Selamat Kepada Calon Kepala Daerah Banyumas

Kamis, 10 November 2016

2020, PTLP di Cilongok Ditarget Beroperasi

Quote suaramerdeka.com :


 Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang berada menyasar lokasi di empat desa di Kecamatan Cilongok ditarget dapat beroperasi tahun 2020 mendatang. Investasi energi terbarukan tersebut nantinya dirancang menghasilkan energi listrik dengan kekuatan 175 megawatt.
Herman Afif Kusumo dari jajaran pimpinan PT Sejahtera Alam Energy, pelaksana proyek geothermal menyatakan hal tersebut pada saat sosialisasi panas bumi di Desa Sambirata Kecamatan Cilongok, Senin (7/11). Herman mengemukakan masyarakat diminta tidak usaha khawatir dengan adanya proyek geothermal yang ada nantinya menyasar lokasi hutan di wilayah Desa Sambirata, Sokawera, Gununglurah dan Karangtengah tersebut.
Herman mengatakan untuk menggerakan mesin penghasil listrik tersebut, nantinya yang keluar adalah uap air bukan gas beracun. Jadi meski lokasinya antara lain berjarak tiga kilometer dari Desa Sambirata, namun investasi energi terbarukan ini terbilang aman. “Jadi ditargetkan bisa menghasilkan 175 Megawatt listrik. Jumlah energi ini lebih besar dibandingkan dengan PLTP yang ada di Dieng yang hanya menghasilkan sekitar 60 Megawatt listrik saja,” katanya.
Adapun total luasan lahan yang menjadi bagian dari proyek PLTP di wilayah Cilongok itu adalah 16, 950 hektar. Selain mesin juga akan dipasang pipa-pipa penyalur uap untuk menggerakan mesin penghasil listrik. Dijelaskan Herman, untuk pengeboran akan dilaksanakan Bulan Juli 2017 mendatang. Sementara untuk operasional PLTP ini ditargetkan dapat beroperasi sekitar tahun 2020 mendatang.
Kepala Bidang Geologi, Dinas Energi Sumber Daya Mineral Kabupaten Banyumas, Sigit Widiadi mengatakan, pembangunan sumur dialihkan ke wilayah Banyumas karena potensi yang besar ada di Banyumas. Secara keseluruhan, menurutnya potensi panas bumi yang ada lebih dari 175 MW, adapun kapasitas sumur yang terpasang dapat mencapai 220 MW.
“Kita harapkan dengan adanya sumur di Banyumas ada kontribusi bagi daerah, apakah itu bentuknya berupa perekrutan tenaga kerja, CSR, atau bentuk kontribusi yang lain,” jelasnya.

Selasa, 08 November 2016

Ditawarkan Tiga Alternatif Desain Underpass Jalan Jenderal Soedirman

Quote suaramerdeka.com :

 Studi kelayakan underpass Jalan Jenderal Soedirman menawarkan tiga alternatif desain. Dari tiga alternatif itu, underpass yang trase-nya berbelok ke arah selatan, dinilai sebagai desain yang paling layak dari berbagai sisi.
Menurut Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (SDABM) Banyumas, Irawadi terkait rencna pembangunan underpass di Jalan Jenderal Soedirman Purwokerto, ada tiga desain yang diproyeksikan dapat diterapkan. Desain-desain tersebut diperoleh dari hasil studi kelayakan yang dilakukan.
“Kami sudah mempresentasikan tiga desain itu kepada Kementerian Perhubungan,” jelasnya, Senin (7/11). Dia mengatakan, desain tersebut antara lain underpass dibangun tepat di jalan eksisting saat ini, yang dilambangkan dengan huruf (I).
Kemudian lanjutnya, desain dibangun di sisi selatan, dan berbelok sedikit sehingga terkesan membentuk huruf (S), serta desan yang dibangun ke arah selatan kemudian berbelok ke arah utara kembali menuju jalan eksisting yang terkesan membentuk huruf (U). “Dari tiga rencana desain itu, yang dinilai paling menguntungkan dari berbagai sisi adalah desain yang berbentuk huruf (U),” ungkapnya. Adapun pertimbangan tersebut di antaranya dari sisi biaya, pembangunan underpass yang berbentuk huruf (U).
Sebab desain tersebut, lanjutnya hanya membutuhkan pembebasan lahan yang relatif lebih sedikit dibanding dengan desain berbentuk huruf (S). Sementara desain huruf (I) secara teknis, membuat underpass berpotensi memiliki kemiringan yang curam. Dia mengatakan, setelah hasil studi kelayakan itu diperoleh, dalam kurun waktu satu bulan mendatang pihaknya menargetkan rencana teknis terperinci (DED) sudah selesai disusun.
Dengan demikian, rencana pembangunan underpass di Jalan Jenderal Soedirman tinggal menyelesaikan pembebasan lahan, serta pelaksanaan pekerjaan fisik. Sebelumnya, pada 2017, pembangunan fisik underpass Jalan Jenderal Soedirman, direncanakan dimulai. Hal itu setelah pemerintah Kabupaten Banyumas dan pemerintah pusat, menjalin kesepakatan mengenai pembangunan underpass.
Pembangunan rel ganda yang sudah berjalan, juga menjadi pertimbangan pembangunan underpass Jalan Jenderal Soedirman perlu segera direalisasikan. Menurutnya, guna merealisasikan underpass tersebut, Pemerintah Pusat saat ini sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 22 miliar. “Pusat menyediakan anggaran sebesar Rp 22 miliar, namun penggunaannya, nantibergantung dari desain underpassnya,” ungkapnya.
Salah seorang warga, Rohman mengatakan, underpass memang menajdi sebuah kebutuhan jika melihat kondisi arus lalu lintas di sekitar perlintasan sebidang Jalan Jenderal Soedirman Purwokerto. 

Senin, 07 November 2016

Pola Organik Kurangi Biaya Operasional

Quote suaramerdeka.com :


Petani di wilayah Ajibarang terus didorong untuk bertahap beralih melaksanakan pola pertanian organik. Pola pertanian organik ini diharapkan dapat menghemat operasional pertanian petani.
Koordinator Fungsional Bapeluh KP Kabupaten Banyumas, Rohman, mendorong pola pertanian organik yang mulai dilaksanakan petani di wilayah Desa Tiparkidul, Kecamatan Ajibarang.
Ia berharap, meski belum 100 persen organik, namun upaya tersebut patut diapresiasi. Apalagi seperti diketahui pola pertanian organik ini cukup dirasakan manfaatnya oleh petani.
”Meski di sini baru sebatas pestisida organik, namun ini patut diapresiasi. Apalagi setelah ini petani juga berencana akan melaksanakan pola pertanian organik terutama dalam pemupukan ini.
Pasalnya, sebagai petani penggarap, petani juga harus membayar sewa lahan sekitar Rp 5 juta sekali musim,” katanya. Dijelaskan Rohman, sebagaimana petani di masa lampau, pola pertanian organik ini bisa dilaksanakan dengan mudah oleh petani sekarang.
Hal ini dikarenakan berbagai bahan organik yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk, pestisida hingga nutrisi tanaman telah tersedia di alam sekitarnya.
Karena itu, petani diharapkan dapat memanfaatkan hal tersebut untuk kemajuan dan keberlangsungan hasil tanaman tersebut.
Pupuk Kimia
”Dengan tingginya pemakaian pupuk kimia yang ada saat ini, memang terbukti ada ketidakseimbangan alam terutama di tanah. Resistensi hama juga muncul akibat penggunaan pestisida yang berlebih.
Untuk itulah kami terus dorong agar konsep dan pola pertanian organik kembali digunakan,” katanya.
Kepala Badan Penyuluh Pertanian Perkebunan Perikanan dan Kehutanan Ajibarang, Sudiyono mendorong selain petani wilayah Tiparkidul, petani wilayah Desa lain di Ajibarang juga diharapkan dapat kembali ke pola pertanian organik.
Pihaknya tidak tinggal diam dan siap untuk memfasilitasi dan mendampingi petani dalam hal pengembangan pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan.
”Kami berharap keberhasilan petani di wilayah Tiparkidul dalam memproduksi padi ciherang hingga lebih dari 7 ton per hektar dengan pola pertanian semi organik ini diteruskan. Ke depan diharapkan petani dapat secara menyeluruh menggunakan pola pertanian organik,” katanya.
Kepala Desa Tiparkidul Kecamatan Ajibarang, Riyanto mengaku siap mendukung petani untuk terus berdaya secara ekonomi. Di era otonomi desa saat ini, petani harus berpikir lebih maju ke depan.
Keberadaan penyuluh juga diharapkan dapat semakin memperdekat dan memberi pengetahuan pertanian kepada masyarakat.
”Kami pun berterimakasih dengan berbagai bantuan dari pemerintah pusat maupun daerah berupa 12 traktor, dan bantuan lainnya. Kami juga berharap ke depan dengan bimbingan penyuluh, maka pola pertanian organik dapat benarbenar dipraktikkan oleh warga di wilayah Tiparkidul ini,” katanya. 

Festival Rewandha Bojana Siap Dongkrak Wisata Banyumas Barat


video Festival Rewandha Bojana Desa Cikakak 2016 PG

Quote suaramerdeka.com :

Wilayah Barat Butuh Perhatian

Pelaku wisata yang tergabung dalam Aliansi Pariwisata Banyumas menilai, Festival Rewandha Bojana dapat menjadi jembatan untuk mengangkat potensi pariwisata. Pasalnya, kawasan wisata di Banyumas sangat membutuhkan perhatian.
Koordinator Wanawisata Curug Cipendok, Krusharto mengatakan, di Banyumas bagian barat terdapat objek wisata buatan Dreamland Park, Curug Cipendok, objek wisata religi Masjid Saka Tunggal. Di Kecamatan Lumbir dan Gumelar juga pemandangan alamnya cukup indah. “Itu masih bisa digarap aktivitas minat khusus berbasis ekoturisme,” katanya, dalam rapat Aliansi Pariwisata Banyumas, Kamis (17/11).
Menurut dia, sejak 2015, upaya untuk mengangkat kawasan tersebut diwujudkan dalam bentuk Festival Rewandha Bojana di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon. Pun demikian, Desa Karangtengah di kawasan Wanawisata Cipendok juga menggelar acara garebeg sura secara rutin setiap tahun. Sejauh ini, papan penunjuk arah menuju objek wisata di Banyumas barat masih minim. Dia berharap, Pemkab Banyumas dapat memberi perhatian terhadap kawasan tersebut.
Aset Wisata
”Alat promosi lain akan ditambahi seperti baliho petunjuk tempat wisata,” ucapnya. Sementara itu, Kepala Desa Cikakak, Suyitno mengatakan, kegiatan Rewandha Bojana diharapkan menjadi atraksi untuk mengenalkan aset wisata Masjid Saka Tunggal dan taman kera. Keduanya berada di desa wisata religi Cikakak. “Ini menjadi momen untuk mempromosikan kepariwisataan. Dengan adanya momen besar maka khalayak dapat mengetahui kalau di sini ada objek wisata,” kata dia.
Menurut Suyitno, apabila hanya mengandalkan sektor religi, kurang menarik perhatian pengunjung. Hanya para peziarah dan pemerhati cagar budaya yang datang silih berganti. Namun, adanya acara itu dapat mengembangkan potensi yang lain. Dia berharap, kawasan wisata religi Masjid Saka Tunggal dapat merealisasikan perluasan lahan serta penghijauan kawasan yang dihuni lebih dari 300 ekor kera ini.
Adapun tahun ini, Festival Rewandha Bojana dengan atraksi memberi makan kera, diharapkan dapat mendongkrak kunjungan wisatawan di wilayah Banyumas Barat. Tahun ini, kegiatan tersebut didukung oleh masyarakat dari 12 desa di Kecamatan Wangon. Kegiatan yang digelar pada, Sabtu (19/11) ini menyuguhkan kirab Igir Wowohan yang layak ditonton.
Bagian paling seru adalah saat tumpeng buah itu dikerubuti oleh kera ekor panjang yang berdiam di sekitar masjid. Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko, mengatakan, kawasan Banyumas barat memang membutuhkan sejumlah event untuk mempromosikan potensi wisatanya.
Pihaknya mengembangkan konsep kawasan wisata terintegrasi mulai dari Kecamatan Cilongok, Ajibarang, Pekuncen, Wangon, Lumbir dan Gumelar. “Ini harus dibangun secara bertahap. Saat dukungan masyarakat semakin meningkat, bukan tidak mungkin Banyumas bagian barat dapat menjadi salah satu destinasi alternatif selain Baturraden,” jelasnya. 

Harus Memiliki Daya Tarik

SETIAP destinasi wisata harus memiliki daya tarik yang berbeda. Hal ini akan memunculkan ragam pilihan yang menarik wisatawan. Demikian menurut pengamat pariwisata Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Drs Chusmeru MSi.
Dia mengatakan, beberapa waktu lalu Pusat Penelitian Kebudayaan dan Pariwisata Unsoed dan dinas terkait pernah melakukan penenitian terkait zonasi wisata. Hal ini bisa diterapkan di kawasan itu. “Tergantung motif dan minat pengunjungnya.
Kalau sudah ada riset, nanti bisa ditemukan arah pengembangan kawasan wisatanya,” kata dia kemarin. Menurut Staf pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed ini, kawasan alternatif pendukung wisata ini ditentukan dengan riset dan perencanaan kawasan wisata, promosi, pembinaan dan pelestarian objek dan daya tarik wisata (ODTW), monitoring dan evaluasi ODTW serta membangun jejaring dengan stakeholder pariwisata di dalam maupun luar negeri.
Pada dasarnya, kunci pengembangan ada pada potensi masing-masing objek. Pemkab tidak bisa memaksakan sebuah destinasi untuk dijual dengan target tertentu.
“Bisa jadi kawasan barat belum siap jual. Maka perlu ada pembenahan-pembenahan lagi,” kata dia. Chusmeru mengatakan, lebih mudah lagi apabila Pemkab menggandeng Dreamland sebagai objek wisata yang sudah mapan. Mereka bekerja sama untuk membuat atraksi-atraksi untuk menarik perhatian. Tujuannya untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan ke Banyumas.
Setelah dampak turunannya terasa baru bisa dikembangkan ke objek yang lain. “Mengandalkan wisata religi tentu lebih sulit. Dinas harus menyiapkan pemandu yang paham dengan sejarah atau kawasan religi tersebut,” ucapnya. 

Harus dievaluasi

Penonton Berebut Makanan Kera

 Penonton ajang Festival Rewandha Bojana di area kompleks Masjid Saka Tunggal, Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas, berebut tumpeng buahbuahan untuk makanan kera. Mereka tidak sabar menanti kehadiran kera ekor panjang yang menjadi atraksi utama perhelatan ini.
Salah satu pengunjung, Kukuh Sukmana (27), mengatakan, tidak adanya pagar pembatas antara penonton dengan Igir Wohwohan (tumpeng buah) yang diperebutkan para kera membuat mereka enggan mendekat. Selain itu, tetabuhan dari grup thekthek justru mengusir beberapa ekor monyet yang datang.
“Malah beberapa penonton, terutama kaum ibu, yang mengambil buah-buahan untuk pakan kera itu. Bukan untuk diberikan ke monyet, tapi malah dimakan sendiri,” ujarnya, di sela festival, Sabtu (19/11).
Lantaran menjadi rebutan penonton, panitia akhirnya memindahkan tumpeng buah lebih dekat dengan para kera. Namun sekali lagi, masih ada pengunjung yang mengambil buah-buahan untuk dibawa pulang.
“Sebelumnya banyak pengunjung yang mendekat ke tumpeng, kera-kera ekor panjang ini tidak mau turun dari pohon di sekitar makam. Tapi setelah mereka pulang, kerakera akhirnya muncul,” tuturnya.
Berebut Buah
Setelah menunggu selama lebih dari dua jam, akhirnya rombongan kera muncul. Mereka datang bergerombol dan langsung berebut buahbuahan. Namun sayangnya, lokasi tersebut justru sepi pengunjung. Menurut dia, atraksi tersebut sejatinya cukup menarik perhatian wisatawan.
Tetapi, panitia kegiatan terlihat kurang mempersiapkan arena grebeg kera.“Ini menarik untuk mengangkat potensi wisata di obyek wisata religi Masjid Saka Tunggal dan taman kera,” ucapnya.
Festival yang tahun ini digarap Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas serta masyarakat penyangga objek wisata Masjid Saka Tunggal ini dimeriahkan dengan pawai peserta yang membawa Igir Wowohan. Selain itu, masih ada pijat Husada Tirta Brahma dan makan bersama pengunjung.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Banyumas, Rustin Harwanti, mengatakan, kegiatan ini masih membutuhkan evaluasi. Terutama agar para kera mau turun untuk berebut makanan, bukan pengunjungnya.
“Kemasannya perlu dievaluasi, atraksi utamanya belum bisa terwujud. Karena pengunjung terlalu dekat dengan tumpeng buah yang direbutkan kera,” katanya. Dia berharap, festival ini dapat meningkatkan kunjungan wisatawan di wilayah Banyumas bagian barat.
Para pengunjung tidak hanya sekadar melihat peninggalan sejarah dan religi Masjid Saka Tunggal, tapi juga menikmati atraksi saat berinteraksi bersama primata bernama latin Macaca fascicularis ini. 

Berita sebelumnya..

Festival Rewandha Bojana Siap Dongkrak Wisata Banyumas Barat


Festival Rewandha Bojana dengan atraksi memberi makan kera, diharapkan dapat mendongkrak kunjungan wisatawan di wilayah Banyumas Barat. Tahun ini, event tersebut didukung oleh masyarakat dari 12 desa di Kecamatan Wangon.
Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko, mengatakan, kawasan Banyumas barat membutuhkan sejumlah event untuk mempromosikan potensi wisatanya.
Karena itu, festival ini perlu mendapat dukungan oleh semua pihak. ”Sejauh ini yang dikenal hanya wisata religi Masjid Saka Tunggal dan objek wisata buatan Dreamland. Perlu diangkat potensi yang lain, salah satunya ya Taman Kera ini,” ujarnya, kemarin.
Kirab Buah
Dia mengatakan, kegiatan yang digelar pada 19 November ini menyuguhkan kirab Igir Buah yang layak ditonton. Bagian paling seru adalah saat tumpeng buah itu dikerubuti oleh kera ekor panjang yang berdiam di sekitar masjid.
Igir Buah diarak dari Terminal Wangon menuju ke halaman objek wisata Masjid Saka Tunggal oleh masyarakat dari 12 desa di Kecamatan Wangon.
Setelah rebutan buah, pengunjung diajak untuk menjajal pijat tradisional dengan air Husada Tirta Brahma. ”Ini potensi di Desa Wlahar, kami juga akan mengenalkannya kepada pengunjung,” ujarnya.
Kepala Desa Cikakak, Suyitno, mengatakan, selain kirab Igir Buah, masyarakat juga menyuguhkan makanan tradisional berupa 600 nasi penggel yang dibungkus dengan daun jati dan daun pisang. ”Nanti dimakan bersama-sama pengunjung,” kata dia. 

Festival Rewandha Bojana Kenalkan Ikon Igir Buah



Festival Rewandha Bojana yang bakal digelar Sabtu (19/11) menyuguhkan ikon Igir Buah. Pada perhelatan tersebut, gunungan yang disusun dari berbagai macam buah ini akan diarak oleh masyarakat dari 12 desa di Kecamatan Wangon.
Kepala Desa Cikakak, Suyitno mengatakan, disebut igir buah karena makanan yang dibawa disusun hingga berbentuk lancip. Buah-buahan ini nantinya diperebutkan oleh kera di sekitar Masjid Saka Tunggal, Desa Cikakak, Kecamatan Wangon.
“Untuk teknis arak-arakan belum ada keputusan final. Rencananya kirab Igir Buah dimulai dari Terminal Wangon menuju ke kompleks Masjid Saka Tunggal. Kami tidak membatasi buah yang akan dijadikan tumpeng, yang penting monyetnya doyan,” ujarnya, ketika dihubungi kemarin.
Pada arak-arakan buah ini, kata Suyitno, masyarakat juga membawa makanan tradisional berupa 600 buah nasi penggel yang dibungkus dengan daun jati dan daun pisang. Kuliner lokal ini akan dinikmati bersama-sama antara warga dan pengunjung. Usai kirab Igir Buah, pengunjung disilakan untuk menjajal pengobatan alternatif dengan pemijatan tradisional. Tendatenda lokasi pemijatan disediakan panitia.
Warisan
“Kami juga akan mengenalkan potensi terapi pengobatan tradisional asli Banyumas. Pemijatan ini menggunakan air Husada Tirta Brahma dari Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, yang berfungsi seperti param kocok. Airnya terasa hangat ketika dioleskan ke bagian tubuh.
Dijamin pegal-pegal pasti hilang,” jelasnya. Sebelumnya, Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas berencana menggeser waktu pelaksanaan Festival Rewandha Bojana menjadi 3 Desember. Namun, pada pertemuan yang digelar akhir pekan lalu, panitia tetap memutuskan kegiatan berjalan pada 19 November.
Kepala Bidang Pariwisata Dinporabudpar Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko mengatakan, festival yang dirintis oleh pegiat Aliansi Pariwisata Banyumas dan masyarakat dari Kecamatan Wangon ini bertujuan untuk mengangkat potensi wisata budaya di wilayah Banyumas bagian barat dengan atraksi wisata yang unik.
“Di sekitar Masjid Saka Tunggal kan ada 300 ekor monyet. Kera ini bisa menjadi atraksi yang bisa menarik wisatawan. Biarpun liar, mereka tetap tidak pernah pergi dari sekitar kawasan itu,” katanya. Menurut kepercayaan warga setempat, monyet-monyet ini merupakan warisan pendiri Masjid Saka Tunggal yang diperkirakan berdiri 1288. Sebagai objek wisata religi, kawasan ini hanya ramai pengunjung pada waktu-waktu tertentu. 

Perawatan Kurang, Kinerja Biogas Menurun

Quote suaramerdeka.com :

Akibat minimnya perawatan rutin, kinerja biogas limbah ternak sapi dari kelompok peternak sapi Gondang Mas Sejahtera, Dusun Gondangmanis, Desa Ajibarang Kulon, Ajibarang, tak berjalan secara maksimal selama sebulan terakhir.
Pengurus kini berusaha kembali mengaktifkan partisipasi anggota kelompok ternak tersebut. Hal itu disampaikan oleh Ketua Kelompok Ternak Gondang Mas Sejahtera, Ridwandijaya (50), belum lama ini.
Peran aktif anggota kelompok ini sangat diperlukan dalam rangka peningkatan kinerja instalasi biogas yang sebelumnya telah mengaliri biogas secara gratis kepada tujuh dari dua belas rumah tangga peternak setempat.
“Kami mengomunikasikan kembali kendala ini kepada para anggota kelompok, agar biogas ini bisa berproduksi lagi secara maksimal. Karena tanpa perawatan rutin, maka kelancaran produksi biogas bisa terganggu,” jelasnya. Dijelaskan Ridwan, dengan pasokan limbah dari sekitar 28 ternak sapi yang ada di kandang kelompok tersebut, sebenarnya biogas yang dihasilkan cukup untuk mengaliri 10 rumah tangga.
Namun hingga sekarang baru tujuh rumah tangga saja, karena terbatasnya fasilitas kompor modifikasi untuk biogas. Dijelaskan Ridwan, saat ini kelompok ternak sapi dusun setempat telah mendapatkan bantuan infrastruktur instalasi dan reaktor pengolah limbah menjadi biogas dari pemerintah.
Reaktor biogas pertama dengan kapasitas kecil untuk mengaliri dapur Sekretariat Poknak Gondang Mas Sejahtera berasal dari Kementerian Pertanian. Sementara reaktor biogas yang telah dimanfaatkan oleh lima rumah tangga sekitar kandang sapi tersebut berasal dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Banyumas.
“Kalau sebelumnya diameter biogesternya (penampung sekaligus pengolah limbah) hanya 1,5 meter, sedangkan yang kedua berdiameter sekitar lima meter, sehingga bisa menampung banyak limbah ternak sapi yang adadi sini.
Makanya biogas yang dihasilkan pun lebih banyak,” jelasnya. Pemanfaat biogas, Sumardi, mengaku sangat terbantu dengan adanya biogasgratis tersebut. Sebelumnya dia tak pernah terpikir akan mendapatkan berkah dari limbah ternak sapi tersebut.

UMKM Diarahkan Berjualan di Toko Online

Quote suaramerdeka.com :

UMKM Butuh Sistem Komputerisasi Pembukuan

Penyusunan laporan transaksi keuangan dengan sistem komputerasi bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sangat diperlukan, supaya pelaku usaha dapat menganalisa perkembangan usahanya dengan baik.
Konsultan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (KUMKM) Provinsi Jawa Tengah di Banyumas, Niken Setialarasati mengatakan, sebagian besar pelaku usaha mikro dan kecil cenderung penyusunan laporan keuangan dilakukan secara manual, bahkan ada beberapa yang tidak menyusun laporan transaksi keuangannya. ”Padahal, penyusunan laporan keuangan ini sangat penting bagi UMKM,” katanya kemarin.
Untuk itulah, PLUTKUMKM di Banyumas akan mengadakan pelatihan bagi para pelaku UMKM tentang sistem informasi akuntansi bagi UMKM. Pelatihan ini mencangkup penyusunan transaksi harian, serta penyusunan laporan keuangan UMKM. ”Pada akhir bulan ini kami akan mengadakan pelatihan sistem informasi akuntansi bagi UMKM. Peserta yang mengikuti sekitar 30 pelaku usaha,” katanya.
Pendampingan
Pelatihan ini merupakan salah satu bentuk pendampingan kepada UMKM agar mereka berkembang dan maju di tengah persaingan usaha. ”Kami harap setelah mendapat pelatihan, nantinya para pelaku usaha dapat menganalisa laporan keuangan dengan baik, sehingga mereka mampu mengambil keputusan merencanakan masa depan usahanya,” kata dia.
Selain pelatihan, para konsultan membuka ruang konsultasi setiap hari. Konsultasi yang dilayani antara lain, terkait pemasaran produk, pembiayaan, maupun manajamen operasional dan keuangan. ”Hampir setiap hari ada pelaku usaha yang datang berkonsultasi.
Rata-rata mereka menanyakan tentang masalah pembiayaan dan pemasaran,” kata Niken. Pelaku usaha bidang perdagangan, Nola mengaku selama ini laporan pembukuan transaksi jual beli masih disusun secara manual.
”Ini kesempatan baik. Kami harap pelatihan pembukuan komputerisasi yang akan digelar ini dapat dilaksanakan secara rutin untuk mendukung perkembangan UMKM,” kata dia. 

 Diarahkan Berjualan di Toko Online

Para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di wilayah eks Karesidenan Banyumas, diarahkan berjualan di toko online guna memperluas akses pasar.
Koordinator Sukarelawan Kampung Digital eks Karesidenan Banyumas, Basuki mengatakan, para pelaku usaha sudah seharusnya mulai merambah pasar online agar naik kelas. ”Pada tahap awal kami mengarahkan mereka untuk membuat lapak di toko online.
Bagi mereka yang belum akrab dengan media internet akan dibantu mulai dari cara membuat email,” ujar dia saat ditemui usai memberi pelatihan kepada 40 pelaku UMKM di Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (KUMKM) Provinsi Jawa Tengah di Banyumas, Minggu (6/11). Dia menambahkan, sekarang ini para pelaku usaha sudah seharusnya memanfaatkan teknologi informasi secara komprehensif dan integratif untuk mendukung proses bisnis yang sedang dijalankannya.
Namun demikian, pelaku usaha perlu memperhatikan produk yang hendak dipasarkan di media online, antara lain pengemasan produk harus menarik dan produk yang dipasarkan harus sudah memiliki legalitas seperti telah mengantongi perizinan PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga). ”Selain itu, foto produk yang dipajang harus terlihat bagus dan kontinuitas produk perlu dijaga agar tidak kewalahan ketika mendapat order dalam jumlah banyak,” kata Basuki.
Basuki mengatakan, setelah beberapa unsur tersebut terpenuhi, berikutnya tinggal kemauan pelaku usaha untuk serius dalam memanfaatkan e-commerce. ”Memang pemasaran online terlihat mudah, tapi perlu dilakukan secara tekun dan serius. Kalau tidak mereka tidak akan berkembang,” ujar dia.
Peserta pelatihan, Dian mengaku sharingilmu pengetahuan tentang pemasaran onlinesangat penting untuk diketahui oleh para pelaku usaha agar dapat mengembangkan metode promosi produk secara modern dan efisien. ”Kami juga menjadi tahu, kalau promosi di internet itu lebih praktis dan jaringannya luas,” katanya

Banyumas Perlu Pasar Unggas

Quote suaramerdeka.com :

Pasar khusus unggas, perlu dibangun di Banyumas. Hal itu mengingat potensi unggas di sana cukup besar

“Pasar khusus unggas pada masa mendatang diperlukan, sebab potensinya cukup besar, semisal ayam bangkok,” kata Kepala Bidang Pasar dan PKL Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Dinperindagkop) Banyumas, Amrin Maruf. Menurutnya, bila ada pasar khusus untuk unggas, potensi yang ada bisa lebih tergali. Adapun lokasi-lokasi yang memiliki potensi peternakan unggas cukup baik, antara lain Sumpiuh, Tambak, Banyumas, dan Ajibarang.
“Banyumas terkenal dengan ayam bangkok yang memiliki kualitas bagus, itu saya ketahui justru ketika ada teman dari Jawa Timur yang sengaja mencari ayam bangkok di Banyumas, karena menurutnya kualitasnya bagus,” ujarnya. Sementara itu, sejauh ini pasar dengan komoditas khusus di Banyumas yang sudah ada antara lain Pasar Ikan Hias Mina Restu di Purwanegara, dan Pasar Burung Peksi Bacingah.
Dua pasar tersebut, menjadi lokasi pusat perdagangan ikan hias, serta burung berkicau di Banyumas. Adapun untuk mengembangkan potensi ikan hias di Banyumas, Pemkab melalui Dinakkan juga berencana membangun tempat pembibitan ikan hias, senilai Rp 150 juta.
“Kami saat ini sedang membangun tempat pembibitan ikan hias, di Sidaboa,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Dinakkan) Banyumas, Widarso. Dia mengatakan lokasi pembibitan ikan hias tersebut nantinya diharapkan dapat ikut meningkatkan produksi ikan hias di Banyumas.
Seperti diketahui saat ini Banyumas telah memiliki pasar khusus yang memperjualbelikan ikan hias. Adapun pembangunan Pasar Burung Peksi Bacingah sejauh ini masih terus dilakukan. Pembangunan pasar yang nantinya diwacanakan menjadi pasar umum itu, direncanakan dilakukan dalam dua tahap. 

Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...