Selamat Kepada Calon Kepala Daerah Banyumas

Jumat, 28 Oktober 2016

Pedagang Terapkan Manajemen Ritel

Quote suaramerdeka.com :
Para pedagang kecil atau pemilik warung binaan Alfamart di Banyumas mulai menerapkan manajemen ritel. Bahkan, mereka mampu memberikan pelayanan untuk kepuasan pelanggan.
Menurut Member Relations Manager Alfamart, Saryadi, banyak kemajuan para pdagang mitra binaannya, di antaranya mereka sudah mampu menata produk agar menarik minat konsumen dan mengelola barang dengan cara first in, first out (pertama masuk, pertama keluar).
”Pelayanan para pedagang kecil mengelola tokonya sudah lebih baik, bahkan mereka makin produktif,” ujar dia. Pembinaan kepada para pedagang kecil yang dilakukan Alfamart, sambung dia, untuk mengubah pola pikir dari cara warung tradisional ke warung modern. ”Ini bentuk perbaikan layanan warung. Para pembeli juga mengambil barang sendiri yang dibeli,” katanya.
Didorong Maju
Meskipun demikian, terdapat satu hal yang terus didorong agar mereka mampu mengelola usahanya dengan baik, yaitu cara melakukan administrasi cash flow, agar mereka bisa memisahkan antara uang untuk usaha dan uang pribadi.
”Kami berupaya mengedukasi supaya mereka mampu menyusun administrasi transaksi usahanya,” ujar Saryadi. Government Relation Sernior Manager PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, Faturrahman, mengatakan, Alfamart rutin menggelar sharing ilmu pengetahuan tentang manajemen ritel agar pedagang kecil mampu bersaing.
”Kami memiliki teoretis yang dapat diterapkan oleh para pedagang kecil. Kami ingin mereka maju juga, apalagi sekarang sedang menghadapi persaingan yang makin kompetitif,” katanya. Lebih lanjut dia mengatakan, melalui pembinaan manajemen ritel, Alfamart menjalin kemitraan dengan para pedagang tersebut. Mitra ini diharapkan terus bertambah.
”Seharusnya kantor cabang menjalankan pelatihan manajemen ritel setiap bulan, sehingga jumlah mitra akan terus berkembang,” katanya. Dia menyebutkan, sampai saat ini mitra di Banyumas jumlahnya mencapai 834 pelaku usaha.
Keuntungan menjadi mitra antara lain dapat langsung order barang dagangan ketika persediaan habis dengan harga khusus bagi member pedagang. ”Pada saat barang habis, mereka cukup pesan melalui pesan singkat dan telepon ke Alfamart. Ini sangat memudahkan mitra mendapat pasokan barang,” katanya.
Berita sebelumnya ....

Pedagang Kecil Dilatih Manajemen Ritel


Puluhan pedagang kecil di Purwokerto mengikuti pelatihan manajemen ritel yang digelar Alfamart, di Pendapa Wakil Bupati Banyumas, Kamis (27/10). Materi yang disampaikan dalam pelatihan ritel modern antara lain tentang manajemen penataan barang, pengaturan persediaan barang, manajemen keuangan, serta tips menangani tren pasar terkait produk yang sedang diminati.
Government Relation Sernior Manager PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, Faturrahman, mengatakan, pelatihan ini bentuk komitmen Alfamart semenjak ada persepsi bahwa kehadiran toko modern mematikan pedagang kecil.
”Kami menepis dengan program Alfamart Smes. Program ini khusus memberikan pendidikan kepada pelaku UMKM dan IKM. Kami bukan pesaing, tapi menjadikan mereka mitra. Kami ingin sesama mitra untuk maju bersama membangun perekonomian bangsa,” katanya.
Jadikan Harga Stabil
Selain itu, kemitraan yang dibangun Alfamart ini untuk menjadikan harga jual di tingkat pedagang kecil stabil. Antara satu pedagang dan pedagang lain menjual produk dengan harga serupa. ”Dulu antara warung satu dan lain yang jaraknya 200 meter saja harganya sudah berbeda.
Nah kemitraan ini untuk menjaga keseimbangan,” katanya. Branch Manager Alfamart Cilacap, Andy Prastijono, menambahkan, pelatihan yang melibatkan para pelaku UMKM digelar secara rutin setiap bulan secara bergantian di wilayah yang memiliki jaringan toko Alfamart.
Tujuannya, kata dia, mengajak para pelaku UMKM khususnya yang memiliki bisnis ritel, untuk memahami manajemen ritel modern. Ritel tradisional dan ritel modern sudah saatnya tumbuh berdampingan. ”Keduanya harus bersinergi,” tegasnya. Dia mengatakan, bentuk sinergi yang dilakukan Alfamart dengan peritel tradisional melalui program Outlet Binaan Alfamart (OBA).
Program tersebut dijalankan dalam dua bentuk. Pertama, memberi pelatihan menajemen ritel. Kedua, menyediakan layanan pesan antar barang dagangan dengan harga khusus bagi member pedagang OBA. ”Kami juga melakukan bedah warung bagi member terpilih,” katanya.
Hal ini sejalan dengan visi perusahaan, yaitu menjadikan jaringan distribusi ritel yang berorientasi pada pemberdayaan pedagang kecil. Pedagang ritel tradisional perlu dibekali dengan ilmu pengetahuan ritel modern, agar memiliki daya saing. Kepala Dinperindagkop Banyumas Yuniyanto mengatakan, para pelaku UMKM diminta untuk mendaftarkan legalitas usahanya ke Dinperindagkop. Hal ini untuk memudahkan pendataan jumlah usaha di Banyumas.
”Dinperindagkop memiliki salah satu fungsi yaitu melakukan pembinaan kepada UMKM. Jadi, ketika usahanya terdaftar, dapat memudahkan pelaku untuk mendapat pembinaan,” katanya. 

Kamis, 27 Oktober 2016

Perbankan Dukung Banyumas Smart City




Quote suaramerdeka.com :


Upaya Bank Indonesia Purwokerto meningkatkan jumlah transaksi nontunai, mendapat respons positif dari perbankan Banyumas.
Sejumlah perbankan mulai berinovasi memberikan layanan untuk mendukung inklusivitas keuangan masyarakat dan terciptanya less cash society di Kabupaten Banyumas.
Pemimpin Cabang BNI Purwokerto, Himawan Herrachmadi, mengatakan, dalam rangka mendukung Banyumas Smart City dan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) melalui pembayaran secara cashless, BNI Cabang Purwokerto bekerja sama dengan PDAM Tirta Satria Banyumas dengan menggelar undian. ”Undian ini diperuntukkan bagi masyarakat yang membayar tagihan PDAM Banyumas melalui ATM BNI,” katanya.
Jangan Dibuang
Struk pembayaran dari ATM jangan dibuang, tetapi diisi biodata, seperti nama, nomor KTP, nomor rekening, dan nomor telepon, di balik kertas struk pembayaran kemudian dimasukkan ke kotak undian di BNI maupun PDAM. ”Struk pembayaran itu akan diundi untuk meraih doorprize TVLED, lemari es, dan masih banyak hadiah lain,” kata Himawan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan, bulan Oktober sampai Desember 2016 akan dijadikan momentum untuk menuju smart economy-smart city dengan meluncurkan beberapa program elektronik di Banyumas yang dikemas dalam Festival Transaksi Nontunai (Sinona).
”Kegiatan ini sebuah upaya Bank Indonesia Purwokerto dalam meningkatkan transaksi nontunai, menjadikan transaksi lebih cepat dan efisien, serta mewujudkan inklusivitas keuangan masyarakat dan terciptanya less cash society di Banyumas,” katanya. 

BRI Siapkan Pasar Teras Digital

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Cabang Purwokerto menyiapkan pasar teras digital di Pasar Manis Purwokerto. Penyiapan ini untuk mendukung gerakan transaksi nontunai di Banyumas. Pemimpin Cabang BRI Purwokerto Edison Tampubolon menyatakan, siap mendukung transaksi nontunai dengan cara mengedukasi para pedagang serta menyediakan mesin Electronic Data Capture (EDC).
”Kami siap mendukung, bahkan di belakang sudah dilaporkan untuk menjadi pasar teras digital. Di sana sudah siap wifi dan prasarana online,” katanya kepada wartawan saat peresmian smart traditional market di Pasar Manis, Rabu (26/10).
Dia menambahkan, pasar teras digital untuk memfasilitasi para pedagang dalam pemasaran online. Di pasar itu, nama pedagang, jenis produk, dan harga akan terakses di internet. ”Nanti akan masuk ke e-Pasar BRI, di situ terdapat Pasar Manis, jadi semua informasi harga dan produk ada di situ,” ujarnya.
Perlu Perubahan
Proses transaksi di pasar tradisional, kata dia, perlu ada perubahan. Dulu transaksi di pasar tradisional dengan cara tukar barang (barter), kemudian berkembang dengan alat transaksi uang. ”Nah, ke depan transaksi tidak lagi menggunakan uang, tapi nontunai.
Mau tidak mau perkembangan ini harus dilihat dan perlu antisipasi ke depan dengan melibatkan pemerintah daerah. Ini merupakan gerakan visioner,” kata Edison. Dia optimistis, ketika perbankan mendukung program gerakan nontunai di pasar tradisional, maka di level kabupaten, Banyumas dapat menjadi pioner dalam menerapkan transaksi nontunai.
”Kami juga menekankan kepada para pedagang untuk menawarkan harga barang dengan harga pasar tradisional, tapi kualitas barang seperti pasar modern. Ketika harga lebih menarik dengan kualitas yang sama, maka orang akan berbelanja di pasar tradisional,” katanya. 

Pedagang Mulai Gunakan Transaksi Nontunai


Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto menginisiasi implementasi smart tradisional market di Pasar Manis Purwokerto, Rabu (26/10). Program ini sebagai salah satu upaya meningkatkan jumlah transaksi nontunai di masyarakat, terutama lingkungan pasar tradisional untuk menuju smart economy-smart city.
Untuk langkah awal terdapat dua puluh pedagang yang mengimplementasikan transaksi nontunai sejak Sabtu pekan lalu. Sebelumnya, para pedagang itu dilatih dan didampingi cara menggunakan mesin electronic data capture (EDC).
Pedagang sayuran Pasar Manis Purwokerto, Arsitin (52) mengatakan, pada hari pertama, jumlah transaksi nontunai sedikit, yaitu melayani lima transaksi nontunai. Namun, selama empat hari terakhir transaksinya terus meningkat. “Hari ini sampai pukul 10.00 sudah ada 43 transaksi nontunai.
Saya juga terus mempromosikan program ini kepada para pembeli,” katanya, kemarin. Dia mengaku transaksi dari konvensional ke transaksi nontunai membutuhkan waktu agar pedagang maupun pembeli terbiasa melakukan transaksi nontunai.
“Manfaat transaksi nontunai ini lebih praktis. Saya tidak perlu lagi menukar uang kecil untuk pengembalian setiap pembelian menggunakan uang besar,” ujar dia. Pedagang jamu trandisional di Pasar Manis, Tutiningsih (55) menambahi, proses transaksi menggunakan kartu dari BRI praktis. Sebelumnya transaksi menggunakan nontunai sedikit, tapi sekarang sudah bertambah banyak. “Saya juga terus mengampanyekan kepada para pembeli dan pelanggan.
Kalau mereka masih mengandalkan uang tunai, nanti malah mesin EDC-nya jadi tidak terpakai,” katanya. Pemimpin Cabang BRI Purwokerto Edison Tampubolon mengatakan, dalam mendukung transaksi nontunai di Pasar Manis, BRI Cabang Purwokerto telah melatih 20 pedagang serta menyediakan mesin EDC.
“Proses transaksi di pasar tradisional ini perlu ada perubahan. Dulu transaksi dengan barter, kemudian dengan uang. Nahke depan, transaksi tidak lagi menggunakan uang tapi nontunai. Untuk itu, para pedagang perlu diedukasi untuk dapat melakukan transaksi nontunai,” terangnya. Dia optimistis ketika perbankan mendukung program gerakan nontunai di pasar tradisional, maka di level kabupaten, Banyumas dapat menjadi pioneer dalam menerapkan transaksi nontunai.
Kualitas Barang
“Kami juga menekankan kepada para pedagang untuk menawarkan harga barang dengan harga pasar tradisional, tapi kualitas barang seperti pasar modern. Ketika harga lebih menarik dengan kualitas yang sama, maka orang akan berbelanja di pasar tradisional,” katanya menjelaskan. Lebih lanjut dia mengatakan, keuntungan dalam bertransaksi nontunai bagi pedagang adalah kecepatan dan ketepatan, serta terhindar dari peredaran uang palsu.
“Pembeli tidak perlu lagi membawa uang tunai dalam jumlah banyak yang disimpan dalam dompet, tapi cukup membawa kartu saja,” ujar dia. Keuntungan bagi perbankan, sambung dia, menekan biaya distribusi uang tunai, serta mengurangi jumlah uang lusuh dan rusak.
“Dengan demikian, daya saing kita bisa menjadi lebih baik,” ujar dia. Kabid Pasar dan PKL Dinperindagkop Banyumas, Amrin Ma’ruf berharap tidak hanya satu bank yang andil, namun bank lainnya mendukung layanan transaksi nontunai karena masyarakat yang berbelanja di pasar itu merupakan nasabah dari beberapa bank.
“Apalagi, transaksi nontunai di Pasar Manis mendapat respons positif dari masyarakat, meskipun pedagang yang menyediakan mesin EDC masih menerima transaksi tunai dengan pembeli,” katanya. Dikatakan, evaluasi dari pengelola pasar mendukung transaksi nontunai, antara lain berkaitan dengan sosialisasi kepada para pedagang maupun pengunjung pasar. Sosialisasi ini untuk mengenalkan bahwa di Pasar Manis menyediakan fasilitas transaksi layanan nontunai.
“Masyarakat dapat menggunakan kartu debit dan kredit serta emoney. Penggunaan kartu ini biasanya digunakan oleh masyarakat menengah ke atas, namun ke depan masyarakat menengah ke bawah pada saatnya nanti akan menggunakan kartu ini untuk transaksi nontunai,” katanya. Kedua, pengelola pasar minta para pedagang untuk menambah jam operasional serta menambah barang dagangannya.
Biasanya, para pedagang yang hanya berjualan hingga pukul 13.00-14.00 akan disarankan untuk sampai sore hari. “Kami akan edukasi lagi agar para pedagang lebih lama lagi tidak seperti sewaktu berjualan di pasar lama. Apalagi, para pegawai biasanya baru sempat berbelanja pada sore hari,” ujar dia.

Menjadi Pintu Awal


TRANSAKSI nontunai yang diimplementasikan oleh puluhan pedagang Pasar Manis Purwokerto, diharapkan dapat terus dikembangkan. Sebab, transaksi nontunai akan menjadi pintu awal menuju perdagangan online di pasar tradisional tersebut.
Untuk itu, Bank Indonesia Purwokerto bersama perbankan mendorong gerakan transaksi nontunai salah satunya dengan smart payment, yang merupakan komponen menuju smart city. “Perbankan di Banyumas akan mendukung di segala lini supaya diberlakukan smart payment. Smart payment ini pada dasarnya transaksi online,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Ramdan Denny Prakoso.
Menurut dia, melalui smart payment, para pedagang diberikan akses untuk menerima pembayaran nontunai disetiap transaksi dengan pembeli. Saat ini, baru dua puluh pedagang yang menyediakan mesin EDC, sehingga perlu diperluas lagi. “Ini baru langkah awal. Setelah ini pedagang lain harus melihat apa benefitnya menggunakan transaksi nontunai dan perbankan siap memfasilitasi.
Oleh sebab itu, target ke depan ada semacam kerja sama antara paguyuban dengan perbankan untuk memberikan pelatihan penggunaan transaksi nontunai,” katanya. Denny mengatakan, apabila para pedagang Pasar Manis yang jumlahnya sekitar seratus orang memanfaatkan transaksi nontunai, kedepan dapat membuka semacam toko online.
Manfaatnya, transaksi perdagangan akan lebih cepat dan efisien, serta omzet pedagang Pasar Manis akan meningkat dengan transaksi online. “Kalau dasarnya sudah siap dan para pedagang sudah menerapkan transaksi nontunai, maka akan mudah menuju transaksi online, sehingga Pasar Manis dapat bersaing dengan luar,” katanya. 

RAPBD 2017 Diutamakan untuk Infrastruktur

Quote suaramerdeka.com :
 Rancangan APBD 2017 Pemkab Banyumas, diutamakan untuk kegiatan pembangunan infrastruktur. Hal ini sekaligus untuk mendukung tahun pemantapan pembangunan.
Wakil Bupati Banyumas, Budhi Setiawan saat menyampaikan Raperda RAPBD 2017 di DPRD, Senin (24/10) lalu, mengatakan, pada tahun pemantapan pembangunan itu, ada beberapa fokus. Yakni peningkatan pembangunan yang berkeadilan, peningkatan penataan ruang wilayah dan pembangunan kawasan strategis, serta mewujudkan keadilan pembangunan bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Anggaran 2017 nanti akan lebih dialokasikan pada program dan kegiatan peningkatan infrastruktur pendidikan, kesehatan, sarana dan prasarana serta program-program lain yang bersentuhan langsung dengan masyarakat,” jelasnya. Pada APBD 2017, lanjut dia, penerimaan daerah atas dana alokasi umum naik cukup besar. Proyeksi DAU semula sekitar Rp 1,3 triliun, akan bertambah sekitar Rp 190 miliar, sisa DAU yang tertunda tiga bulan pada masa APBD Perubahan 2016 ini.
Sisa penundaan DAU itu akan ditransfer pada awal tahun 2017 Terkait rincian di RAPBD 2017, kata dia, untuk pendapatan daerah diproyeksikan mencapai Rp 3,202 triliun. Rancangan pendapatan tersebut berasal dari PAD sebesar Rp 518,437 miliar, dana perimbangan sebesar Rp 2,249 triliun, dan lain-lain pendapatan daerah yang sah sebesar Rp 434,336 miliar.
Sedangkan di sektor belanja daerah, lanjut dia, mencapai Rp 3,281 triliun. Jumlah itu dirinci menjadi dua yaitu belanja tidak langsung sebesar Rp 2,028 triliun dan belanja langsung sebesar Rp 1,252 triliun. Pengusulan RAPBD 2017 ini, diakui, memang lebih lama, mengingat penyusunannya didasarkan pada hasil musrenbang baik di tingkat desa, kecamatan, maupun kabupaten, termasuk penyesuaian dan sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah.
“Penyusunannya tetap berpedoman pada KUA-PPAS 2017 yang sudah ditetapkan. Pada intinya, jika 2016 merupakan tahun pembangunan, maka tahun 2017 merupakan tahun pemantapan, yang juga kelanjutan dari pembangunan-pembangunan di Banyumas,” katanya. (G22-45)

Rabu, 26 Oktober 2016

Event Festival Baturraden, Festival Kitiran Bakal Dikembalikan

Quote suaramerdeka.com :
Festival Kitiran dan Lomba Balap Badeg bakal dikembalikan dalam rangkaian Festival Baturraden. Kedua ajang itu pernah menjadi atraksi wisata yang dinikmati pengunjung di kawasan Baturraden.
Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko, menuturkan, dua ajang tersebut terakhir digelar tahun 2008. Lantaran jadwal yang berbarengan dengan tradisi Garebeg Suran, maka acara bergabung dalam Festival Baturraden.
”Dulu Festival Baturraden dan Garebeg Suran adalah dua agenda terpisah. Festival Baturraden digelar Juli dan Garebeg Sura mengikuti tanggalan Jawa,” jelasnya, kemarin. Dia mengatakan, pihaknya akan memfasilitasi usulan untuk menggelar kembali acara tersebut tahun depan. Pasalnya, kegiatan ini berhenti lantaran kekurangan sumber daya panitia.
Baling-baling Bambu
Deskart mengatakan, Festival Kitiran Sawah melombakan kreasi baling-baling bambu berukuran besar, yang biasa dipakai oleh petani di sawah. Alat ini berfungsi untuk mempercepat penyerbukan bibit tanaman. Sementara badeg merupakan minuman tradisional yang diolah dari nira kelapa. Para penderes dan perajin gula diajak tampil, untuk beradu keterampilan dan kecepatan berjalan saat memikul minuman ini.
”Setelah itu, badegnya diminum bersama para pengunjung,” katanya. Pengamat pariwisata dan budaya Unsoed, Chusmeru, mengatakan, selain menyuguhkan tradisi Garebeg Suran yang masih asli, atraksi wisata juga membutuhkan komodifikasi.
Tradisi suran dan festival sebagai bagian dari komoditas pariwisata harus dipisahkan. ”Jangan sampai tradisi sura kehilangan ruh budayanya.
Prosesi wajib justru yang disakralkan, tapi untuk acara pendukung lainnya bisa dimodifikasi,” kata dia. Dia menambahkan, agenda kontemporer perlu diperbanyak di sela-sela ritual sura. Lalu dipromosikan melalui cara yang tepat. Misalnya dengan mengekspos objek dan agenda wisata Banyumas di wilayah luar Jawa Tengah, bahkan luar negeri. 

Daya Tarik Festival Baturraden Berkurang

Salah satu daya tarik Festival Baturraden, yakni Garebeg Sura dinilai semakin berkurang. Pasalnya, partisipasi masyarakat kirab gunungan sangat minim. Ketua Paguyuban Masyarakat Pariwisata Baturraden (PMPB), Supriyono, mengatakan, masyarakat 12 desa hanya ikut ambil bagian pada Lomba Tenong. Mereka tidak menampilkan kelompok kesenian dan kreativitas lainnya.
“Tahun ini hanya dibatasi untuk lomba tenong. Lomba yang terbatas ini mematikan kreativitas masyarakat untuk menyemarakkan Garebeg Sura,” kata dia, di sela perhelatan, Minggu (30/10). Dia mengatakan, sisi sakral yang biasanya tampak pada prosesi arak-arakan hingga garebeg gunungan juga tidak terlihat. Pengawal tidak memakai pakaian adat.
Mereka justru memakai seragam Pramuka. Kirab Garebeg Sura Baturraden tahun ini dimulai dari Terminal Wisata Baturraden menuju ke dalam Lokawisata Baturraden. Ratusan pengunjung berjajar di tepi jalan menyaksikan perhelatan tersebut. Saat proses grebegan, warga yang tidak sabar menyerbu dua buah gunungan hasil bumi. Meski Bupati Achmad Husein belum selesai membuka acara.
Dipisahkan dari Lomba
Sementara itu, pegiat PMPB, Tekad Santoso, mengatakan, seharusnya tradisi Garabek Sura dipisahkan dari unsur perlombaan. Jadi, acara budaya tidak bercampur aduk dengan kegiatan yang bersifat komodifikasi.
“Kalau seperti ini malah menjadi kurang menarik. Seharusnya yang ditonjolkan adalah ciri khas dari tradisi masyarakat di Baturraden, bukan lombanya,” ujarnya. Dia mengatakan, kesederhanaan masyarakat saat bersedekah dan mengucap syukur atas berkah yang melimpah harus diutamakan. Tidak membutuhkan panggung besar untuk kalangan pejabat.
Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko, mengaku akan mempertimbangkan usulan tersebut. Kegiatan tradisi seperti garebeg hasil bumi, wayang ruwatan, dan larung sesaji akan dipisahkan dengan kegiatan lomba. “Kegiatan ini saya evaluasi lagi.
Ke depan perlombaan hanya menjadi rangkaian saja, tidak dimasukkan dalam tradisi Garebeg Sura,” katanya. Dia mengatakan, renovasi lahan parkir dan kios pedagang yang masih berjalan turut memengaruhi hiruk-pikuk acara ini. Seharusnya gelaran bisa digelar di Bukit Bintang yang arenanya lebih luas. 

Kemasan Acara Perlu Diubah Festival Baturraden


 Kemasan Festival Baturraden dinilai perlu diubah. Pasalnya, setiap tahun acara tersebut justru terkesan kurang menarik perhatian pengunjung.
Ketua Paguyuban Kerabat Mataram (Pakem) Banyumas, Yatman S, mengatakan, setiap tahun acara tersebut makin kehilangan nilai sakralnya.
Padahal, potensi budaya masyarakat di Baturraden masih banyak. ”Lantaran dikemas menjadi atraksi wisata, jadi kemasan sakralnya makin menghilang. Ini harus dikembalikan ke tradisi asalnya,” kata dia, kemarin. Menurut Yatman, pengunjung dan masyarakat diberikan penjelasan dari makna tradisi yang merupakan budaya Jawa tersebut.
Jadi, sisi sakralnya tidak dianggap sebagai kemusrikan. Dikatakan Yatman, pada awal mula penyelenggaraan Garebeg Sura masih ada kemasan acara seperti Lomba Balap Badeg, yaitu minuman lokal dari air nira kelapa yang dibawa dengan menggunakan bilah bambu, dan Festival Kitiran Bambu.
Dia menyayangkan kebiasaan masyarakat desa di Baturraden ini justru menghilang dari ajang tersebut. Seharusnya hal ini dimunculkan kembali untuk mengangkat budaya masyarakat. ”Tidak hanya pawai, tapi juga dimunculkan beberapa kegiatan lain yang memang asli dari Baturraden,” katanya.
Rebut Gunungan
Pada Garebeg Suran yang digelar di Lokawisata Baturraden, Minggu (30/10) pagi, masih mempertahankan rangkaian acara yang sama. Di antaranya arak-arakan dimulai dari Terminal Wisata Baturraden menuju ke kompleks situs Baturraden. Dilanjutkan dengan penyembelihan kambing kendhit, larung sesaji, dan rebut gunungan hasil bumi.
Khusus untuk perhelatan tersebut, Pakem menyiapkan 50 pasukan kerajaan yang diisi para pelajar di Banyumas. Tujuannya untuk mengawal prosesi sakral Garebeg Sura. Meski telah dikemas sebagai atraksi wisata, Yatman mengaku ingin mengembalikan nilai tradisi dalam momentum tersebut. Jadi, daya tarik utamanya yakni adat masyarakat Jawa tetap terjaga.
Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata, Deskart Sotyo Jatmiko, mengatakan, Festival Baturraden kali ini masih diisi tradisi larung sesaji dan tebar benih ikan, tumpengan, dan penyembelihan kambing kendhit yang diikuti masyarakat dari 12 desa penyangga Baturraden.
”Setelah prosesi sakral ini, masyarakat dan wisatawan menikmati suguhan wayang ruwat bumi dan pentas wayang semalam suntuk,” ujarnya. Terkait kemasan acara, pihaknya akan mengevaluasi gelaran Festival Baturraden setelah kegiatan usai.

Harus Agenda Kontemporer

FESTIVAL Baturraden sebagai salah satu atraksi wisata andalan Banyumas perlu menambah agenda kontemporer sebagai pendamping acara utama. Meski demikian, tradisi yang diangkat yakni Garebeg Suran tetap perlu dipertahankan. Pengamat pariwisata dan budaya Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Drs Chusmeru MSi, mengatakan, tradisi suran yang sudah berjalan turun-temurun tidak boleh terlalu banyak dikomodifikasi.
Misalnya pelarungan sesaji, pemotongan kambing kendhit, dan gerebeg gunungan. Menurut dia, tradisi suran dan festival sebagai bagian dari komoditas pariwisata harus dipisahkan. Jangan sampai tradisi sura kehilangan ruh budayanya. ”Acara pendukung lain bisa dimodifikasi,” kata dia, kemarin.
Pria berkacamata minus ini mengatakan, bila Pemkab ingin memanfaatkan momentum suran sebagai upaya untuk mendulang pendapatan, maka perlu upaya dan strategi promosi wisata yang baru, inovatif, dan kekinian. Agenda kontemporer perlu diperbanyak di sela-sela ritual sura. Lalu dipromosikan melalui cara yang tepat. Misalnya dengan mengekspos objek dan agenda wisata Banyumas di wilayah luar Jawa Tengah, bahkan luar negeri.
”Tetapi hal ini sulit terwujud, bila anggaran untuk event dan promosinya sangat rendah. Perlu terobosan ‘politik anggaran’, agar Festival Baturraden tidak hanya menjadi investasi sosial budaya, tapi juga memiliki nilai ekonomis.’’ 

Target Agen BRILink BRI Ajibarang Terlampaui

Quote suaramerdeka.com :
 Jumlah layanan BRILink di wilayah kerja Kantor Cabang BRI Ajibarang terus bertambah, bahkan sampai Agustus 2016 target pembukaan agen layanan keuangan tesebut telah terlampaui. Menurut Pimpinan Cabang BRI Ajibarang, Rahadi Kristiyono, sampai dengan Agustus jumlah agen BRILink khusus wilayah kerja cabang Ajibarang mencapai 260 agen.
Angka ini melampaui target yang ditetapkan yaitu 200 agen. ”Jumlah agen ini hanya khusus di Ajibarang. Padahal, di Banyumas ada dua kantor cabang yaitu Cabang Ajibarang dan Purwokerto.
Kalau ditotalkan jumlah agen BRILink bisa mencapai 1.000 agen,” ujarnya, kemarin. BRILink merupakan layanan perbankan dari BRI yang melibatkan agen atau pihak ketiga untuk melakukan layanan perbankan bagi masyarakat. Layanan ini untuk melayani masyarakat tanpa harus datang ke kantor bank.
Layanan BRILink terbuka untuk nasabah BRI ataupun nonnasabah BRI, khususnya masyarakat yang belum memiliki akses layanan perbankan. Mereka dapat melakukan berbagai transaksi, seperti setoran tunai, penarikan dan pinjaman, serta setoran listrik dan pembelian pulsa handphone. Selain memberikan kemudahan layanan perbankan kepada masyarakat, layanan BRILink memberikan peluang usaha bagi warga masyarakat yang hendak membuka layanan tersebut.
Dikelola Perorangan
Sebab, agen BRILink akan mendapat fee untuk setiap transaksi yang dilakukan. ”Layanan ini seperti bank tapi dikelola oleh orang per orang pribadi yang memiliki usaha dan tempat usaha tetap,” kata Rahadi. Dia mengatakan, layanan ini memberikan kemudahan bagi warga masyarakat yang jauh dari unit kerja perbankan. ”Warga yang ingin menabung cukup datang ke agen BRILink.
Agen tersebut juga dapat melayani 24 jam, berbeda kalau datang ke bank waktu pelayanan dibatasi jam kerja, dan Sabtu Minggu tutup. Jadi ini memudahkan warga mengakses layanan keuangan,” katanya. Selain itu, agen juga dapat melayani pembukaan rekening.
Agen dapat mengentri data calon nasabah, kemudian mendapat nomor. Nomor tersebut dibawa ke bank untuk dicetak buku, sehingga tidak terlalu lama. ”Kalau ke bank terlalu lama harus antre lebih dulu,” ujar dia. Rahadi mengatakan, dalam pembukaan agen BRILink, pihaknya tidak melihat target harus terlampaui atau tidak, namun lebih pada kebutuhan masyarakat.
”Seperti kerja sama dengan Pondok Pesantren Miftahul Huda Rawalo, sebenarnya kami tidak sedang mengejar target, tapi kami sedang menyosialisasikan kepada para santri. Kebetulan Bank Indonesia sedang membuat kegiatan menuju smart economy-smart city, jadi kami mendukung kegiatan ini,” ujar dia. 

Selasa, 25 Oktober 2016

Penataan Kawasan Kebondalem



Quote suaramerdeka.com :

Direlokasi, PKL Kebondalem Pasrah


Pedagang Kaki Lima (PKL) di sekitar kompleks Kebondalem Purwokerto mengaku pasrah dengan rencana Pemkab. Mereka siap direlokasi, asalkan tidak terlalu jauh dari lokasi yang sekarang ditempati. ”Kalau bisa tek nyang (ditawar), pasti ngenyang (menawar). Tapi mau bagaimana lagi, kalau harus pindah, saya akan mengikuti saja,” kata salah satu pedagang kripik singkong yang menggunakan gerobak di depan Toserba Matahari, Toni.
Dia mengungkapkan di kalangan pedagang informasi rencana relokasi tersebut masih simpang siur. Sebagian beranggapan relokasi itu hanya diperuntukan bagi PKL yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Wira Niaga, sebagian lain mendapat informasi seluruh PKL akan direlokasi. ”Ada yang bilang katanya hanya pedagang yang di sana (PKL Wiraniaga), sini tidak, ada yang bilang katanya semua.
Ya sudah terserah, saya pasrah saja,” ujar pedagang yang berjualan sejak 1993 ini. Dia mengaku khawatir setelah berpindah ke lokasi baru, akan ditinggalkan pembeli. Menurutnya pedagang akan gulung tikar jika di lokasi baru sepi pembeli. ”Contoh di Pereng (Pasar Kuliner Pratista Harsa), sekarang sepi pembeli. Kami harap kondisi itu tak terjadi di sini.
Naluri pedagang pasti akan berpindah ke lokasi yang lebih ramai, kalau di tempat yang baru sepi pembeli,” ujar dia. Hal senada disampaikan PKL yang berjualan di lorong kompleks pertokoan Kebondalem, Heri. Dia hanya berharap kepada Pemkab, agar memilih tempat relokasi yang ramai pembeli.
Ratusan Pedagang
Sebelumnya, Kabid Pasar dan PKL Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Dinperindagkop) Banyumas, Amrin Ma’ruf, mengatakan seluruh PKL yang tergabung dalam Paguyuban Wira Niaga akan ditempatkan di Pasar Sari Mulyo. Sementara PKL yang tidak tergabung dalam paguyuban akan ditempatkan di depan pasar dan lahan kosong di Jalan Moch Safe’i.
”Tahap awal kami sosialisasikan kepada perwakilan pedagang, termasuk pedagang Pasar Sari Mulyo, sebagian sudah disosialisasikan. Pedagang akan kami tata supaya bersama-sama di situ. Pasar tersebut dapat menampung ratusan pedagang,” kata dia.

Berdasarkan pendataan yang dilakukan, tercatat sebanyak 140 PKL. Sebanyak 80 pedagang tergabung dalam paguyuban, sementara sisanya tidak tergabung. Penataan itu dilakukan untuk menghidupkan kawasan ekonomi pertama di Purwokerto ini. 

Berita sebelumnya...

PKL Menolak Direlokasi


Anggota Paguyuban Pedagang Kaki Lima (PKL) Wira Niaga Kebondalem, Purwokerto keberatan direlokasi ke Pasar Sari Mulyo.


Hal itu menyusul rencana penataan kawasan Kebondalem menjadi salah satu kawasan ekonomi.



Salah satu anggota Paguyuban PKL Wira Niaga, Mustangin mengatakan, berdasarkan hasil pertemuan dengan Pemkab, mereka akan ditempatkan di Pasar Mulyo untuk sementara waktu. Setelah penataan rampung, mereka akan kembali ke lokasi semula.



Menurutnya, berdasarkan hasil komunikasi dengan anggota paguyuban, mereka keberatan direlokasi ke tempat tersebut. Namun, karena sudah menjadi program Pemkab, mereka akan tetap mengikuti, asalkan nantinya dikembalikan ke tempat semula.



“Yang dikhawatirkan terlalu lama di Pasar Sari Mulyo, setelah itu kami tidak bisa kembali ke sini lagi. Kami tidak tahu kapan (lokasi eks PKL) akan dibangun, nantinya justru malah para pedagang berpindah ke lokasi lain seperti trotoar,” katanya, kemarin.



Selain itu, mereka juga khawatir apabila direlokasi ke Pasar Sari Mulyo akan mematikan usahanya. Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang lalu, kata dia, relokasi PKLtidak berhasil karena sepi pembeli.



Dia mengusulkan, lokasi yang sekarang ditempati ditata ulang menjadi pusat PKL di Purwokerto. “Secara umum tidak masalah kalau akan ditata, kami ingin penataan yang rapi, karena kondisi sekarang sudah tidak rapi,” ujar dia.



Kabid Pasar dan PKL Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Dinperindagkop) Banyumas, Amrin Ma’ruf mengatakan, rencana penataan itu merupakan tindaklanjut pelaksanakaan putusan Mahkamah Agung (MA) 2011 atas objek sengketa pengelolaan kompleks pertokoan Kebondalem.



“Ini berakitan dengan pelaksanaan putusan MA, sekaligus menata ulang kawasan ekonomi pertama di Purwokerto ini agar bisa pulih kembali. Saya diberi tugas dari tim kabupaten untuk menata PKL, yang sangat memungkinkan mengubah pasar Sari Mulyo menjadi selter PKL,” jelas dia.



Terkait dengan rencana pengembangan kawasan yang akan dikosongkan tersebut, dia belum dapat memastikannya. Menurutnya rencana pengembangan itu masih dalam tahap pembahasan anatara tim dari Pemkab dan pengembang.



Menurut rencana seluruh PKL yang tergabung dalam Paguyuban Wira Niaga akan ditempatkan di Pasar Sari Mulyo. Sementara PKLyang tidak tergabung dalam paguyuban akan ditempatkan di depan pasar dan lahan kosong di Jalan Moch Safe’i.



“Tahap awal kami sosialisasikan kepada perawakilan pedagang, termasuk pedagang Pasar Sari Mulyo, sebagian sudah disosialisasikan. Pedagang akan kami tata supaya bersamasama di situ. Pasar itu dapat menampung ratusan pedagang,” ujar dia. Sebelum direlokasi ke pasar, pihaknya akan terlebih dahulu merenovbasi bangunan.



Tahun ini seluruh pedagang di pasar akan dipindah ke bedeng sementara di belakang area pasar. Kemudian tahun depan akan dimulai renovasi. “Akhir tahun ini bangunan pasar akan dikosongkan, atap akan dinaikkan.



Kemudian tahun depan akan dibuat kios-kios untuk pedagang. Target kami pertengahan 2017 nanti sudah dapat digunakan. Sedangkan untuk pedagang non paguyuban akan kami buatkan tenda,” kata dia.



Ciptakan Daya tarik


RENCANA penataan PKL di sekitar kawasan Kebondalem Purwokerto harus diikuti inovasi dan kreativitas. Pemkab dituntut menciptakan daya tarik selter PKL agar memancing masyarakat datang ke lokasi tersebut.

Pengamat Tata Kota Sunardi, menilai lokasi Pasar Sari Mulyo tepat untuk dijadikan pusat penjualan PKL. Pasalnya lokasi itu hanya berjarak beberapa ratus meter dan masih berada di satu area dengan lokasi yang sekarang digunakan pedagang.

“Lokasi tersebut relatif dekat, masih satu kompleks. Yang penting bagaimana membuat daya tarik agar masyarakat tertarik datang ke sana, tinggal bagaimana kreativitas Pemkab. Di manapun kalau banyak yang datang, saya kira pedagang mau dipindah ke sana,” kata dia.

Menurutnya, pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk menumbuhkan ekonomi kreatif, salah satunya dengan memberdayakan PKL. Selain camour tangan pemerintah, berkembangnya sebuah selter PKL juga ditentukan jenis dagangan yang dijajakan, menarik atau tidak.

“Untuk menarik masyarakat datang misalnya bisa dilakukan dengan cara mmeindahkan lokasi parkir area Kebondalem di depan pasar. Jadi masyarakat yang berniat berbelanja di sekitar situ, melihat juga dagangan para PKL,” ujar dia.

Secara umum, penataan PKL semestinya dimasukkan dalam Rencana Detail Tata Ruang Kawasan (RDTRK). Penyusunan harus dilakukan dengan penghitungan yang matang, dengan memperkirakan jumlah pertembuhan PKL dalam beberapa tahun ke depan.

“PKL merupakan pedagang informal, seharusnya bisa bekerja sama dengan pedagang formal. Misal dalam pembangunan sebuah pusat perbelanjaan harus menyediakan sekian persen area khusus untuk PKL,” kata dia.

Senin, 24 Oktober 2016

Batik Pringmas Siap Dipasarkan ke Mancanegara

Quote suaramerdeka.com :
Kelompok Usaha Bersama (KUB) Batik Pringmas Desa Papringan, Kecamatan Banyumas, tengah menyiapkan produk untuk dipasarkan ke mancanegara melalui pameran produk.
Kelompok perajin batik rencananya akan mengikuti pameran produk ke India pada pertengahan November. “Kami sedang menyiapkan produk berkualitas untuk menarik minat konsumen luar negeri,” kata Wakil Ketua KUB Batik Prapringan, Iin Susiningsih, kemarin. Produk yang dibawa pameran antara lain, produk batik tulis warna alam, batik tulis warna sintetis, batik cap dan batik jumputan.
Jumlah batik yang akan dbawa sekitar 100 lembar. Sebagian batik yang akan dipamerkan memiliki motif khas negara India. “Kami akan membawa batik motif tokoh pewayangan seperti pandawa lima dan anoman obong,” ujar Iin. Selain persiapan ke luar negeri, kata Iin, pada akhir Oktober KUB Batik Pringmas juga tengah menyiapkan diri mengikuti pameran di Surabaya. Pameran ini difasilitasi Bank Indonesia.
Batik yang akan dipamerkan sudah dikirim dan pihaknya membawa 280 lembar kain batik. Lebih lanjut Iin mengatakan, agenda pameran baik tingkat regional maupun nasional selalu diikuti untuk mengenalkan produk asli Banyumas ke masyarakat luas.
Apalagi hasil, transaksi penjualan pada pameran menggiurkan. “Pada pameran di Jakarta September lalu kami mampu menjual sekitar 80an lembar dengan nilai transaksi sekitar 44 juta. Kami harap pameran berikutnya nilai transaksinya akan meningkat lagi,” katanya.
Manajer Unit Akses Keuangan dan UMKM Bank Indonesia Purwokerto yang juga menjadi pendamping KUB Pringmas, Noeniek Reediati belum lama ini mengatakan, selama tiga tahun terakhir permintaan kain batik terus meningkat. Sebelumnya, pesanan kain batik hanya 30 lembar, namun sekarang sudah mencapai 100 lembar. 

Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...