah Kabupaten Banyumas selama libur Lebaran ramai diburu para pemudik dari luar kota maupun wisatawan domestik. Pengamatan di beberapa lokasi, seperti di toko oleh-oleh makanan khas Sawangan No 1 Purwokerto, terlihat ramai pengunjung sejak pagi.
Para pengunjung dari luar kota silih berganti berbelanja makanan khas. Menurut pelayan toko oleholeh makanan khas Sawangan No 1 Purwokerto, Siti Rahayu, gerai pusat oleh-oleh khas yang berada di Jl Jend Sutoyo No 33 Purwokerto itu sudah ramai dikunjungi pembeli sejak H-10 Lebaran.
Sebelum Lebaran, para pembeli kebanyakan konsumen lokal. Kemudian, saat mendekati Lebaran mulai diburu para pemudik. Bahkan, hingga setelah Lebaran angka kunjungan konsumen yang datang untuk memborong aneka makanan khas terus meningkat. ”Kebanyakan yang membeli para pemudik dan warga yang sedang berlibur ke Kota Purwokerto,” kata Rahayu.
Produksi Ditingkatkan
Ramainya pembeli membelanjakan makanan oleh-oleh telah diantisipasi dengan meningkatkan volume produksi. Pada hari normal, produksi tempe mendoan sekitar 500 lembar. ”Saat ini stok tempe ditambah menjadi hingga sepuluh kali lipat, sedangkan untuk produk lain, seperti nopia dan getuk goreng ditambah lima kali lipat dari hari biasa,” tuturnya.
Makanan khas yang paling banyak diminati, sambung dia, di antaranya keripik tempe, mendoan tempe (tempe yang dibungkus dengan daun pisang) dan getuk. Harga keripik kemasan berkisar Rp 14.000- Rp 21.000 per bungkus isi 12, sedangkan tempe paket (paket berisi tempe 10 bungkus, tempung, dan sambal kecap) Rp 39.000 per paket.
Harga nopia ukuran kecil Rp 19.000 per kemasan, sedangkan nopia besar Rp 19.500 per kemasan, sedangkan getuk dijual Rp 35.000 per kilogram. ”Kami menjual getuk goreng varian rasa seperti original, durian, stroberi, nangka, sari kelapa, dan cokelat,” kata Rahayu.
Tak hanya Sawangan No 1, pusat oleh-oleh lain juga tampak ramai dikerubuti konsumen luar kota, seperti kawasan pusat oleholeh di Sokaraja dan Kelurahan Mersi, Purwokerto Timur. Pemilik usaha makanan khas di Purwokerto, Yanti, menambahkan, para pelanggan yang datang di tokonya merupakan warga dari luar kota.
Mereka singgah di Purwokerto untuk membeli oleholeh makanan khas Banyumas. Pada libur Lebaran, para pengelola toko tentu telah memprediksi adanya peningkatan permintaan. Tak heran, pihaknya telah meningkatkan produksinya untuk menghadapi peningkatan permintaan. 
sumber suara Merdeka

Cyber UMKM Dikenalkan Jawab Persoalan UMKM

Dinas Koperasi dan UMKM Jateng mengenalkan cyber UMKM kepada para pelaku UMKM Banyumas. Pengenalan sistem informasi pengelolaan dan pengembangan UMKM berbasis digital tersebut untuk menjawab persoalan-persoalan yang selama ini membelit para pelaku UMKM.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jateng, Ema Rachmawati, mengatakan, cyber UMKM yang telah diluncurkan sejak Maret untuk memfasilitasi pelaku UMKM, mulai dari bahan baku, produksi, hingga pasar. ”Semua tertampung dalam cyber UMKM. Konsepnya agar UMKM naik kelas,” katanya saat peluncuran Aplikasi Saberina di PLUT KUMKM Jawa Tengah di Purwokerto, belum lama ini.
Dia menambahkan, di cyber UMKM juga dilengkapi dengan form pendaftaran yang dikoneksikan dengan dara e-KTP. Pendaftaran ini selain untuk mendata seluruh pelaku UMKM di Jawa Tengah, keuntungan lain dapat mengurangi double data.
”Setelah mendaftar malalui form yang disediakan dalam website cyber UMKM, pelaku usaha akan mendapatkan email dan kata sandi. Form pendaftaran ini juga lengkap hingga omzet per tahun lengkap dengan foto produk,” kata dia.
Pelaku usaha yang telah mendaftar akan masuk dalam kategori sebagai UMKM Reguler. Mereka memiliki hak untuk mendapat pelatihan dan keterampilan. Jenjang berikutnya masuk pada UMKM Juragan, di mana pelaku usaha akan mendapat fasilitasi pelatihan halal dan merek dagang.
Setelah itu, tahap selanjutnya adalah UMKM Jawara. Pada kategori ini, pelaku UMKM akan dikoneksikan dengan perbankan untuk akses kredit produktif. Keduanya dapat berkomunikasi secara langsung untuk tawarmenawar produk perbankan. ”Saat ini kami baru mengembangkan melalui website, namun ke depan akan dikembangkan lewat aplikasi android,” katanya.
Pendampingan Digital
Ema Rachmawati mengatakan, pihaknya juga akan melakukan pendampingan digital bagi para pelaku usaha. Pendampingan ini meliputi pemasaran, pengemasan, produksi, pengolahan bahan baku, dan teknologi. ”Pendampingan ini untuk menjawab berbagai permasalahan UMKM,” ujarnya.
Tak hanya itu, upaya lain yang kini digagas, yaitu Dinas Koperasi dan UMKM Jateng akan menjalin kerja sama dengan blogger dan vlogger untuk ikut memasarkan produk-produk UMKM Jateng. ”Kami juga bekerja sama dengan Bank Indonesia untuk memasukkan sistem akuntasi usaha mikro, serta kantor pos untuk ikut melakukan pendampingan terhadap UMKM,” kata dia.
Ia mengatakan, program lain yang selama ini sedang dijalankan untuk mewujudkan UMKM naik kelas adalah pelatihan yang disediakan di Balakop dan PLUTKUMKM Jateng untuk UMKM se-Jawa Tengah. Konsultan Pendamping PLUTKUMKM Jateng, Kuswoyo, mengatakan, kerja sama ini memberikan dampak positif karena dapat bersinergi antara program PLUT KUMKM dengan Bappedalitbang Banyumas. 
sumber suara Merdeka

Senin, 26 Juni 2017

Sentra Mireng dan krupuk Desa Kedungwringin Jatilawang Banyumas

Menikmati sroto atau soto memang akan lebih nikmat jika dilengkapi krupuk atau mireng. Berbicara tentang mireng dan krupuk ini di Desa Kedungwringin Kecamatan Jatilawang memiliki sentra UMKM yang memproduksi mireng dan krupuk.
Lokasinya dari pertigaan alun alun Jatilawang ke selatan , sebelum embung situ bemban ada pertigaan ke barat melewati  sekolah TK (Diponegoro) .
Sudah seharusnya sentra makanan khas ini yang merupakan simbol dari ekonomi kerakyatan mendapat perhatian serius dari Pemda Kabupaten Banyumas dari segi pendanaan, promosi dan pemasaran tentu akan bisa turut mengangkat kesejahteraan rakyat disamping melestarikan makanan khas Banyumas . Bisa Juga dengan pendampingan instansi terkait untuk membantu mengeksplorasi dan memperkenalkan aneka olahan baru sehingga harga atau nilai jualnya semakin tinggi .
foto0784.jpg
foto0778-1.jpgfoto0775.jpgfoto0782.jpgfoto0783.jpgfoto0777.jpg

foto0780.jpgfoto0783.jpgfoto0777.jpgfoto0781.jpg

Kamis, 22 Juni 2017

Akuntansi Pedagang Tradisional

PADA bulan Ramadan kita sering menjumpai bermunculannya pedagang-pedagang dadakan atau baru. Mereka pada umumnya merupakan pedagang kecil, kebanyakan pedagang makanan ringan, yaitu pedagang bermodal kecil yang ingin mendapatkan keuntungan hanya pada bulan baik bagi umat Islam.
Pedagang ini akan berbelanja bahan baku setelah mendapat pesanan dari tetangga atau rekan kerjanya. ”Pedagang tersebut hanya merupakan sebagian dari pedagang kecil yang ada suatu pasar.
Karena di pasar-pasar tradisional kebanyakan pedagangnya merupakan pedagang kecil,” kata Sully Kemala Octisari (25), akuntan yang kini aktif meneliti model pembukuan pedagang musiman. Melihat munculnya pedagang musiman itu, Sully mengajukan pertanyaan, apakah mereka berdagang sesuai proses akutansi.
Kemudian apa keuntungannya jika mereka berdagang secara akutansi. Atas pertanyaan itu, dia menjawab sendiri. ”Wajib. Pedagang kecil itu harus membuat catatan pembukuan untuk kepentingannya sendiri,”ujarnya, belum lama ini. Menurut Sully akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan pelaporan transaksi keuangan suatu organisasi atau pedagang.
Pencatatan dengan cara tertentu yang sistematis, serta penafsiran terhadap hasilnya. ”Objek kegiatan akuntansi adalah transaksi-transaksi keuangan,” katanya. Jika pedagang kecil sudah menerapkan atau menggunakan proses akutansi, pasti mereka punya laporan keuangan yang tertulis dalam sebuah buku khusus untuk mencatat segala sesuatu yang berkaitan dengan keluar masuknya uang.
Berdasarkan dari pengamatan dan diskusi dengan beberapa pedagang di pasar tradisional di sekitar Purwokerto. ”Hampir 90% pedagang sayur dan bumbu dapur jarang melakukan pencatatan keluar masuknya uang atau barang, mereka hanya melakukan pencatatan terutama nama orang yang punya hutang kepadanya dan jumlah hutangnya,”jelasnya.
Akan tetapi pedagang yang mempunyai kios tetap di pasar seperti pedagang baju, pedagang barang kelontong, pedagang buah sebagian besar sudah melakukan pencatatan. Terutama jumlah barang, harga barang, jumlah uang yang keluar, jumlah uang yang masuk, jumlah uang piutang, dan jumlah uang yang dihutang orang.
Alasan pedagang sayur tidak melakukan pencatatan adalah repot karena begitu dagangan digelar kemudian banyak yang beli, mereka harus melayani dengan cepat dan tidak ada waktu untuk mencatat. Mereka menyatakan masih ingat jumlah uang yang dibelanjakan dan harga barang atau sayur dan selama ini mereka merasa aman-aman saja.
Berbeda dengan pedagang yang sudah mempunyai kios, mereka melakukan pencatatan adalah memudahkan mereka melakukan pengecekan barang yang terjual dan yang belum terjual. Barang yang bisa dikembalikan ke distributor, jumlah uang yang sudah dibayarkan, jumlah piutang, jumlah uang yang masuk dan seterusnya.
Tujuan pencatatan agar mudah pengembangan dagangannya dan tidak akan tercampur dengan uang keluarga. ”Uang jelas keberadaannya dan mudah dalam pengecekan atau pelacakan jika ada uang yang hilang,”tuturnya. Pedagang kecil, walaupun mereka tidak paham arti ataupun keuntungan sistem akutansi,.
Namun berdasarkan kebutuhan proses berdagang mereka secara tidak sengaja sudah melakukan proses akutansi secara sederhana dan sesuai dengan kreasi mereka. Bagi pedagang yang sudah melakukan pencatatan mereka paham manfaatnya. Bagi pedagang yang belum melakukan pencatatan barang dan uang, perlu adanya sosialisasi untuk melakukan pencatatan.
Poses akutansi sederhana perlu dikenalkan kepada pedagang. ”Hal ini untuk membantu pedagang dalam proses berdagangnya, yaitu dengan semakin jelas berapa modal awal, pengeluaran, dan pendapatan harian serta berapa keuntungan yang diperoleh setiap hari,”kata Sully.
sumber suara merdeka

Rabu, 31 Mei 2017

Pesanan Beduk Desa Keniten, Kecamatan Kedungbanteng Naik hingga 70 Persen

BEDUK PESANAN: Pekerja membuat bedug pesanan di Desa Keniten, Kedungbanteng, Banyumas, Senin (29/5)

MENDUNG menggelayut di langit Desa Keniten, Kecamatan Kedungbanteng, siang itu. Munatik terlihat tergesa-gesa menyelesaikan pengecatan kayu yang digunakan untuk pegangan beduk sebelum hujan tiba.
Dengan sigap ia langsung menutup kayu-kayu yang berjajar di pinggir jalan itu menggunakan terpal. Proses pembuatan beduk tradisional siang itu sedikit terhambat karena hujan turun lebih awal. Di desa yang berada di sebelah selatan Gunung Slamet itu terdapat beberapa perajin beduk tradisional.
Secara turun temurun, sejak puluhan tahun lalu sebagian masyarakat memproduksi beduk yang biasa digunakan di masjid. Momentum Ramadan ini, jumlah pesanan beduk meningkat dibandingkan pada hari-hari biasa. Seperti yang diungkapkan salah seorang perajin beduk, Toufik Amin. Sejak sebulan sebelum Ramadan, pesanan mulai berdatangan.
Harga Variatif
”Alhamadulillah sejak menjelang Ramadan kemarin pesanan pembuatan beduk naik hingga 70 persen. Sampai sekarang saya sudah menerima pesanan sekitar 100 buah. Beduk yang dalam proses pengerjaan ini semaunya adalah pesanan,” kata dia. Menurut dia pesanan beduk karyanya datang dari berbagai wilayah di Pulau Jawa.
Mulai dari Yogyakarta, Kebumen, Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Brebes hingga Jakarta. Beberapa tahun lalu, dia juga mengerjakan pesanan dari Sumatera. Dia mengatakan pembuatan satu buah beduk ukuran kecil membutuhkan waktu antara tiga sampai satu minggu.
Untuk ukuran terkecil dengan diameter 40 cm hanya membutuhkan waktu tiga hari, sedangkan ukuran lebih dari satu meter membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan. Untuk harganya, lanjut dia, juga variatif bergantung ukuran yang diinginkan.
Harga yang ditawarkan mulai dari ukuran terkecil sebesar Rp 2,5 juta sampai yang terbesar hingga puluhan juta. Model beduk juga menentukan harganya, semakin sulit akan semakin mahal. ”Kemarin saya habis mengerjakan beduk dengan ukuran 1,5 meter, harganya Rp 40 juta.
Pembuatan beduk dengan ukuran sebesar itu memerlukan waktu hampir tiga bulan, kalau yang kecil paling dalam hitungan hari selesai,” ujar dia. Dia menjelaskan, tabung beduk hasil kreasinya terbuat dari bahan potongan kayu trembesi yang dirangkai menjadi bentuk silinder.
Sedangkan untuk bahan kulitnya dia memilih menggunakan kulit sapi karena lebih lebar dan tebal. Salah seorang pekerja yang membuat beduk, Munatik, mengatakan kayu trembesi dipilih karena relatif mudah didapat. Selain kemudahan dalam memperoleh bahan baku, penggunaan trembesi juga dipi
sumber suara merdeka

Senin, 29 Mei 2017

Pusat Kuliner Ramadhan Karang Taruna DesaTinggarjaya



Langkah Karang Taruna Desa Tinggarjaya Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas ini patut diapresiasi dan ditiru oleh organisasi kepemudaan daerah lain. Karena bukan hanya teori semata tapi langsung mempraktekan di lapangan kegiatan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Salah satunya adalah Pusat Kuliner Ramadhan yang saat ini digelar di depan SPBU Tinggarjaya atau sebelah timur pasar tengok. Karena Pusat kuliner seperti ini adalah salah satu cara mengakomodasi dan memasarkan produk umkm lokal dan pada akhirnya ikut serta meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Pusat Kuliner Ramadhan Desa Tinggarjaya ini menyajikan berbagai menu buka puasa dan mulai buka dari sore hari. Bukan hanya UKM lokal saja yang ikut berpartisipasi mengisi stand yang ada tetapi juga salah satu komunitas yaitu Bandafo ikut meramaikan acara ini. Yang lebih menarik lagi pengunjung juga dihibur band dari panitia dan diberi kupon berhadiah yang rencana akan diundi di akhir bulan Ramadhan.
Mari kita ramaikan pasar Ramadhan Desa Tinggarjaya karena kita juga secara tidak langsung ikut berpartisipasi meningkatkan taraf hidup masyarakat dan menumbuhkan  UMKM  .

Produk Makanan dan Minuman Olahan Menyusut

Produk makanan dan minuman olahan yang dipajang di gerai UMKM Pasar Pratistha Harsa Blok A Purwokerto terus berkurang akibat sepinya pengunjung.
Menurut Supervisor Gerai UMKM Pasar Pratistha Harsa Blok APurwokerto, Miko (33), jumlah pelaku usaha yang menitipkan produknya di gerai UMKM menyusut. Dari sebelumnya tercatat 50 UMKM, sekarang berkurang menjadi 29 UMKM.
Rendahnya minat pelaku usaha menitipkan karena perputaran transaksi lambat, padahal produk yang dititipkan batas kedaluarsanya tidak panjang. ”Sebagian pelaku UMKM menarik dan tidak mengisi produk baru di gerai UMKM saat produknya habis,” katanya, kemarin.
Ia menambahkan, saat ini produk olahan yang paling laku dibeli konsumen adalah sirup jahe, sedangkan produk makanan olahan lainnya kurang begitu laku. ”Dibutuhkan promosi berkelanjutan agar gerai UMKM banyak dikunjungi masyarakat,” katanya.
Produk Kerajinan
Meskipun produk makanan dan minuman berkurang, produk kerajinan masih cukup lengkap. Bahkan, koleksi produk kerajinan bertambah, seperti kerajinan tas keranjang, kain perca dan kerajinan tutup galon. Selain itu, sambung dia, sejumlah produk kerajinan lain yang dipajang di rak selalu diperbarui oleh pemilik produk.
”Di sini produk kerajinan yang dipajang banyak yang baru, seperti produk aksesori pakaian adat Banyumas dan sandal dan sepatu Banaran,” tuturnya. Pemilik usaha kerajinan tempurung Somagede, Kartam, mengatakan, pelaku usaha yang belum lama menggeluti bidang usahanya masih butuh fasilitas akses pasar.
Oleh karena itu, keberadaan gerai UMKM cukup membantu mengenalkan produk kepada masyarakat, meskipun tidak setiap hari produk yang dipajang laku terjual. ”Saya mencoba terus memperbarui produk kerajinan yang dipajang di gerai. Soal laku tidaknya urusan nanti. Yang penting produk yang saya buat bisa dikenalkan ke masyarakat,” ujarnya.
sumber suara merdeka

Rabu, 10 Mei 2017

Promosi Perlu Dioptimalkan UMKM Pasar Harsa Blok A

Promosi gerai UMKM Pasar Pratistha Harsa Blok A Purwokerto perlu dioptimalkan, supaya dapat dikenal masyarakat Banyumas dan sekitarnya.
Sekretaris PHRI Banyumas, Is Heru Permana, mengatakan, pemerintah kabupaten perlu mempromosikan gerai tersebut dengan melibatkan dinas terkait maupun pemerintah kecamatan. ’’Sebagai pemilik bangunan, pemerintah kabupaten harus menggerakkan agar gerai UMKM Banyumas ramai dikunjungi masyarakat,’’katanya, kemarin.
Dia menambahkan, bila pemerintah kabupaten hingga pemerintah kecamatan secara berkelanjutan mengenalkan serta mengajak masyarakat untuk berbelanja produk-produk UMKM khas Banyumas di gerai itu, maka dapat meningkatkan aktivitas jual-beli.
Selain itu, perlu rutin menggelar acara hiburan menarik seperti pentas seni maupun kegiatan lain yang mampu menciptakan keramaian di lokasi tersebut. ’’Pemerintah harus menciptakan keramaian, supaya lokasi tersebut menjadi tempat rekreasi dan pusat belanja oleh-oleh makanan, minuman, dan kerajinan khas Banyumas,’’katanya.
Masyarakat Banyumas, sambung dia, juga harus mendukung program pemerintah kabupaten dengan membeli produk- produk di gerai tersebut, sehingga mampu menumbuhkan motivasi para pelaku UMKM. ’’Pemerintah daerah sudah mengeluarkan banyak biaya, untuk membangun gedung guna memfasilitasi pemasaran UMKM. Jadi, masyarakat harus sengkuyung dan bangga membeli produk-produk khas Banyumas,’’katanya.
Supervisor Gerai UMKM Pasar Pratistha Harsa Blok A Purwokerto, Miko (33), mengaku gerai UMKM Banyumas perlu dipromosikan berkelanjutan supaya makin dikenal masyarakat, sehingga dapat berimplikasi terhadap peningkatan transaksi penjualan kerajinan, makanan, dan minuman olahan. ’’Sebagian konsumen yang datang ke sini mengaku baru kali pertama membeli produk di sini.
Jadi, kami perlu promosi supaya lebih dikenal luas,’’ujar dia. Dia mengatakan, transaksi di gerai itu setiap akhir pekan mencapai sepuluh hingga dua puluh transaksi. Para pembeli produk-produk makanan, minuman olahan, dan kerajinan merupakan konsumen dari wilayah Banyumas Raya dan sebagian dari luar daerah.
’’Kebanyakan konsumen yang datang membeli produkproduk kerajinan, seperti batik, pakaian adat dan suvenir, sedangkan untuk produk makanan dan minuman olahan sedikit,’’ katanya. 

PKL Jenderal Soedirman : Kita Mengalir Saja
Dipindah sebelum Puasa

Pedagang Kaki Lima (PKL) Jenderal Soedirman (Jendsoed), tidak keberatan jika ditempatkan di Pasar Pratista Harsa, sebelum puasa. Ketua Paguyuban PKL Jenderal Soedirman Dede Yayat, mengatakan pihaknya akan mengikuti keputusan pemerintah mengenai penempatan mereka. ”Kita mengalir saja, kita akan ikuti saja (keputusan pemerintah),” jelasnya, Selasa (9/5).
Rencana Kirab
Kendati siap, sejauh ini ia mengaku belum tahu pasti teknis penempatannya nanti akan seperti apa. Termasuk, lanjutnya terkait dengan rencana kirab sebagai sarana sosialisasi penempatan pedagang di Pasar Pratista Harsa. ”Barang dagangan kami macam- macam, ada pakaian, ada kerudung, ada sabuk,” tutur pedagang pakaian itu. Ia menilai, lokasi Pasar Pratista Harsa yang akan mejadi lokasi baru mereka untuk berjualan, terbilang layak.
Oleh sebab itu, ia berharap setelah pindah di lokasi baru penjualan akan semakin laku. ”Kita mohon dibantu promosi, agar saat berjualan di tempat baru lebih laris,” harapnya. Sebelumnya, Pengerjaan tempat untuk menampung PKL di Pasar Pratista Harsa ditargetkan selesai pada Rabu (17/5) mendatang.
Kepala Bidang Pasar dan PKL Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Banyumas Rojingun mengatakan, pembangunan los untuk menempatkan PKL Jenderal Soedirman di Pasar Pratista Harsa memang sedang dikebut. Hal itu, kata dia agar los dapat segera ditempati PKL Jenderal Soedirman. ”Dari pertemuan terakhir dengan PKL, diputuskan akan pindah sebelum puasa. Jadi pengerjaan fisik diharapkan selesai tanggal 17 Mei ini,” ujarnya.
Penempatan pedagang yang dilakukan sebelum puasa, menurutnya dilakukan atas berbagai pertimbangan. ”Kalau saat Lebaran, kondisi jalanan akan crowded di skeitar lokasi Jalan Jenderal Soedirman, sehingga dengan dipindah sebelum puasa, harapannya lalu lintas lebih lancar,” kata dia.
sumber suara merdeka

Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...