Selamat Kepada Calon Kepala Daerah Banyumas

Senin, 08 Agustus 2016

Pembangunan Daerah Pinggiran Banyumas

finishing SMK Kartek 2 Jatilawang






Keberhasilan pembangunan di Kabupaten Banyumas tidak hanya ditandai dengan berkembang pesatnya Perkotaan Purwokerto yang banyak bermunculan gedung bertingkat baik middle rise ( MR) maupun Hige rise (HR) , sebagai tanda pertumbuhan menuju arah kota kotab besar atau metropolis. Namun tidak kalah pentingnya adalah pembangunan daerah (hinterland) atau penyangga yang secara langsung atau tidak langsung berpengaruh besar terhadap perkembangan perkotaan Purwokerto , terutama daerah pinggiran sebagai penyangga yang sekaligus sebagai gerbang kabupaten Banyumas sebagai jalur lalu lintas bagi daerah lain. 
Saat ini Beberapa daerah mulai berkembang pesat, diantaranya Kota Kecamatan Ajibarang yang mulai tumbuh sebagai pusat jasa, perdagangan bahkan industry. Ajibarang sebagai salah satu gerbang Kabupaten banyumas mencerminkan wajah Kabupaten banyumas di mata daerah lain, karena wilayahnya menjadi salah satu daerah yang paling pertama dilihat oleh masyarakat dari daerah lain di banding kecamatan yang lokasinya tidak menjadi jalur lintas antar daerah. Ajibarang tidak menutup kemungkinan bisa berkembang pesat seperti Purwokerto, salah satu pemicunya adalah berdirinya pabrik Semen Bima. Di samping telah berkembangnya Ajibarang sebagai pusat jasa seperti Bank BRI Cabang Ajibarang, RSUD Ajibarang yang saat ini berkembang pesat bahkan sedang dalam lanjutan pembangunan hingga 4 lantai, Pasar Induk yang berperan vital bagi aktivitas ekonomi kawasan hingga kabupaten tetangga serta rencana berdirinya Perguruan Tinggi.

Tidak hanya Ajibarang, Jatilawang pun sebagai salah satu kecamatan eks pusat Kawedanan tidak ingin sepenuhnya kalah bersaing dalam pertumbuhan ekonomi, meskipun di sektor bisnis dan perdagangan kurang menonjol jika dibandingkan daerah lain yang lebih stategis, tapi ada kelebihan yang bisa dimanfaatkan sebagai poros tumbuhnya perekonomian, dalam hal ini adalah sebagai pusat jasa ( pendidikan). Seperti statemen resmi yang dikutip dari Pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten banyumasbahwa banyak pelajar dari kabupaten tetangga mengincar sekolah sekolah di daerah pinggiran Kabupaten Banyumas. Karena lokasinya yang berbatasan langsung kabupaten tetangga. Pertumbuhan ekonomi di Jatilawang sejak lama banyak dipengaruhi oleh banyaknya peran sekolah terutama sekolah menengah swasta yang dalam perkembangannya menumbuhkan roda ekonomi terkait penyedian tempat kos, usaha kuliner, laundry, fotocopi dan berbagai usaha barang dan jasa lainnya. 

Salah satu sekolah yang berkembang pesat di Jatilawang adalah SMK Karya Teknologi ( Kartek) yang saat ini telah tumbuh menjadi sekolah menengah favorit dan membuka jurusan baru dan membuka jaringan sekolah baru bernama Kartek 2 yang khusus membuka jurusan bidang kesehatan dan farmasi. Sekolah ini bahkan saat ini memecah rekor sebagai sekolah dengan gedung tertinggi di kawasan Banyumas Barat dengan gedung baru yang memiliki 5 lantai. Tentu, megahnya konstruksi bangunan bukanlah satu-satunya ciri utama kemajuan sebuah daerah, namun secara langsung atau tidak langsung sebagai bukti andil dalam pertumbuhan perkotaan dan penyokong ekonomi daerah yang bersangkutan. 

Ini adalah berita gembira, terkait berkembangnya daerah pinggiran yang secara langsung ikut mengubah citra Kabupaten Banyumas di mata daerah lain. Bahwa di Kabupaten Banyumas tidak hanya didominasi oleh Kota Purwokerto, namun daerah pinggiran ikutmengimbangi dari segi pembangunan . Jatilawang saat ini, juga banyak mulai berbenah seperti revitalisasi alun alun hingga 3 tahap, revitalisasi pasar tradisional tahap 2 ( anggaran mencapai total 6 miliar termasuk dari tahap 1) , serta pengaspalan ulang hotmix di jalan – jalan perkotaan. 

Kemajuan daerah pinggiran tak bisa tumbuh dengan sendirinya, mengandalkan strategisnya lokasi wilayah, namun butuh dukungan potitik dari Pemerintah Kabupaten dalam hal penyediaan anggaran untuk membangun infrastruktur. Bahkan yang terbaru adalah adanya kebijakan Pemda Banyumas dalam hal merayakan hari kemerdekaan juga mengikut sertakan daerah untuk berpartisipasi menjadi bagian dari acara yang dikoordinir oleh Pemkab. Seperti tahun kemaren, gelaran kesenian diselenggarakan di 3 lokasi berbeda dalam tahapannya yaitu Banyumas, Jatilawang dan Purwokerto. Kebijakan potitik seperti inilah yang selayaknya terus digencarkan oleh Pemkab Banyumas. Karena bukan hanya membuat daerah ikut saling memiliki dan mensukseskan program daerah tapi juga secara langsung ikut berpengaruh meningkatkan iklim ekonomi daerah.
__________________

Jumat, 05 Agustus 2016

PKL Alun-Alun Banyumas Overload


Radarbanyumas
Peluang usaha yang dianggap bagus membuat Pedagang Kaki Lima (PKL) baru bermunculan di alun-alun Banyumas. Karena itu, PKL harus lebih ditata agar jumlahnya tidak terus membengkak. Saat ini, sudah 87 PKL yang berjualan di alun-alun Banyumas. Padahal, jumlah pedagang yang akan ditampung di zona yang sudah disiapkan sejumlah 47 pedagang.


Camat Banyumas, Drs Ahmad Suryanto MSi mengatakan, jumlah PKL alun-alun memungkinkan untuk terus bertambah dari waktu kewaktu. Dia mendapat arahan dari bupati agar jumlah PKL Alun-alun Banyumas tidak sampai overload. Untuk menyiasatinya, PKL alun-alun Banyumas terlebih dahulu harus mendaftar melalui paguyuban. Adanya pendaftaran memudahkan pendataan di paguyuban. Kondisi ini semakin mempermudah penataan PKL. “Betul-betul harus didata,jangan sampai terlalu banyak pedagang dan terlihat kurang tertata,” ujarnya. Saat ini, PKL tidak hanya berjualan di utara Alun-alun Banyumas, namun selatan Alun-alun Banyumas juga mulai digunakan untuk berjualan. Menurut dia, ada tempat-rempat tertentu yang tidak diperbolehkan untuk berjualan. Tempat tersebut antara lain, di tikungan selatan Alun-alum Banyumas. Informasi yang dia peroleh, akan dibangun air mancur di alun-alun sebelah selatan. Apabila ada PKL di sana, dikhawatirkan akan menghalangi air mancur tersebut. “Agar yang lewat jalan raya tahu ada air mancur, jadi menarik,” ujarnya. Tidak hanya itu, jalan di depan Masjid Agung Nur Sulaiman juga tidak dianjurkan untuk berjualan. Sebab, bisa menghalangi arus lalu-lintas kendaraan di jalan tersebut. “Kalau semua padat akan repot,” imbuhnya.

Sumber: http://radarbanyumas.co.id/pkl-alun-alun-banyumas-overload/

Robot Penyadap Nira

Alumni SMA 1 dan 2 Ciptakan Ayla Robot Penyadap Nira
Terinspirasi Banyak Kasus Penderes Jatuh

suaramerdeka
SEJUMLAH alumnus SMA 1 dan SMA 2 Purwokerto yang masih kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, mampu menemukan dan menciptakan robot yang bekerja untuk penyadap nira kelapa.
Alat yang dinamai Ayla Robot Penyadap Nira ini diharapkan ke depan mampu membantu para penderes, tidak harus bersusah-payah menantang maut, saat memanjat pohon untuk menderes. Banyak kasus kematian penderes atau cacat permenan akibat terjatuh saat memanjat pohon kelapa yang cukup tinggi.
Namun dengan alat sederhana tersebut, penderes nanti cukup mengendalikan dari bawah dan hasil sadapan tidak jauh beda saat penderes langsung mengambil di atas pohon. Para penemunya adalah Fariz Fadlilah Mufid (alumnus SMA 1) yang kini kuliah di Jurusan Elektronik Instrumentasi (Elins) angkatan 2014, sekaligus ketua tim penemu.
Anggota tim yakni Kharisma Husna Wirasti (TIP 2014), Vita Nurul Faizah (Agribisis 2014), keduanya juga alumni SMA 1. Satu lagi adalah Asriawan Pasca Ramadhan, alumnus SMA 2 (Elins 2014). Sistem kerja alat tersebut, menurut Fariz, pemakai atau penderes tidak perlu naik pohon.
Namun cukup menekan tombol HP berbasis Android, langsung bisa mendapatkan nira kelapa. Alat ini juga dirancang mampu mampu memotong manggar secara otomatis tanpa penderes naik ke atas pohon.
“Untuk memotong manggarnya, cukup dengan mengaktifkan gerinda yang sudah kita lengkapi dengan IP camera dan Tablet Android. Ini cukup dioperasionalkan dari bawah, tidak harus manjat pohon,” terang anak kedua pasangan Restiyanto dan Siti Kunarti ini.
Penampung Otomatis
Alat itu, lanjut dia, juga sudah dilengkapi pula dengan penampung otomatis untuk mengetahui berapa besar volume nira yang telah tersadap. Bahkan, alat tersebut juga akan memberi tahu saat tempat tampungan nira sudah penuh, dengan tanda berupa cahaya led dan ada bunyinya.
Meski baru temuan awal dan telah diujicobakan, berbagai kalangan terutama dari perusahaanperusahaan elektronik dan informasi teknologi maupun pembuat robot seperti dari Jepang mulai melirik. Fariz mengaku dari Pemkab Banyumas melalui Bappeda juga sudah mengundang untuk presentrasi dan mendorong agar menciptakan alat tersebut dalam jumlah banyak dan bisa dipatenkan sebagai karya kreatif warga Banyumas.
Dia bersama sejumlah rekannya terinspirasi untuk menciptakan alat tersebut, karena didasari rasa keprihatinan atas banyak kasus kecelakaan penderes di Banyumas, yang terjatuh dari pohon kelapa saat menyadap. Di antaranya sampai meninggal dunia. Selain itu, orang tuanya kebetulan juga menggeluti bisnis gula kelapa.
“Banyak penderes yang tidak berani menderes lagi, karena takut jatuh. Kalau itu tidak ada solusi, lama-lama potensi gula kelapa asal Banyumas tidak bisa dikembangkan lagi atau produksinya akan turun. Padahal, permintaan pasar masih tinggi,” katanya yang banyak belajar soal bisnis gula kelapa dari ayahnya. Pengambilan nira kelapa umumnya pada malam hari untuk mendapatkan kualitas yang bagus. Sementara sisi keamanan kadang-kadang diabaikan.
Selain itu, kasus penderes jatuh di antaranya karena kelelahan dan pohon licin serta tidak memakai alat pengaman. Fariz mengungkapkan, ide menciptakan alat tersebut yang utama adalah bisa memberi nilai manfaat besar untuk menyadap nira yang otomatis dan inovatif, efisien, dan praktis.
Ini semua demi mengurangi risiko kecelakaan penderes dan menyejahterakan hidup para penderes, serta meningkatkan potensi gula Jawa di Indonesia, bahkan di dunia, sehingga meningkatkan devisa negara. Gagasan tersebut tercetus setahun lalu saat mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) UGM. Usulan proposalnya lolos didanai. Untuk menciptakan alat tersebut, hanya bermodal Rp 7,5 juta.
Setelah mampu membuktikan karyanya, Fariz dan timnya juga lolos menjadi salah satu delegasi mahasiswa UGM, untuk maju ke ajang PKM tingkat nasional di ITB dalam waktu dekat ini. Selama seminggu ini, dia bersama timnya sedang mengikuti pelatihan dan pematangan hasil karya tersebut, karena diharapkan Ayla Robot Penyadap Nira ini mampu menyabet emas.

Kamis, 04 Agustus 2016

Bangunan Baru di Purwokerto Harus Ikuti Aturan Zonasi

Radarbanyumas
Pembangunan di wilayah Perkotaan Purwokerto nantinya akan diatur secara detil dalam RDTRK Perkotaan Purwokerto Tahun 2014-2034. Aturan yang berlaku nantinya akan disesuaikan dengan zonasi yang tertuang dalam peta RDTRK Perkotaan Purwokerto yang bakal disosialisasikan bulan ini. “Namun untuk bangunan eksisting (yang sudah ada) akan diberikan tolerasi. Artinya akan dilegalkan,” jelas Ketua Pansus RDTRK Purwokerto, Subagyo, Rabu (3/8) kemarin. Ditambahkan, toleransi tersebut juga berlaku untuk bangunan yang saat ini masih dalam tahap pembangunan, dalam artian sudah ada izin yang dikeluarkan oleh pemkab. “Jadi untuk bangunan yang belum berizin atau bangunan baru, suka tidak suka harus mengikuti aturan yang ada, yaitu sesuai zonasi yang diatur dalam RDTRK,” imbuhnya. Subagyo menambahkan, sampai saat ini dasar pembangunan bangunan masih didasarkan aturan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kebupaten Banyumas. “RTRW sejauh ini masih belum memadai, karena untuk positioningnya masih belum tepat. Sehingga diperjelas dengan RDTRK dengan skala yang lebih detil yaitu 1:5.000. Untuk ketinggian bangunan, lanjut Subagyo nantinya akan tetap diatur pada Perda Bangunan, dimana tinggi maksimal bangunan mencapai 20 lantai. Menurutnya, aturan tersebut berlaku di seluruh wilayah Banyumas. Namun demikian, untuk wilayah Perkotaan Purwokerto nantinya tetap harus mengikuti aturan zona. Subagyo menjelaskan, pada proses perizinan, nantinya akan ditentukan dulu detil koordinatnya terlebih dahulu, untuk memastikan warna zona di kawasan yang akan dibangun tersebut, termasuk untuk menentukan persyaratan bangunan yang diperbolehkan dibangun di wilayah itu. Ditegaskan, setiap titik koordinat di Perkotaan Purwokerto sudah ada ketentuannya, termasuk detil variabel yang dilarang dan diperbolehkan dibangun di titik tersebut. “Jadi misalnya mau bangun gedung tinggi seperti mall, tidak akan diperbolehkan dibangun di kawasan perkantoran atau zona hijau kawasan perkotaan yang difungsikan sebagai ruang terbuka publik,” tegasnya. Pada prinsipnya, Subagyo menerangkan untuk aturan RDTRK ada dua hal pokok yang harus ada, yaitu link maps (peta) dan zoning tax (aturan zonasi). Disebutkan, dalam peta yang akan dipasang Jumat mendatang, masyarakat nantinya akan bisa melihat wajah perkotaan Purwokerto, khususnya untuk warna zona, baik zona merah, zona kuning, hingga zona hijau. Dijelaskan, untuk zona merah seperti zona pemerintahan dan perkantoran masih sama seperti kondisi saat ini. Meski demikian, untuk rencana pembangunan Central Bisnis District (CBD) terpaksa dibatalkan. “Itu didasarkan pada pertimbangan alokasi RTH publik kawasan perkotaan yang masih kurang. Sehingga kawasan yang rencananya diplot sebagai CBD akan tetap dipertahankan sebagai zona hijau,” tegas Bagyo. 


Sumber: http://radarbanyumas.co.id/bangunan-baru-di-purwokerto-harus-ikuti-aturan-zonasi/

11 Kecamatan Masuk Kawasan Perkotaan Purwokerto

Radarbanyumas

kawasan perkotaan Purwokerto terus berkembang. Berdasarkan pada peta Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Perkotaan Purwokerto Tahun 2014-2034 yang sudah selesai dibahas Pansus I DPRD Banyumas ada 11 kecamatan yang masuk dalam kawasan perkotaan Purwokerto. Sebelas kecamatan itu meliputi Kecamatan Purwokerto Utara, Purwokerto Timur, Purwokerto Selatan, Purwokerto Barat, Patikraja, Karanglewas, Kedungbanteng, Baturraden, Sumbang, Kembaran, dan Sokaraja. PEKEMBANGAN KOTA: Wilayah Kecamatan Karanglewas merupakan salah satu kecamatan dari 11 Kecamatan yang masuk dalam pengembangan kawasan kota Purwokerto Kabid Tata Ruang Dinas Cipta Karya Kebersihan dan Tata Ruang (DCKKTR) Kabupaten Banyumas, Puspa Wijayanti mengatakan, perubahan mendasar pembentukan RDTRK Perkotaan Purwokerto Tahun 2014-2034, berdasarkan hasil tinjauan lapangan bersama DPRD, memang terjadi penambahan luasan wilayah. Namun tidak semua desa masuk dalam kawasan perkotaan Purwokerto tersebut. “Ada sebagian dari desa dan ada yang keseluruhan desa (masuk kawasan perkotaan Purwokerto, red). Kami upayakan, batas luar perkotaan Purwokerto menggunakan batas fisik topografi, seperti sungai, jalan, saluran dan lainnya. Sehingga dalam pembahasan ada perubahan luasan,” kata dia saat ditemui di ruangannya, Rabu (3/8). Lebih lanjut dia mengatakan, penentuan kawasan perkotaan itu berdasarkan dari wilayah yang sudah mencirikan perkotaan. Sedangkan penetapan RDTRK, kata dia, menentukan fungsi bukan administrasi. Sehingga tidak mengenal batas secara administrasi. “Bisa saja secara administrasi masih desa, tetapi karena sudah mencirikan perkotaan, sehingga kami masukan sebagai kawasan perkotaan Purwokerto,” terangnya. Diketahui, Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. Sedangkan Kawasan Pedesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. Tujuan pembentukan RDTRK Perkotaan Purwokerto Tahun 2014-2034, lanjut dia, selain merupakan amanah dari Perda RTRW, juga untuk mengendalikan tata ruang. “Kami ingin mewujudkan kota yang tertib, dan rencana pembangunan Purwokerto ke depan. Sehingga bisa menentukan arah Purwokerto ke depan akan seperti apa. Apakah untuk kawasan industri, perdagangan dan jasa atau kawasan pendidikan,” ujarnya. Menurutnya, pembahasan dan pembentukan peta RDTRK tersebut sudah mendekati tahap penyelesaian. Seluruh perubahan-perubahan prinsip secara mendasar, tidak bisa dirubah lagi. Namun ketika ada usulan-usulan dari masyarakat masih bisa dipertimbangkan, terkecuali untuk perubahan-perubahan prinsip secara mendasar. “Kami selaku dinas teknis yang kebetulan diserahi tugas ini, akan membahas masukan-masukan masyarakat melalui public hearing. Rencananya akan diadakan pekan depan bersama DPRD di Pendopo Sipanji,” imbuhnya. 

Rabu, 03 Agustus 2016

Plus Minus Pembangunan di Kabupaten Banyumas


Secara umum kita melihat bahwa pembangunan di kabupaten Banyumas di berbagai bidang sudah  cukup baik. Adanya berbagai pembangunan infrastruktur, event pariwisata yang menjadi agenda rutin, hingga Peningkatan kualitas sekolah dan Puskesmas, perkantoran  pemerintah desa/ kecamatan Penghijauan di kota – kota Kecamatan serta program pemerintah untuk menaggulangi kemiskinan  dan sebagainya.  Namun demikian ada beberapa hal yang menjadi catatan saya terhadap beberapa program Pemerintah kabupaten Banyumas yang belum berjalanan maksimal sesuai tujuannya. Antara lain:

1 Pembanguanan Jalan Gunung Tugel

Awalnya pembangunan jalan ini diarahkan sebagai solusi untuk memecah kemacetan lalu lintas yang selama ini di jumpai di salah jalur utama menuju Purwokerto terutama dari arah barat dan selatan yaitu ruas Sidabowa hingga Sawangan.Ini memang merupakan jalur singkat juga yang menghubungkan antara Purwokerto dengan daerah di wilayah timur seperti kecamatan Banyumas, Kalibagor dan sebagainya. Pembvanguanan berjalanan hingga  beberapa tahap ( sekitar 5 tahap) dan menghabiskan anggaran miliyaran rupiah setiap tahap pertahun anggaran.

Namun demikian, ada masalah yang berlarut-larut dan sampai detik ini belum bias diatasi secara tuntas. Yaitu masalah tanah longsor dan retakan di beberapa titik  ruas jalan. Beberapa penanganan sudah di ambil Pemkab antara lain dengan mengirim sampel tanah untuk di uji lab, namun setelah dicoba untuk ditangani ternyata masalah longsor dan retakan ini muncul lagi. Sehingga sampai saat ini tidak ada solusi konkret . Padahal anggaran yang sudah dihabiskan untuk membangun terhitung besar di banding infrastruktur di tempat lain.
Ada beberapa teman menyebut bahwa struktur tanah di gunung tugel adalah lempung, apakah di bagian Dinas DCKTR Banyumas tidak ada hali yang bias menganalisis dan membuat terobosan mengatasi masalah ini ?

Saran saya, sebaiknya mereka terutama unsur di Dinas bekerja lebih professional lagi. Anggaran yang besar di kemudian hari jangan lagi dihabiskan untuk membangun ruas jalan ini, selama belum ada solusi jangka panjang yang ditemukan.Carilah lokasi jalan alternative lain yang berfungsi sebagai jalur short cut dan jalur lintas penghubung antar wilayah. Membangun wilayah lain yang tak kalah penting fungsinya bagi perkembangan daerah juga bisa meminimalisir terbuangnya anggaran yang tidak perlu.

2 Pusat Kuliner Pratista Harsa

Pratista Harsa adalah salah satu proyek besar Pemerintah kabupaten Banyumas  yang bertujuan untuk mengatasi persoalan pedagang kaki lima di kawasan alun alun Purwokerto. Masalah PKL adalah hal biasa yang dialami di semua daerah dan kota. Adapun yang dilakukang oleh Pemkab Banyumas adalah dengan cara menempatkan mereka di satu tempat , agar tidak lagi menimbulkan kemacetan di jalan terutama di area alun alun Purwokerto.

Namun perlu  dipahami bahwa tujuan PKL berjualan adalah untuk menafkahi keluarga, tentu langkah ini kurang tepat sasaran jika hanya mengatasi masalah di satu sisi tapi menimbulkan persoalan baru. Bagi pedagang yang yang sudah menempati lapak di pratista Harsa baik blok A dan Blok B mereka tak kunjung mendapat penghasilan yang cukup, karena sangat sedikitnya kunjungan masyarakat  untuk makan atau berbelanja di Pratista Harsa, bahkan sejak pertama menempati, akhirnya banyak diantaranya yang gulung tikar, karena rugi dan memilih kembali turun ke jalan. Ini apa yang salah ? Langkah Pemda sudah tepat, tapi alangkah baiknya didukung oleh kebijakan lain yang bisa mensukseskan program ini, contohlah Pemkab Kebumen, mereka bisa mendukung pusat kuliner dengan cara mengintensifkan jajaran PNS agar sering makan di pusat kuliner ini.

Saran saya, sebaiknya Pemkab Banyumas memulai dari jajaran  PNS dan Karyawan BUMD. Jumlah mereka tentu sangat banyak untuk sekedar diberi kewajiban makan di Pratista Harsa minimal seminggu sekali. Selain itu buatlah konsep baru pratista Harsa agar menjadi tempat santai yang nyaman dan sebagai lokasi penyelenggaraan event –event tertentu secara periodic dan berkesinambungan untuk memberi nilai tambah . Misalnya ada agenda setiap minggunya diadakan acara lomba kentongan ( atau acara lainnya) yang pesertanya merupakan siswa sekolah-sekolah di Purwokerto. Buatlah agensda semacam itu sebagai kegiatan tetap di Pratista Harsa. Agar bisa berjalan seperti rencana mungkin akan lebih baik agar dibuat panitia atau semacam paguyuban yang salah satu tugasnya sebagai event organizer. Saya yakin dengan adanya kegiatan maka gairah di Pratista Harsa akan ikut terangkat dengan kunjungan masyarakat, tentu efeknya adalah jualan mereka akan ikut dilirik dan peluang dibeli oleh pengunjung semakin besar.

3 Under Pass Kebocoran

Sesuai namanya, inilah salah satu masalah lama yang belum bisa diselsaikan dengan baik. Berita tentang kerusakan dan genangan air terutama di musim hujan, serta seperti sungai kering di saat kemarau membuat ruas jalan ini sangat tidak nyaman untuk dilewati kendaraan.Sebenarnya Pemkab banyumas sudah beberapa kali memperbaiki underpass ini, namun masalah lama berupa genangan air masih saja terjadi.Coba para ahli dan teknisi di DCKTR lebih bekerja keras lagi, karena sebenarnya masalah ini tentu bukan persoalan sulit bagi ahlinya jika ditangani dengan benar.

 Saran saya, ( saya bukan orang teknik, hanya sekedar memberi pandangan versi orang awam) tinggikan badan jalan ( bagian tengah ) dengan pengaspalan ulang hingga ketinggian tertentu, sedangkan bagian pinggir ( tepi) jangan ikut ditinggikan, tapi dikeruk lagi untuk menampung jika ada aliran air dengan kedalaman tertentu , hingga akhirnya dialirkan ke saluran pembuangan.

4 Pengengembangan Kota lama Banyumas

Kota Lama Banyumas sudah ditetapkan secara resmi oleh Pemkab banyumas sebagai kota pusaka ( heritage city) sekitar setahun lalu. Tapi hingga saat ini belum terdapat perkembangan yang signifikan.Namun ada beberapa berita yang menggembirakan terkait hal ini. Seperti revitalisasi kawasan alun alun Banyumas, penataan kawasan pendapa Jaka Kaiman ( dulu dikenal istilah duplikat sipanji) dengan mengembalikan bentuk taman seperti suasana tempo dulu, membangun taman sari . Tentu keberjhasilan kOta lama menjadi primadona pariwisata baru yang menyajikan atau menjual heritage tak aklan berhasil tanpa peran aktif semua warganya. Banyak diantara heritage itu merupakan kawasan tempat tinggal warga, sehingga untuk menata kawasan kota lama secara keseluruhan membutuhkan program kerja yang jelas yang melibatkan semua unsur pemerintah daerah dan juga semua lapisan masyarakat termasuk akomodasi, transportasi, kuliner, pengusaha batik, pelaku kesenian dan instansi pendidikan.

Usulan saya, Perlu ada kesepahaman kepada seluruh masyarakat terutama para pemilik bangunan heritage baik berupa rumah, toko , kantor dan sebagainya agar turut serta membangun citra kota lama Banyumas. Pemkab Banyumas harus aktif mendorong dan bekerjasama dengan mereka dalam hal perawatan gedung, berupa pengecatan ulang gedung-gedung setiap 2 tahun dan sebagainya. Dalam hal perawatan gedung ini bisa dibentuk sebuah yayasan yang mengorganisir dan menggalang dana untuk membiayai kegiatan operasional.

5 Banyumas Extravagansa

Banyumas Extravagansa baru dikenal dalam beberapa tahun terakhir, konsepnya berupa karnaval yang menonjolkan kostum antik para pesertanya. Memang dalam pelaksanaannya menonjolkan nuansa Banyumas apakah itu dalam bentuk batik, kerajinan rakyat seperti produk-produk khas dari Banyumas lain, namun kekurangan event ini adalah pelaksanaan yang kurang terorganisir dan terkesan semrawut. Dari segi mutu dan hasil menurut saya kurang maksimal karena kurang bisa mendatangkan banyak wisatawan dari luar daerah.Hal ini karena konsep karnaval ini kurang bisa menyajikan kekhasan Banyumas. Event seperti ini sebenarnya mengekor keberhasilan daerah lain yaitu Jember.

Sejarah Boomingnya karnaval versi Jember bermula saat ada sebuah kompetisi membuat film documenter yang diselenggarakan oleh sebuah stasiun TV Swasta nasional.Salah satu pesertanya menyajikan film dokumentasi tentang konsep karnafal di Jember.Dalam bagian tayangannya dijelaskan bahwa karnaval ini dipelopori oleh kelompok kreatif di daerah itu yang bercita-cita menciptakan sebuah event besar skala nasional bahkan internasional yang kahirnya bisa berdampak pada kunjungan wisatawan ke Jember. Program mereka dirintis bukan dalam waktu sebentar tapi dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan banyak unsur .Nah , film dokumentasi ini ternyata menginspirasi daerha lain sehingga berlomba-lomba menggelar event yang sebenarnya serupa, hanya berbeda kemasan saja namun konsepnya masih sama, saya katakan menjiplak dan tidak orisinal. Memang tidak hanya kabupaten banyumas yang melakukan itu, banyak juga daerah lain.

Oleh karena itu, saya harap, Konsep Banyumas Extravagansa diubah, harus orisinal dengan menggarap potensi utama yang dimiliki kabupaten Banyumas, Event sebaiknya diselenggarakan di lokasi yang punya nilai jual tinggi dan bisa menjadi ikon Banyumas, misalnya di kawasan Bendung Gerak Serayu dibangun gedung semacam opera house, yang bukan hanya mewadahi kegitan kesenian yang digelar secara periodic dan kontinu. Tapi juga bisa digunakan untuk penyelenggaran Banyumas Extravagansa dengan memaksimalkan potensi lainnya seperti Serayu Voyage River. Selain itu, Kawasan Kota Lama Banyumas juga bisa digunakan untuk event itu, tapi tentu konsepnya harus beda dengan daerah lain.


Demikian sedikit tulisan saya mengenai masukan terhadap beberapa program pembangunan di kabupaten banyumas, semoga bisa menjadi salah satu bahan evaluasi oleh Pemkab banyumas.

Operasional Lapas Baru Purwokerto Ditunda

suaramerdeka.com – 
Operasional Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) baru Purwokerto yang semula akan dimulai tahun ini ditunda. Kemungkinan tercepat Lapas yang berada di Jalan Pasukan Pelajar Imam itu akan mulai difungsikan tahun depan.
Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Jawa Tengah, Molyanto, mengatakan penundaan operasional itu dilakukan karena Lapas baru masih memerlukan pembangunan sarana dan prasaranan pendukung.
“Sampai saat ini belum ada kepastian (operasional, red), karena di situ dapat proyek lagi untuk pembangunan sarana dan prasarana pendukung. Kemungkinan paling cepat (dioperasikan, red) tahun depan. Intinya saat ini masih dalam pertimbangan,” katanya, Rabu (3/8) melalui sambungan telepon.
Dia mengatakan pembangunan sarana dan prasarana pendukungh itu akan dilakukan menggunakan anggaran APBN Perubahan. Adapun pembangunan bangunan utama Lapas yang dimulai sejak 2009 itu telah selesai dilaksanakan tahun lalu.
Lapas baru dapat menampung sekitar 500 warga binaan maupun tahanan. Kapasitas itu jauh lebih besar dibandingan Lapas lama yang sudah over kapasitas. Lapas yang sekarang digunakan hanya berkapasitas 111 penghuni, tetapi digunakan lebih dari 300 penghuni.

Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...