Selamat Kepada Calon Kepala Daerah Banyumas

Senin, 18 Juli 2016

Pengembangan Kota Lama Banyumas



suaramerdeka.com
Sejumlah tokoh Banyumas mengikuti diskusi mengenai pengembangan kota lama Banyumas di ruang pertemuan Kantor Kecamatan Banyumas, Minggu (17/7) yang dikemas dalam Dopokan Rembug Banyumas. Kegiatan yang diprakarsai beberapa tokoh putra daerah itu dihadiri beberapa anggota DPRD Banyumas seperti Yoga Sugama dan Didi Rudianto (Komisi D), Bambang Puji ( Komisi B), Wakil Sekjen DPR RI, Ahmad Juned, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka, Pudjo Sumedi.

Dalam sambutannya, Ahmad Djuned yang merupakan putra daerah Banyumas mengatakan bahwa acara bincang – bincang yang dipandu oleh budayawan Banyumas Bambang “Dodit” Widodo merupakan bentuk kepedulian masyarakat dalam upaya menemukan konsep pengembangan kota lama ke depan.”Tujuan awal dopokan ini untuk mengumpulkan pendapat dan ide dari peserta
untuk dijadikan rekomendasi kepada dinas terkait dan pemerintah Kabupaten Banyumas,” kata dia.

Dalam diskusi itu mencuat usulan pengembangan kota lama yang memiliki benda-benda cagar budaya yang masuk dalam daftar cagar budaya. Kawasan kota lama diusulkan menjadi kantong kebuidayaan dan pendidikan.

Jalur Selatan Mendesak Dilebarkan

suaramerdeka.com
Pelebaran jalur selatan Banyumas, khususnya ruas Tambak-Buntu mendesak dilakukan. Pelebaran jalan diperlukan untuk mengantisipasi kemacetan yang terjadi pada saat arus mudik dan balik Lebaran.
Berdasarkan pantauan Suara merdeka, penumpukan kendaraan terparah terjadi pada saat arus balik di titik temu antara Jalan Lingkar Sumpiuh dan jalan utama di Kelurahan Kebokura. Penumpukan terjadi karena arus kendaraan dari kedua arah itu harus berjalan bergantian.
Kapolsek Sumpiuh, AKP Sadjupri, mengemukakan salah satu penyebab penumpukan kendaraan itu karena penyempitan jalan. Kendaraan dari dua arah, yang masing-masing terdiri dari dua lajur harus berjalan bergantian masuk ke jalur utama di sisi barat JLS yang hanya satu lajur.
“Kondisi di situ (Kelurahan Kebokura-red) seperti botol, karena ada penyempitan ruas jalan di sisi barat. Untuk mengatasinya (penumpukan kendaraan-red) ke depan perlu pelebaran ruas jalan,” kata dia.
Dia mengatakan selain pelebaran jalan, untuk mengatasi kemacetan bisa dilakukan dengan optimalisasi rekayasa lalu lintas. Seluruh kendaraan menuju arah barat (Bandung) dibuat satu jalur melalui JLS.
“Solusinya seharsunya dipakai hanya satu jalur, teori lalu lintas di manapun kalu menggunakan dua jalur akan seperti itu (terjadi penumpukan kendaraan). Pengalaman arus mudik, seluruh kendaraan dari barat masuk JLS, tidak macet,” ujar dia. Hal senada disampaikan Kapolsek Tambak, AKPAgustinus.
Selain melakukan reyasa lalu lintas, perlu juga dilakukan pelebaran jalan. Pasalnya p-ada saat arus mudik-balik volume kendaraan yang melintas di jalur selatan akan meningkat tajam. “Kemcetan yang terjadi disebabkan peningkatan arus lalu lintas.
Selain itu terjadi penyempitan ruas jalan. Ke depan perlu dibuat barikade, kecuali ke depan jalan sudah diperlebar, tidak ada masalah,” jelas dia. Menurutnya kondisi pada saat arus balik kemarin memaksa petugas di Pos Kebokura bekerja ekstra.
“Terjadi penyempitan ruas jalan, sehingga Pos Kebukura harus ekstra menarik kendaraan dari arah timur menuju barat,” ujar dia. Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Wilayah I Ditjen Bina Marga Wilayah Wangon-Purworejo, Djoko Satriyo, mengatakan, pelebaran jalur selatan sudah masuk dalam perencanaan.
Proyek pelebaran jalan itu rencananya akan dimulai pada 2015 lalu, namun karena ada kendala dalam proses lelang, proyek itu tertunda. Dia mengharapkan proyek yang tahap konstruksinya digarap selama empat tahun itu dapat dimulai tahun ini.
“Kondisi jalur selatan mendesak dilebarkan. Saat ini lebar jalan di jalur selatan rata-rata tujuh meter, kondisinya juga banyak yang sudah usang dilihat dari tingkat kekerasannya, terutama ruas di Kabupaten Banyumas, perlu ditingkatkan lagi,” kata dia.
Menurut rencana seluruh jalan dari Wangon, Banyumas sampai permbatasan DIY akan dilebarkan menjadi 11 meter. Dengan melihat kondisi pada saat arus mudik-balik kemarin, pelebaran jalan di wilayah Banyumas diharapkan dapat menjadi prioritas.
“Skenario pelaksaan bisa ada prioritas. Kalau proyek itu bisa dilaksanakan tahun ini, empat tahun ke depan sudah selesai. Ruas jalan dari Wangon sampai perbatasan DIYmenimal akan memiliki lebar 11 meter,” ujar dia.


Lebar Jalan Jalur Selatan Minimal 12 Meter

suaramerdeka.com
Rencana pelebaran jalur selatan dari tujuh meter menjadi 11 meter dinilai belum ideal. Dengan melihat volume kendaraan yang semakin meningkat, jalan nasional itu idealnya memiliki lebar minimal 12 meter.
Hal itu disampaikan praktisi konstruksi sekaligus pemerhati jalan asal Purwokerto, Yatman S, Senin (18/7). Menurutnya dengan lebar 12 meter, setiap jalur dapat dibuat menjadi dua lajur dan dilengkapi dengan median jalan.
“secara umum pelebaran jalan penting sekali dilakukan. Jalan raya idealnya memiliki lebar paling tidak 12 meter. Asumsinya setiap kendaraan membutuhkan ruang seleber kurang lebih tiga meter agar mudah melakukan manuver,” kata dia.
Dia mengatakan pelebaran jalan itu hendaknya dilakukan di seluruh ruas jalan yang ada. Pasalnya apabila pelebaran hanya dilakukan pada titik yang mengalami kemcetan, justru hanya akan menggeser titik kemacetan ke lokasi lain.










Jumat, 15 Juli 2016

Lima Simpang Rawan Macet Akan Dilengkapi ATCS


suaramerdeka.com
Tahun depan, sejumlah simpang yang rawan kemacetan, direncanakan dilengkapi area traffic control system (ATCS).
Menurut Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dinhubkominfo) Banyumas, Achmad Riyanto, sejumlah simpang yang akan dilengkapi ATCS antara lain di Wangon, Menganti, Rawalo, Ajibarang, dan Buntu. “Rencananya yang akan memasang ATCS di lokasi tersebut pemerintah pusat,” jelasnya, Selasa (12/7).
Dengan dilengkapi ATCS nantinya lalu lintas di sejumlah lokasi tersebut dapat diatur dari jarak jauh, dengan cara mengendalikan periode menyala lampu pengatur lalu lintas. Pada lampu pengatur lalu lintas yang belum dilengkapi ATCS, pengaturan periode menyala, harus dilakukan secara manual dengan mengatur langsung di titik dimana lampu berada.
Dalam arus mudik dan arus balik kali ini, sejumlah lokasi tersebut seperti Buntu, Wangon, dan Ajibarang, menjadi simpul-simpul kepadatan kendaraan di wilayah Banyumas. Saat ini di lokasi tersebut sudah dilengkapi lampu pengatur lalu lintas hanya saja masih manual.
Bisa Pantau
Sementara itu, saat ini masyarakat terutama warga Kota Purwokerto dapat ikut memantau kondisi lalu lintas di sejumlah simpang yang telah dilengkapi dengan ATCS.
Menurut Achmad, saat ini pihaknya telah meluncurkan websiteresmi yang menampilkan citra CCTVdi sejumlah simpang yang telah dilengkapi ATCS. “Dengan mengakses http://banyumas.marktel.co/mplayer/ maka warga bisa melihat tampilan CCTV di sejumlah simpang yang sudah dilengkapi ATCS,” tuturnya.
Adapun simpang yang terpantau kamera CCTV adalah Simpang Gor, Simpang Sutosuman, Simpang Kebondalem, Simpang Kalibogor, Simpang Tanjung, Simpang Patriot, Simpang Karangbawang, Simpang Pancurawis, dan Simpang Tugu Adipura Berkoh. Beberapa waktu lalu sejumlah simpang juga sempat diusulkan untuk dipasang ATCS, simpang-simpang tersebut terutama yang berada di Jalan Jenderal Soedirman Purwokerto.
Kendati sudah cukup lama terdengar namun sampai saat ini usulan tersebut belum terealisasi. Adanya ATCS di sejumlah simpang diakui salah seorang warga Kurniawan, sangat membantu ketertiban lalu lintas. “Karena ada CCTV, petugas bisa melihat kendaraan yang melanggar marka, maupun lampu pengatur lalu lintas.
Dan langsung ditegur juga karena ada pengeras suaranya, jadi yang melanggar malu,” ujarnya. Ia berharap, semakin banyak simpang yang dilengkapi dengan ATCS. Dengan demikian, arus lalu lintas akan lebih tertib, aman, dan nyaman.

Pemasangan ATCS Dialokasikan Rp 6 Miliar

suaramerdeka.com
Berencana pasang area traffic control system (ATCS) di sejumlah simpang di Banyumas, pemerintah pusat akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 6 miliar.
Menurut Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Dinhubkominfo Banyumas, Achmad Riyanto, pemasangan ATCS dilakukan untuk semakin memudahkan pengaturan lalu lintas. Sejauh ini sejumlah simpang di wilayah Perkotaan Purwokerto telah dilengkapi dengan ATCS.
Ia mengatakan, pemerintah pusat berencana memasang alat tersebut di beberapa simpang yang rawan kemacetan di Banyumas. “Tahun depan rencananya dilakukan oleh pemerintah pusat,” jelasnya, kemarin. Adapun loaksi yang akan dilengkapi ATCS yakni, Simpang Wangon, Simpang Menganti, Simpang Rawalo, Simpang Ajibarang, dan Simpang Buntu.
Selama berlangsung arus mudik dan arus balik lalu simpang-simpang tersebut menjadi lokasi simpul kepadatan lalu lintas di Banyumas. Sebelumnya, masyarakat terutama warga Kota Purwokerto dapat ikut memantau kondisi lalu lintas di sejumlah simpang yang telah dilengkapi dengan ATCS.
Menurut Achmad, saat ini pihaknya telah meluncurkan website resmi yang menampilkan citra cctv di sejumlah simpang yang telah dilengkapi ATCS. “Dengan mengakses http://banyumas. marktel.co/mplayer/ maka warga bisa melihat tampilan CCTV di sejumlah simpang yang sudah dilengkapi ATCS,” tuturnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, adapun simpang yang terpantau kamera CCTV adalah Simpang Gor, Simpang Sutosuman, Simpang Kebondalem, Simpang Kalibogor, Simpang Tanjung, Simpang Patriot, Simpang Karangbawang, Simpang Pancurawis, dan Simpang Tugu Adipura Berkoh.
Beberapa waktu lalu sejumlah simpang juga sempat diusulkan untuk dipasang ATCS, simpang-simpang tersebut terutama yang berada di Jalan Jenderal Soedirman Purwokerto. Kendati sudah cukup lama terdengar namun sampai saat ini usulan tersebut belum terealisasi. 

Rabu, 13 Juli 2016

Omzet Pedagang Banyumas Naik Hingga 200 persen

Omzet-Pedagang-Naik-Hingga-200-persen

Radarbanyumas
Peringatan jumenengan R Joko Kahiman yang dilaksanakan di Kecamatan Banyumas membawa berkah tersendiri bagi para Pedagang Kaki Lima (PKL) Alun-alun Banyumas. Sebab sejak Sabtu (9/7) lalu, Alun-alun Banyumas menjadi tempat wisata dadakan karena dibanjiri pengunjung masyarakat Banyumas dan sekitarnya. Salah seorang PKL yang berjualan makanan, Reni (32) mengatakan, omzet yang dia dapat meningkat 200 persen sejak Sabtu lalu. Omzet penjualannya melejit hingga Rp 3 juta dalam waktu satu hari. Dia mengaku, pada hari-hari biasa dia maksimal mendapat omzet Rp 1 juta perhari. “Malah kalau hujan biasanya omzet Rp 500 ribu sehari,” ujarnya. Menurut dia, pengunjung yang datang ke alun-alun Banyumas semakin ramai mulai sore hingga malam hari. Dia mengakui, karena ramai, pembeli sering kali harus antre untuk mendapat jajanan yang dia buat. Dia berharap sering ada kegiatan yang membuat alun-alun Banyumas menjadi ramai. “Karena saking ramainya, pembeli sampai antre,” ujarnya. Pedagang lain, Fajar mengatakan, penjualan minumannya meningkat pesat sejak empat hari terakhir. Dia mengakui, pada hari-hari biasa dia maksimal menjual 50 gelas minuman. Namun kini dia mampu menjual hingga 100 gelas dalam waktu satu hari. Omzet yang dia dapat yaitu sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu perhari. Camat Banyumas, Drs Ahmad Suryanto MSi mengatakan, peringatan jumenengan R Joko Kahiman memang banyak diisi dengan acara kebudayaan seperti kirab budaya, kentongan, keroncongan, ebeg, dan wayang. Dia berharap, acara tersebut bisa menarik masyarakat Banyumas untuk datang ke Alun-alun Banyumas sembari mengingat R Joko Kahiman, Bupati Banyumas yang pertama. “Pasar rakyat dan Pasar malam juga sengaja diadakan. Agar menarik seperti sekatenan, dan bisa menarik pengunjung dari luar daerah,” imbuhnya. 

Diambil dari: 
http://radarbanyumas.co.id/omzet-pedagang-banyumas-naik-hingga-200-persen-13/ 


Warga 12 Desa di Banyumas Arak Gunungan Jatingarang
Radarbanyumas

Peringatan Jumenengan R Joko Kaiman 
Warga 12 Desa di Banyumas Arak Gunungan Jatingarang 

BANYMAS – Arak-arakan tumpeng atau Gunungan Jatingarang mewarnai kirab budaya peringatan Jumenengan R Joko Kaiman. Tak hanya sayuran dan buah, gunungan juga berisi padi dan uang. Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Dawuhan Sutrimo mengatakan, tumpeng ini merupakan simbol. Bentuk tumpeng yang melingkar berarti mengikat tali persaudaraan dan merupakan satu kesatuan. Menurutnya J Koko Kaiman merupakan seoran gpemimping yang tidak membeda-bedakan golongan dan status sosial. Dia juga sosok pemimpin yang religius. “Kami berharap, pemimpin Banyumas saat ini dan yang akan datang bisa meneladani R Joko Kaiman dalam menentukan sikap. Menghormati semua kalangan, golongan dan status sosial,” ungkapnya. Menurut dia, adanya tumpeng atau gunungan jatingarang itu merupakan wujud syukur masyarakat Banyumas, khususnya Desa Dawuhan. Dia memaparkan, tumpeng diartikan sebagai tujuan sing mempeng, yaitu tujuan yang lurus kepada tuhan. “Tumpeng lancip itu melambangkan semua keinginan itu akhirnya tuhan yang menentukan,” katanya. Camat Banyumas, Drs Ahmad Suryanto mengatakan, kirab budaya dari 12 Desa di Kecamatan Banyumas bisa menjadi sarana wisata bagi masyarakat Banyumas yang sedang mudik di kampung halaman. “Kirab budaya bisa menguatkan wisata budaya di Banyumas,” imbuhnya. 
Diambil dari: http://radarbanyumas.co.id/warga-12-desa-di-banyumas-arak-gunungan-jatingarang/  

Setelah Libur, Kinerja PNS Rendah

suaramerdeka.com
Setelah libur panjang Lebaran, kehadiran masuk kerja hari pertama dan kedua PNS di lingkungan Pemkab dan DPRD Banyumas memang cukup tinggi.
Namun ini tidak signifikan untuk mengukur efektivitas kinerja mereka. Pada umumnya masuk kantor hanya menggugurkan kewajiban, namun belum menjalankan tugas dan kewenangannya secara maksimal. Dari pemantauan, dua hari pertama masuk kerja, mereka umumnya masih santai dan diisi acara halalbihalal atau silaturahmi.
Pekerjaan mereka hanya rutinitas dan santai. Belum ada agenda rapat dan koordinasi penanganan program atau berbagai masalah aktual. Bahkan, siang hari banyak yang keluar kantor di luar waktu istirahat dan tugas kedinasan.
Di beberapa instansi atau SKPD yang bersentuhan langsung dengan pelayanan ke masyarakat, juga tidak efektif dalam memberikan pelayanan. Misalnya pelayanan di Dindukcapil terkait pengurusan administrasi kependudukan, petugas yang melayani terbatas dan tidak sigap. Bahkan, berkalikali diumumkan blangko kosong.
Pemandangan lebih memprihatinkan di sejumlah kelurahan, siang hari sudah sepi dan pelayanan ke masyarakat lamban. Begitu pula di lingkungan Sekretariat Dewan, masuk kerja Senin (11/7), hampir mayoritas wakil rakyat tidak ngantor. Setwan terlihat santai.
Memilih Santai
Aktivitas di gedung Dewan baru dimulai Selasa (12/7), dengan menggelar silaturahmi dengan jajaran eksekutif, setelah itu tidak langsung bekerja, namun santai menikmati hiburan dan makan siang.
Di lingkungan sekretariat daerah pun sama. Hanya di beberapa bagian ada kesibukan melaksanakan tupoksi. Kesibukan hanya untuk beberapa personel pejabat atau pegawai yang segera menyelesaikan pekerjaan yang tertunda sebelum libur Lebaran.
Mayoritas PNS di lingkungan kantor bupati, wakil bupati, dan sekda juga memilih santai dengan sesama rekan kerja. Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Banyumas, Ahmad Supartono, mengakui, untuk segera memacu pegawai langsung bekerja maksimal setelah libur panjang Lebaran memang sulit.
Pada umumnya masih terbawa suasana Lebaran. ”Kalau tingkat kedatangan atau kehadiran tinggi, namun untuk efektivitas kerja memang belum maksimal.
Masih terbawa suasana Lebaran,” katanya, setelah mengikuti halalbihalal di DPRD, Selasa (12/7). Sidak bersama, yakni Inspektorat, BKD, Satpol PP, dan Bagian Hukum, Senin lalu di semua SKPD, di luar instansi sekolah, menurut dia, hanya mengukur tingkat kehadiran atau kedisiplinan dalam masuk kerja. Namun untuk mengukur kualitas kerja belum bisa. Tingkat kehadiran berkorelasi dengan tambahan penghasilan pegawai.
Sementara kualitas kerja dalam menjalankan tupoksi belum bisa diikur untuk pemberian tambahan penghasilan dan remunerasi. ”Laporan yang diminta Kemenpan RB melalui Bagian Organisasi hanya terkait laporan absensi kehadiran saat masuk pertama pascalibur Lebaran.
Ini belum bisa mengukur soal kualitas dan efektivitas kinerjanya. Mungkin tahun depan sistemnya sudah bisa mengarah ke sana,” ujarnya. Menurutnya, dalam surat edaran imbauan tidak boleh mengambil cuti terusan pascalibur Lebaran dari Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chisnandi, hanya mengatur soal cuti. Namun ini tidak mengatur soal izin.
”Yang dilarang tidak boleh mengambil cuti tahunan langsung setelah libur Lebaran, namun ada pengecualian, bagi PNS yang saat Lebaran masuk kerja piket atau dinas, boleh mengambil cuti. Namun untuk izin tidak diatur dalam imbuan itu,” jelasnya. Untuk yang mengambil izin di luar sakit saat sidak, kata dia, ditemukan 29 orang.
Mereka izin dua hari setelah libur Lebaran. Yang tidak masuk karena sakit ada 22 orang. Beragam alasan PNS yang mengajukan izin untuk menyiasati imbauan Menpan RB, supaya tetap tidak masuk kerja pascalibur panjang Lebaran. Namun diakui Supartono, mereka tidak bisa dikenai sanksi kepegawaian, karena izin diatur maksimal dua hari, sedangkan cuti tiga hari.
”Mereka yang mengajukan permohonan izin dan disetujui pimpinan atau atasan langsung umumnya diajukan jauh hari sebelum ada instruksi imbauan Menpan RB. Imbauan dari Menpan RB kan dikeluarkan tanggal 30 Juni, sedangkan izin telanjur diberikan sebelum itu,” katanya.
Saat apel masuk kerja hari pertama, Bupati Achmad Husein sempat memuji kedisiplinan anak buahnya, terkait tingkat kehadiran fisik. Menurut Bupati, dari laporan tim sidak bersama, dari absensi elektronik dan manual, tidak ada yang membolos. Kondisi tersebut bisa dipahami jika data yang dipakai hanya mengacu pada hasil laporan sidak pada pagi hingga siang hari.
Sementara sidak untuk menghasilkan data pembanding tidak dilakukan saat mengecek dan memantau menjelang pulang atau absensi kepulangan pada sore hari. Laporan ke kementerian dikirim siang hari, sehingga tidak ada komparasi data pembanding.
Dalam sambutanya, Bupati mengaku sangat bangga dan menyambut baik bahwa setelah libur panjang Lebaran tidak ada pegawai yang membolos. ‘’Awal menjadi Bupati setiap apel pertama masih ada yang bolos, kali ini laporan yang saya terima tidak ada pegawai di sekitar Setda yang membolos. Ada laporan, satu orang sakit,” kata Bupati.


Underpass Jensoed Purwokerto Didesain Ulang

Radarbanyumas.co.id
Kelanjutan realisasi pembangunan underpass di perlintasan Jenderal Soedirman bakal dilanjut pada anggaran perubahan. Rencananya, desain ulang underpass akan diajukan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (SDABM) pada perubahan anggaran mendatang. Kepala Dinas SDABM Kabupaten Banyumas Irawadi CES mengatakan, masih menunggu hasil studi kelayakan (FS) untuk perubahan desain underpass. “Kita akan ajukan di perubahan untuk re-design. Namun masih menunggu FS dulu, karena itu sebagai acuan,” jelasnya. Dia mengatakan hasil studi kelayakan akan dijadikan acuan untuk pembuatan desain underpass. Desain saat ini masih mengacu pada jalan eksisting Jenderal Soedirman. Padahal rencananya pembangunan underpass bakal dilakukan tidak di jalan eksisting. “Rencananya memang ke Selatan. Namun kalau hasil studi kelayakan lebih menguntungkan ke Utara, ya nanti desainnya akan disesuaikan ke Utara,” katanya. Untuk realisasi pembangunan, Irawadi menjelaskan, akan dilakukan pemerintah pusat pada tahun 2017. Saat ini, Pemkab Banyumas akan fokus pada pembuatan Detail Engineering Design (DED) underpass. “Anggaran sudah ada, jadi harapannya pembangunan sudah bisa dilakukan 2017,” katanya. Seperti diketahui, Pemkab Banyumas melakukan percepatan perencanaan pembangunan underpass di perlintasan KA Jalan Jenderal Soedirman. Hal itu dilakukan untuk menunjang realisasi pembangunan underpass pada tahun 2017. Akhir tahun 2017, pembangunan underpass ditargetkan selesai. Untuk realisasi pembebasan lahan dan pembangunan fisik akan dikover pemerintah pusat dengan anggaran Rp 22 miliar, sehingga tugas pemkab hingga akhir tahun nanti yaitu merampungkan perencanaan.


Underpass Menunggu Hasil Studi Kelayakan

suaramerdeka.com

Kondisi lalu lintas di perlintasan sebidang Jalan Jenderal Soedirman Purwokerto masih kerap tersendat saat jam sibuk. Underpass yang sedianya dibangun untuk mengatasi hal itu, sejauh ini masih menunggu hasis studi kelayakan.
“Kita masih melakukan visibility studies (studi kelayakan), dari studi itu nanti diketahui apa saja yang diperlukan, juga termasuk desain dari underpass akan seperti apa,” tutur Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (SDABM) Banyumas Irawadi, saat ditemui Selasa (12/7).
Menurutnya, tahun ini diharapkan studi tersebut dapat diselesaikan. Nantinya, lanjut dia desain underpass akan diketahui setelah studi selesai dilakukan.
Dikatakan, dulu memang sudah ada desain, namun perlu dilakukan studi kelayakan lagi yang hasilnya akan menentukan desain baru nantinya. Beberapa desain sebelumnya sempat dibuat, di antaranya yakni desain underpass yang berada langsung di bawah badan jalan, juga desain underpass yang berada di sebelah selatan badan jalan saat ini (existing).
Ia berharap, dengan selesainya visibility studies dan adanya desain baru underpass Jalan Jenderal Soedirman, tahun 2017 mendatang pemerintah pusat dapat memulai penanganan di lokasi tersebut.
Ditangani 2017
“Harapannya tahun 2017 pusat bisa menangani itu, sebab anggarannya sudah ada,” katanya. Sebelumnya, Dinas SDABM Banyumas mendapat alokasi anggaran Rp 8 miliar, untuk melakukan pembebasan lahan, terkait pembangunan Underpass di perlintasan sebidang Jalan Jenderal Soedirman, Purwokerto. Menurut Irawadi, dalam proses pembangunan underpass akan menggunakan tanah milik masyarakat dan tanah KAI.
Ia mengatakan, untuk pembebasan lahan milik masyarakat, nantinya akan dilakukan pihaknya. “Kita ditugasi untuk melakukan pembebasan lahan yang milik masyarakat, lahan yang milik KAI bukan kami (Dinas SDABM Banyumas-red) yang mengurusnya,” tuturnya.
Salah seorang warga, Kusuma mengatakan, jika underpassterealisasi ia yakin bisa mengatasi kemacetan. Kondisi itu bisa terwujud bila desain bagus, sehingga nantinya underpass tidak banjir, seperti underpass lain di Banyumas, yang sering tergenang air.

Selasa, 12 Juli 2016

Renungan Tentang Jalan TOL

" Lihat Mereka berjalan menuju kota tanpa bisa menikmati indahnya pemandangan alam rute berkelok , itu rute lurus pemangkas jarak, itulah Jalan TOL " percakapan Lightning McQueen & Sally Carrera
Indahnya pemandangan rute berkelok Lumbir, Nagrek, Malangbong dan lainnya tak akan dirasakan pengguna TOL, nasibnya semoga ga seapes Radiator Springs sebelum dipromosikan McQueen. Renungan sebelum TOL Trans Jawa Rute Selatan dibangun. Alam & masyarakat kita punya apa? kelola & promosikan. Itu aset kita, Perubahan itu pasti menghampiri , jangan terlena dengan status quo, songsong perubahan itu dengan sikap kreatif .

Sinopsis film Cars ini adalah sebagai berikut. Ada sebuah kota yang dahulunya sangat ramai di jalan lintas antar kota bernama Radiator Springs, kota ini juga memiliki pemandangan yang sangat indah. sehingga menjadi favorit untuk persinggahan. Nmaun seiring perkembangan zaman, masyarakat ingin perjalanan bebas hambatan agar cepat sampai tujuan, maka dibangunlah jalan Tol sehingga sejak saat itu kota Radiator Springs menjadi sepi karena tidak ada mobil yang lewat dan singgah. selama bertahun tahun, menjadi kota yang terasing bahkan terhapus dari peta karena namanya dilupakan orang. Kehadiran Lighting McQueen secara tak sengaja yang akhirnya menyadari kondisi ini, menocba ikut mempromosikan kembali kota ini dengan segala potensi yang ada. Itulah cerita ringkas salah satu film favorit saya. Tentu saja ada dampak bagi suatu daerah jika wilayahnya dibangun Jalan TOL. Ada penurunan kesejahteraan atau tingkat pendapatan masyarakat terutama kalangan UMKM yang mengadu nasib dengan membuka usaha di jalan raya antar daerah ( jalur lintas) yang sehari-hari bisa mendapat banyak pelanggan tentu menjadi menurun drastis karena tidak ada lagi kendaraan yang lewat dan mampir. Hal seperti ini harus menjadi perhatian dan diantisipasi oleh masyarakat dan Pemda Banyumas agar jika suatu saat dibangun Jalan TOL tidak larut atau tergerus oleh perkembangan zaman itu sendiri. Banyumas jangan sampai menjadi penonton mobil-mobil yang lewat, melainkan mencoba membujuk mereka agar berkeinginan kuat mau mampir dan terus mengulainginya lagi , menjadikan wilayah Banyumas sebagai daerah yang layak dikunjungi setiap saat. Untuk itu, aset aset kabupaten Banyumas berupa kekayaan alam / keindahan alam, kearifan lokal masyarakat, serta berbagai produk budi daya rakyat harus dipotimalkan untuk modal menarik wisatawan. Terutama sektor pariwisata banyak sekali belum dikelola secara maksimal, ini harus segera dilakukan pembenahan. Antara lain membuat Rest area yang menyajikan produk-produk khas dari Banyumas, terutama di area yang terkover Jalur Lintas dan jalur Wisata, Konsep Pratista harsa begaiknya dibangun di dekat lokasi wisata, adanya integrasi semua objek wisata secara akomodasi, pengelolaan tiket, promosi dan melibatkan masyarakat lokal. Semoga jika suatu saat nanti Jalan TOL Tegal Cilacap yang melewati kawasan ajibarang Wangon , serta Cilenyi Jogja yang juga melewati Wangon akhirnya dibangun, maka Kabupaten Banyumas telah siap menampung arus wisatawan yang masuk, tidak hanya mengandalkan Baturaden yang stagnan karena wisatawan cenderung menginginkan suasana baru dan sarana refresing yang berbeda.  

Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...